Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak di Antara Kita
Sore harinya, hujan deras mengguyur kota, menyisakan hawa dingin dan genangan air di area parkiran kantor. Arini berdiri di lobi, menatap rintik hujan yang mulai mereda dengan dahi berkerut. Sial, dia lupa membawa payung, sementara mobilnya terparkir agak jauh di sudut luar.
Breeem.
Sebuah motor matic hitam berhenti tepat di depan lobi. Pengendaranya membuka kaca helm, menampilkan wajah Rian yang terlihat segar setelah seharian bertempur dengan revisi konten.
"Belum pulang, Bu? Mau nungguin sampai airnya surut atau nunggu jemputan?" tanya Rian santai, membiarkan mesin motornya menyala.
Arini menoleh, sedikit terkejut. "Mobil saya di ujung sana, Rian. Gak bawa payung, jadi malas basah-basahan."
Rian diam sejenak, menatap jarak antara lobi dan mobil Arini. Tanpa banyak bicara, cowok itu mematikan mesin motornya, turun, dan berjalan ke arah pos satpam yang kosong di dekat lobi. Dia mengambil sebuah payung besar milik kantor yang tergeletak di sana.
"Ayo, Bu, saya payungin sampai mobil," ajak Rian sambil membuka payung tersebut, lalu berdiri di samping Arini.
Jantung Arini mencelos sesaat. Tindakan spontan Rian yang terkesan perhatian ini sukses membuat dadanya berdesir aneh. Dengan langkah agak ragu, Arini berjalan di samping Rian di bawah satu payung yang sama.
Aroma parfum Rian yang maskulin dan segar samar-samar tercium oleh Arini karena jarak mereka yang begitu dekat agar tidak terkena air hujan. Bahu mereka sesekali bersentuhan ringkas seiring langkah kaki yang disinkronkan. Keadaan ini terasa begitu intim dan bikin greget, membuat Arini menahan napas, menikmati momen manis yang tak terduga ini.
Begitu sampai di samping pintu kemudi mobilnya, Arini berbalik menghadap Rian. "Makasih ya, Rian. Kamu perhatian banget ternyata sama atasan."
Rian mengedikkan bahu dengan wajah datar andalannya. "Sama-sama, Bu. Lagian kalau Ibu besok sakit karena kehujanan, nanti gak ada yang ACC bonus divisi kita bulan ini. Saya cuma mengamankan aset dompet saya sendiri, kok."
Senyum Arini langsung tertahan. Sifat cuek nan pragmatis cowok itu memang merusak suasana romantis dalam sekejap. Namun, sebelum Arini sempat membalas, ponsel Rian yang ditaruh di saku kemejanya bergetar. Rian merogoh HP-nya, membiarkan layarnya menyala cukup terang hingga Arini bisa melihat nama kontak yang memanggil dengan jelas: "Laras", lengkap dengan emoji hati di sampingnya.
Rian langsung mengangkatnya tanpa canggung di depan Arini. "Halo, Ras? Iya, ini baru mau balik dari kantor. Kenapa? Oh, minta dijemput di kosan? Iya, bentar lagi gue jalan ke sana. Jangan ke mana-mana, ya."
Suara Rian terdengar begitu lembut, sangat berbeda dengan nada bicaranya yang biasanya ketus atau santai kepada orang kantor.
Deg.
Rasa hangat di dada Arini seketika runtuh, digantikan oleh jepitan tak kasat mata yang menyesakkan. Arini mendadak teringat kembali pada siluet perempuan di toko sepatu mall kemarin. Kenyataan pahit itu langsung menampar kesadarannya dengan keras: Rian sudah punya pacar. Perhatian, kenyamanan, dan candaan cair di antara mereka beberapa hari ini tidak lebih dari sekadar hubungan profesional antara atasan dan bawahan. Arini merasa bodoh karena sempat terbawa perasaan.
"Saya duluan ya, Bu. seseorang udah nungguin buat dijemput," pamit Rian santai setelah mematikan sambungan teleponnya, lalu berbalik berjalan kembali ke arah motornya tanpa beban.
Arini hanya bisa mematung di samping mobilnya, menatap punggung Rian yang menjauh di bawah guyuran sisa gerimis. Dia mengembuskan napas berat, mencoba menata kembali hatinya yang mendadak retak tipis. "Sadar, Arini... dia cuma bawahan kamu, dan dia udah ada yang punya," bisiknya pada diri sendiri sebelum membuka pintu mobil dengan lemas.
Sementara itu, di atas motornya yang melaju membelah jalanan basah, Rian bersin beberapa kali di dalam helm.
"Duh, siapa nih yang ngomongin gue? Mana dingin banget lagi," gerutu Rian dalam hati.
Dia mempercepat laju motornya menuju tempat kos sepupunya, Laras. Gadis dari desa itu baru saja lulus kuliah dan berniat mencari kerja di kota, makanya kemarin Rian terpaksa menemaninya keliling mall untuk membeli sepatu formal yang layak pakai untuk wawancara kerja.
Bagi Rian yang menyandang status jomblo abadi sejak zaman kuliah, direpotkan oleh sepupunya yang manja itu sebenarnya cukup melelahkan. Apalagi Laras sering kali bertingkah sok akrab dan hobi meminta jemput seenaknya. Tapi, demi amanat dari ibunya di kampung untuk menjaga sang sepupu, Rian hanya bisa pasrah menjalani tugasnya sebagai ojek gratisan sementara waktu.
Rian sama sekali tidak sadar, bahwa tugas kekeluargaan itu baru saja membuat sang atasan di kantor mengalami patah hati emosional yang cukup hebat.