Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah di Pucuk Langit-Langit Beton
Sinar matahari Jakarta pukul sepuluh pagi jatuh tegak lurus, memantul kejam di atas hamparan kaca kap mobil dan aspal Sudirman yang mulai meliuk oleh hawa panas. Deru bising knalpot bercampur dengan debu konstruksi jalur bawah tanah menciptakan simfoni metropolitan yang menyesakkan dada fana. Dika berjalan menyusuri trotoar granit di samping Lina, langkah kakinya diatur sedemikian rupa agar tetap terlihat konstan dan agung, laksana seorang raja yang sedang meniti jalan setapak menuju altar pengorbanan suci.
Namun, di bawah permukaan kemeja katun hitam barunya yang masih beraroma kain grosiran, jalinan energi di tubuh fana Dika sedang mengalami krisis eksistensial yang luar biasa menyedihkan.
“Aduh, aduh... ini trotoar Jakarta kenapa kerasnya melebihi batu fondasi kuil langit luar sih?!” jerit suara di balik batok kepalanya, cempreng dan penuh nestapa, merusak seluruh karisma yang ia bangun sejak keluar dari kafe kopi tadi. “Setiap tumit gue menghentak ini paving blok, getarannya langsung merambat naik ke tulang ekor terus menusuk ke urat pinggang! Mana balsem otot dari Lina tadi efek panasnya udah mulai menguap, berganti jadi rasa linu yang bikin paha kanan gue gemeteran kayak digelantungi monyet pohon. Tenang Dika, jangan bungkuk. Di sebelah lo banyak mbak-mbak kantoran yang lagi makan jajan pasar, jangan sampai lo mendadak roboh sambil megangin bokong!”
Lina yang berjalan di sampingnya sembari mendekap map berkas hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah jalan raya. Kebocoran jalinan takdir membuat setiap keluhan cempreng dari batin Dika terdengar begitu jernih di kepalanya, memicu rasa gemas yang setengah mati bercampur dengan rasa ingin tertawa lepas di tengah keramaian siang bolong.
"Dika, itu menara pusat Keluarga Wijaya," bisik Lina, menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang besi tempa hitam sebuah gedung pencakar langit berlantai enam puluh. Struktur bangunan itu berdiri angkuh, dilapisi kaca hitam anti-peluru yang memantulkan bayangan awan kelabu Jakarta. "Menurut racauan si klimis Rian tadi, sekretaris utama yang merancang fitnah buat lo namanya Pak Hendra. Dia punya ruangan khusus di lantai tiga puluh lima."
Dika mendongak perlahan, menatap pucuk langit-langit beton yang menjulang tinggi mencakar langit luar. Di balik kelopak matanya yang menyipit, sepasang Mata Takdir kembali berdenyut hangat secara otomatis, menyisakan pendar emas purba yang tipis namun tajam di balik selaput korneanya.
Dunia monokrom kembali terhampar luas dalam ruang kesadarannya. Keindahan arsitektur modern gedung itu luntur seketika menjadi siluet abu-abu kusam. Di mata sang mantan dewa, yang paling mencolok adalah seberkas benang takdir berwarna ungu kelam berbaur merah darah—simbol dari konspirasi pembunuhan dan pengkhianatan tingkat tinggi—yang menjalar turun dari lantai tiga puluh lima gedung tersebut, menembus dinding-dinding beton, lalu berujung tepat di bawah telapak kaki Dika.
Benang itu memancarkan hawa dingin yang berbau amis, persis seperti aroma sisa darah yang tertinggal di atas belati eksekusi kuil kuno.
“Jalinan karma ini begitu pekat hingga sanggup meracuni tanah di sekitarnya,” desis keheningan di balik batok kepala Dika, kali ini murni dingin dan tak tersentuh oleh emosi fana. “Hendra... jiwa yang malang itu mengira ia bisa menyembunyikan konspirasi triliunan rupiah di balik dinding kaca yang tinggi. Dia tidak tahu bahwa setiap lembar dokumen palsu yang dia buat untuk menghancurkan Dika yang asli, kini telah menjelma menjadi untaian rantai besi yang akan menyeret seluruh kejayaan Keluarga Wijaya ke dasar jurang pembalasan.”
Namun, atmosfer keagungan kosmik itu seketika buyar saat dua orang petugas keamanan bertubuh tegap dengan seragam safari hitam melangkah menghadang jalan mereka tepat di depan pintu putar lobi gedung.
"Maaf, Dek, ada keperluan apa? Bisa tunjukkan kartu identitas atau surat janji temu?" tanya salah satu petugas dengan nada suara yang tegas, sepasang matanya menatap curiga ke arah kemeja grosiran Dika dan tas kanvas kumal yang dibawa Lina.
Melihat hadangan dua pria bermuka sangar dengan borgol besi yang menggantung di pinggang mereka, batin Dika yang asli langsung meronta konyol dengan tingkat kepanikan yang naik drastis.
“Waduh, waduh! Ini bapak-bapak sekuriti badannya gede banget kayak kulkas dua pintu! Mana mukanya kotak-kotak kayak potongan tempe mendoan lagi! Tenang Dika, jangan merem. Sisa energi lo tinggal dua belas persen setelah nampar si Rian tadi. Kalau lo terpaksa berantem fisik sama dua kulkas berjalan ini, kemeja baru seratus lima puluh ribu lo bisa robek di bagian ketiak! Nggak ada anggaran lagi buat beli baju baru di mall!”
Lina yang menyadari perubahan raut wajah Dika yang mendadak sedikit masai segera mengambil inisiatif. Ia melangkah maju, mengangkat map berkas di tangannya dengan dagu yang sengaja diangkat tinggi, meniru gaya asisten pribadi kelas atas yang angkuh.
"Kami dari perwakilan hukum PT Megah Prakarsa kota tua," ucap Lina dengan suara yang lantang dan penuh penekanan. "Kami membawa dokumen internal penting yang harus diserahkan langsung kepada Sekretaris Utama, Pak Hendra, terkait kasus penggelapan dana regional oleh Johan. Jika Anda menunda langkah kami, kerugian triliunan rupiah dari Konsorsium Mahardika siang ini akan menjadi tanggung jawab pos keamanan Anda!"
Mendengar gertakan Lina yang begitu fasih menyebutkan nama Johan, Pak Hendra, hingga Konsorsium Mahardika, kedua petugas keamanan itu sempat saling pandang dengan wajah ragu. Tekanan psikologis dari nama-nama besar itu rupanya cukup ampuh untuk meruntuhkan ketegasan seragam safari mereka.
"B-Baik, silakan isi daftar tamu di meja resepsionis terlebih dahulu," ucap petugas itu akhirnya, sembari membungkuk tipis memberikan jalan.
Dika melangkah melewati pintu putar lobi dengan gerakan yang lambat dan penuh keanggunan seorang kaisar langit, meskipun di dalam hatinya ia sedang bersorak-sorai memuji keberanian Lina.
“Oh, wahai Sekretaris Wanita Lambungku! Gertakan lo barusan bener-bener setingkat dengan mantra pembungkam jiwa di Sekte Langit Sembilan! Untung mereka nggak nanya surat tugas asli, kalau nggak, kita beneran bakal dijemur di depan pos satpam sampai sore!” ratap batinnya penuh rasa syukur.
Beberapa menit kemudian, lift cepat berlapis dinding cermin perak membawa mereka melesat naik menuju lantai tiga puluh belas. Rasa melayang saat lift bergerak cepat membuat perut fana Dika sempat terasa diaduk-aduk, memicu rasa mual tipis yang harus ia tahan dengan cara mencengkeram erat besi pegangan di dalam lift.
Ting.
Pintu lift terbuka, menampilkan koridor lantai tiga puluh lima yang sunyi dan mewah. Lantainya dilapisi karpet beludru merah tua yang begitu tebal hingga sanggup meredam seluruh suara langkah kaki. Di ujung koridor, sebuah pintu kaca buram dengan papan nama kuningan bertuliskan "Sekretaris Utama - Hendra Wijaya" berdiri kokoh.
Saat Dika mendorong pintu tersebut, ia langsung disambut oleh embusan AC yang sangat dingin dan aroma minyak wangi maskulin yang mahal. Di balik meja kerja kaca yang melengkung modern, duduk seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan kemeja sutra abu-abu. Rambutnya dipotong rapi dengan kacamata berbingkai emas yang bertengger di hidungnya yang mancung.
Dialah Hendra. Tangan kanan Keluarga Wijaya yang merancang seluruh skenario kehancuran Dika yang asli dari balik layar kaca Jakarta.
Hendra mendongak dari komputer jinjingnya. Begitu sepasang matanya menangkap sosok Dika yang berdiri di ambang pintu, jemarinya yang sedang mengetik langsung membeku di atas papan ketik. Seluruh warna kulit di wajah pria paruh baya itu seketika memudar, berubah pucat sewarna kertas semen.
"D-Dika?!" suara Hendra tercekat, bergetar oleh kombinasi rasa tidak percaya yang luar biasa. Ia berdiri dari kursi kerjanya hingga kursinya beroda mundur menabrak dinding. "Bagaimana mungkin... bagaimana bisa lo ada di sini? Bukankah Ki Gendeng sudah..."
"Dukun sewaanmu telah memuntahkan darah hitamnya di atas altar kepalsuannya sendiri, Tuan Hendra," potong Dika, suaranya mendadak berubah—rendah, dingin, dan membawa tekanan atmosfer spiritual yang begitu pekat hingga membuat kaca-kaca jendela di ruangan itu bergetar halus seolah diguncang gempa skala kecil.
Dika melangkah mendekat, setiap tapakan kakinya di atas karpet beludru seolah membawa beban takdir seberat sembilan lapis langit yang runtuh. Ia berhenti tepat dua langkah di depan meja kerja Hendra, menatap pria itu dengan sepasang mata yang kini memancarkan pendar emas purba yang menyala pekat di balik keremangan ruangan.
"Kau mengira dengan memotong jalinan nasib seorang pemuda miskin di kampus dulu, kau bisa mengamankan gurita bisnis haram milik Keluarga Wijaya," ucap Dika, nadanya datar tanpa emosi fana, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya laksana sebilah jarum es yang menancap langsung ke pusat kesadaran Hendra. "Hari ini, aku datang bukan untuk meminta keadilan dari hukum fanamu yang cacat. Aku datang untuk mengambil kembali apa yang telah kau curi dari takdir pemilik tubuh ini, dan menampar wajah kepalsuanmu tepat di pucuk menara beton yang kau banggakan ini."
Hendra gemetar hebat, tangannya meraba-raba ke bawah meja mencoba menekan tombol darurat keamanan, namun seluruh saraf di tubuhnya mendadak kaku seiring dengan merayapnya hawa dingin dari pendar emas Mata Takdir milik Dika yang sedang mengunci jalinan energinya dari jarak dekat.
Lembaran kedua dari seri penamparan wajah para pengkhianat di Jakarta baru saja membuka tirainya dengan ketakutan yang membeku di balik dinding kaca lantai tiga puluh lima.