Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
...[Keluarga dan Pengkhianatan]...
...****...
Neysa menatap Derrick dengan sorot mata tajam, seolah badai yang mendidih di dalam dirinya akan segera menerjang. Namun, di balik tatapan itu, ada ketenangan dingin yang membungkus wajahnya.
"Kamu hanyalah debu di bawah kakiku," ucapnya perlahan, suaranya berlapis ketegasan yang membuat udara terasa lebih berat. "Tak peduli seberapa keras kamu mencoba, kamu tak akan pernah menjatuhkanku."
Derrick, bukannya merasa tersinggung, malah meledakkan tawa ringan. Gelak tawanya memantul di antara dinding-dinding aula pesta, menarik perhatian beberapa tamu di dekatnya. Ia mengulurkan tangan, senyumnya penuh percaya diri.
"Debu, katamu? Baiklah, aku akan menunjukkan seberapa besar kekuatan debu ini. Sebentar lagi, semua orang di ruangan ini akan tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali."
Di kejauhan, Darren berdiri mematung. Kedua tangannya mengepal erat, hingga urat-urat di pergelangannya terlihat jelas. Pandangannya terpaku pada Neysa yang kini berdiri di samping Derrick. Ada sesuatu yang tak bisa ia terima, sesuatu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Dia telah dibohongi. Oleh Neysa.
Tawa getir Darren terdengar lirih di telinganya sendiri. Ia mengutuk dirinya yang begitu bodoh, begitu percaya pada wanita yang kini tampak seperti orang asing di matanya. Tanpa berkata sepatah kata pun, Darren berbalik dan pergi meninggalkan pesta, membiarkan bara kemarahan membakar pikirannya.
Neysa memperhatikan Darren dari sudut matanya. Wajahnya tetap tenang, tetapi hatinya bergetar hebat. Ia tahu Darren pasti kecewa. Bahkan mungkin membencinya. Namun, Neysa tak punya pilihan.
"Jangan khawatir," ujar Derrick sambil melingkarkan tangannya di pinggang Neysa, menahannya agar tetap berdiri di tempat. "Darren hanya tidak bisa menerima kenyataan. Dia akan baik-baik saja. Lagipula, tidak ada yang bisa dia lakukan."
Neysa tersenyum kecil, tipis seperti bayangan, tetapi senyum itu terasa hampa. “Kau benar,” jawabnya singkat. Namun, kata-katanya hanya menutupi kegelisahan yang perlahan menggerogoti pikirannya.
---
Setelah beberapa perkenalan dengan kolega-kolega Derrick, mereka berhenti di depan seorang wanita yang tampak menggenggam gelas anggur terlalu erat. Wajahnya terlihat pucat, dan matanya sedikit membelalak ketika melihat Neysa.
"Apa kalian saling kenal?" Derrick bertanya dengan nada penasaran, alisnya terangkat. "Jessica, kau terlihat... tegang."
Jessica tersentak. Ia memaksakan senyum yang kaku dan menjawab cepat, "Oh, tidak. Kami hanya... pernah bertemu sekilas. Itu saja."
Namun, Neysa tahu lebih baik. Di balik wajah pucat Jessica, Neysa dapat melihat ketakutan yang terpendam. Ketakutan yang ia kenal dengan sangat baik—karena ia sendiri pernah hidup di bawah bayang-bayang orang seperti Jessica.
Jessica si penindas. Kemarin, ketika Neysa masih menyamar sebagai pelayan sederhana, Jessica sering memanfaatkan posisinya untuk merendahkannya. Kini, Jessica tidak tahu bahwa "pelayan kecil" yang dulu ia hina sebenarnya adalah Nona besar keluarga Lawrence.
Derrick menatap mereka bergantian. Ia tampak tertarik dengan ketegangan di antara keduanya. "Menarik," ujarnya, tersenyum kecil. "Keluarga Cadmael memang selalu punya kisah-kisah menarik. Mungkin kita bisa makan malam bersama suatu waktu."
Jessica tersenyum tipis, tetapi matanya menghindari pandangan Neysa. "Tentu, itu ide yang bagus," katanya dengan suara pelan, tetapi Neysa bisa melihat kepanikan yang tersembunyi di balik kata-katanya.
Setelah Jessica pergi, Derrick menoleh ke Neysa. "Kau tampak lebih diam dari biasanya. Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku tentang wanita itu?"
Neysa hanya menggeleng. "Tidak ada yang penting," katanya singkat, tetapi pikirannya penuh dengan pertanyaan.
---
Ketika pesta mencapai puncaknya, Neysa memutuskan untuk pergi. Ia menunggu hingga Derrick sibuk berbicara dengan tamu lain sebelum menyelinap keluar dari aula. Langkahnya cepat dan ringan, menelusuri lorong-lorong megah rumah Lawrence, berharap menemukan Darren sebelum segalanya semakin buruk.
Namun, di salah satu lorong yang sepi, seseorang menariknya dari belakang. Sebelum sempat berteriak, sebuah tangan membekap mulutnya, dan tubuhnya diseret masuk ke sebuah ruangan kosong.
Ketika Neysa mendongak, ia mendapati wajah Darren yang penuh amarah. Mata pria itu membara, menatapnya seolah ia adalah musuh yang harus dihancurkan.
"Kau membohongiku sejak awal," Darren berkata dengan suara rendah, hampir seperti bisikan maut. Tangannya mencengkeram leher Neysa dengan kasar. "Kau mempermainkanku, bukan? Apa kau menikmati semua ini?"
Neysa tidak menjawab. Bukan karena dia tidak ingin, tetapi karena kata-kata Darren terasa seperti belati yang menusuk jantungnya.
"Apa kau pikir aku tidak akan tahu?" Darren melanjutkan, nadanya semakin tajam. "Jika Derrick berani menyentuh keluargaku, aku bersumpah kau akan mati bersamanya."
Alih-alih merasa takut, Neysa justru tertawa kecil. Suara tawanya serak, getir. "Darren," katanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan. "Kau begitu percaya pada kekuatanmu sendiri, tetapi kau lupa. Tanpa keluargamu, kau bukan siapa-siapa. Kau hanya anak manja yang bersembunyi di balik nama besar Barnes."
Darren terdiam sejenak, tetapi cengkeramannya semakin kuat. Matanya berkobar seperti api yang siap melahap segalanya.
"Aku bodoh karena pernah percaya padamu," katanya dengan penuh kebencian. "Kalau aku tahu kau adalah Lawrence, aku takkan pernah mendekatimu."
Neysa menatapnya dengan senyum yang nyaris tidak terlihat. "Benarkah? Kau sendiri yang memaksa aku menikah, Darren. Aku hanya mengambil kesempatan dari kebodohanmu."
Kalimat itu menghantam Darren seperti petir. Tanpa pikir panjang, ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Neysa jatuh tersungkur ke lantai. Gadis itu terbatuk, mencoba menghirup udara, tetapi rasa sakit di tubuhnya terlalu nyata untuk diabaikan.
Darren berdiri diam, memandang Neysa dengan kebencian yang bercampur dengan rasa sakit yang mendalam.
Namun, sebelum ia bisa berkata apa-apa lagi, tubuh Neysa tiba-tiba melemas. Matanya tertutup, dan ia pingsan di tempat. Darren tersentak. Ia berlutut, menepuk-nepuk pipi Neysa dengan cemas.
"Neysa? Bangun!"
Tapi gadis itu tetap tak bergerak.
Bersambung...
Darren belum nyoba ditampol Mimin, yah :'(
Tunggu part selanjutnya. Tinggalkan jejak, makasih (^^)