kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Setelah menerima panggilan dari topeng hitam, dengan malas tapi tak dapat berkata apa setan bungkuk dan sepasang gila harus kembali menuju markas.
"Ada apa yang mulia memanggil kami??" tanya setan bungkuk.
"kalian ikuti iblis Jerangkong, dia saat ini sedang mengikuti bocah itu, dan satu lagi, kalian sebarkan sketsa gambar ini," kata topeng hitam dan memberikan selebaran berisi sketsa gambar Jaka Srenggi dan Badawa, di selebaran itu tertulis.
"BAGI SIAPA SAJA YANG MELIHAT, ATAU MEMBERI INFORMASI DAN MEMBUNUH ORANG YANG ADA DI GAMBAR INI MAKA LORONG LIMA AKAN MEMBERIKAN HADIAH BESAR. YANG MEMBUNUH DAN MEMBAWA KEPALA AKAN DI HADIAHI SERIBU KEPING UANG EMAS. YANG MEMBERIKAN INFORMASI KEBERADAAN AKAN DI BERIKAN SERATUS KEPING UANG EMAS!"
Wajah setan bungkuk terlihat sangat terkejut melihat harga buronan yang berikan pada Jaka Srenggi dan Badawa.
"Apa yang mulia yakin harga mereka sebesar ini??" tanya setan bungkuk dengan mata yang membesar.
"Kenapa? Apkurang??"
"aku rasa ini terlalu besar yang mulia!"
"Terlalu besar? Di tangan bocah itu ada kitab pedang seribu, itu yang membuat harga kepalanya begitu besar!" kata Topeng hitam.
"Tapi yang mulia!"
"Tak ada tapi-tapi an! Segera kalian susul iblis Jerangkong, dan bergabung bersamanya untuk melawan si muka mayat," perintah topeng hitam.
"Si muka mayat??" desis setan bungkuk kaget.
"Kenapa?? apa kau takut padanya??" tanya topeng hitam sinis.
"Ti .... tidak yang mulia," jawab setan bungkuk gugup.
Siapa pun pasti akan merasa gugup jika akan bertarung dengan salah satu dedengkot yang tak jelas golongannya, termasuk setan bungkuk.
"Apa lagi yang kalian tunggu? Berangkat sekarang!" perintah topeng hitam.
"Baik yang mulia," jawab setan bungkuk dan sepasang gila yang tak berani sedikit pun untuk membantah perintah topeng hitam.
Ketiga nya melesat menuju arah yang di tuju oleh iblis Jerangkong dan gerombolannya. Setiap mereka tiba di sebuah desa maka selebaran gambar sketsa wajah Jaka Srenggi dan Badawa akan mereka tempelkan, setiap sudut dan pusat keramaian pasti akan ada gambar sketsa itu.
"Seribu keping uang emas? Banyak sekali!
Siapa ya dia? Harga kepalanya sampai segitu banyaknya!'
Setiap orang yang melihat harga kepala dari Jaka Srenggi dan Badawa pasti akan tergiur, begitu juga dengan para pendekar golongan hitam, dan sebagian golongan putih.
Golongan hitam pasti akan menjadi musuh bagi Jaka Srenggi, di tambah dengan sketsa wajahnya sudah di sebarkan dipastikan tak akan ada lagi kedamaian untuk pemuda yang baru turun gunung itu.
Sementara itu di bekas pertempuran, iblis Jerangkong dan kawanannya begitu bergidik melihat mayat dari singa gurun yang tewas begitu mengenaskan.
"Apa yang melakukan ini manusia??" gumam iblis Jerangkong
"Dia mungkin manusia, tapi kekejamannya melebihi iblis," ucap si pedang kilat.
"Aku saja tak sekejam itu dalam membunuh musuhku," lanjut iblis Jerangkong.
Keempat suruhan dari topeng hitam itu masih tetap berdiri di tempat itu.
"Apa kita akan berhadapan dengan manusia seperti yang kita pikirkan itu??" tanya salah satu dari macan kembar.
"Aku tak yakin, tapi juga sepertinya iya, tapi aku berharap bukan dia yang kita cari!' jawab Iblis Jerangkong.
Iblis Jerangkong terdiam setelah menjawab pertanyaan dari macan kembar.
"Sudah hampir malam, kita akan bermalam dimana??" tanya si pedang kilat.
"kita bermalam di sekitar sini saja, tapi agak jauh, bau nya akan semakin amis jika kita di sini! Kita akan menunggu setan bungkuk dan sepasang gila! Menghadapi manusia yang seperti iblis itu aku rasa kita butuh tenaga banyak," ucap iblis Jerangkong.
"Baik, kau mengikuti perkataanmu!'
Jauh dari tempat iblis Jerangkong bermalam, dua sosok manusia terus saja terbang menebas dinginnya malam.
"Guru, aku sudah capek," rengek Jaka Srenggi.
"Kau ini, membunuh orang sudah, tapi masih saja cengeng. Tunggu sebentar lagi, kita akan sampai di lembah Kematian," kata Badawa.
"Dimana sebenarnya lembah Kematian itu guru? Sepertinya sangat jauh," tanya Jaka Srenggi
Badawa diam mendengar pertanyaan itu, kalau dihitung entah sudah berapa kali Jaka Srenggi menanyakan pertanyaan itu, tapi Badawa yang juga sudah mulai lelah memilih untuk tak menjawab pertanyaan rengek dari Jaka Srenggi.
Saat pagi datang, Jaka Srenggi dan Badawa sampai di sebuah desa kecil.
"Guru apa kita tak makan??" tanya Jaka
"Iya, guru kali ini akan mengalah, ayo kita cari kedai unt ..."
Badawa tak meneruskan ucapannya.
Matanya melihat sebuah sketsa wajah mereka berdua. Dan dia membaca kata kata dari selebaran itu.
"Harga kepala kami seribu keping uang emas??"
Wajah Badawa semakin pucat.
"Bagaimana mungkin topeng hitam memberikan harga sebesar itu untuk kepala anak kecil!' gumam Badawa.
"Kita tak jadi makan, sebaiknya kita meneruskan perjalanan!"
"Tapi guru ... .!' Jaka Srenggi ingin protes.
"Kau tak melihat itu??" tunjuk Badawa.
Mata Jaka melihat ke arah yang ditunjuk Badawa, dan sadarlah dia jika hidup mereka sudah di hargai dengan uang.
"Ayo kita pergi dari desa ini, sebelum ada yang menyadari kehadiran kita," ajak Badawa.
Meskipun merasa lapar dan kelelahan Jaka Srenggi kali ini menuruti ajakan dari guru nya, dan untuk kesekian kalinya keduanya terbang melesat menuju lembah Kematian.
"Kita istirahat sebentar, guru juga lelah sepertimu Jaka!'
"akhirnya, istirahat juga," kata Jaka Srenggi sangat girang.
Badawa sangat heran melihat Jaka Srenggi, usia Jaka Srenggi sudah jalan delapan belas tahun, tapi kadang sifat anak-anaknya masih sering di perlihatkan.
"Aku akan mencari hewan hutan guru, Apa guru mau??" tanya Jaka menawarkan.
"Kau tunggu saja di sini, aku yang akan mencari!"
Badawa menggaris sebuah lingkaran dan memutari tubuh Jaka Srenggi.
"Tubuhmu sudah aku buat kasat mata, jangan keluar dari lingkaran yang aku buat. Apa kau paham?'
"baik guru, Jaka paham"
Jaka Srenggi memilih untuk berbaring sambil menunggu kedatangan Badawa. Bahkan tanpa dia sadari dia tertidur dan terbawa ke alam mimpi. Rasa lelah sudah mengalahkan Jaka Srenggi, dan itu yang memaksa matanya tertutup.
Saat Badawa datang dengan ayam yang sudah siap di makan, dia tersenyum saat melihat Jaka Srenggi tidur dengan melipat tubuhnya bagaikan kepompong.
"Kalau aku tunggu dia bangun, maka akan banyak bahaya yang mengintai kami, tapi aku juga tak tega untuk membangunkannya," gumam Badawa.
"Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku memiliki rasa kasihan pada bocah ini? Apa aku sungguh tertarik pada bocah ini??"
Badawa geleng kepala yang tak mengerti dengan dirinya sendiri.
Demi keselamatan mereka Badawa memutuskan untuk membangun tidur Jaka Srenggi. keduanya melahap habis ayam yang dibakar Badawa.
Saat mereka makan tanpa Jaka Srenggi sadari dua sosok manusia sudah mengintai dari kejauhan. Tapi Badawa mampu merasakan pancaran energi itu.
"keadaannya makin gawat," gumam Badawa.