Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah yang Mereka Cari
📖 BAB 8: Darah yang Mereka Cari
Kobaran api dari gerbang timur mewarnai langit malam dengan cahaya jingga yang menyeramkan.
Belasan pria bersenjata turun dari kendaraan hitam dalam formasi rapi. Mereka mengenakan pakaian taktis tanpa logo, wajah tertutup masker, dan bergerak dengan disiplin yang terlalu terlatih untuk disebut penjahat biasa.
Mereka seperti pasukan yang dibayar mahal untuk tidak gagal.
Lin Qingyan berdiri membeku beberapa langkah di belakang Han.
Semua ini...
karena dirinya.
Han menarik pistol dari pinggang dan menyerahkan satu rompi tipis pada Qingyan.
“Pakai.”
“Aku tak bisa menembak.”
“Bagus. Berarti pelurumu masih aman.”
Situasi segenting itu, pria ini masih sempat sarkas.
Qingyan memakai rompi dengan tangan gemetar.
Pria bertopi abu-abu yang tadi datang sebagai pembawa pesan mundur beberapa langkah sambil mengangkat kedua tangan.
“Aku tak ada urusan dengan mereka.”
Han menoleh tajam.
“Kau tetap mencurigakan.”
“Itu pujian yang sering kudapat.”
Qingyan ingin marah, tapi tak punya waktu.
Di kejauhan, Gu Beichen berjalan sendirian menuju belasan orang bersenjata itu.
Tanpa tergesa.
Tanpa ragu.
Tanpa terlihat seperti orang waras.
---
Pemimpin kelompok penyerang maju satu langkah.
Ia bertubuh besar, membawa senapan otomatis, dengan tato angka Romawi di leher.
“Serahkan wanita itu,” katanya keras. “Kami hanya ambil target.”
Beichen terus berjalan.
“Kalau tidak?” tanyanya datar.
“Kami hancurkan rumahmu.”
“Rumah bisa dibangun lagi.”
Ia berhenti sekitar dua puluh meter dari mereka.
“Kesalahan kalian lebih sulit diperbaiki.”
Pemimpin itu mengangkat senjata.
Detik berikutnya, semuanya bergerak.
Rentetan peluru meledak memecah malam.
Qingyan menjerit refleks.
Han menariknya ke balik pilar batu.
Peluru menghantam halaman, dinding, dan mobil parkir.
Namun saat asap tipis terangkat—
Beichen sudah tidak berada di tempat semula.
Pemimpin itu menoleh panik.
Terlambat.
Tubuhnya terangkat dari tanah saat Beichen menghantam ulu hatinya dengan satu pukulan pendek. Pria besar itu terlempar ke kap mobil dan tak bangun lagi.
Dua penyerang lain menyerbu dari kanan.
Beichen meraih lengan salah satunya, memutarnya, lalu menggunakan tubuh pria itu sebagai tameng hidup saat peluru dari rekannya sendiri menghantam punggung korban.
Qingyan menatap tanpa berkedip.
Ia tahu pria ini kuat.
Tapi menyaksikannya langsung berbeda.
Ia bergerak seperti seseorang yang terlalu terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan.
---
Han memberi perintah lewat earpiece.
“Tim barat, kepung sisi kiri! Jangan tembak ke arah Tuan!”
Seorang penjaga menjawab gugup.
“Sulit, Sir. Tuan bergerak terlalu cepat!”
Han mengumpat pelan.
“Ya, aku tahu.”
Pria bertopi di samping Qingyan menatap medan tempur sambil bersiul.
“Suamimu menyeramkan.”
Qingyan menoleh tajam.
“Dia bukan—”
Ia berhenti sendiri.
Secara teknis memang belum resmi.
Tapi membantah di tengah baku tembak terasa bodoh.
“Siapa kau sebenarnya?” tanyanya.
Pria itu menatap lurus ke depan.
“Namaku Adrian.”
“Nama lengkap.”
“Orang yang sedang membantumu.”
“Itu bukan nama.”
“Lebih baik daripada ‘orang bertopi mencurigakan’.”
Qingyan mendecak kesal.
---
Di halaman, para penyerang mulai menyadari serangan frontal tidak berhasil.
Mereka berpencar.
Dua orang memanjat balkon sisi timur.
Tiga lainnya bergerak memutari taman menuju posisi Qingyan.
Han melihat lebih dulu.
“Mereka ke sini.”
Ia menarik Qingyan.
“Masuk ke dalam!”
Namun Adrian menahan lengannya.
“Jangan lewat pintu utama.”
“Kenapa?” bentak Han.
“Karena sudah ada dua sniper di atap seberang mengarah ke pintu.”
Han terdiam sepersekian detik, lalu menatap ke arah yang disebut.
Dengan alat bidik mini di jam tangannya, ia melihat kilatan kecil logam.
Benar.
“Kenapa kau tahu?”
“Aku punya mata.”
“Dan mulut terlalu banyak.”
Han menarik Qingyan ke sisi taman.
“Lewat rumah kaca!”
---
Mereka berlari menuju bangunan kaca di samping kebun belakang.
Peluru menghantam tanah di dekat kaki mereka.
Qingyan terengah.
“Aku benci hidup kaya!”
Han menoleh sambil tetap berlari.
“Kalimat yang unik.”
Mereka masuk ke rumah kaca penuh tanaman eksotis.
Di dalam lembap dan remang.
Han menutup pintu otomatis.
“Aman sementara.”
“Bagian mana dari ini aman?” tanya Qingyan.
“Belum ada yang menembak kita sekarang.”
Poin yang menyedihkan... tapi benar.
---
Qingyan mencoba menenangkan napas.
Lalu menatap Adrian.
“Katakan sekarang. Kenapa mereka mengejarku?”
Adrian berjalan ke meja pot tanaman dan memeriksa jendela.
“Karena darahmu.”
“Aku bosan mendengar jawaban itu.”
“Sayangnya tetap benar.”
Ia menoleh.
“Dua puluh lima tahun lalu, keluarga Qin menjalankan proyek genetika rahasia.”
Han mengernyit.
“Omong kosong.”
“Tidak. Mereka mencari cara menciptakan keturunan dengan resistensi tinggi, kecerdasan ekstrem, dan kemampuan adaptasi biologis di luar normal.”
Qingyan merasa mual.
“Kau bilang aku... eksperimen?”
“Bayi yang selamat.”
Sunyi menelan ruangan.
Han menatap Qingyan, lalu Adrian.
“Kalau ini bohong, aku tembak lututmu.”
“Adil.”
Qingyan memegang meja kaca agar tak jatuh.
Semua hidupnya ia merasa asing di keluarga Lin.
Selalu dianggap beban.
Selalu terasa... bukan bagian dari sana.
Dan sekarang seseorang berkata mungkin itu memang benar.
---
Suara ledakan lain terdengar dari luar.
Rumah kaca bergetar.
Han mengintip.
“Empat orang mendekat.”
Ia menoleh ke Qingyan.
“Bisa lari?”
“Bisa marah.”
“Bagus. Lari sambil marah.”
Adrian tersenyum kecil.
“Aku suka dia.”
“Diam,” kata Han dan Qingyan bersamaan.
---
Pintu belakang rumah kaca dibuka paksa.
Dua pria masuk sambil mengacungkan senjata.
Han menembak lebih dulu.
Dua letusan cepat.
Keduanya roboh.
Namun kaca samping pecah. Penyerang ketiga melompat masuk dan menubruk Han.
Mereka bergumul di lantai.
Qingyan mundur panik.
Penyerang keempat mengarahkan pistol padanya.
Waktu terasa lambat.
Ia tak sempat berteriak.
Sebuah pot besar melayang menghantam kepala pria itu.
Brak!
Pria tersebut tumbang.
Qingyan menatap tangannya sendiri.
Ia baru saja melempar pot tanaman seharga mungkin lebih mahal dari gajinya dulu.
Adrian mengangguk puas.
“Insting bertahan hidup bagus.”
“Aku akan lempar yang berikutnya ke kepalamu.”
---
Han menjatuhkan lawannya dan bangkit.
“Terima kasih atas bantuan yang sangat berkebun.”
“Terima kasih kembali.”
Suara langkah cepat mendekat dari luar.
Lalu semua mendadak hening.
Pintu rumah kaca terbuka perlahan.
Gu Beichen masuk.
Kemejanya robek di bahu. Ada darah di pelipis, entah miliknya atau bukan. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya gelap seperti badai.
Di luar, beberapa tubuh bergelimpangan di taman.
Qingyan menatapnya.
“Kau terluka.”
“Sedikit.”
“Kau bilang itu seolah tersiram kopi.”
Ia menoleh pada Adrian.
“Kau masih di sini.”
“Aku membantu.”
“Kau masih bernapas. Itu bonus.”
Adrian mengangkat tangan pasrah.
---
Han menerima laporan dari earpiece.
“Tuan, gelombang pertama selesai. Delapan ditangkap, sisanya lumpuh atau kabur.”
“Polisi?”
“Lima menit.”
“Buang senjata ilegal sebelum mereka datang.”
“Sudah dijalankan.”
Efisiensi kriminal yang sangat profesional.
Beichen menatap Qingyan.
“Kita pergi.”
“Ke mana?”
“Tempat yang lebih aman.”
“Aku baru mulai suka rumah ini.”
“Kalau begitu bawa kenangan.”
Ia meraih pergelangan tangannya dan menariknya keluar.
Qingyan tak melawan.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia sadar satu hal:
Ia tidak takut saat pria ini ada di dekatnya.
Dan itu lebih berbahaya daripada baku tembak.
---
Mereka menuju bunker garasi bawah tanah.
Mobil lapis baja sudah menunggu.
Saat hendak masuk, Adrian memanggil.
“Beichen.”
Nada suaranya berubah serius.
“Keluarga Qin tak akan berhenti. Mereka kehilangan jejaknya puluhan tahun.”
Beichen membuka pintu mobil.
“Kalau begitu biarkan mereka terus kehilangan.”
“Ini lebih besar dari sekadar penculikan.”
“Aku tahu.”
Adrian menatap Qingyan.
“Kalau kau ingin tahu siapa dirimu sebenarnya, cari wanita bernama Dr. Elena Qin.”
Qingyan mengerutkan dahi.
“Siapa dia?”
“Ibumu.”
Sunyi total.
Han menatap kosong.
Qingyan membeku.
Beichen menoleh perlahan ke Adrian.
Pria bertopi itu mundur selangkah.
“Aku pergi dulu sebelum kau memukulku.”
Ia berbalik dan menghilang ke gelap taman.
---
Di dalam mobil, pintu tertutup rapat.
Mesin menyala.
Tak seorang pun bicara selama beberapa detik.
Qingyan duduk kaku.
Satu kalimat tadi menghancurkan seluruh sisa identitas yang ia pegang.
Ibumu.
Kalau itu benar...
maka siapa wanita yang membesarkannya?
Siapa dirinya?
Kenapa diburu?
Dan kenapa Gu Beichen tampak tidak terlalu terkejut?
Ia menoleh perlahan.
“Kau tahu sesuatu.”
Beichen menatap jalan di depan.
“Sedikit.”
“Katakan sekarang.”
Ia akhirnya menoleh padanya.
“Besok pagi.”
“Aku tidak bisa tidur.”
“Itu masalah besok pagi juga.”
Qingyan ingin menjerit.
Mobil melaju menembus malam.
Di belakang mereka, mansion masih dipenuhi lampu darurat.
Di depan mereka, rahasia yang lebih gelap sedang menunggu.
BERSAMBUNG