Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wilayah Udara Tiga Puluh Ribu Kaki
“Jakarta Control, Mwohan Cargo Zero-One-Eight, maintaining flight level three-five-zero, heading zero-four-zero, structural clearance secured.”*
Suara bariton Kapten Sagara mengalun dengan artikulasi bahasa Inggris yang sempurna, dingin, dan sarat akan otoritas mutlak melintasi frekuensi radio ATC. Di dalam kokpit raksasa Boeing 747-8 Freighter—sang "Ratu Langit" seberat ratusan ton—Sagara duduk dengan punggung tegap menempel pada kursi pilotnya yang dilapisi kulit domba premium.
Pendar cahaya dari ratusan tombol digital, layar EFIS, dan indikator navigasi di panel kokpit memantul di atas permukaan kacamata hitam penerbangannya. Empat garis emas di bahu seragam putihnya tampak bersinar tegas di bawah temaram lampu kokpit malam hari. Di sampingnya, seorang kopilot berkebangsaan asing tampak bekerja dengan ketegangan taktis yang tinggi, mematuhi setiap instruksi minimalis dari sang penguasa langit.
Bagi Sagara, dunia penerbangan internasional bukan sekadar profesi berpindah benua. Ini adalah labirin taktis di mana ia memegang kendali penuh atas arus logistik hulu bernilai jutaan dolar yang bergerak melintasi batas-batas negara. Sagara adalah tipe pilot yang tidak mengenal kompromi dengan cuaca buruk; baginya, badai monsun di atas Laut Cina Selatan hanyalah sekadar kerikil kecil yang harus ditembus dengan manuver presisi.
*"Mwohan Zero-One-Eight, Tokyo Control. Contact dynamic radar on one-three-four point five. Safe flight, Captain,"* suara petugas ATC dari wilayah udara Jepang terdengar di *headset*-nya.
"Tokyo Control, copy that. Switching to one-three-four point five. Good night," sahut Gara pendek. Tangan kanannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam bergerak konstan menyesuaikan tuas gas empat mesin jet *General Electric* di konsol tengah.
Pesawat kargo raksasanya membelah kegelapan malam dengan kecepatan $M \= 0.85$, membawa ribuan ton manifes eksklusif dari Jakarta menuju Beijing. Di atas langit ini, tidak ada yang bisa menyentuh otoritasnya. Sagara adalah singa langit seutuhnya.
Tiga jam kemudian, roda-roda pendaratan raksasa Boeing 747-8F itu mencium landasan pacu *Beijing Capital International Airport* dengan pendaratan yang sangat mulus tanpa guncangan sedikit pun sebuah bukti keahlian tingkat dewa dari seorang kapten senior.
Setelah mematikan mesin utama di apron kargo khusus yang steril, Sagara melepas *headset*-nya, merapikan tatanan rambut hitamnya yang berstruktur tegas, dan melangkah keluar menuju ruang transit VIP kru penerbangan internasional. Jaket kulit hitam ikoniknya kembali tersampir gagah di bahu, menutupi seragam putih kaptennya.
Sagara duduk di sofa kulit monokrom ruang transit, melirik jam tangan penerbangan titanium miliknya yang otomatis menyesuaikan dengan zona waktu Beijing. Ia meraih ponsel satelit terenkripsi miliknya, menyalakannya dari mode penerbangan.
*Bzzzt... Bzzzt...*
Sebuah panggilan video masuk. Layar besarnya langsung menampilkan wajah ceriwis Davika yang sedang berada di dalam kamar minimalisnya di Jakarta, masih memakai *oversized hoodie* merah mudanya yang santai. Di latar belakang, tampak Nara sedang berjalan lewat sembari membawa keranjang baju dengan wajah yang masih menyisakan rona merah.
*"Mas Garaaa! Madu hitam sama ramuan herbal dari Beijing udah sampai tadi pagi! Gila ya, Gus kaku langsung panik mukanya pas baca surat dari Mas Gara!"* seru Davika tanpa saringan, langsung meledakkan tawa cekikikan gila yang khas. *"Tapi makasih lho Mas, berkat pasokan energi dari langit, draf ngerakit bayinya malam ini bisa diaudit ulang!"*
Sagara menarik sudut bibirnya tipis, memamerkan seringai dinginnya yang sarat akan proteksi seorang kakak tertua. Ia menyandarkan punggung kekarnya ke sofa ruang transit Beijing.
*"Jerry,"* ucap Gara rendah, suara baritonnya terdengar bergaung stabil melintasi jaringan internasional. *"Pastikan ipar kaku-mu itu meminum ramuannya sampai habis. Jika pasokan logistik di darat terhambat karena staminanya yang *under-performance*, aku sendiri yang akan menerbangkan pesawat kargo ini rendah di atas atap pesantrennya untuk memberi peringatan."*
Dari balik layar, Nara yang mendengar ancaman taktis dari kakak tertuanya langsung berteriak panik, *"Mas Gara! Jangan dengerin Davika! Davika, matiin teleponnya sekarang!"*
Sagara terkekeh pendek sebuah suara rendah yang sangat langka terdengar. Di balik dinding kokpit dan dinginnya dunia aviasi internasional, radar hati sang kapten penerbangan akan selalu terkunci rapat pada keselamatan dan kebahagiaan adik-adiknya di bumi Jakarta.
...----------------...
*"Mas Gara tenang aja! Davik sudah bikin draf jadwal minum ramuannya pakai alarm otomatis di rumah ini. Kalau Gus kaku mangkir, Davik bakal pasang sirine darurat lewat speaker pantry!"* sahut Davika ceriwis dari seberang panggilan satelit.
Di layar ponsel Sagara, tampak Nara merebut paksa perangkat itu dari tangan mungil adiknya. Wajah polos Nara muncul di layar dengan rona merah yang sudah menjalar sampai ke pelipisnya. *"Mas Gara, jangan dengerin Davika. Mas Gara fokus terbang saja, ya? Jaga kesehatan di Beijing. Di sini... semuanya aman, kok."*
Sagara membetulkan posisi pet kaptennya, tatapan elangnya melunak melihat kelegaan di wajah adik perempuannya. *"Tidur yang cukup, Nara. Jangan biarkan bocah dekil itu mengatur jam istirahatmu. Kalau dia mulai bertingkah random lagi, kunci saja dia di dalam garasi motor sportnya."*
*"Ih, Mas Gara pilih kasih! Davik kan asisten taktis!"* sayup-sayup suara protes Davika terdengar sebelum Nara memutus panggilan dengan ucapan salam yang buru-buru.
*Klik.*
Layar ponsel satelit Sagara kembali gelap. Kesunyian ruang transit VIP Beijing Capital International Airport kembali merengkuhnya. Sagara bangkit dari sofa monokrom, melangkah menuju dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah pelataran apron kargo.
Di luar sana, di bawah siraman lampu sorot bandara yang benderang, beberapa kendaraan pemuat kargo otomatis (*High-Loader*) sedang bergerak taktis mendekati lambung Boeing 747-8F miliknya. Ribuan boks komoditas hulu bernilai tinggi dari daratan Tiongkok sedang disusun masuk ke dalam dek utama pesawat berdasarkan perhitungan draf berat dan keseimbangan (*weight and balance*) yang super presisi.
Sebagai seorang kapten pilot internasional, Sagara tahu bahwa setiap detik di darat adalah biaya. Namun, pikiran taktisnya malam ini tidak hanya tertuju pada manifes penerbangan berikutnya, melainkan pada benteng pertahanan darat yang baru saja ia serahkan pada Gus Zayyad.
Dua jam setelah transit, Kapten Sagara kembali berada di tempat tertingginya. Kokpit "Ratu Langit" itu kembali diaktifkan. Seluruh sistem navigasi digital telah memuat draf rute penerbangan kembali menuju Jakarta via wilayah udara Laut Cina Selatan.
*"Beijing Tower, Mwohan Cargo Zero-One-Eight, ready for departure, runway zero-one,"* suara Sagara terdengar stabil di frekuensi radio, memotong kebisingan malam kota Beijing yang dingin.
*"Mwohan Zero-One-Eight, cleared for take off. Wind zero-two-zero at eight knots. Have a safe flight, Captain."*
Tangan kanan Sagara yang kekar mendorong penuh empat tuas gas (*Throttles*) di konsol tengah. Deru mesin jet *General Electric* langsung melengking tinggi, menghasilkan daya dorong masif yang menghempaskan tubuh tegapnya ke sandaran kursi kulit domba. Pesawat kargo raksasa itu melesat membelah landasan pacu sebelum akhirnya lepas landas, menanjak vertikal menembus awan tebal di ketinggian tiga puluh ribu kaki.
Baru saja pesawat mencapai ketinggian jelajah, radar cuaca di panel kokpit mendadak menangkap gumpalan warna merah pekat di jalur penerbangan sebuah indikasi adanya turbulensi hebat akibat pertemuan arus udara panas dan dingin di atas perbatasan udara internasional.
"Kapten Gara, ada badai awan cumulonimbus di depan. Apakah kita harus mengambil rute memutar sejauh lima puluh mil laut?" tanya kopilot asing di sampingnya dengan nada suara yang mulai tegang.
Sagara tidak berkedip sedikit pun. Sorot mata elangnya tetap tenang dan dingin di balik kacamata hitam penerbangannya. Tangan kirinya mencengkeram tuas kendali (*Yoke*) dengan kekuatan maskulin yang penuh otoritas.
"Tidak perlu," sahut Sagara pendek, suara baritonnya sedingin es. "Pertahankan kecepatan pada $M \= 0.82$. Kita akan menembus inti badai ini secara langsung dari atas. Struktur pesawat ini bersih, dan saya tidak punya waktu untuk terlambat mendarat di Jakarta."
Bagi Sagara, tidak ada badai yang bisa menghentikan langkah sang penguasa langit. Sama seperti komitmennya untuk melindungi keluarga Mwohan di bumi, di udara pun ia akan menerjang apa saja demi memastikan jalur logistik hulu miliknya tetap mengudara dengan muruah tertinggi.
selalu bilangnya kitab😄😄😄