Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daniel!
Daddy Brian kemudian menoleh ke arah Daniel yang hanya berdiri bersandar pada pilar besi, "Daniel, terima kasih. Om tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu," ucap Brian tulus.
Daniel hanya mengangguk singkat, "Bawa dia pergi dari sini, Om. Bengkel ini sudah tidak aman dan aku tidak mau terseret ke dalam drama keluarga kalian," ucap Daniel.
Pernyataan Daniel yang dingin seolah menjadi penutup yang tegas bagi pelarian singkat Rachel di bengkel itu. Namun, tepat saat Rachel hendak melangkah masuk ke dalam van tua milik Ayahnya, suara deru mesin mobil mewah yang sangat asing di telinga penduduk distrik pelabuhan memecah keheningan pagi.
Sebuah sedan hitam mengkilap dengan kaca gelap berhenti tepat di depan van Daddy Brian dan menghalangi jalan keluar, pintu belakang terbuka dan seorang wanita turun dengan keanggunan yang terasa seperti sebuah tamparan bagi lingkungan kumuh tersebut.
Mommy Viona berdiri di sana, rambutnya tersanggul sempurna tanpa sehelai pun yang mencuat, setelan blazer mahalnya tampak berkilau dan wajahnya dipoles dengan riasan yang memancarkan kekuasaan. Ia menatap sekeliling dengan pandangan jijik, menatap tumpukan ban, noda oli dan bangunan rongsokan di depannya seolah-olah oksigen di tempat itu tidak layak masuk ke paru-parunya.
"Pemandangan yang sangat menyedihkan," ucap Mommy Viona dengan suara yang tenang namun tajam dan memecah kesunyian.
"Mommy?" Rachel membeku di tempat dan seluruh keberanian yang ia kumpulkan selama beberapa hari terakhir seolah menguap begitu saja saat melihat tatapan dingin ibunya.
Mommy Viona melangkah maju, hak sepatunya yang runcing mengetuk lantai semen dengan irama yang menuntut kepatuhan. Ia mengabaikan Daniel sepenuhnya, seolah pria itu hanyalah bagian dari properti rongsokan di bengkel tersebut dan langsung mengarahkan matanya pada Brian.
"Jadi di sini kau menyembunyikan putriku, Brian? Di tempat pembuangan sampah ini. Aku sudah menduga seleramu rendah, tapi aku tidak menyangka kau akan menyeret Rachel ke dalam kemiskinanmu yang menjijikkan," ucap Mommy Viona dengan senyum sinis yang menghina.
Daddy Brian maju selangkah dan mencoba melindungi Rachel di belakang punggungnya, "Viona, hentikan semua ini, Rachel kemari karena keinginannya sendiri. Dia ingin bertemu Ayahnya, sesuatu yang selama ini kau tutup-tutupi darinya," ucap Daddy Brian dengan suara rendah namun bergetar menahan amarah.
"Ayah?" Mommy Viona tertawa hambar, tawa yang terdengar sangat merendahkan.
"Seorang pria yang tinggal di gubuk dan menjual kaldu sapi di pinggir jalan tidak layak dipanggil Ayah oleh seorang pewaris Trinity Beauty. Rachel, masuk ke mobil sekarang dan kita pulang," ucap Mommy Viona.
"Rachel nggak mau pulang, Mom!" teriak Rachel da tangannya mencengkeram erat kaos hitam Daniel yang masih ia kenakan.
"Rachel lebih suka tinggal di sini bersama Daddy daripada kembali ke rumah yang lebih mirip penjara itu!" lanjut Rachel.
Mommy Viona menatap pakaian yang dikenakan Rachel, kaos pria yang kebesaran, rambut yang acak-acakan, wajah yang kusam dan matanya berkilat murka.
"Lihat dirimu, Rachel! Kamu terlihat seperti sampah! Hanya dalam hitungan hari, pria ini telah menghancurkan martabat yang kubangun untukmu selama dua puluh tujuh tahun!" ucap Mommy Viona.
Mommy Viona kemudian melirik ke arah Daniel yang masih bersandar tenang di pilar seolah sedang menonton drama picisan, "Dan kau... preman. Berapa Brian membayarmu untuk menjaga putriku? Atau kau berharap bisa mendapatkan keuntungan lebih dengan mendekati putri seorang miliarder?" tuduh Mommy Viona.
Daniel tidak bergerak, ia hanya mengangkat satu alisnya. "Nyonya, jujur saja, uangmu tidak cukup untuk membayar rasa sakit kepalaku menghadapi drama keluargamu," jawab Daniel dengan nada datar yang sangat berani.
"Kurang ajar!" teriak Mommy Viona, lalu memberi isyarat dengan tangannya.
Tiga pria berjas hitam yang tempo hari mengejar Rachel muncul dari belakang mobil, kali ini mereka memegang senjata yang lebih terlihat jelas di balik jas mereka.
"Viona, jangan gila! Ini negara orang!" seru Brian panik.
"Aku punya uang untuk membungkam siapa pun di tempat kumuh ini, Brian," ucap Mommy Viona sombong.
"Bawa Rachel masuk ke mobil, jika pria tatoan ini atau mantan suamiku mencoba melawan, habisi saja. Anggap saja sebagai pembersihan hama," lanjut Mommy Viona.
Suasana mendadak menjadi sangat genting, Dandi yang mengintip dari balik tumpukan ban sudah gemetaran, sementara para pria berjas itu mulai mendekat ke arah Rachel.
Namun, sebelum tangan salah satu pria itu menyentuh Rachel, Daniel melangkah maju. Ia berdiri tepat di depan Rachel, menghalangi jangkauan para pengawal Mommy Viona.
"Nyonya yang terhormat," ucap Daniel, suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.
"Di Jakarta, kau mungkin ratu. Tapi di distrik pelabuhan ini, aku adalah hukumnya. Jika kau ingin membawa gadismu ini, silakan coba. Tapi aku tidak menjamin pengawal-pengawalmu ini bisa pulang dengan kaki yang masih utuh," ucap Daniel.
Mommy Viona tertegun sejenak melihat keberanian Daniel, ia menatap mata pria itu dan untuk pertama kalinya, Mommy Viona merasa sedikit ragu. Ada kegelapan di mata Daniel yang memberitahunya bahwa pria ini bukan sekadar pria biasa, ia adalah pria yang tidak takut mati.
"Kau mengancamku?" tanya Mommy Viona dengan suara tertahan.
"Aku hanya memberimu saran kesehatan, jadi, sekarang ambil mobil mewahmu itu dan pergi dari depan bengkelku sebelum orang-orang pelabuhan datang dan menjadikannya rongsokan dalam hitungan menit," ucap Daniel.
"Hahaha, kau pikir aku takut. Cepat bawa Rachel!" ucap Mommy Viona dan kembali menyuruh anak buahnya untuk membawa Rachel.
Dua pria berbadan besar langsung menerjang Daniel, sementara satu lainnya merangsek maju untuk menyambar lengan Rachel.
Daniel bergerak secepat kilat, ia menepis pukulan pertama dan menghantam ulu hati lawan dengan sikutnya dan membuat pria itu terjerembap.
Namun, kemarahan Mommy Viona bukan gertakan. Dari balik jas hitamnya, pria ketiga mencabut tongkat taktis baja dan menghantamkannya tepat ke arah bahu Daniel yang sedang melindungi Rachel, bunyi jatuh yang keras bergema di dalam bengkel.
"Daniel!" teriak Rachel histeris saat melihat Daniel tersungkur berlutut.
Daniel berusaha bangkit, matanya masih menyala penuh tantangan, tapi ia kalah jumlah dan rasa sakit menjalar dari bahu hingga ke punggungnya. Sebelum ia bisa membalas, sebuah tendangan mendarat di rusuknya dan menjatuhkannya ke lantai semen yang dingin, d*r*h segar mulai mengalir dari sudut bibirnya dan menetes di atas tato di lengannya.
Mommy Viona melangkah mendekat dengan wajah tanpa ekspresi dan menganggap pemandangan kekerasan di depannya hanyalah prosedur bisnis biasa.
"Bawa dia," perintah Mommy Viona dingin.
Rachel meronta-ronta, kuku-kukunya mencakar lengan pengawal yang menyeretnya. "Lepaskan! Daddy! Daniel! Tolong!" teriak Rachel.
Daddy Brian mencoba merengkuh putrinya, namun ia langsung ditahan oleh pria berjas lainnya. "Viona, kamu sudah melampaui batas! Dia putrimu sendiri!" bentak Daddy Brian.
"Aku menyelamatkannya dari pengaruh sampah seperti kalian!" balas Mommy Viona tajam.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁