Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Nurbiah melangkahkan kakinya menuju rumah keluarganya tepatnya rumah ibunya yang dirampas oleh ayahnya, dia akan memberi pelajaran ayahnya setelah ini karena berani menyentuh anak-anaknya.
"Akhirnya kamu datang juga". Ucap sang ayah dengan wajah angkuh.
Dia pikir sang anak kembali kerumah ini karena gertakan darinya, dia menyunggingkan senyum remeh yang hanya dibalas dengan wajah datar.
"Oh hai kak, ternyata kakak mau datang juga katanya kemaren kakak tidak akan datang kemari karena membenci kami". Ucapnya memandang remeh sang kakak.
Sang ayah menoleh meminta penjelasan kepada sang anak kemudian menoleh kembali kearah Nurbiah yang tidak mengubah ekspresi nya.
"Apa maksudmu berbicara begitu nak, apa kakakmu ini menghina dan memaki ayah?". Tanyanya dengan geram.
Tangannya mengepal erat, dia tidak bisa menerima sang anak kurang ajar padanya.
"Dia memang tidak menghina ayah tapi dia berkata keluarga tidak bermoral dan tidak tahu diri ayah, dia tidak akan memberikan dua cucu laki-laki ayah karena itu". Ucapnya memprovakasi.
Dia yakin setelah ini kakaknya ini pasti akan mendapatkan tamparan dan amarah dari sang ayah dan dia akan tetap menjadi anak kesayangan.
""Itu benar Biah?". Tanyanya dengan geram.
Dia menatap anaknya ini dengan mata menyala penuh emosi.
"Benar, saya memang tidak akan membiarkan anak saya tumbuh dilingkungan orang-orang egois dan Tidka punya hati bahkan merampas milik orang lain dengan alasan seenaknya". Jawabnya dengan dingin.
San adik tiri menatapnya dengan wajah tercengang, bagaimana bisa kakaknya bisa setenang itu menghadapi amarah sang ayah.
"Kurang ajar". Tangannya mengangkat tinggi hendak melayangkannya kepada putri sulungnya .
Sekali anda menyentuh wajah saya, saya pastikan anda akan membayarnya dibalik jeruji besi sekalipun anda seorang tentara berpangkat". Jawabnya dingin tanpa menghindar .
Mendengar nada bicara sang anak yang sangat tajam dan menusuk dia segera menurunkan tangannya, dia hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Jangan kurang ajar pada ayah Biah, ayah adalah orang tua kandungmu, karena ayah kamu dan kedua adikmu ada didunia ini". Bentaknya.
Dia melupakan jika kini mereka berada di pesta pernikahannya dan disini banyak orang melihat mereka.
"Saya tidak akan kurang ajar pada orang yang tidak menelantarkan anaknya dan merampas hak yang seharusnya milik mereka untuk menyenangkan istri baru menggunakan harta istri yang sudah meninggal". Jawabnya semakin tajam dan berani.
Grasak-grusuk mulai terdengar, mereka mulai berbisik-bisik dengan nada yang mulai tidak enak.
"Dasar anak kurang ajar, apa maksudmu bicara seperti itu ha!!". Bentaknya dengan kalap
Perempuan parubayah itu mendekat dan hendak menampar Biah dengan penuh emosi.
"Jangan sentuh saya dengan tangan kotor anda nyonya Anita, saya bisa saja membuat anda kehilangan tangan cantik anda seperti anda membuat bunda saya kehilangan nyawanya". Jawabnya dengan dingin
Dia memegang erat dan meremas tangan itu dengan sangat keras sehingga membuatnya merintih kesakitan.
"Lepaskan anak sialan". Bentaknya berusaha melepaskan diri.
Biah hanya menatapnya dengan dingin dan tanpa ekspresi kemudian menghempaskannya dengan kasar.
"Mommy". Teriak Maya segera menolong ibunya itu
Sedangkan Adam Hermawan sang ayah hanya bisa mematung melihat keberanian sang anak yang tidak pernah dia duga.
Biah maju menghadapi sang ayah dan kini ayah dan anak itu hanya terpisah jarak semeter .
"Dulu saya masih kecil untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi hak milik ibuku yang anda rampas tapi sekarang, akan ku buat anda mengembalikan semua yang telah anda rampas dari kami, saya bukan gila harta tapi mengambil milik kami sesuai warisan ibu kami karena anda melanggar perjanjian yang telah ditetapkan".
Adami Hermawan berdiri kaku, dia tidak bisa mencerna apa yang dikatakan sang anak.
"Anda lupa jika anda menandatangani perjanjian hitam diatas putih saat membuat perjanjian pengalihan harta itu dan sekarang usia kami jauh lebih legal untuk mendapatkan nya kembali, seperti nya anda terlalu terlena tuan".
Biah tertawa sinis melihat ayahnya berdiri bak patung dengan wajah memucat.
Dia yakin ayahnya ini melupakan surat perjanjian yang dia tandatangani itu, karena terlalu senang bisa mendapatkan semua harta milik mendiang istrinya
"Lebih baik anda bersiap untuk meninggalkan rumah ibunda saya, dan pastikan semua yang milik ibu saya anda kembalikan karena bukan hanya karier Anda tapi semua kebusukan yang anda lakukan Selama anda berkarier akan saya ungkapkan sampai anda ingin menggali lobang anda sendiri untuk bersembunyi ".
"Itu tidak mungkin, jangan berbohong". cicitnya mulai ketakutan.
Biah terkekeh hambar, dia selama ini diam bukan karena takut tapi karena permintaan ibunya tapi ayahnya selalu bertindak seenaknya sehingga membuat sabarnya hilang sepenuhnya bergantung rasa ingin menghancurkan.
"Jika anda berani menyentuh dan meminta kedua anakku lagi maka jangan salah kan saya bertindak tanpa pandang bulu, anda tidak akan tahu jika orang yang selama ini diam bukan karena dia lemah tapi dia mempersiapkan bom yang tidak akan bisa anda cegah".
Adam Hermawan mundur satu langkah sambil menggelengkan kepalanya menatap anaknya dengan tatapan ketakutan,
"Kamu tidak akan bisa melakukan itu".
Nurbiah tertawa dingin, dia melangkah mendekati sang ayah walau ayahnya mundur, aura intimidasi seorang Nurbiah sangat menguar bahkan seorang tentara berpangkat seperti ayah bisa ketakutan seperti itu.
"Jangan meremehkan anak yang tumbuh dengan tekanan tuan Adam Hermawan karena dibalik tekanan itu, dia tumbuh lebih koko dan subur dan punya banyak duri tajam untuk melumpuhkan siapapun yang akan menyerangnya, jadi pastikan diri anda tidak pernah menyentuh keluarga kecil saya karena anda akan menanggung semua akibatnya,
"Oh iya satu lagi, kembalikan baik-baik hak milik saya dan kedua adik saya, jangan sampai saya memperlihatkan pada dunia betapa buruknya orang yang mereka hormati selama ini".
Dia melemparkan fotokopi perjanjian puluhan tahun itu dihadapan sang ayah dengan kasar, dia tidak akan pernah lagi menghormati lelaki yang membuang dirinya dan kedua adiknya seperti sampah dan merampas hak mereka.
"Dan kalian semua, selamat menikmati pesta manusia yang berbahagia diatas penderitaan anak dan juga istrinya, semoga kalian tidak merasakan hal yang sama".
Mereka semua yang ada disana langsung mematung mendengar perkataan Biah itu.
Adami hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat karena tidak bisa melawan putri sulungnya yang sangat tegas itu.
Entah mengapa nyalinya menciut melihat amarah berkobar dimata putrinya.
"Kenapa ayah diam saja kak Biah menghina keluarga kita, aku tidak mau pergi dari rumah ini". Sungut Maya dengan kesal.
"Dia tidak akan berani melakukannya mas, memang siapa anakmu itu, dia cuma janda miskin yang tidak bisa apa-apa". Ucap Wanita dengan sombong.
"Diamlah kalian berdua, Biah bukan orang yang berbicara sembarangan, dia akan membuktikan perkataannya seperti ibunya".