Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Ayah
Pukul 16.00 sore.
Judika berlari sepanjang koridor rumah sakit dengan langkah secepat kilat, diikuti rapat oleh keenam kakaknya yang juga berusaha mengejar kecepatan langkah adik bungsu mereka. Air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi tampannya, bahkan sampai kemeja yang dia kenakan sudah sedikit basah. Bibirnya terus bergerak, mengulang-ulang satu nama yang paling berharga dalam hidupnya.
"Ayah... Ayah. Tunggu aku, Ayah." gumamnya berulang kali. Napasnya mulai terengah tapi dia tidak mau berhenti sedikitpun.
Judika hanya berharap. Berharap dengan sepenuh hati bahwa lelaki yang selama ini menjadi satu-satunya tempat berteduhnya itu masih baik-baik saja, masih menunggunya, dan masih bisa tersenyum seperti biasa.
^^^
Sesampainya di depan ruang penanganan darurat, langkahnya perlahan melambat. Pandangannya langsung menangkap sosok yang berdiri mematung di sudut ruangan. Wanita itu, sosok yang selama tiga tahun terakhir hanya ada dalam ingatan buruknya. Orang yang dia rindukan di masa kecil tapi kini menjadi orang yang paling dia benci seumur hidupnya.
Itu Jovina, ibunya.
Dengan langkah berat tapi penuh amarah, Judika melangkah mendekat. Tatapan matanya dipenuhi kebencian yang mendalam, seolah-olah wanita di hadapannya ini adalah penyebab dari segala penderitaan yang dia alami, dan juga penyebab ayahnya terbaring sakit sekarang.
"KAU APAKAN AYAHKU?!" teriak Judika sekuat tenaga. Suara itu menggema memenuhi seluruh lorong rumah sakit.
DEG..
Jovina terkejut bukan main. Tubuhnya langsung menegang. Perlahan dia menoleh, dan saat matanya bertemu dengan tatapan putra bungsunya, seluruh dunianya seakan berhenti berputar. Wajah itu... wajah yang dia rindukan setiap malam..Wajah yang dia inginkan untuk dia peluk dan sayangi, tapi kini menatapnya seolah dia adalah musuh terbesar.
"Judika, putraku. Ibu sangat merindukanmu, Nak! Sangat rindu," batin Jovina.
Air mata Jovina langsung mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Tangannya terangkat perlahan, berusaha menyentuh wajah yang selalu dia bayangkan dalam mimpi.
Namun baru saja Jovina hendak menyentuh kulit wajah putra bungsunya. Putra bungsunya itu langsung menepis kasar sampai telapak tangannya terasa perih.
Tapi Jovina itu tidak peduli. Dia tidak mau melepaskan kesempatan ini. Dengan keberanian yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun, Jovina langsung memeluk erat tubuh putra bungsunya.
GREB..
Jovina menangis histeris di dada Judika. Dia memeluk erat seolah takut jika dia melepaskan, maka putranya itu akan lenyap selamanya.
Namun Judika? Dia sama sekali tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku bagaikan patung. Tidak ada sedikit pun reaksi, seolah yang memeluknya hanyalah orang asing yang tidak berarti sama sekali.
"Maafkan ibu, sayang. Maafkan ibu yang telah meninggalkanmu sendirian. Ibu salah, Nak! Ibu sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu sampai rasanya hati ibu hancur setiap hari," isak Jovina di sela tangisannya.
Tiba-tiba saja Judika mendorong tubuh ibunya dengan kekuatan penuh sampai wanita itu terhuyung hampir jatuh.
Aksi itu membuat semua orang yang ada di sana, termasuk keenam kakak dan Chandra yang baru saja tiba terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.
"BERANINYA KAU MEMELUKKU?! KAU BUKAN SIAPA-SIAPAKU! JANGAN PERNAH MENYENTUHKU LAGI!" bentak Judika dengan suara bergetar karena amarah dan kesedihan yang bercampur jadi satu.
"Judika!" teriak Chandra langsung menghampiri. Wajahnya memerah menahan amarah sekaligus kesedihan melihat ibunya yang terlihat sangat terluka. "Jaga Bicaramu! Dia ibumu! Sampai kapan pun, dalam keadaan apapun, dia tetap ibumu! Darahnya mengalir di tubuhmu sendiri!
CIH..
Judika berdecih sinis, lalu menatap tajam bergantian ke arah Chandra dan ibunya. Tatapan itu... tatapan yang penuh dengan kebencian, kekecewaan, dan rasa sakit yang terpendam bertahun-tahun.
Jovina dan Chandra sangat paham arti dari tatapan itu. Mereka tahu betapa dalam luka yang telah mereka goreskan di hati putra bungsunya/adiknya.
Saat Judika hendak membuka mulut untuk membalas perkataan kakaknya. Suara langkah kaki dan suara seseorang memotong pembicaraan mereka.
"Permisi. Apa kalian keluarga dari pasien bernama Jeon Juandra?" tanya seorang dokter yang baru keluar dari ruang UGD, melepas maskernya.
"Ya, Dok. Kami keluarganya," jawab Chandra cepat.
"Bagaimana keadaan ayah saya, Dokter? Dia baik-baik saja kan? Katakan dia baik-baik saja," tanya Judika. Suaranya terdengar memohon. Semua keberanian dan kemarahan tadi hilang seketika. Diganti rasa takut yang luar biasa.
Dokter itu menghela napas pelan. Raut wajahnya terlihat berat. "Kondisi pasien saat ini masih kritis dan kehilangan banyak darah. Tapi sebelum masuk ke tahap kritis, dia sempat meminta. Dia ingin bertemu dengan kalian semua, katanya ada hal penting yang ingin disampaikan."
Tanpa menunggu dokter itu selesai berbicara, Judika sudah berlari masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh Jovina dan Chandra yang berjalan terhuyung-huyung karena lemas dan sedih.
^^^
Begitu masuk, pandangan Judika langsung tertuju pada sosok yang terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya dipenuhi selang dan alat bantu medis. Tanpa pikir panjang, dia langsung jatuh berlutut di samping ranjang, memeluk erat lengan ayahnya, air mata kembali mengalir deras.
"Ayah. Ini aku, Ayah. Putra nakalmu. Aku datang, Ayah. Aku mohon buka matamu. Lihat aku, Ayah." isak Judika. Bahunya terguncang hebat karena tangisannya.
Seolah mendengar suara kesayangannya itu, Juandra perlahan membuka kelopak matanya. Matanya yang sudah sayu perlahan fokus melihat sosok di depannya. Senyum tipis terukir di bibir pucatnya.
"Judika, anak ayah." suara Juandra tampak lemah, nyaris tidak terdengar.
Matanya kemudian beralih melihat dua sosok yang berdiri di belakang putra bungsunya. Sosok yang dia cintai, dan sosok yang dia anggap sebagai harapan.
"Jovina, Chandra." panggil Juandra pelan.
Mereka berdua langsung mendekat. Jovina tidak bisa menahan diri lagi. Dia langsung menangis histeris. Suaranya pecah di tengah ruangan.
"Hiks... Maafkan aku, Juandra. Maafkan aku... Seharusnya aku tidak pergi. Seharusnya aku mau mendengarkanmu. Mau menerimamu kembali. Mau berusaha demi anak-anak. Tapi aku bodoh. Aku terlalu keras hati... Hiks."
"Kau tidak salah, sayang. Kau tidak punya kesalahan apapun. Aku yang salah. Aku suami yang buruk. Aku ayah yang gagal. Aku yang harus meminta maaf pada kalian bertiga. Kalian adalah harta paling berharga yang Tuhan berikan padaku. Aku menyayangi kalian, lebih dari nyawaku sendiri." balas Juandra. Tangannya gemetar berusaha menyentuh pipi istrinya.
Kemudian matanya beralih menatap putra sulungnya.
"Chandra, maafkan ayah. Maafkan ayah yang dulu selalu bersikap kasar. Yang selalu membedakan kalian berdua. Ayah sadar semuanya terlambat. Tapi percayalah, ayah juga menyayangimu, Nak! Sangat menyayangimu."
Chandra langsung membungkuk dan memeluk erat tubuh ayahnya. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Ayah... Hiks... Aku juga menyayangimu... Sangat... Maafkan aku juga. Maafkan aku yang pergi membawa ibu, meninggalkanmu dan Judika sendirian."
Setelah melepas pelukan, Chandra menatap wajah ayahnya. Begitu juga Juandra yang menatap balik dengan senyum bangga.
"Putra ayah sudah tumbuh menjadi laki-laki yang tampan dan kuat," ucap Juandra lembut.