NovelToon NovelToon
ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: ThiaSulaiman

Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalung yang Ternyata Palsu

Pagi di mansion Moretti dimulai dengan suara pecahan kaca.

Brak!

Seraphina berdiri di ruang rias pribadinya dengan napas memburu. Sebuah vas kristal hancur di lantai. Dua pelayan berdiri kaku di pintu, tak berani masuk.

“Keluar!”

Keduanya langsung menunduk dan pergi.

Di depan cermin besar berbingkai emas, Seraphina menatap bayangannya sendiri.

Mata kurang tidur.

Wajah tegang.

Dan satu pikiran yang terus berputar sejak gala charity:

Semua berawal dari kalung itu.

Kalung berlian yang hilang.

Kalung yang membuat Elara dituduh mencuri.

Kalung yang membuat dirinya menampar Elara.

Kalung yang membuat seluruh hidupnya kini berantakan.

Ia menutup laci meja rias keras-keras.

“Aku harus tahu.”

Di meja makan, Damian sedang membaca laporan bisnis saat ibunya datang tergesa.

“Kita perlu bicara.”

“Pagi juga, Ibu.”

“Jangan sinis.”

Damian menurunkan berkas.

“Apa?”

Seraphina duduk tanpa menyentuh sarapan.

“Kalung itu.”

Damian menatap datar.

“Masalah lama.”

“Tidak.”

Ia mencondongkan tubuh.

“Aku ingin periksa ulang.”

Damian mengangkat alis.

“Sekarang?”

“Ya.”

“Kenapa?”

Seraphina ragu sejenak.

Karena untuk pertama kali, ia takut pada kemungkinan jawaban.

“Karena… aku merasa ada yang salah.”

Selene masuk sambil menguap.

“Wah, pagi-pagi sudah drama baru?”

Seraphina menatap tajam.

“Kau ikut.”

“Aku tidak lapar.”

“Bukan untuk makan.”

Selene melihat ekspresi ibunya lalu tersenyum tipis.

“Oh… tentang kalung.”

Damian menatap adiknya lama.

Selene pura-pura mengambil jus.

Tiga puluh menit kemudian, mereka berada di ruang penyimpanan perhiasan keluarga.

Ruangan kecil berlapis keamanan dengan lemari besi digital di dinding.

Seraphina membuka kode dengan tangan sedikit gemetar.

Pintu besi terbuka.

Kotak-kotak beludru tersusun rapi di dalam.

Ia mengambil satu kotak merah marun.

Kalung itu berada di sana.

Berkilau.

Indah.

Dan menjadi penyebab kehancuran banyak hal.

Damian memandangnya dingin.

“Jadi ternyata tidak hilang.”

Seraphina cepat menjawab,

“Aku menemukannya keesokan harinya di laci samping tempat tidur.”

Selene tertawa kecil.

“Dan Ibu tetap tidak minta maaf.”

“Diam.”

Damian menatap ibunya tajam.

“Kau bilang kau yakin Elara mencurinya.”

“Aku… saat itu marah.”

“Kau menuduh tanpa bukti.”

Seraphina menghindari mata putranya.

Damian mengulurkan tangan.

“Berikan.”

“Apa?”

“Kalung itu.”

Seraphina ragu, lalu menyerahkan kotak.

Damian meneliti batu-batu berkilau itu beberapa detik.

Lalu berkata tenang,

“Ini bukan yang dulu.”

Seraphina menegang.

“Apa maksudmu?”

“Setting pengait belakang berbeda.”

Selene mendekat.

“Bisa jadi aku juga ingat. Yang dulu lebih panjang.”

Seraphina memucat.

“Tidak mungkin.”

Damian menutup kotak perlahan.

“Bawa ke ahli.”

Siang itu juga mereka mendatangi butik perhiasan eksklusif langganan keluarga Moretti.

Pemilik butik, Monsieur Laurent, pria tua perfeksionis yang telah puluhan tahun menangani koleksi keluarga itu, menyambut dengan sopan.

“Madam Moretti, Tuan Damian.”

Seraphina memaksakan senyum.

“Kami butuh verifikasi cepat.”

Laurent memakai sarung tangan putih dan memeriksa kalung di bawah lampu khusus. Ia memakai kaca pembesar, alat ukur, lalu diam cukup lama.

Suasana ruangan mencekam.

Akhirnya ia mengangkat kepala.

“Madam…”

“Ya?”

“Ini replika.”

Seraphina merasa lututnya melemah.

“Apa?”

“Batu utamanya cubic zirconia kualitas tinggi. Bukan berlian asli.”

Selene menutup mulut menahan tawa tak percaya.

Damian tidak bergerak sedikit pun.

Laurent melanjutkan hati-hati,

“Pengerjaan sangat baik, tetapi bagi profesional… jelas berbeda.”

Seraphina berbisik,

“Lalu… kalung asliku?”

“Mungkin ditukar.”

Ruangan membeku.

Di perjalanan pulang, tak ada yang bicara.

Mobil terasa sesak oleh rahasia.

Akhirnya Damian memecah hening.

“Sejak kapan Ibu tahu kalung itu ditemukan?”

“Keesokan pagi.”

“Dan sejak kapan tahu itu mungkin palsu?”

“Aku… tidak tahu.”

“Kau tidak pernah cek?”

Seraphina meledak.

“Bagaimana aku bisa cek saat rumah sedang kacau?!”

Damian menatap lurus ke depan.

“Rumah kacau karena Ibu.”

Selene menambahkan santai,

“Dan mungkin karena pencurinya masih duduk bersama kita.”

Seraphina menoleh tajam.

“Maksudmu siapa?”

Selene tersenyum kecil.

“Aku belum bilang siapa-siapa.”

Setibanya di mansion, Damian memanggil seluruh staf lama yang bekerja saat kejadian itu.

Marta datang pertama.

Disusul kepala keamanan, dua pelayan senior, dan sopir lama.

Seraphina marah.

“Ini berlebihan.”

“Tidak,” kata Damian dingin. “Ini terlambat.”

Mereka berkumpul di ruang utama.

Damian berdiri seperti memimpin sidang.

“Dua tahun lalu terjadi tuduhan pencurian terhadap Elara. Hari ini terbukti kalung yang ditemukan adalah replika.”

Marta menatap Seraphina dengan mata tajam.

“Akhirnya.”

Seraphina mengatup rahang.

Damian melanjutkan,

“Aku ingin tahu siapa terakhir melihat kalung asli.”

Kepala keamanan membuka catatan lama.

“Menurut laporan saat itu, terakhir dikenakan Madam Seraphina di pesta makan malam.”

“Setelah itu?”

“Saya tidak tahu.”

Pelayan senior mengangkat tangan ragu.

“Saya melihat Nona Selene masuk kamar Madam malam itu.”

Semua mata langsung menuju Selene.

Ia tetap duduk santai.

“Terus?”

Seraphina menatap putrinya tak percaya.

“Kau ke kamarku?”

“Aku sering ke kamar Ibu.”

“Untuk apa malam itu?”

Selene mengangkat bahu.

“Meminjam parfum mungkin.”

Damian berjalan mendekat.

“Tatap aku dan jawab.”

Selene tersenyum tipis.

“Wah, Kakak jadi menyeramkan.”

“Apakah kau mengambil kalung itu?”

Seraphina berteriak,

“Selene!”

Namun putrinya justru tertawa kecil.

Tawa yang membuat semua orang tak nyaman.

“Aku tidak percaya. Setelah semua ini, kalian baru sadar?”

Seraphina mundur setengah langkah.

“Apa maksudmu?”

Selene berdiri perlahan.

“Ya, aku ambil.”

Ruangan seketika sunyi total.

Marta menutup mata seolah tak terkejut.

Damian mengepalkan tangan.

Seraphina berbisik,

“Kau bohong…”

Selene menatap ibunya lurus.

“Tidak. Aku ambil, lalu kutukar dengan replika.”

“Kenapa?!”

Karena…”

Ia menoleh ke Damian.

“Kakak terlalu sering memperhatikan Elara.”

Damian membeku.

Selene tersenyum pahit.

“Bukan cinta waktu itu. Tapi cukup membuatku muak.”

Seraphina hampir pingsan.

“Kau menghancurkan keluarga ini karena cemburu?”

“Jangan lebay.”

Selene duduk di sandaran sofa.

“Aku hanya ingin Elara pergi.”

“Kau gila.”

“Dan Ibu membantu sempurna.”

Kalimat itu menampar lebih keras daripada tangan siapa pun.

Selene melanjutkan,

“Ibu sudah benci dia. Aku cuma memberi percikan. Ibu sendiri yang membakar rumah.”

Seraphina menitikkan air mata pertama kali di depan anak-anaknya.

“Kau menjebakku…”

Selene tertawa pendek.

“Ibu terlalu mudah dijebak karena suka merendahkan orang.”

Damian menatap adiknya dengan jijik.

“Di mana kalung asli?”

“Sudah kujual.”

“Apa?”

“Tenang. Harga bagus.”

Damian maju satu langkah.

“Selene.”

Nada suaranya begitu dingin hingga semua orang menegang.

“Mulai sekarang semua akses rekeningmu ditutup.”

“Kau bukan ayahku.”

“Mobil, kartu, apartemen, semuanya.”

“Kau tidak bisa—”

“Aku bisa.”

Ia menoleh ke kepala keamanan.

“Pastikan.”

Selene memucat untuk pertama kali.

“Kak!”

“Kau ingin bermain dewasa. Bayar seperti orang dewasa.”

Seraphina terduduk lemas.

Ia menatap Damian dengan suara patah.

“Aku… menampar Elara karena kebohongan ini.”

Damian menjawab tanpa belas kasihan.

“Tidak.”

Ia menunjuk ibunya.

“Kau menampar Elara karena kau merasa berhak menampar orang lemah.”

Air mata Seraphina jatuh.

Tak ada bantahan.

Karena itu benar.

Di rumah besar Vasiliev, Viktor baru selesai menerima laporan dari sumbernya.

Ia masuk ke perpustakaan tempat Elara membaca.

“Nona.”

“Ya?”

“Kebenaran tentang kalung terbongkar.”

Elara menutup buku perlahan.

“Cepat juga.”

“Yang mengambil ternyata Selene.”

Ia tak tampak terkejut.

“Masuk akal.”

“Dan keluarga Moretti sedang hancur.”

Elara berdiri lalu berjalan ke jendela.

Wajahnya tenang, tetapi matanya jauh.

“Tidak.”

“Bukan hancur?”

“Mereka hanya sedang melihat bentuk asli mereka.”

Viktor terdiam kagum.

“Apakah Anda puas?”

Elara menatap langit sore.

Beberapa detik ia tak menjawab.

Lalu berkata pelan,

“Puas tidak menghapus malam saat aku diusir.”

Malam itu, Damian berdiri sendiri di ruang utama mansion.

Rumah besar itu sunyi.

Ibunya menangis di kamar.

Selene mengamuk pada staf.

Para pelayan berbisik pelan.

Ia melihat tempat Elara dulu berdiri saat dituduh.

Tempat ia sendiri memilih diam.

Tangannya mengepal.

Sekarang kebenaran datang.

Tapi wanita itu sudah pergi.

Dan untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Damian menyadari hal paling kejam tentang penyesalan:

Kebenaran yang datang terlambat… sering tak bisa menyelamatkan apa pun.

1
Noey Aprilia
Msih aja iri.... orng kl udh biasa jd psat prhtian,trs tiba2 d acuhkn psti mkin bnci....pdhl kn dia sndri yg slah.....
Noey Aprilia
Mga aja elara udh mnyiapkn blsan buat spa aja yg mngusiknya,kli nu jgn ksih ampun.....bsmi smp k akarnya biar ga tmbuh lg s msa dpn...
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Noey Aprilia
Yg koar2 emng biasanya krna ktakutan,yg diam jstru lbh brbhya...
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
Noey Aprilia
Mngkn krna dia trbiasa brkuasa,saat sprti itu pun blm jg sdar....mskpn kl dia dtng buat mnta maaf sm elara,blm tntu jg d maafkn...tp mnimal dia tau lh apa kslahnnya....ni mlah mkin dndam.....cckk....
Noey Aprilia
Apa lg yg lbih mnyiksa slain pnyesalan yg trlambat....dan damian sdng mrsakannya.....so,slmt mnkmti....
Noey Aprilia
Mkin d rgukan,elara mkin smngt.....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
Nurhartiningsih
seru
Noey Aprilia
Dlu elara bkrja krna pelarian,skrng smua orng brgntung sm dia......tp ykin bgt kl dia bkln jd pmimpin yg tgas dn sukses d msa dpn.....
Himna Mohamad
lanjut kk
Istia Ningsih
luar biasah
Istia Ningsih
terimakasih 😍🙏
Himna Mohamad
ditunggu notifnya kk
Istia Ningsih: siaaapp
total 1 replies
Noey Aprilia
Ank orng kya mnja,trnyta jd pncuri d rmhnya sndri.....alasannya btuh uang,plus cmburu.....jdilh elara yg jd krban....glirn fkta trungkap,nyesel brjmaah.....🙄🙄🙄
Noey Aprilia
Hmmmm......
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
Istia Ningsih: tetappp semangaat tungguin updatenya
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Noey Aprilia
Bgtulh mnusia.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄
Himna Mohamad
kereeen kk👍👍👍👍👍
Istia Ningsih: alhamdulillah masya allah terimakasih
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Istia Ningsih: siap siap
total 1 replies
Noey Aprilia
Brsa lngsng kna tikam,tepat d jntung....mngkn bntr lg bkln ada yg pingsan.....😛😛😛
Istia Ningsih: nacep bner yaa kaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!