NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Aluna Belum Sadar

"Lalu apa yang harus kulakukan?" Mata Gavin kini dipenuhi kepanikan, sama sekali tidak mencerminkan sosok CEO berkuasa yang disegani di dunia bisnis.

"Tenangkan dirimu dan lakukan pendekatan secara perlahan. Nona Aluna pada dasarnya baik dan lembut, tetapi dia butuh waktu untuk bisa menerima orang lain kembali. Kamu harus menggunakan ketulusan untuk melunakkan hatinya. Jaga sikapmu agar tidak terlalu kasar dalam bertindak dan berikan dia ruang gerak."

Untuk beberapa saat, Gavin terdiam. Sorot matanya yang cekung berangsur tenang dan meredup.

"Jadi begitu."

Tiba-tiba, ia mendongak dan berkata dengan nada dingin kepada asistennya, "Bima, bantu aku urus satu hal."

"Urus apa?"

"Adrian. Singkirkan dia dari kota ini. Ingat, jangan biarkan dia pergi dengan terlalu mudah."

Mendengar perintah itu, Bima langsung tertarik. Sebuah senyuman licik terukir di bibirnya sambil bertepuk tangan pelan. "Itu perkara mudah, serahkan saja semuanya kepadaku."

Setelah Bima melangkah pergi, Gavin berbalik. Ia mendorong pintu kamar rawat secara perlahan lalu melangkah masuk ke dalam. Pria itu duduk di sisi ranjang, lalu dengan hati-hati membelai pipi Aluna yang halus menggunakan ujung jarinya. Sorot matanya dipenuhi kelembutan yang dalam.

"Aluna, aku salah. Tindakanku kemarin benar-benar keterlaluan. Kamu boleh memukul atau memarahiku sesukamu setelah ini, tapi aku mohon, buka matamu dan lihatlah aku."

Sepanjang malam itu, Aluna tidak kunjung sadarkan diri, dan Gavin sama sekali tidak memejamkan mata. Ia merawat Aluna tanpa lelah; menyuapinya cairan nutrisi secara perlahan, membersihkan tubuhnya dengan waslap hangat, hingga mengajaknya mengobrol demi memancing kesadarannya.

Sikap protektif dan keseriusan Gavin yang berjaga seharian penuh lambat laun mulai menjadi buah bibir di kalangan staf rumah sakit.

Di saat yang sama, Bima bergerak secara pribadi untuk memberikan beberapa "pelajaran" fisik dan mental kepada Adrian:

Saat Adrian membuka pintu kontrakannya untuk mengambil paket, ia mendapati sebuah kepala manekin yang dilumuri cairan merah pekat seperti darah. Ketika Adrian sedang mengemudi, Bima sengaja menyenggol bagian belakang mobil lain hingga memicu kecelakaan beruntun yang membuat mobil Adrian menghantam pembatas jalan, mengakibatkan dahi Adrian robek dan harus menerima dua puluh jahitan. Bahkan di malam hari saat Adrian mencoba tidur, beberapa orang suruhan Bima sengaja menciptakan bayangan aneh di balik jendela kamarnya untuk merusak ketenangan mentalnya.

Tiga hari berlalu, Adrian akhirnya berada di ambang batas kesabaran nya. Ia memutuskan untuk mencegat dan menghampiri Bima secara langsung.

"Sebenarnya, apa yang kalian inginkan dariku?!"

Sambil duduk santai di dalam mobil Mercedes miliknya, Bima mengelus dagu sembari menatap Adrian dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.

"Sebenarnya, hanya wajahmu saja yang masih layak dilihat. Sedangkan sisa hal lain pada dirimu..." Bima sengaja menggantung kalimatnya dan hanya mendengus sinis.

Penghinaan dalam bentuk keheningan itu justru terasa jauh lebih menyakitkan bagi Adrian.

Adrian yang tersulut emosi langsung melangkah maju dan melayangkan pukulan ke arah kaca mobil Bima. Namun, Bima adalah seorang mantan prajurit tangguh yang pernah memenangkan kejuaraan bela diri militer. Ia sama sekali tidak merasa terancam. Bima mencibir, lalu dengan gerakan kilat menangkap lengan Adrian dan menariknya paksa ke dalam celah kaca mobil yang terbuka setengah, lalu menahannya dengan benturan keras.

Krek!

Suara patahan tulang terdengar jelas. Lengan Adrian mengalami cedera patah tulang akibat kuncian dan hantaman keras dari Bima.

"Tuan Gavin hanya memberikanmu satu pilihan jalan keluar: tinggalkan kota ini sekarang juga!" ancam Bima tegas.

Adrian yang menahan kesakitan luar biasa akhirnya mengangguk pasrah. "Baik..."

Malam harinya, di lorong luar kamar rawat inap VIP.

Gavin yang masih mengenakan pakaian kerjanya yang tampak kusut bersandar di dinding koridor. Ia menundukkan kepala sambil menyesap rokoknya dalam keheningan. Rambutnya tampak sedikit berantakan, dan gurat kelelahan terpancar jelas di wajahnya. Di tengah koridor yang remang-remang, cahaya dari ujung puntung rokoknya terlihat mencolok.

Tak lama kemudian, Bima datang membawa sebuah tas berisi pakaian bersih dan menyerahkannya kepada Gavin. "Sudah tiga hari kamu tidak mengganti pakaian. Tubuhmu akan mulai terasa Tidak enak jika terus dibiarkan seperti ini."

Gavin tetap bergeming dan tidak memberikan respons apa pun atas sodoran tas tersebut.

"Kalau kamu tidak takut membuat Aluna kembali pingsan atau merasa mual karena mencium bau badanmu saat dia bangun nanti, ya sudah, tidak usah ganti baju," ujar

Bima sengaja menggunakan taktik provokasi.

Mendengar hal itu, alis Gavin sedikit bergerak. Ia melirik ke arah pakaiannya sendiri.

Bima menaikkan sebelah alisnya. "Nah, begitu lebih baik. Jika kamu membersihkan diri, Aluna pasti akan lebih nyaman melihatmu saat dia membuka mata nanti. Lagipula, sebaiknya kamu mencukur janggut tipismu itu, sudah terlihat sangat berantakan dan mengganggu pemandangan. Kamu itu CEO dari Ramadhan Group, demi Tuhan. Jangan selalu memperlihatkan penampilan sekusut ini..."

Seketika itu juga, Mata tajam Gavin langsung menatap Bima dengan pandangan mengintimidasi.

Bima spontan menelan ludah dan buru-buru mengangkat kedua tangannya ke udara. "Oke, oke, aku tarik ucapanku dan tidak akan bicara lagi!"

"Adrian sudah berangkat siang tadi menggunakan pesawat. Aku sudah memeriksa catatan penerbangannya secara langsung; dia pergi menuju ke Samarinda," lapor Bima mengalihkan topik.

Kilat dingin melintas di mata Gavin. Ia menyahut rendah, "Tetap awasi pergerakannya di sana. Jika dia masih berani mencoba mencari tahu keberadaan Aluna, kita harus bertindak dengan cara yang jauh lebih keras."

"Aku Paham, serahkan saja padaku."

Bima kemudian memiringkan kepalanya, menatap ke dalam kamar rawat melalui kaca pembatas. Aluna masih terbaring tenang di atas ranjang. Jika bukan karena adanya sedikit pergerakan naik-turun pada dadanya saat bernapas, gadis itu benar-benar terlihat seperti kehilangan tanda-tanda kehidupan.

"Sudah tiga hari berturut-turut, kenapa dia belum sadar juga?" tanya Bima dengan nada prihatin.

"Dia akan bangun. Dia pasti akan segera sadar," sahut Gavin dengan nada bicara yang sangat tegas, sebuah kalimat yang tidak jelas apakah ditujukan untuk menjawab pertanyaan Bima atau murni untuk menghibur hatinya sendiri.

Keesokan paginya.

Sisi datang ke rumah sakit dengan penampilan yang sangat rapi. Ia sengaja mengenakan kemeja putih dengan model lengan mengembang yang persis sama dengan pakaian milik Aluna, dipadukan dengan celana jins biru muda serta sepatu kets putih. Riasan wajahnya dibuat sedemikian rupa agar memancarkan kesan muda. Ia melangkah menyusuri lorong gedung VIP dengan aura angkuh sembari menjinjing sebuah termos bekal.

Brak!

Dengan gerakan kasar, Sisi membanting termos makanan berinsulasi yang dipegangnya ke atas meja konter perawat yang berjaga di pintu masuk area VIP. Ia berucap dengan nada memerintah, "Daftarkan nama saya, saya ingin masuk ke kamar rawat nomor seratus tiga puluh empat."

Karena Sisi selalu datang setiap hari selama tiga hari berturut-turut, seluruh perawat yang bertugas di meja konter tersebut sudah sangat mengenali sifatnya. Di dalam hati, para perawat itu merasa sangat jijik dengan sikap Sisi, namun demi profesionalitas kerja, mereka tetap merespons dengan ramah formal.

Salah satu perawat berwajah bulat mencatat identitas Sisi pada sistem, lalu menyerahkan sebuah gelang akses berwarna biru. "Nona Sisi, ini akses masuk Anda."

Sisi mengambil gelang tersebut, melemparkannya begitu saja ke dalam tas jinjingnya tanpa mengucap terima kasih, lalu melenggang pergi menuju arah kamar rawat Aluna.

Begitu sosok Sisi menjauh, meja konter perawat langsung dipenuhi oleh bisikan-bisikan miring dari para staf yang bertugas.

"Dia hanya seorang pelayan, tapi pembawaannya sudah seperti seorang nyonya besar yang berniat naik tangga. Seharusnya dia bercermin dulu sebelum bertingkah."

"Benar sekali. Tuan Gavin bahkan terlihat sangat protektif dan setia menjaga Nona Aluna di dalam kamar, mana mungkin pria sekelas beliau akan tertarik pada pelayan seperti dia?"

"Sikapnya sepanjang hari selalu arogan dan merasa seolah-olah dirinya adalah calon istri Tuan Gavin.ini Benar-benar membuatku muak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!