Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Seharusnya Tidak Terjadi
Aurora tidak ingat bagaimana ia bisa keluar dari gudang itu.
Yang Aurora ingat hanya langkahnya yang terasa berat, napasnya yang tidak teratur, dan jantungnya yang seolah tidak mau berhenti berdetak terlalu cepat.
Lorong kantor yang tadi terasa sepi kini terasa menekan. Lebih sempit. Lebih gelap.
Aurora terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Seolah-olah kalau ia berhenti sesuatu akan mengejarnya. Atau lebih tepatnya seseorang.
Tangan Aurora gemetar saat meraih tasnya di meja, “Aku harus pulang. Aku nggak bisa disini lagi.”
Berkas-berkas yang tadi Aurora kerjakan masih berantakan. Pulpen yang sempat ia jatuhkan masih tergeletak di tempat yang sama.
Semua terlihat normal, seolah kejadian beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
Aurora menelan ludah, “Ini gila…” bisiknya pelan.
Aurora memasukkan beberapa barang ke dalam tas dengan gerakan terburu-buru. Tidak peduli lagi dengan pekerjaan yang belum selesai.
Untuk pertama kalinya Aurora memilih pulang sebelum semuanya selesai.
Lampu ruangannya dimatikan dengan cepat. Ia melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Dan malam itu Aurora pulang dengan satu pikiran yang terus menghantuinya.
“Aku nggak seharusnya liat itu. Kalau tau gini aku nggak bakal ke gudang itu” batin Aurora.
Pagi harinya terasa seperti mimpi buruk yang belum selesai bagi Aurora.
Aurora berdiri di depan meja kerja dengan wajah sedikit pucat. Matanya kurang tidur, pikirannya masih kacau.
Ia tidak tidur nyenyak semalam, akibat terus terbayang dengan kejadian yang tidak seharusnya dirinya liat.
Pintu ruang CEO terbuka.
“Aurora.”
Suara itu membuat tubuhnya menegang. Tanpa sadar Aurora refleks menoleh.
Zayn berdiri di ambang pintu. Seperti biasa terlihat rapi, tenang, dingin.
Seolah-olah pria itu tidak melakukan apa pun semalam. Seolah-olah tidak ada darah. Tidak ada teriakan.
Aurora menahan napas, “Iya, Pak…” jawabnya pelan.
“Berkas meeting hari ini” ucap Zayn singkat namun tegas.
Aurora terdiam sepersekian detik. Ia menoleh ke tumpukan berkas yang belum selesai.
Jantung Aurora kembali berdetak cepat, “Saya… baru menyelesaikan sebagian, Pak” ucapnya hati-hati sambil menyerahkan map yang sudah siap.
Zayn menerimanya tanpa ekspresi. Ia membuka berkas itu. Membaca sekilas.
Keadaan kembali sunyi.
Aurora bisa merasakan setiap detik berlalu seperti hukuman.
Kemudian Zayn menutup map itu, “Kamu pulang sebelum selesai.”
Bukan pertanyaan yang keluar dari mulut Zayn, melainkan pernyataan.
Aurora menelan ludah, “I-ya, Pak. Ada sedikit-”
Satu kata keluar dari mulut Zayn memotong penjelasan Aurora, “Lembur.”
Aurora terdiam.
“Seluruh berkas harus selesai malam ini” ucap Zayn. Nada suaranya datar. Tidak tinggi. Tidak marah.
Tapi justru itu yang membuat Aurora lebih menekan.
Aurora mengangguk pelan, “Iya, Pak.”
Zayn tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Aurora sebentar.
Tatapannya lebih lama dari biasanya. Tatapan itu membuat Aurora tidak nyaman.
Aurora merasa dirinya sedang diingatkan sesuatu. Tentang malam tadi tepatnya tentang apa yang ia lihat.
“Flora” panggil Zayn.
Aurora tersentak kecil.
Zayn sudah berbalik seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi satu kata itu cukup untuk membuat Aurora tidak bisa berpikir dengan tenang sepanjang hari.
“Kenapa sih dia manggil aku Flora? Padahal kan namaku buka Flora” gerutu Aurora dengan mengerjakan berkas-berkas yang ada di mejanya.
Aurora menjatuhkan pulpennya ke meja, “Dan yap, lagi-lagi si kulkas tujuh pintu itu nyuruh aku lembur. Dipikir aku robot kali ya?”
Aurora menyadarkan kepalanya ke mejanya, “Aku suka gajinya, tapi aku tidak suka pekerjaannya.”
Malam kembali datang. Dan Aurora kembali berada di kantor sendirian.
Lampu-lampu kembali redup. Suasana kantor kembali sunyi. Seolah-olah malam sebelumnya akan terulang.
Aurora menarik napas panjang, mencoba fokus pada pekerjaannya.
Ia tidak ingin memikirkan apa pun selain menyelesaikan berkas-berkas itu.
Aurora tidak ingin memikirkan tentang Zayn, tentang gudang, atau bahkan tentang panggilan yang dibuat oleh Zayn.
Aurora menggertakkan giginya pelan, “Fokus, Aurora” gumamnya.
Waktu berjalan lebih cepat dari yang Aurora sadari.
Ketika ia akhirnya menyelesaikan semuanya, jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Aurora langsung merapikan berkas itu dan berdiri. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat ini.
Langkah Aurora lebih cepat saat keluar dari gedung.
Udara malam menyambutnya dengan dingin. Untuk pertama kalinya hari itu Aurora merasa sedikit lega.
Aurora melihat jam tangannya, “Sekarang jam sepuluh tepat. Malam-malam gini pasti susah nyari taksi.”
Aurora menghela nafas, “Aku jalan kaki aja deh.”
Aurora melangkah menjauh dari kantor tempatnya bekerja. Ia menelusuri jalan menuju rumahnya yang sudah sepi.
“Pulang malam lagi?”
Suara itu tiba-tiba muncul dan membuat langkah Aurora berhenti.
Aurora menghadap ke belakang. Ia melihat tiga pria berdiri tidak jauh darinya.
Salah satu dari tiga orang itu tersenyum tipis.
Aurora mengerutkan kening, “Maaf… siapa ya?”
Pria itu melangkah mendekat, “Aurora Flora Valerie” ucapnya, nada suaranya santai.
“Ternyata benar, Zayn nggak bunuh kamu” lanjutnya pelan.
Jantung Aurora langsung jatuh. Badannya tiba-tiba terasa dingin, “A-aku nggak ngerti maksud kamu-”
“Jangan pura-pura” sela pria itu. Nada suaranya berubah lebih tajam.
“Aku Rakha” ucap Rakha lagi.
Aurora mundur satu langkah. Nama itu terasa asing di telinganya.
“Dan kamu, ternyata penting juga ya buat dia” lanjut Rakha sambil menatapnya dari atas ke bawah.
“Enggak! Aku bukan siapa-siapanya” balas Aurora.
“Kalau bukan siapa-siapa…” Rakha tiba-tiba menarik lengannya kasar.
Aurora tersentak.
“…kenapa dia biarin kamu hidup?”tanya Rakha.
Aurora meringis kesakitan, “Sakit, lepasin...”
“Jawab aku!” bentak Rakha.
Aurora menggeleng cepat, “Aku nggak tau! Aku cuma sekretaris-”
Tamparan keras mendarat di pipi Aurora, sebelum ia sempat menjelaskan.
Aurora terhuyung. Dunia terasa berputar. Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan.
“Jangan bohong” Suara Rakha terdengar lebih dekat. Nada suaranya terdengar seperti ancaman untuk Aurora.
“Aku benci orang yang bohong” ucap Rakha lagi.
Aurora mencoba berdiri tegak, meskipun tubuhnya gemetar.
“Aku… nggak ada hubungan apa-apa sama dia…” ucap Aurora pelan. Suaranya melemah, tapi tetap bisa didengar.
Rakha menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum tipis, “Menarik.”
Dan di detik berikutnya Rakha mendorong Aurora dengan kasar.
Tubuh Aurora jatuh ke aspal. Sakit menjalar dari tangan dan lututnya.
Belum sempat Aurora bangkit, salah satu anak buah Rakha menariknya lagi.
“Berhenti!”
Suara itu bernada dingin, tajam, dan sangat familiar.
Semua orang di sana langsung berhenti.
Aurora mengangkat kepalanya dengan susah payah untuk melihat sumber suaranya.
Zayn berdiri beberapa meter dari mereka. Tatapannya gelap, lebih gelap dari malam sebelumnya.
Rakha tersenyum, “Lama banget, Aku kira kamu nggak bakal datang” ucapnya santai.
“Lo Nggak usah bawa-bawa dia ke urusan kita. Dia nggak ada sangkut pautnya sama urusan kita” ucap Zayn dengan nada tegas.
“Suka-suka gua lah mau libatin siapa. Lo nggak usah ngurusin rencana gua” balas Rakha.
Zayn tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat. Langkahnya pelan dan tenang. Tapi setiap langkahnya terasa seperti ancaman.
Aurora mencoba berdiri, “P-Pak, udah... cukup... nggak usah diladenin.”
Zayn berhenti. Tatapannya turun ke arah Aurora. Dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang berubah dari tatapannya.
Bukan dingin. Bukan kosong. Tapi emosi sekilas. Dan itu cukup membuat Aurora merinding.
Rakha tertawa kecil, “Liat? Gua bilang juga apa. Lo tuh kelemahannya ada di cewek itu.”
Zayn mengalihkan pandangannya ke arah Rakha, “Gua peringatkan sekali lagi. Jangan sentuh dia” Nada suaranya rendah yang membuatnya terdengar berbahaya.
Rakha mengangkat alis, “Kalau nggak?”
Keadaan sunyi sejenak. Aurora bisa merasakan ketegangan di udara.
“Kalau nggak, gua bakal pastiin lo menyesal selama hidup lo” ucap Zayn tegas.
Rakha tersenyum, “Lo pikir gua takut sama ancaman lo yang murahan itu?”
“Terserah lo mau ngomong apa. Intinya jangan seret Flora ke masalah kita” balas Zayn.
“Kan gua udah bilang terserah gua mau seret siapa ke urusan kita. Bagi gua ngeliat lo sengsara itu kebahagiaan gua” ucap Rakha.
Emosi Zayn semakin memuncak mendengar itu. Dan dalam satu detik mereka sudah saling menyerang.
Aurora tersentak mereka saling menyerang.
“Berhenti! Tolong... berhenti!” Ia mencoba berdiri dan mendekat, meskipun tubuhnya masih sakit.
“Cukup! Tolong!” seru Aurora.
Zayn menghentikan gerakannya. Napasnya masih berat. Tatapannya kembali ke Aurora.
Aurora menatapnya dengan mata basah, “Sudah… cukup…”
Suasana kembali sunyi.
Hingga akhirnya tawa Rakha memecahkan keheningan, “Menarik sekali.”
Ia mundur satu langkah, “Kayaknya dia emang penting buat lo.”
Zayn tidak menjawab. Tapi tatapannya tidak menyangkal.
Rakha tersenyum lebar, “Kalau gitu, kita main pelan-pelan aja, ya.”
Aurora merasakan jantungnya kembali tidak tenang. Sesuatu dalam ucapan itu terasa tidak baik baginya.
Rakha berbalik, “Jangan mati dulu, Aurora. Kita baru akan mulai permainannya.”
Langkahnya menjauh bersama anak buahnya. Meninggalkan Aurora dan Zayn.
Aurora masih berdiri di tempatnya. Tubuhnya gemetar, pikirannya kacau, dan satu hal mulai ia sadari ini bukan kejadian sekali. Ini baru awal.
Aurora menatap Zayn dengan takut, dengan bingung, dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Dan Zayn hanya menatapnya balik. Tatapannya lebih lama dan dalam dari biasanya, seolah-olah ia sudah memutuskan sesuatu.
Aurora merasa penasaran dengan masalah Zayn dan Rakha, tapi ia juga merasa takut dengan konsekuensinya. Dan ia tidak yakin ia siap untuk itu.