Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Cahaya matahari menyelinap melalui celah gorden kamar rumah sakit, menciptakan garis-garis emas di atas lantai porselen yang dingin. Zivara perlahan membuka matanya. Indra penciumannya langsung disambut aroma sisa hujan semalam dan wangi parfum maskulin yang sangat ia kenali.
Ia hendak menggerakkan tangannya, tapi terasa berat. Saat menoleh ke samping, napas Zivara tertahan sejenak. Di sana, Kaizar sedang tertidur dalam posisi yang pasti sangat tidak nyaman—duduk di kursi plastik dengan kepala bersandar di tepi kasur. Namun, yang membuat jantung Zivara berdegup tidak keruan adalah jemari pria itu yang menggenggam erat tangannya, seolah takut jika ia melepasnya sedetik saja, Zivara akan hilang ditelan bayang-bayang.
Zivara terdiam, membiarkan matanya menelusuri garis wajah Kaizar dalam jarak sedekat ini. Rahang yang tegas, bulu mata lentik yang menaungi matanya yang biasanya menatap dingin, hingga gurat kelelahan yang nyata di sana.
"Kamu memang tampan, Kak. Selalu tampan," bisik Zivara dalam hatinya.
Ingatannya melayang pada kehidupan lalu. Masa di mana ia menjadi "pemuja rahasia" yang paling setia. Ia ingat betapa bodohnya ia dulu; mengikuti semua hobi Kaizar, mempelajari semua yang pria itu suka, bahkan rela menjadi bayangan demi mendapatkan sekilas perhatian. Ia adalah pecinta yang buta, yang menyerahkan seluruh dunianya hanya untuk pria yang bahkan tidak pernah melihatnya sebagai prioritas.
Kini, di lini masa ini, Zivara sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjauh. Ia ingin menghapus rasa itu, ingin bebas dari jeratan cinta yang hanya berakhir dengan air mata di atas nisan. Anehnya, semakin ia mencoba membangun benteng, semakin Kaizar justru merobohkannya. Pria yang dulu begitu jauh, kini justru menjadi orang yang paling depan melindunginya. Segalanya mulai berubah, dan perubahan itu membuat Zivara takut sekaligus bimbang.
Cklek.
Suara pintu yang terbuka perlahan membuyarkan lamunan Zivara. Bunda Dila melangkah masuk dengan senyum hangat, membawa rantang makanan yang aromanya menggugah selera. Begitu melihat Zivara sudah terjaga, Bunda Dila hendak menyapa dengan suara riang, tapi Zivara segera meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
Zivara memberi isyarat ke arah Kaizar yang masih terlelap. Bunda Dila tertegun, lalu senyumnya melebar. Ada binar kebahagiaan di mata sang ibu melihat pemandangan tersebut. Sebagai ibu, ia sangat mengenal putranya yang kaku dan sedingin es. Melihat Kaizar tidur dalam posisi menjaga seperti itu sudah cukup menjadi bukti bahwa pertahanan putranya mulai runtuh oleh sosok gadis di hadapannya ini.
Bunda Dila mendekat dengan langkah sangat pelan, lalu meletakkan rantang di atas nakas.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Masih ada yang sakit?" bisik Bunda Dila, suaranya nyaris seperti desiran angin.
"Vara sudah merasa lebih baik, Tante. Terima kasih," jawab Zivara dengan bisikan yang sama pelannya.
"Syukurlah. Dokter sudah bilang kapan boleh pulang?"
"Masih menunggu dokter visit pagi ini, Tante. Semoga saja hari ini sudah boleh keluar."
Bunda Dila mengangguk, lalu tangannya mengusap lembut rambut Zivara. Namun, suara bisik-bisik yang sangat pelan sekalipun rupanya cukup untuk mengusik tidur Kaizar yang memang sudah tipis karena kewaspadaan.
Kaizar bergerak, kelopak matanya perlahan terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah Zivara yang sedang menatapnya, lalu ia menyadari keberadaan sang bunda di sana. Dengan gerakan refleks, Kaizar langsung menegakkan punggungnya dan melepas genggaman tangannya dari tangan Zivara, meskipun ada semburat canggung yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
"Bunda? Sudah sampai?" tanya Kaizar, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
"Baru saja, Kai. Bunda tidak mau membangunkanmu, sepertinya kamu nyenyak sekali menjaga 'harta karun'mu ini," goda Bunda Dila dengan kerlingan mata nakal.
Kaizar berdehem, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang runtuh pagi itu. Ia bangkit berdiri, merapikan kemejanya yang kusut.
"Aku hanya memastikan dia tidak sesak napas lagi, Bunda."
Zivara hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa panas. Di ruangan itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh kembali—sebuah rasa yang seharusnya sudah mati, namun kini mekar dengan warna yang berbeda.
**
Mobil mewah keluarga Ravindra berhenti tepat di depan kediaman keluarga Arthea. Kaizar turun lebih dulu, lalu dengan sigap membukakan pintu untuk Zivara. Gerakannya kini jauh lebih spontan, seolah menjaga keselamatan gadis itu sudah menjadi insting yang tertanam di nadinya.
Zivara melangkah masuk ke dalam rumahnya yang luas namun terasa sunyi. Sebagai anak tunggal seorang diplomat yang sering bertugas di luar negeri, kesepian adalah teman lamanya. Namun hari ini, kesunyian itu pecah oleh kehadiran Bunda Dila dan Kaizar yang mengantarnya hingga ke depan pintu kamar.
"Istirahatlah dulu, Vara. Jangan memikirkan tugas kuliah atau hal lain untuk beberapa hari ke depan," ucap Kaizar dengan nada rendah yang terdengar protektif.
Zivara tersenyum tipis, menatap Kaizar dan Bunda Dila bergantian. "Terima kasih banyak, Kak Kai. Terima kasih juga, Tante, karena sudah menemani dan merawat Vara selama di rumah sakit."
Bunda Dila melangkah mendekat, mengusap lembut pipi Zivara yang masih sedikit pucat. "Jangan bicara seperti itu, Sayang. Tidak perlu berterima kasih. Bagi Bunda, kamu sudah seperti anak sendiri. Melihatmu kesakitan kemarin membuat jantung Bunda rasanya mau copot."
Mendengar kalimat tulus itu, dada Zivara terasa sesak oleh kehangatan yang asing namun dirindukannya. Sebagai anak yang tumbuh besar tanpa kehadiran sosok ibu di sampingnya karena tugas-tugas diplomatik Ayah Ridwan, perhatian Bunda Dila bagaikan oase di tengah padang pasir. Kelembutan ini adalah sesuatu yang selalu ia dambakan di kehidupan lalu, dan ternyata tetap konsisten hingga saat ini.
"Tante..." suara Zivara sedikit bergetar. "Bolehkah... bolehkah Vara memeluk Tante?"
Mata Bunda Dila berbinar haru. Tanpa kata, ia langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Zivara menghambur ke pelukan itu, menyembunyikan wajahnya di bahu Bunda Dila. Aroma parfum melati yang menenangkan dari tubuh Bunda Dila menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Dalam pelukan itu, batin Zivara berbisik lirih. Di kehidupan lalu saat Bunda menjadi mertuaku, mertua yang sangat baik hingga di kehidupan ini saat kita masih bertetangga, kasih sayang Bunda sama sekali tidak pernah berubah. Zivara menyadari bahwa di dunia yang penuh pengkhianatan ini, Bunda Dila adalah satu-satunya garda terdepan yang cintanya selalu tulus tanpa syarat.
Kaizar, yang berdiri hanya beberapa langkah dari mereka, tertegun melihat pemandangan itu. Ada denyut aneh di dadanya saat melihat betapa rapuhnya Zivara di pelukan ibunya. Ia menyadari satu hal: di balik ketegasan Zivara yang baru, masih ada gadis kecil yang hanya ingin merasa aman.
Setelah Bunda Dila dan Kaizar pamit pulang, keheningan segera menyergap. Zivara masih berdiri di tengah kamarnya yang luas, merasakan sisa kehangatan dari pelukan Bunda Dila yang perlahan menguap. Rumah ini selalu sama; megah, rapi, tetapi terasa hampa karena Ayah Ridwan masih harus menjalankan tugas diplomatiknya di belahan dunia lain.
Zivara menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang belum sepenuhnya tenang pasca kejadian di gudang. Alih-alih langsung beristirahat, langkah kakinya justru membawa dirinya ke sudut ruangan yang paling gelap. Di sana, di dekat pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon, berdiri sebuah easel kayu yang memanggul sebuah kanvas besar.
Kanvas itu tertutup kain putih kusam, seolah menyembunyikan rahasia yang terlalu berat untuk dilihat mata telanjang. Jemari Zivara yang masih sedikit gemetar menyentuh pinggiran kain tersebut. Ada keraguan sejenak, sebuah pertarungan batin antara keinginan untuk melupakan atau kewajiban untuk mengingat.
Dengan satu tarikan lembut, kain itu merosot ke lantai. Zivara terpaku memandangi hasil karyanya sendiri. Lukisan itu tidak menonjolkan keindahan khas anak DKV pada umumnya. Di atas permukaan kasar itu, tergores sebuah adegan yang mengerikan sekaligus puitis: sesosok wanita yang terkapar di tengah jalanan basah, setelah jatuh dari ketinggian sebuah gedung rumah sakit jiwa.
Darah merah pekat tampak kontras dengan gaun yang dikenakan sosok dalam lukisan itu—gaun yang sangat mirip dengan milik Zivara di masa depan yang kelam. Ekspresi wajah wanita di lukisan itu tidak menunjukkan rasa sakit, melainkan sebuah kelegaan yang tragis, seolah kematian adalah satu-satunya cara untuk berhenti mencintai pria yang tidak pernah menoleh padanya.
Zivara menyentuh lapisan cat yang sudah mengering di bagian dada sosok itu. Mengapa ia melukis kematiannya sendiri? Apakah ini cara jiwanya yang berusia tiga puluh tahun untuk memperingatkan raga delapan belas tahunnya agar tidak jatuh ke lubang yang sama?
"Aku tidak akan membiarkan kuas takdir melukis akhir yang sama kali ini," bisiknya pelan, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dan tegas daripada penampilannya.
Ia tahu, perubahannya dari gadis pasif menjadi perempuan yang berani memilih jalannya sendiri harus dimulai dari sini. Ia tidak boleh lagi menjadi "pilihan kedua" yang sabar menanti di balik bayang-bayang Luna. Lukisan ini bukan sekadar karya seni; ini adalah peta peringatan. Sebuah pengingat bahwa jika ia kembali menjadi Zivara yang lemah, maka nisan yang ia lihat dalam mimpinya akan benar-benar tertancap di tanah Bandung.
Zivara kembali menatap lukisan itu, tepat pada bagian latar belakang yang sengaja ia buat kabur. Di sana, ada siluet seorang pria yang berdiri menjauh, memunggungi adegan kematian tersebut.
***