Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode #17
"Yuna, ikut gue sekarang, ada yang mau gue omongin sama Lo," ucap Brayen yang kemudian langsung menarik tangan Yuna, membawa Yuna pergi dari kantin.
"Brayen apaan sih, lepasin gue, sakit tau nggak," kata Yuna melepaskan tangan Brayen yang menarik nya dengan kasar.
"Yuna gue gak mau tau ya, gue mau Lo bantuin gue buat baikan sama Clara," ucap Brayen.
"Lah, kenapa bukan nya Clara suka banget sama Lo ya? Kenapa malah minta bantuan gue?" tanya Yuna kebingungan.
"Ini semua gara-gara Lo, kalau aja Lo gak fitnah dia, gue gak mungkin jahat sama dia, dan sekarang Lo tau nggak? Dia udah gak mau deket lagi sama gue," crocos Brayen.
"Hah? Sebegitu nya?" tanya Yuna seketika terkejut.
"Gue gak peduli apa alasan Lo ngelakuin ini, tapi Lo harus bantu gue, kalau nggak gue gak bakalan mau lagi ada hubungan sepupu sama Lo," ancam Brayen.
"Astaga kak Brayen! Segitunya?" kata Yuna kaget.
"Iya!" jawab Brayen tegas.
"Yaudah deh, nanti abis pulang sekolah aku bakal ke rumah Clara buat jelasin semuanya, aku bakal minta maaf secara langsung sama dia," ujar Yuna dengan wajah penuh gelisah.
"Bagus, gue tunggu kabar baik dari Lo," ucap Brayen yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Yuna.
"Aduh, semua gara-gara si Lana sialan," batin Yuna bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Beberapa jam kemudian.
"Aduh ini kapan sih pulang nya? Laper banget," batin Clara tidak fokus belajar karena perutnya sedang lapar meskipun ini adalah jam pelajaran terakhir.
"Clara kamu gak apa-apa kan?" tanya teman yang ada di depan Clara.
"Ngak apa-apa kok, gue cuma sakit perut aja," kata Clara berusaha tetap tenang.
"Itu yang di belakang kenapa berbicara? Apakah kalian sudah mengerti dengan apa yang barusan saya jelaskan?" tanya Zidan menatap Clara yang ada di belakang.
"Maaf pak," kata teman yang di depan Clara seketika segera fokus.
"Clara maju kamu," kata Zidan lagi.
"A-aku?" ucap Clara sambil menujuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi, ayo cepat maju," kata Zidan kesal.
Mau tidak mau Clara pun berdiri dari duduknya dan berjalan pelan-pelan menuju meja guru.
"Ada apa pak?" tanya Clara.
"Kamu sudah mengerti apa yang saya jelaskan?" tanya Zidan dengan tatapan tajam.
"Sa-saya," jawab Clara terbata-bata.
"Isi soal yang nomer dua, jika salah kamu saya hukum," kata Zidan lagi.
"Tapi pak," Clara menatap Zidan dan berharap Zidan tidak menyuruh nya karena dia benar-benar tidak tau.
"Cepat Clara," ujar Zidan memaksa.
Akhirnya Clara pun mengambil spidol dan berhati-hati mengisi jawaban tersebut. Namun ia tidak tau yang ia tuliskan adalah jawaban yang salah hal ini membuat Zidan mengelengkan kepala kesal karena tadi malam sudah dia ajarkan seharusnya Clara tidak mungkin salah.
Karena telah berkata begitu, mau tidak mau dirinya harus menghukum Clara.
"Berdiri kamu di depan sampai bell pulang bunyi," kata Zidan lagi.
Clara melepas nafas panjang dan berjalan sambil memegang perut nya menuju luar kelas.
Ia pun akhirnya berdiri di tengah terik matahari sambil menahan perut yang sakit.
"Pak, tapi tadi Clara bilang perutnya sakit pak, gimna kalau dia pingsan?" tanya teman yang tadi berbicara dengan Clara.
Zidan hanya diam dan kemudian melirik ke luar, seharusnya sebentar lagi bel akan berbunyi.
Lima menit pun berlalu,bel sekolah belum juga berbunyi, mata Clara sudah keliyengan di tambah perut nya yang sedang sakit.
Kring ... Kring ... Kring ...
Pada akhirnya bell pulang pun berbunyi, menandakan bahwa sudah selesai hukuman Clara, namun saat kaki nya hendak melangkah pergi dari sana ia tiba-tiba jatuh pingsan dan ambruk ke tanah.
"Astaga! Pak Zidan! Clara pingsan," ucap teman-teman Clara yang barusan keluar dari kelas.
Mendengar itu seketika Zidan berlari keluar dan melihat kondisi Clara, lutut nya berdarah karena terkena kerikil yang ada di depan kelas.
Segera saja Zidan mengendong nya dan membawa nya pergi ke UKS.
Tiga puluh menit pun berlalu.
Sekolah sudah sepi yang tinggal kini hanya Zidan dan Clara yang berada di dalam UKS.
"Ughh," leguh Clara sambil membuka mata nya, ia melihat sekeliling ada Zidan yang duduk menunggu nya di kursi yang ada di dalam UKS tersebut.
"Sudah bangun?" kata Zidan menghampiri Clara sambil membawa segelas teh hangat dan juga roti.
"Pak Zidan, ngapain bapak di sini?" tanya Clara kesal karena sebelumnya ia di hukum oleh Zidan dan jatuh pingsan di depan kelas.
"Jangan banyak bicara, minum dan makan ini dulu," kata Zidan lagi sambil meletakkan roti dan teh hangat tersebut di hadapan Clara yang sudah bangkit.
Sungguh rasanya Clara sangat kesal dengan Zidan, namun mau tidak mau ia tetap harus meminum teh tersebut karena perutnya benar-benar sedang kosong.
Clara memakan roti itu dengan terpaksa sambil sesekali melirik Zidan yang ada di hadapannya.
"Setelah selesai kita langsung pulang," kata Zidan lagi.
Tidak ada jawaban dari Clara kecuali sebuah tatapan kebencian.
"Kamu tidak punya uang jajan?" tanya Zidan tiba-tiba.
"Siapa bilang gak punya?" jawab Clara tampa menatap wajah Zidan.
"Jadi kenapa kamu gak pergi makan di kantin dan membiarkan perutmu kosong selama beberapa jam?" ucap Zidan membungkuk dan menatap wajah Clara dari dekat.
Clara yang sedang menikmati roti nya seketika terdiam, pipi nya mengembang karena berisikan roti, ia terlihat seperti Ikan buntal.
"Uang nya ada di m-banking ponsel," kata Clara kembali menakutkan makan nya dan mendudukkan pandangan.
"Kenapa tadi tidak bilang sama saya?" kata Gaza lagi.
"Buat apa?" jawab Clara.
"Sudahlah cepat makan," kata Zidan mengalihkan pandangannya ke arah jendela UKS.
"Hmm," jawab Clara.
"Kenapa dia terlihat sangat imut ketika makan? Pipi nya selalu penuh seperti ikan buntal," batin Zidan sambil membayangkan wajah Clara yang imut seperti ikan buntal.
Setelah selesai makan Clara turun dari ranjang UKS tampa menyadari kalau kaki nya lutut nya sedang terluka.
"Ah, aduk sakit banget," kata Clara yang kini terduduk di lantai UKS sambil memegang lutut nya.
"Apa-apaan kamu?" ucap Zidan berbalik dan melihat Clara yang terjatuh.
Zidan mengelengkan kepala melihat Clara yang begitu ceroboh, ia segera menghampiri nya dan kemudian mengendong Clara.
Bersambung....