NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Boneka Dino

Happy reading✨

"Awh!"

"Aduh maafkan saya!"

"Eh iya kak! Gapapa kok, lagian ini salahku gak liat jalan"

Gadis yang berada didepannya pun tersenyum dengan sangat begitu lembut. Sampai-sampai Lily dibuat insecure oleh kecantikan anggunnya.

"Kakak cantik banget!" Kagumnya pada wajah gadis itu. Ia hanya menanggapinya dengan senyuman lagi.

"Kamu juga lucu banget" Ucapnya dengan masih saja tersenyum. Lily pun dibuat terbang dengan pujian itu.

"Nama aku Lily kak! Nama kakak siapa?" Ia mengulurkan tangannya. Seyra mulanya tak menyadari ada yang aneh pada gadis itu hingga saat pandangannya teralihkan pada leher gadis itu, ia termenung beberapa saat. 

"Kak?" Panggil Lily yang belum juga direspon sang empu.

"Seyra!" Ia menerima uluran tangannya dan tersenyum lebar membuat bola mata Lily melebar. Ia tahu betul leher gadis itu telah ditandai oleh seseorang. 

"Kak Seyra?!" Ia segera menutup mulutnya karena rasanya ingin berteriak. Apakah gadis cantik ini benar-benar Seyra?! Tokoh utama perempuan yang paling Lily sukai!

"Kakak!" Lily memegang kedua tangan Seyra erat.

'Eh Lily! Kendalikan dirimu!'

"Kenapa?" Seyra menatapnya dengan heran.

"Oh gak, kakak lagi beli buku novel juga ya?" Tanya Lily basa basi. Rasanya senang sekali bisa bertemu Seyra langsung. Seperti bertemu idola saja.

"Iya, tapi aku kesulitan untuk mengambilnya" Ia menatap keatas rak buku. Ia tidak terlalu ingin memikirkannya.

"Hm tinggi ya kak?" Lily ikut melihat keatas.

"Aha! Aku tau! Bentar kak!" Ia pun berlari.

"Kak Zevan! Kak Zevan!" Teriaknya tak sabar.

"Sudah?" Zevan menatapnya kesal.

"Sini sini!" Tanpa berkata apapun Lily langsung membawa Zevan kearah Seyra.

"Nah, kak Zevan tolongin kak Seyra ambilin buku novel yang diatas itu!" Tunjuknya keatas rak. Zevan menoleh malas.

"Buat apa gue ngelakuin itu?" Ia terlihat kesal karena ditinggal lama oleh Lily tadi.

"Ish kak Zevan ini! Membantu sesama itu gak salah kan? Ayok tolongin kak Seyra!" Bujuknya.

"Oh gak apa-apa! Gak usah repot-repot!" Seyra menengahi pertengkaran adik kakak itu. Ia memperhatikan gerak-gerik Zevan dengan teliti. Cara lelaki itu melihat Lily berbeda. 

"Huh!" Zevan menghela nafasnya pasrah lalu mengambil buku novelnya.

"Ah, sebenarnya bukan yang itu" Ucap Seyra dengan raut wajah tidak enak.

"Tunjukan"

"Yang sebelah sana!" Tunjuk Seyra sembari mendekat kesampingnya hingga mereka hampir berdekatan. Lily yang melihat adegan itu hanya bisa kejang-kejang kebaperan sendiri. 

Walaupun sedetik kemudian ia tersadar sesuatu. Tempramen Zevan sangat tidak baik seperti iblis kejam, dan Seyra begitu lembut seperti peri. Lily tidak ingin Seyra merasakan neraka jika nantinya ia bersama Zevan. Namun bagaimana pun juga ia ingin lepas dari cengkraman Zevan yang dirasa tidak nyaman itu. Lalu lamunannya buyar ketika Seyra mengucapkan terima kasih pada kakaknya.

"Sekali lagi terima kasih! Maaf merepotkan!" Seyra nampak sekali tidak enak.

"Kak! Dia cantik sekali kan!" Bisik Lily pada Zevan yang tengah berbicara pada Seyra. Dia mencoba menjodohkan mereka.

"Apa maksudmu?" Zevan menoleh menatap wajah Lily yang tidak terlalu jauh dari wajahnya.

"Kak Zevan pemalu yahh" Godanya sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Ia melototkan matanya tajam.

Zevan menelan salivanya berat ketika melihat bibir Lily yang menggemaskan baginya. Apalagi melihatnya dari jarak sedekat ini. Membuatnya teringat lagi kejadian malam itu. Tapi ia harus menahan diri dulu.

"Kalau begitu, saya permisi duluan ya!"

Ucapan Seyra menyadarkan lamunan Zevan yang hampir jauh melayang terlalu tinggi. Dasar laki-laki!

"Kak Zevan sih!" Lily mendengus dan meleretkan matanya kesal. Kemudian ia berdiri tegak lagi dan menoleh pada Seyra.

"Ya udah kak, kapan-kapan kita ketemu lagi ya!" Lily melambaikan tangannya ceria. Kenapa ia terlihat sudah sangat mengenal Seyra? Pikir Zevan heran. Dan anehnya Lily sepertinya menyukai gadis itu? Tak bisa Zevan biarkan! Nanti perhatian gadis itu terbagi-bagi.

"Lo kenal tu orang dari kapan?" Tanya Zevan menatapnya heran.

"Beberapa menit yang lalu" Jawab Lily asal kemudian meninggalkan Zevan yang tengah mematung.

"Lo udah gak butuh gue? Kenapa lo terus ninggalin gue?" Tanya Zevan sembari menyusulnya.

"Aku gak papa" Dengus Lily kesal.

"Gue tunggu diluar!"

"Y!" Lily menoleh kebelakang dan ia sudah tak mendapati Zevan disana. Secepat itu dia menghilang. Lalu ia pun mengangkat bahunya tidak peduli.

"Mas, buku ini satu" Lily menyerahkan bukunya pada kasir toko.

"Maaf dek, buku ini tidak dijual" Ucapnya dengan sopan.

"Gak dijual gimana?! Bukunya jelas-jelas dari rak sana!" Jelasnya tidak terima.

"Ini buku kesayangan pemilik toko ini, mungkin salah satu pekerja sini tak sengaja menyimpannya disana, mohon cari buku yang lain saja ya dek!" Terangnya dengan masih tenang, bahkan wajahnya terus tersenyum. Membuat Lily semakin kesal saja.

"Gak jadi deh maaf" Lily pun keluar dari toko buku itu dengan kesal. 

• • •

-BecomeMafiaFamily-

"Aku sudah bertemu dengan pacarmu" Ucap seorang gadis yang baru saja memasuki sebuah mobil diparkiran yang tak jauh dari toko buku.

"Apa dia tau kau kakakku?" Tanyanya santai kemudian menghidupkan mesin mobilnya.

"Sepertinya.... Aku juga tidak tau, dia terlihat sangat berbeda" Ucapnya sembari melihat novel yang dibelinya tadi.

"Kenapa?"

"Ah tidak! Bukan apa-apa, jadi tidak usah dibahas!" Gadis itu tersenyum lebar namun terlihat terpaksa. Walaupun tau dan memaksanya untuk bercerita, itu tak akan membuahkan apapun.

"Apa kau benar-benar mencintainya?" Tanya gadis itu tiba-tiba.

"Tentu saja, tidak!" Jawabnya cepat dengan wajah yang terlihat ragu.

"Jangan bohongi hatimu, Austin. Aku tidak yakin dengan rencana kita"

"Kenapa kak Seyra jadi begini?!"

"Aku punya firasat bahwa... Dia adalah orang yang sangat baik, hanya itu" Ia menundukan kepalanya dengan hati bimbang. Dan pemuda itu dibuat speechless oleh perkataan gadis itu. Ia tahu betul kakaknya ini sangat baik hati. Mudah luluh pada hal-hal kecil. Ia terlalu naif.

"Jikalau nanti kau keberatan dengan semua ini, aku akan tetap mendukungnya! Sudah cukup, aku tak ingin mempunyai banyak musuh lagi"

Mendengar hal itu, pemuda itu lagi-lagi hanya diam. Dia juga sebenarnya mulai ragu dengan apa yang ia jalankan selama ini. Hatinya kadang ragu untuk menyakiti gadis itu. Tapi disatu sisi ia ingat akan ibunya. Meskipun ia tahu gadis itu tidak bersalah bahkan mungkin ia tidak tahu apa-apa, namun hal itu ia tepis. Hatinya masih belum bisa menerimanya dengan tulus.

•••••

"Sudah satu minggu aku tidak pulang kerumah, kuserahkan semuanya padamu, Dean" Lelaki paruh baya itu merapikan berkas-berkas yang berada dimeja kerjanya.

"Apa kau merindukannya?" Tanya lelaki yang duduk disofa tamu ruang kerjanya.

"Selalu. Aku selalu merindukannya. Huh...." Ia menghela nafasnya panjang.

"Aku memang sangat mencintainya" Ujarnya lagi.

"Ku dengar, kau membatalkan kerja sama dengan perusahaan Shablle?"

Lelaki itu memutarkan jari telunjuknya didepan wajahnya.

"Mereka merencanakan sesuatu, dan aku tidak suka itu."

"Baiklah, aku pergi dulu!" Lelaki berumur itu pun beranjak dari duduknya yang terasa menyesakan.

"Pasti dia mirip sekali dengan ibunya" Dean membukakan pintunya untuk lelaki itu.

"Sangat. Bahkan aku nyaris saja tidak bisa membedakan mana anaknya mana ibunya" Lelaki itu tersenyum getir.

"Meskipun mereka terlihat begitu sama, tapi itu tidak berarti mereka serupa bukan?" Ucap Dean sembari menutup dan mengunci ruangan kerja lelaki itu.

"Ya. Walaupun kadang diriku ingin memilikinya juga dengan arti lain, tapi itu tidak benar. Dia anakku, darah daginku sendiri. Dia hanya mirip dengan ibunya"

"Aku turut berduka, tuan" Ia menundukan kepalanya dengan sendu. Dean memang adalah ajudan terpercaya lelaki itu, Lucky. Lelaki yang mempunyai banyak perusahaan besar dikota ini. Namun sayang, ia harus hidup dalam penuh kesepian. Istri tercintanya telah pergi meninggalkannya.

Dean membukakan pintu lift dan mereka berdua pun masuk.

•••••

"Lo lagi marah sama gue?" Tanya seorang pemuda yang tengah menyetir mobil.

"Gak!" Jawab gadis itu dengan malas sembari terus menatap keluar jendela mobil. Ia ingin pergi menjauh dari pemuda jahat ini. Tapi kenapa rasanya sulit sekali? Kemana pun dia pergi, pasti saja di ikuti.

"Oke, lo mau apa? "

"Gak pengen apa-apa" Gadis itu nampak sedang tidak baik-baik saja. Tapi sang pemuda tidak tahu harus bagaimana ia menghiburnya.

"Gue mau nanya sesuatu"

"Hm?" Sahut si gadis dengan masih diposisi yang sama bahkan terkesan tidak peduli.

"Kalo gue punya cewek, terus cewek itu merajuk, apa yang harus gue lakuin biar dia seneng balik?"

"Kak Zevan udah punya pacar?! Siapa namanya! Kok gak bilang-bilang aku sih!" Tiba-tiba dengan excitednya Lily berbalik menoleh kesamping dan menggoyang-goyangkan bahu Zevan yang tengah menyetir. Walaupun hatinya entah mengapa terasa sakit saat mendengarnya. Bisa-bisanya pemuda di depannya ini mencium gadis lain padahal dirinya sudah punya seseorang yang spesial.

"Lo buat mobilnya oleng, Lily" Zevan berkata dengan sangat datar. Ada banyak pertanyaan aneh di dalam hatinya. Kenapa gadis itu tidak mengungkit kejadian semalam? Kenapa gadis itu seolah tidak menganggap kejadian semalam terlalu penting? Kenapa dia tidak marah padanya? Anehnya dirinya merasa semakin marah. Bisa-bisanya gadis itu tak menganggapnya. Malah dirinya sendiri yang terus terbayang-bayang kejadian waktu itu.

"Ya maaf" Ia membalikan badannya tegak kedepan.

"Jadi, gimana?" Tanya Zevan lagi. 

"Ck, jawab aku dulu! Siapa pacar kak Zevan!" Ia masih bersikeras dengan pertanyaannya. 

"Kalo ada orang bertanya, jawab dulu. Jangan balik nanya, itu gak sopan Lily"

"Ck... Yaudah" Lagi-lagi Lily merajuk. Zevan semakin dibuat bingung olehnya. Apa sebenarnya dia kesal karena semalam ia telah melakukan itu padanya? 

"Sebenarnya gue masih gak yakin, apakah dia akan mempunyai rasa yang sama, atau mungkin... Dia bakal benci sama gue"

Lily menatap Zevan sendu. Ia tahu betul siapa yang sedang Zevan pikirkan saat itu. Pasti Seyra, tokoh utama perempuan dalam novel. Mungkin saja ditoko buku tadi Lily menyakiti hati Zevan, karena mereka terlihat seperti sedang bertengkar. Apa mungkin Zevan sudah menembak Seyra?! Dan ia sebenarnya tengah menunggu jawaban gadis itu?!

"KAK ZEVAN!" Teriaknya tiba-tiba membuat sang empu sedikit mengekpresikan wajah terkejut.

"Aku tau kak Zevan saat ini pasti lagi galau. Tapi aku harap, kak Zevan bisa lalui ini. Walaupun sulit, tapi setiap masalah pasti selalu ada jalan keluarnya! Kak Zevan jangan menyerah ya! Kak Zevan pasti bisa dapetin gadis itu!!" Ucap Lily penuh semangat dan dramatis. Zevan semakin bingung dengan kondisi adiknya ini. Apa-apaan nasihat itu?

"Lily.... gue rasa, lo... Salah faham"

"Hah?" Lily menatap Zevan tidak mengerti. Wajahnya sangat terlihat konyol dengan mulut menganga dan kening mengkerut. Tak lupa matanya berkedip-kedip penuh tanya.

Zevan pun mencoba mengalihkan pembicaraan. "Lo lapar?"

"Nah! Iya! Aku agak laper hehe" Gadis itu tersenyum lebar. Zevan pun menoleh sebentar lalu tersenyum kecil melihat tingkah adiknya yang begitu membuatnya dirasa penuh teka-teki. Ada apa dengannya? Tapi Zevan senang karena Lily sangat mudah dapat dialihkan.

"Kak Zevan! Kak Zevan! Berenti dulu! Aku pengen itu! Boneka dino!" Teriak Lily sembari menunjuk-nunjuk kearah tepi jalan. Dimana seorang pria berdiri dengan membawa banyak boneka berbentuk bantal guling dengan gambar emotikon wajah yang imut-imut.

"Boneka dino? Buat apa? Boneka lo udah banyak dikamar" Zevan masih terus fokus menyetir.

"Kak! Aku pengen boneka dino! Ayok kak Zev belii! Ntar kalo kangen kak Zevan aku bisa peluk boneka itu! Ayok kak buat kenangan!" Bujuknya seperti anak kecil meminta jajan ice cream.

"Sejak kapan lo jadi manja begini?" Zevan pun pasrah memarkirkan mobilnya ditepi jalan yang agak jauh dari penjual kaki lima itu.

"Makasih kak! Aku keluar dulu ya!" Dengan cepat ia pun keluar dari mobil dan berlari layaknya anak kecil yang kegirangan.

"Pelan-pelan!" Teriak Zevan dengan perasaan yang aneh. Mengapa rasanya ia seperti sedang mengurusi anak kecil dibandingkan seorang gadis remaja?

"Kak Zevan! Bayar!"

Lamunannya buyar oleh sosok Lily yang sedang berdiri diluar mobil. Ia menatap Zevan polos dan menunjuk pada pedagang boneka itu.

"Berapa pak?" Tanya Zevan dengan raut wajah tetap tenang.

" 50 ribu " Jawabnya.

"Nih pak" Zevan menyerahkan uang 100 ribu.

"Gak ada yang pas? Saya belum ada kembaliannya" Ia terlihat bingung.

"Ambil aja kembaliannya. Lily, cepat masuk!"

"Beneran pak?! Ya ampun terima kasih ya!" Pedagang itu pun pergi dengan wajah senang.

"Kak Zevan bodoh!" Ujarnya sembari duduk dan menutup pintu mobil.

"Hah? Coba ulangi?" Zevan tak terima atas ucapan Lily.

"Kak Zevan bodoh! Pedagang itu boong tau! Tadi aku Liat dagangannya laris banget!"

"Terus kenapa kamu gak ngomong tadi?"

"Hehe " Kekehnya dengan wajah tak tahu malu. Zevan pun hanya menanggapinya dengan wajah datar. Dasar gadis ini. Selalu saja membuatnya gemas pen tak cubit ginjalnya.

Drrtt...

Drrtt...

Saat Zevan hendak menjalankan mobilnya, tiba-tiba terdengar suara ponsel berbunyi. Zevan pun mencari letak ponselnya terlebih dahulu untuk mengangkat panggilannya.

"Ada apa?" Tanya Zevan pada seseorang disebrang sana. Lily sedikit mencuri pandang padanya ketika raut wajah Zevan berubah. Ada yang dikatakan oleh orang disebrang teleponnya? Pikir Lily kepo. Tapi Lily buru-buru mengalihkan pandangannya, dan berpura-pura sibuk pada bonekanya saat Zevan dengan tiba-tiba menoleh kearahnya.

"Lily, ada seseorang yang mau gue temuin didekat sini. Gue mau keluar sebentar, dan lo diam disini jangan kemana pun, oke!" Ucap Zevan seakan tak ingin di bantah, selalu saja begitu. Lily hanya mengangguk pelan tanpa menoleh padanya. Ia terus mengusap-usap boneka lembutnya mencoba bertahan.

"Good girl! Gue bakalan segera kembali!" Ia mengacak rambut Lily gemas kemudian meninggalkanya. Lily hanya bisa terperanjat kaget atas tindakan tak terduganya itu. Sorot mata indahnya mengikuti kemana Zevan pergi.

"Dia mau kemana ya?"

• • •

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!