NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Golden Hour

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 Alea menoleh pada Biru yang mendudukkan diri di sebelahnya. Hanya sesaat dan kembali ia memperhatikan sahabatnya yang asyik bermain air bersama Bintang. Jauh dari posisinya yang hanya memilih duduk di batang pohon tumbang di tepi pantai semenjak mobil Bintang terparkir di tepi jalan.

Sekedar menikmati angin petang di bawah sinar mentari yang mulai menjingga tanpa ada niatan mengganggu sepasang manusia yang sesekali mencuri senyumnya.

“Hai, Kak? Panggil Biru tanpa mengalihkan pandangan dari dua insan dalam pelukan mata.

Alea berdengung tanpa gerakan tambahan.

Setelah ratusan jam Alea Prameswari bercengkrama dengan Biru Pradana, gadis itu sudah tidak terkejut akan mode apa yang anak itu sedang gunakan.

“Gue minta maaf,” kata Biru masih dengan posisi yang sama.

Angin berembus menginterupsi momen mereka. Masih bergeming, Alea menutup kelopak itu sesaat dan hembusan napas berat keluar dari kedua belah birainya.

“Nggak apa-apa,” sambutnya kemudian.

“Terima kasih,” balas bayi beruang.

Kembali hening. Tawa Bintang terdengar samar-samar di antara deburan ombak yang tidak berhenti untuk melantunkan melodi nan menenangkan.

“Kak, gue mau tanya.”

“Apa?”

Biru menunduk. Atmanya kini memandang intens pada bekas kuku Alea yang telah ditutup plaster. Menyentuh dan mengusap lembut di tempat plaster Rilakkuma tersebut berada, bayangan senyum Aluna yang tampil setelah memasangkannya pun muncul dalam pikirannya.

“Apa bagi lo … Kak Aluna itu berharga?”

Biru menoleh ke Alea seketika setelah mendengar gadis di sebelahnya tertawa kecil. Dia memandang heran side profile gadis yang masih menerawang jauh ke depan sana. Merasa Biru masih menatapnya, Alea meliriknya sekilas.

“Lo benar-benar penasaran dengan itu?”

Pemuda itu mengangguk antusias dan berhasil menciptakan senyum di wajah Alea. Dan dalam satu tarikan napas, Alea memulai kisah yang terjadi beberapa tahun silam.

“Gue ketemu Aluna ketika dia pindah ke sekolah gue. Waktu itu awal semester dua di kelas satu SMP. Gue nggak punya teman. Mungkin, dari satu kelas hanya beberapa yang mau berkomunikasi dengan gue, tapi ya … nggak selalu. Pada dasarnya, sih, gue emang suka menyendiri. Sedikit takut bersosialisasi karena trauma. Hehehe.” Alea tertawa sendiri mengingat masa itu.

Dahi Biru mengernyit dalam. Begitu menghayati cerita Alea. Ia sedikit memiringkan kepala ketika si storyteller menyinggung kata ‘trauma’ .

“Ada ‘teman’ SD gue bilang kalau gue terlalu galak, suka ngatur, pokoknya bukan anak yang baik buat dijadiin teman—”

“Itu emang benar, sih,” batin Biru menengahi seraya mengalihkan wajah. Jujur, ia ingin tertawa mendengar itu.

“Ibu gue juga bilang kayak gitu,” lanjutnya diakhiri tawa. “Itu sebabnya gue menyendiri. Lo sendiri juga tahu, ‘kan, kalau gue sudah bicara apalagi kalau mood gue buruk?”

“Iya. Itu buruk banget,” celetuk Biru dan kepalanya mengangguk tanpa beban.

Alea kembali tertawa, lebih terdengar miris mendengar kejujuran Biru. “Apa seburuk itu?”

Iris mereka menyelami satu sama lain. Biru kemudian mengedikkan bahu. “Entahlah.”

Alea lantas tersenyum miring.

“Gue kira … Aluna itu anak yang dingin karena cara dia menatap orang sangat tajam. Tapi, gue salah. Dia meraih gue lebih dulu. Waktu gue coba untuk menghindar, dia malah selalu mendekat. Lalu, setelah gue omelin dia habis-habisan, dia tersenyum tanpa beban.

“Aku cuma mau berteman dengan kamu. Bukan karena kasihan karena lihat kamu sendirian, tapi aku benar-benar tulus mau jadi teman kamu, Alea.”

“Itu yang Aluna bilang. Dan yaa … itu berkesan di hati gue sampai sekarang. Bagi gue, dia sosok yang benar-benar berharga.”

Mata berbinar Alea tertangkap langsung oleh retina Biru. Terpana akan kebahagiaan gadis di sampingnya, senyum Biru terkembang sempurna.

“Biru?” panggil Alea lembut.

“Iya?”

“Menurut lo, gimana mereka?”

Pemuda itu mengikuti arah pandang Alea.

“Kayak kata orang-orang; mereka serasi,” jawabnya setelah menganalisa apa yang dimaksud.

“Gue pengen Aluna bahagia ….”

Ingatan Alea kembali teringat pada saat makan es krim tadi.

“... Bintang itu cinta pertamanya. Bisa nggak lo bantu gue buat mereka semakin dekat?”

Biru membalas tatapan Alea. “Apa Kakak yakin dengan itu? Tapi, gimana caranya?”

“Gue akan pikirkan caranya,” balas Alea.

“Tapi kayaknya … ini sedikit sulit, deh, Kak.”

Alea mendapat poin itu secara langsung. “Iya. Gue tahu—karena ini tentang perasaan. Tapi, gue harap usaha ini bisa berhasil. Jadi, tolongin gue, ya.”

Biru menundukkan kepala. Ia menimang-nimang permohonan Alea yang dirinya sendiri belum yakin akan bisa melaksanakannya atau tidak.

“Tapi, gue nggak bisa janji, ya, Kak,” tuturnya setelah bergeming cukup lama.

Alea Prameswari pun mengangguk dan tersenyum.

“Terima kasih, Biru.”

 Matahari semakin tenggelam, menyisakan cahaya jingga yang hangat. Biru dan Alea memilih diam, membiarkan ombak mengisi ruang di antara pikiran mereka masing-masing; sementara pandangan mereka tertuju pada satu sosok yang sama: Aluna.

 “Jadi, lo sangat suka liat senja?” Bintang bertanya sesaat setelah mengerti Aluna yang terus menyunggingkan senyum manakala iris coklatnya terus mengedarkan pandangan.

 Tidak melepas kurva indah itu, Aluna menjawab dengan antusias, “Iya.”

 “Kenapa?” tanya Bintang penasaran.

 Mereka sudah tidak membuat kaki mereka basah. Duduk bersebelahan di atas pasir, keduanya menghadap ke kaki langit yang menampilkan indahnya matahari terbenam.

 “Waktu aku masih kecil, rumah keluargaku berlokasi di tepi pantai. Mendiang ayah selalu ngajak aku jalan-jalan di pesisir saat sore dan melihat senja bersama. Itu kenapa aku sangat suka senja.”

 Bintang masih setia menangkup wajah Aluna yang memandang ke arah horizon dengan pelupuk matanya.

 “Itu mengingatkanku pada ayah,” ujar Aluna bersama senyum simpul menghiasi bibir.

 Ada rasa menggelenyar dalam dada Bintang begitu melihat gurat kesedihan di wajah Aluna. Hingga tanpa sadar, tangannya meraih tangan kiri gadisnya dan berhasil membuat ia menoleh karena terkejut.

 “Ayo, nikmatin waktu ini bersama,” ajaknya disertai senyuman sehangat momen yang lambat laun akan menjadi kenangan juga.

 “Terima kasih,” ucap Aluna dan matanya dihadiahi ketulusan Bintang dari bola mata hitam putera tunggal keluarga Atmadja tersebut.

 Memandang sendu matahari yang kembali ke peraduan dengan bergandengan tangan, Aluna merasa hatinya tidak setenang yang ia ucapkan.

Lantas, ia menghela napas pelan.

“Aku percaya kamu, Bintang … tapi, kenapa hatiku justru mulai takut?”

Dan di antara debur ombak dan suara burung-burung yang akan kembali ke sarang, perasaan itu tumbuh perlahan; seperti retakan pertama di kaca yang tampak utuh.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!