Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : CCTV dan tubuh Dr. Stela Hindenburg
Rasyid kembali ke rumah Liora setelah sebelumnya mengunjungi rumah sakit, ia lalu menemui Pak RT di lokasi sekitar rumah Liora. "Pak RT, izin. Saya masih butuh informasi di rumah Liora, apa bapak tidak keberatan menemani saya ke dalam?"
Pak RT yang sedang duduk sambil bermain ponsel terkejut dengan kedatangan Detektif Rasyid.
"eh Pak Rasyid, boleh... Ada apa lagi ya Pak?" tanya Pak RT.
"tidak ada apa-apa, hanya memastikan saja sebelum garis polisi ini di lepas besok." jawab Rasyid.
"oh begitu. Mari Pak saya antar." ucap Pak RT sambil berjalan ke arah rumah Liora.
Setelah menghabiskan beberapa waktu menyisir setiap sudut ruang kerja Liora yang dipenuhi denah, Rasyid merasa ada yang janggal pada tumpukan kardus di bawah meja kayu besar. Di sana, di balik beberapa kliping koran, ia menemukan sebuah kotak elektronik hitam yang tampak asing di antara peralatan tulis Liora.
"Ini... perangkat CCTV," gumam Rasyid pelan. Sambil Ia memeriksa apakah perangkat tersebut masih berfungsi.
"Jika ini rusak, tak mungkin Liora menyimpan perangkat ini secara tertutup," gumamnya lagi.
"Pak RT, lihat ini," Rasyid menunjukkan unit DVR tersebut. "izin, saya akan memeriksa CCTV ini." ujar Rasyid sambil memperlihatkan perangkat CCTV tersebut kepada Pak RT.
Pak RT mendekat, mengerutkan dahi. "Oh, Silahkan Pak." jawab Pak RT.
Rasyid mengangguk pelan. Ia menyadari bahwa dugaannya mungkin benar kalau Liora bukan sekadar relawan. Dia dan Aris sedang menjalankan penyelidikan mandiri. Mungkin mereka menemukan sesuatu di rekaman ini yang memaksa mereka untuk terjun langsung ke lokasi proyek bawah tanah.
"Saya minta izin membawa ini, Pak RT. Kalau ada sesuatu mungkin bisa masuk tahap pengembangan," ujar Rasyid dengan nada yang tak terbantahkan.
Pak RT memberikan izin dengan raut wajah cemas. Rasyid segera membungkus DVR tersebut dengan plastik pelindung. Sambil berjalan menuju mobil, Rasyid menimang kotak hitam itu.
Rasyid segera masuk ke mobilnya. Tujuannya sekarang bukan kantor polisi, ia tidak ingin ada pihak luar yang tahu ia memiliki rekaman ini sebelum ia melihatnya sendiri meskipun Rasyid belum tahu isi rekaman cctv tersebut. Ia butuh tempat yang aman dengan koneksi monitor untuk membedah apa isi rekaman cctv tersebut.
...----------------...
Sudah tiga hari Aris dan Liora kehilangan jejak waktu di bawah tanah. Dunia mereka kini hanya sebatas dinding beton dingin dan lampu neon yang berkedip tidak stabil. Bayangan puluhan manusia dengan tubuh cacat yang berdiri mematung di ruang merah masih membekas jelas di ingatan mereka. Makhluk-makhluk itu tidak benar-benar mati, tapi juga tidak bisa dibilang hidup.
Axel bersama dua penjaga bersenjata menggiring mereka kembali ke ruang tahanan. Tidak ada percakapan. Suasana begitu mencekam hingga suara langkah sepatu bot mereka menggema di sepanjang koridor. Begitu sampai, Aris dan Liora didorong masuk ke ruangan yang sama sebelum pintu besi berat itu kembali terkunci rapat.
"Kita harus keluar dari sini, Ris," bisik Liora sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. "Tempat ini mirip pabrik monster."
Aris hanya diam. Ia menatap telapak tangannya yang kasar, memikirkan bagaimana sebuah kegilaan seperti ini terjadi.
Di bagian lain bunker, Axel melangkah masuk ke ruangan Stela dengan napas yang teratur.
Ia berdiri di samping ranjang, menatap sosok ibunya yang masih terlelap anggun dalam balutan kebaya putih. Baginya, Stela bukan sekadar ibu, melainkan Tuhan bagi dunia baru yang sedang ia bangun.
"Sebentar lagi, Bu," gumam Axel pelan sambil merapikan helai rambut Stela yang menutupi keningnya. "Semua usaha Ibu tidak akan sia-sia. Begitu Ibu membuka mata, dunia di atas sana akan bertekuk lutut. Kita akan menciptakan tatanan baru yang abadi."
Axel tersenyum kecil, namun senyum itu mendadak hilang. Mata Axel membelalak saat melihat jemari Stela bergetar hebat. Getaran itu merambat ke seluruh tubuhnya, seolah ia sedang mengalami kejang hebat di dalam tidurnya.
Pandangan Axel beralih ke deretan selang yang terhubung ke tubuh ibunya. Cairan bening di dalam selang itu tidak lagi mengalir lancar; ada gelembung udara dan endapan berwarna keruh yang menyumbat saluran. Alarm kecil di monitor sirkulasi mulai berbunyi nyaring, menandakan tekanan air turun drastis.
"Tidak!" teriak Axel panik. Ia mencoba mengutak-atik katup manual, namun jarum indikator tetap tidak bergerak.
Tanpa pikir panjang, Axel berlari keluar ruangan dan menuju sel tahanan Aris. Ia membanting pintu besi itu hingga membentur dinding, membuat Aris dan Liora tersentak kaget.
"Ikut aku!" bentak Axel sambil menarik kerah baju Aris. "Mesin sirkulasi utamanya terhambat. Jika aliran air ke tubuh ibu saya berhenti, semuanya akan hancur. Perbaiki sekarang! Jangan sampai saya kehilangan kesabaran."
Aris melihat kepanikan di mata Axel. Aris melirik Liora sejenak, lalu mengikuti langkah cepat Axel menuju ruang mesin utama.
Aris berdiri mematung di depan panel kontrol yang rumit. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia memang seorang montir dan pekerja instalasi pipa, tapi mesin yang ada di depannya adalah benda asing yang menggabungkan mekanik dengan biologi. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Cepat! Jangan cuma berdiri!" teriak Axel. Suaranya melengking tinggi karena panik.
Melihat Aris yang masih ragu, Axel mencabut pistol dari pinggangnya dan langsung menodongkan moncong senjata itu ke kepala Liora. "Lebih cepat Ris, atau dia mati sekarang!"
"Jangan! Tunggu!" teriak Aris. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan diri, menatap aliran cairan di dalam selang transparan yang tersumbat. Aris melihat ada katup pembuangan tekanan di bagian bawah.
Dengan nekat, ia memutar katup itu sekuat tenaga untuk mengeluarkan endapan keruh, lalu menekan tombol pompa manual berulang kali.
Suara desis udara terdengar nyaring, disusul dengan aliran cairan yang kembali lancar ke arah ranjang. Perlahan, tubuh Dr. Stela yang tadinya kejang mulai tenang. Getarannya berhenti, dan ia kembali terbaring diam.
Seluruh ruangan seketika menjadi sangat hening. Tidak ada suara selain deru mesin yang kini kembali stabil. Axel menurunkan senjatanya perlahan, napasnya tersengal-sengal. Ia mendekati ranjang, memastikan tidak ada yang salah dengan kondisi ibunya. Liora yang gemetar segera berlari kecil mendekat ke arah Aris, mencari perlindungan di balik punggung pria itu.
Namun, keheningan itu hanya bertahan beberapa detik. Tiba-tiba, mata Dr. Stela terbuka lebar. Ia menarik napas panjang dan dalam, seolah baru saja muncul dari dalam air setelah tenggelam lama. Warna kulitnya yang sebelumnya putih pucat secara ajaib mulai merona dan nampak hidup.
Axel mundur beberapa langkah secara refleks. Wajahnya campur aduk antara bahagia dan ngeri. "I-ibu?" panggilnya dengan suara bergetar.
Stela bangkit perlahan, duduk di atas ranjang dengan gerakan yang sangat luwes. Pandangannya yang awalnya kosong mulai fokus, lalu tertuju tepat pada Axel.
"Kau... Axel?" suaranya lembut, namun terdengar sangat asing di telinga.
Ia kemudian melirik ke arah Aris dan Liora yang berdiri mematung. "Siapa mereka?" tanyanya tanpa ekspresi. Dua penjaga yang berjaga di dekat pintu seketika merasa terancam. Naluri tempur mereka bangkit, dan mereka langsung menodongkan senapan otomatis ke arah Stela.
Stela menoleh perlahan ke arah mereka. Tatapannya sangat tajam, dan dalam sekejap, warna matanya berubah total menjadi putih pekat.
Ia mengarahkan telapak tangannya ke arah salah satu penjaga. Dalam hitungan detik, kengerian muncul dari balik kulit tangannya. Beberapa helai seperti tentakel berlendir menjulur keluar dengan kecepatan luar biasa. Sebelum sempat menarik pelatuk, tentakel itu menusuk dada sang penjaga hingga tembus.
Penjaga itu tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan suara. Rekannya yang melihat kejadian itu langsung lemas. Senapannya jatuh berdentang ke lantai, dan ia mengangkat tangan dengan tubuh yang gemetar hebat.
...****************...