NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBUAH TANDA

Laki-laki berpakaian hitam itu sedikit tegang. Adanya mata-mata di warung Nyimas Padan Laran menandakan jika ada kebocoran keberadaan mereka.

"Jangan terlalu kaku Kisanak. Nanti ada yang curiga," bisik salah satu teman pria itu memperingati.

Lalu terdengar tawa Danar yang kembali memenangkan judinya. Pria suruhan Padan Laran memang sedang apes. Padahal ia adalah jagonya main judi. Bahkan trik penyelipan kartu tidak mempan melawan Danar.

"Bagaimana Kisanak. Apa masih mau dilanjut? Aku lihat kau belum lihai menyelipkan kartu!" seru Danar sinis, ia begitu percaya diri meledek lawannya.

Nyimas Padan Laran menegang, tadinya ia ingin Danar kalah telak. Siapa sangka, pria yang ia gelayuti malah sedang mujur.

"Ah ... Kangmas. Kamu benar-benar hebat!" pujinya lalu mengecup pipi Danar.

Hal itu membuat semua pria iri dengan Danar. Mereka menatap marah, tapi tak bisa melakukan apapun untuk itu. Karena Nyimas Padan Laran sendiri yang mencium Danar.

"Ah ... makin hoki saja aku dikecup oleh bidadari Desa Tiro!" kekeh Danar meraup semua keping emas yang ia menangkan ke dalam kantungnya.

"Sekali lagi ... Aku yakin bisa mengalahkanmu!" teriak lawan Danar. Padan Laran sudah memberikan Koda untuk tidak melanjutkan. Tetapi ia tetap bersikeras.

"Kau mau lagi?" tanya Danar remeh.

"Iya ... Aku mau lagi!" seru pria itu.

"Kalau begitu buka bajumu!" suruh Danar dengan tatapan merendahkan.

"Apa?" pria itu menatap Danar lekat-lekat. Tentu saja ia menolak permintaan Danar.

"Kau sudah kalah tiga kali denganku. Tapi menolak apa yang ku mau?" kekeh Danar makin merendahkan pria itu.

Nyimas Padan Laran sudah menatap tajam anak buahnya itu. Pria itu makin tersulut emosi. Harga dirinya semakin diinjak melihat tatapan majikannya.

"Buka bajumu Kisanak! Maka semua orang melihat. Bagaimana kau mencurangi mereka!" ucap Danar dingin.

Pria itu menegang, ia tak yakin jika Danar tau dirinya main curang.

"Kau menuduhku. Terima ini!" lalu ia menyerang Danar.

"Hea!" sebuah pukulan diluncurkan ke wajah tampan Danar.

Danar berkelit, ia menarik cepat kipas besi. Senjata andalannya. Nyimas Padan Laran langsung menyingkir.

"Tolong hentikan!" serunya ketakutan.

Tapi pria suruhannya makin merangsek. Ia tak terima serangannya tak kena.

"Kurang ajar! Kau membuat keonaran!" teriaknya kembali menyerang Danar.

Danar Pati Buksa adalah putra Punggawa ternama kerajaan. Bela diri tentu sudah diajari oleh sang ayah dengan keras sejak ia berusia dini. Jadi serangan mentah dari seorang preman bukan hal sulit ia taklukkan.

Tinju itu dengan mudah ditepis oleh kipas besi milik Danar.

Plas!

"Wadow!' teriak pria itu langsung memegangi kepalan tangannya yang membengkak.

"Arghhh!" teriakannya membuat tiga laki-laki berpakaian hitam masuk ke dalam.

Ketiga pria itu mengenakan penutup muka berupa kain hitam. Danar melihat itu, walau ia seorang begundal keluarga. Tetapi ia tentu curiga dengan ketiga pria memakai penutup wajah.

"Hei ... Kalian siapa. Kenapa pakai penutup wajah!' serunya menunjuk ketiga pria itu.

mereka tentu terkejut, begitu juga semua orang di sana termasuk Padan Laran.

"Tenang Kangmas. Ada pendekar yang tak mau dikenali kan. Sudah ya. Jangan rusak warung ini!" serunya memohon. Ia menatap tiga pria itu dan menyuruh mereka pergi lewat gerakan kepala.

ketiganya pun keluar dari warung dan melompat ke arah bukit Menoreh.

"Ah ... Aku pulang. Aku sudah cukup.lelah!" seru Danar lalu ia meletakkan satu keping emas di meja.

'Ini bayaranku!" ujarnya.

"Kangmas, apa tidak mau menginap?" tanya Padan Laran lembut dan merdu.

"Ajakan yang pasti membuat senang. Nyimas. Tapi aku harus pulang sekarang!" tolak Danar, ia sudah malas berada di sana.

Pria itu pun pergi meninggalkan warung yang menawari semua kesenangan pria.

Nyimas Padan Laran menatap pria yang masih duduk mengkerut memegangi tangannya yang bengkak. Melihat tatapan majikannya, pria itu tau telah melakukan kesalahan besar.

Ketika mendekat, Nyimas Padan Laran merasakan sesuatu. Ia menoleh pada sudut di mana ia merasa di perhatikan.

"Eh ... Ada apa ini?" tanyanya mulai gusar.

Sementara itu Srikandi yang baru saja bersembunyi dan menyaksikan semua kejadian tadi. Sudah melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Ia mengikuti tiga pria yang sudah cukup jauh di depan.

"Siapa pria-pria misterius itu?" gumamnya dalam hati.

Angin malam Bukit Menoreh berembus menusuk tulang, menggoyang dedaunan pohon waru dan randu alas hingga menimbulkan suara derit yang linu. Di bawah siraman cahaya bulan yang temaram, tiga bayangan hitam melesat dengan kecepatan tinggi.

Gerakan mereka sangat terlatih, melompati bebatuan cadas dan batang pohon tumbang tanpa menimbulkan suara—sebuah ciri khas dari Aji Halimun, ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang biasa dikuasai oleh para pembunuh bayaran tanah seberang.

"Sialan ... Kita hampir saja ketahuan!" seru salah satu pria bertopeng.

"Huh ... Siapa sih dia? Apa dia mata-matanya?" tanya pria yang bertubuh sedikit gemuk.

"Sepertinya bukan. Kalau mata-mata, tidak mungkin melakukan hal mencolok!" jawab lainnya lagi.

"Sepertinya pria itu memiliki ilmu bela diri yang mumpuni, Ki Rawok!"

"Kau benar Ki Panggang! Kau lihat tadi, dia menangkis serangan dari salah satu anak buah Nyimas!"

"Kalau begitu, untuk sementara kita jangan mendatangi warung Nyimas Padan Laran, Ki Sonta!" sahut Rawok memberi saran.

"Kau benar. Tapi tadi kita belum melakukan apapun. Sepertinya kita harus melaporkan pada temenggung Pancasona!" sahut Sonta.

Tubuh tiga pria makin melesat kencang. Srikandi yang mengikuti berhenti dan menatap tiga pria yang makin lama makin menjauh.

"Ki Rawok, Ki Sonta dan Ki Panggang?" Srikandi mengerutkan keningnya.

"Dari logat bicara mereka, sepertinya mereka bukan asli warga lokal?" lanjutnya bergumam.

"Lalu siapa itu Temenggung Pancasona?" tanya Srikandi lagi.

Ia menghela nafas, melihat ketiga pria tadi sudah menghilang dari kegelapan malam. Srikandi urung mengejar mereka. Ia hendak membalikkan badan dan pulang. Tapi matanya menangkap sesuatu benda terjatuh di tanah.

"Apa itu?" Srikandi yang ada di dahan pohon karet pun melompat turun.

Kakinya mendarat mulus di tanah, ia mengambil benda bercahaya keemasan itu dan mengamatinya.

"Plakat kerajaan Jalapati?" kening Srikandi makin berkerut.

"Untuk apa mereka pergi ke warung Nyimas Padan Laran?" gumamnya lagi bertanya.

"Tapi memang tidak ada larangan siapapun yang mau ke sana ...," Srikandi masih terus bertanya-tanya.

Ia mengabaikan rasa penasarannya, ia memilih kembali melesatkan tubuhnya untuk kembali ke rumah.

Hanya butuh beberapa waktu, gadis itu sampai depan rumahnya. Kabut sudah menyelimuti lereng sejak matahari turun ke barat. Angin dingin menusuk tulang, walau udara dingin. Tetapi titik-titik keringat di pelipis Srikandi tampak menetes, ia segera mengusap keringat dengan lengan bajunya.

Ia masuk ke dalam dan suasana dingin berubah jadi hangat. Ia menutup pintu dan mengganjalnya dengan sepotong kayu tebal.

Srikandi meletakkan barang temuannya di atas meja. Ia duduk dan makin memikirkan semuanya yang terjadi.

"Ini sepertinya benang kusut yang harus aku urai sendiri," gumamnya pelan.

Sementara jauh di sebuah kamar. Seorang pria terkapar bersimbah darah, tubuhnya banyak luka cakaran dari hewan buas.

"A ..aa ... mmpun ... Nyi ...."

Crass! Satu cakaran menghabisi nyawanya, darah menetes di kuku-kuku hitam nan panjang. Sosok mengerikan menjilati tetesan berwarna merah tanpa jijik.

"Itulah akibatnya jika kau tidak mengindahkan perintahku!" seringainya sadis.

Sosok itu lalu melesat, bau harum kembang kantil tercium seiring tubuh sosok itu pergi menjauhi jasad pria nan malang.

Bersambung.

Wah ... Siapa itu?

Next?

1
Deyuni12
lanjut
Deyuni12
galak banget nh si Rukmi,sleper juga nh
Deyuni12
nyari kesempatan Mulu nh Rukmi
Anita Barus
penasaran lanjut
Anita Barus
serem juga KLO sampai sda acara menjulatin darah gitu gitu
vania larasati
lanjut
Anita Barus
maki seru lanjut Thor
Anita Barus
Srikandi punya bibi yg unik serakah kepo cerewet .juga rada cengeng .
Anita Barus
bibi Rukmi yg serakah seperti kera ternyata🙏 masih bisa menangis juga ya
Anita Barus
nah Lo sakta rakus di usir kan Lo 5thn di pengasingan jauh dr istri anak dan gundik kapok mu sampai kapan 🤣🤣🤣🤣🤣pake ngusik hak Srikandi
Anita Barus
ternyata bibi Rukmi dan suaminya sama serakah nya ingin menguasai upeti.ki abda tapi kocak juga ya waktu bi Rukmi. dan putra semata wayang nya yg gemulai merajah kebun milik Srikandi .sampai.jatuh dan putra gemulai nya Doko menangis pulang kerumah nya 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
walau windu benci dgn bayi Ki sabda TDK masalah Ki sabda dan paman sengko pasti melindungi sang anak
Benny Badaruddin
kasihan sekali tapi untung nya dia dari kecil sudah ditempa menjadi gadis yg kuat oleh ayahandanya
Benny Badaruddin
apakah Srikandi tau kalo ayahnya FFR
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
pas episode sebelumnya disebutkan kalo Nyi Padan Laran beraroma bunga kantil udah feeling kalo sosoknya memang sepertinya tidak biasa
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
keren
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!