NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sedikit harapan

Bastian tiba lebih dulu di apartemen Kevin. Saat dia datang Kevin langsung pergi karena harus menjemput Jeni, lalu mengantarnya ke kampus, kemudian Kevin juga ada job di luar daerah.

Bastian yang merawat Rio. Rio terbaring lemah tak sadarkan diri di ranjang kamar Kevin dalam keadaan di infus.

Tidak berselang lama, Sean juga sampai. "Gimana keadaannya?"

"Masih belum sadar. Dia minum terlalu banyak. Kevin gak bisa cegah dia tadi malam."

"Ya, harusnya gue yang datang jemput dia di bar. Tapi, gue ada urusan mendadak."

"Sebenarnya Rio ada masalah apa sih, sampai minum sebanyak ini?" tanya Bas yang memang gak tau apa yang membuat Rio sampai mabuk separah ini.

Sean pun menceritakan apa yang menjadi penyebab Rio sampai seperti ini.

"Nah kan, gue yakin sekarang ni anak kena karma!" rutuk Bas kesal menatap wajah pucat Rio.

"Gue pikir juga gitu."

Bas mengalihkan tatapannya, menatap tepat di bola mata Sean. Tatapan itu membuat Sean mengerutkan dahinya bingung. "Apa?!"

"Lo lihat kan sekarang Rio sekarat! Dia jelas kena karma karena suka main-mainin hati perempuan. Lebih baik lo tobat sekarang deh, kalau gak mau berakhir sama seperti Rio!" ucapnya memperingatkan Sean dengan mimik wajah tegas mengintimidasi.

Sean menghela napas, membuang muka dari tatapan tajam Bas. "Gue gak sama seperti Rio!" bantahnya tegas.

"Gak sama apanya? Lo juga suka main-mainin hati perempuan. Ingat bro... yang membawa kita hadir di dunia ini seorang perempuan. Perempuan itu berjuang antara hidup dan mati untuk membuat kita melihat dunia. Jadi, stop lah main-mainin perempuan." Bas mulai berceramah dan Sean mendengarkan dengan malas.

"Iya, iya. tapi lo harus tau, gue gak sama seperti Rio!"

Ia tidak suka disamakan dengan Rio, entah atas dasar alasan apa. Padahal, menurut Bastian Sean memang sama saja suka mempermainkan hati perempuan juga, jadi tidak ada bedanya dengan Rio.

"Gue harus balik ke kantor lagi nih. Lo bisa kan jaga Rio sendirian?"

"Ya sebenarnya gue juga ada tugas di rumah sakit sih. Tapi, ya sudah lah nanti gue bilang aja lagi ngerawat pasien VVIP."

"Alasan yang bagus. Jangan lupa mintak tagihannya dari pasien VVIP ini."

"Tentu saja bung. Tidak ada yang gratis di dunia ini." Jawab Bas serius.

Setelah memastikan suhu tubuh Rio mulai membaik Sean pun segera kembali ke kantor. Sementara Bas masih tetap tinggal menunggu jikalau mungkin Rio akan segera bangun.

...>~<...

Mobil Kevin berhenti di parkiran depan gedung kampus tempat Jeni kuliah. Tidak berselang lama, mobil Yuri juga parkir tepat di samping mobil Kevin.

"Yuri." Jeni turun dari mobil langsung menghampiri mobil itu, tapi seseorang turun dari mobil dan itu bukan Yuri. "Nadia?!"

"Mm, gue nebeng Yuri."

Jeni celingukan melirik kedalam mobil melalui kaca yang sengaja Yuri turunkan. "Laura mana?"

"Laura demam, jadi gak masuk hari ini." sahut Yuri dari dalam mobil.

"Demam? Parah gak, udah di bawa ke dokter?"

"Udah baikan sih, cuma kepalanya agak pusing gitu katanya. Dia gak mau ke rumah sakit." tutur Nadia menjelaskan.

Yuri mendongakkan kepalanya keluar dari kaca mobilnya, ikut nimbrung dengan obrolan dua sahabatnya, tapi kemudian ia fokus ke layar ponselnya seperti sedang bertukar pesan dengan seseorang.

"Sayang, aku berangkat ya. Nanti sore aku jemput. Studio biasa kan?" tanya Kevin turun dari mobil untuk sekedar menghampiri Jeni.

"Iya, sayang. Nanti kalau udah mau pulang aku call."

"Oke. Kamu yang semangat belajarnya ya." merangkul Jeni, lalu mencium pipi Jeni dihadapan Yuri dan Nadia tanpa rasa canggung sedikitpun.

"Sayang juga kerjanya hati hati, jaga mata. Awas aja kalau matanya jelalatan lihatin model-model cantik di sana!" ketusnya manja.

"Janji gak akan lirik sana lirik sini."

Sebelum kembali ke mobil, Kevin melirik kearah Nadia yang bahkan tidak menyadari Kevin menatapnya dengan tatapan aneh itu lagi. Namun, kali ini Yuri menangkap basah Kevin menatap Nadia dengan tatapan mencurigakan.

"Oh iya, titip Jeni ya. Jagain supaya gak kepincut cowok lain." ucap Kevin pada Yuri dan Nadia yang hanya mereka tanggapi dengan senyuman saja.

Setelah Kevin pergi, Jeni dan Nadia pun langsung menuju kelas mereka yang sebentar lagi akan di mulai. Begitu juga dengan Yuri, ia melajukan mobilnya menuju fakultasnya yang tidak jauh dari fakultas Jeni dan Nadia.

Saat para gadis itu sedang mengikuti kelas hari ini, di apartemen Kevin, Rio akhirnya sadarkan diri.

"Akhirnya sadar juga lo. Gue kira udah pindah alam." rutuk Bas menyindir sahabatnya itu.

"Gue yakin, lo orang yang paling bahagia kalau gue mati..." ucap Rio terbata bata.

"Sepertinya begitu."

"Dokter yang kejam." sungutnya yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Bas.

"Gimana? Kepala lo pusing gak?" tanya Bas yang mulai memeriksa keadaan Rio.

Rio menggeleng. "Rasanya tenggorokan gue kering, sakit juga." jawabnya pelan sambil mengelus lehernya.

Bas menoleh pada Sean yang baru saja tiba beberapa menit yang lalu, Sean yang langsung paham arti tatapan itu pun langsung melangkah ke dapur, mengambilkan segelas air putih dan memberikan pada Rio.

"Udah merasa agak mendingan?" tanya Bas lagi..

"Sedikit lebih enakan."

"Gila, gue baru tau ternyata lo bisa kacau seperti ini hanya karena seorang perempuan!"

"Dasar lo!" sungutnya kesal pada Sean yang malah menggerakkan bibirnya sengaja mengejek Rio.

"Sialan Lo!" Andai Rio tidak sedang sekarat seperti saat ini, mungkin ia sudah melayangkan satu pukulan tepat di wajah atau mulut Sean.

"Rio, lo harus lihat ini deh kayaknya." Sean memperlihatkan layar ponselnya pada Rio. Bastian ikut mendekat untuk melihat apa yang diperlihatkan Sean pada Rio.

"Lah? Ini kan Jeni!" seru Bastian bingung mengapa Sean memperlihatkan postingan Instagram Jeni.

Berbeda dengan Bastian, mata Rio fokus pada foto cewek lain yang bersebelahan dengan Jeni.

"Ini cewek yang lo cari kan?" Tanya Sean pada Rio sambil menunjuk wajah Laura.

"Iya, ini Laura."

"Maksudnya?!" Bastian semakin bingung.

Sean menghela napas sebelum menjelaskan pada Bastian, bahwa Jeni dan Laura saling kenal.

"Jadi, cewek yang bernama Laura ini mungkin satu circle sama Jeni pacar Kevin?" tebak Bastian meraba-raba.

"Bukan mungkin lagi. Jeni sama si Laura sahabat dekat. Mereka berempat di foto ini sangat dekat." lanjut Sean menjelaskan.

"Berarti..."

"Ya, kita bisa minta bantuan Jeni untuk mempertemukan Rio dengan cewek bernama Laura ini."

Bastian mengangguk paham. Sedangkan Rio masih terus menatap wajah Laura di layar ponsel Sean. Jarinya bahkan mengelus bagian wajah Laura.

"Berarti Jeni kenal Laura?!" gumam Rio pelan tapi terdengar ada harapan.

"Mereka sahabatan dekat. Liat aja caption-nya, healing with my besti." Sean membaca caption postingan Jeni.

"Apa itu artinya... gue masih punya harapan kan?!" gumamnya dengan mata berbinar binar.

"Sepertinya begitu." jawab Bas dan Sean bersamaan.

"Ya, harusnya gue masih punya harapan! Gue masih bisa hidup lebih lama... Gue akan terus berjuang demi cinta gue...." Rio sangat antusias sampai dia lupa bahwa beberapa waktu lalu dia terbaring lemas di tempat tidur dengan selang infus terpasang di pergelangan tangannya.

Sean dan Bastian mendengus lantang bersamaan melihat keadaan sahabat mereka yang tak terduga seperti itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!