Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — PENGKHIANAT DI DALAM RUANGAN
Pagi datang terlalu cepat.
Aku bahkan tidak yakin sempat memejamkan mata.
Langit di luar masih abu-abu saat aku duduk di ruang kerja dengan secangkir kopi yang sudah dingin sejak satu jam lalu.
Laptop di depanku masih menyala.
Puluhan nama memenuhi layar.
Karyawan.
Direksi.
Orang kepercayaan.
Semua sedang kami bongkar satu per satu.
Karena sekarang—
kami tahu satu hal penting.
Musuh kami tidak cuma berdiri di luar.
Tapi juga…
duduk nyaman di dalam.
“Belum tidur?”
Suara Arkan terdengar dari belakang.
Aku tidak menoleh.
“Hampir.”
Dia berjalan masuk sambil membuka jasnya.
Matanya sedikit merah.
Dia juga tidak tidur.
Bagus.
Berarti aku tidak sendirian dalam kekacauan ini.
“Ada hasil?”
Dia berdiri di sampingku.
Aku memutar layar sedikit.
“Beberapa nama mencurigakan.”
Arkan membaca cepat.
Tatapannya langsung berubah saat melihat salah satu nama.
“Dia?”
Aku mengangguk.
“Kamu kenal?”
Dia tertawa kecil.
Tapi tidak ada humor di sana.
“Dia sudah kerja dengan keluargaku hampir lima belas tahun.”
Sunyi.
“Loyal?”
tanyaku.
“Dulu aku pikir begitu.”
Aku bersandar di kursi.
Menatap langit-langit sebentar.
“Lucu ya…”
Arkan melirikku.
“Apa?”
“Semakin dalam kita cari…”
Aku menatapnya lagi.
“…semakin sedikit orang yang benar-benar bisa dipercaya.”
Dia diam beberapa detik.
Lalu—
“Termasuk aku?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Dan anehnya…
aku tidak langsung menjawab.
Karena dulu jawabannya mudah.
Tidak.
Aku tidak pernah percaya dia.
Sedikit pun.
Tapi sekarang…
aku tidak yakin.
“Aku belum memutuskan.”
Jawabanku pelan.
Jujur.
Arkan tersenyum tipis.
“Setidaknya bukan langsung ditolak.”
Aku mendengus kecil.
Dan suasana hening beberapa detik.
Tidak canggung.
Tidak juga nyaman.
Hanya…
aneh.
Ponsel Leon tiba-tiba berbunyi dari meja.
Dia masuk beberapa detik kemudian.
Wajahnya serius.
Lebih dari biasanya.
“Ada sesuatu.”
Aku langsung berdiri.
“Apa?”
Leon melemparkan satu flashdisk ke meja.
“Aku dapat ini tadi pagi.”
“Dari siapa?”
Dia menggeleng.
“Tidak ada nama.”
Aku dan Arkan saling pandang sebentar.
Lalu aku mengambil laptop.
Membuka isi flashdisk itu.
Beberapa file langsung muncul.
Rekaman CCTV.
Dokumen transaksi.
Dan satu folder merah—
dengan tulisan:
LIHAT YANG PALING BAWAH
Perutku langsung terasa tidak nyaman.
Aku membuka folder itu.
Dan di detik berikutnya—
ruangan langsung sunyi.
Karena yang muncul di layar…
adalah foto-foto kami.
Aku.
Arkan.
Leon.
Diambil diam-diam.
Di berbagai tempat.
“Ada yang ngawasin kita.”
Suara Arkan turun.
Lebih tajam.
Bukan cuma ngawasin.
Aku memperbesar salah satu foto.
“Itu di depan apartemen.”
Foto lain.
Ruang rapat.
Parkiran bawah tanah.
Bahkan—
rumah sakit malam kebakaran itu.
Leon langsung memaki pelan.
“Berarti posisi kita bocor terus.”
Aku mengepalkan tangan.
“Bukan cuma bocor.”
Aku menatap layar.
“Kita sedang dimainkan.”
Sunyi.
Lalu Arkan menunjuk satu file lain.
“Tunggu.”
Aku membukanya.
Dan kali ini—
dadaku langsung terasa sesak.
Rekaman video.
Aku menekan play.
Layar bergerak.
Gambar sedikit buram.
Tapi masih jelas.
Seseorang sedang bicara dengan pria bertopi hitam.
Tempatnya gelap.
Parkiran basement.
Dan saat orang itu menoleh—
napasku langsung tertahan.
“Tidak mungkin…”
Arkan langsung berdiri tegak.
Tatapannya tajam ke layar.
Karena orang itu—
adalah salah satu direksi utama Arkavera.
Pria yang selama ini terlihat paling setia.
Paling tenang.
Paling tidak mencurigakan.
“Dia penghubungnya.”
Bisik Leon.
Aku memajukan videonya.
Dan beberapa detik kemudian—
pria bertopi itu menyerahkan amplop tebal.
Direksi itu menerimanya.
Tanpa ragu.
Tanpa takut.
Pengkhianatan.
Jelas.
Aku mematikan video perlahan.
Sunyi.
Lalu—
aku tersenyum.
“Bagus.”
Leon langsung menoleh.
“Kamu bilang bagus lagi?”
Aku berdiri.
Tatapanku berubah.
“Karena sekarang…”
Aku mengambil flashdisk itu.
“…kita punya pintu masuk.”
Arkan mulai mengerti.
“Kamu mau jebak dia.”
Aku menatapnya.
“Bukan.”
Aku tersenyum tipis.
Lebih dingin.
“Aku mau pakai dia.”
Sunyi.
Dan ekspresi Arkan langsung berubah.
Karena dia tahu—
itu lebih berbahaya.
Malam harinya—
semua mulai disiapkan.
Aku duduk di sofa sambil membaca ulang semua data.
Arkan berdiri dekat jendela.
Leon sibuk dengan laptopnya.
“Besok dia ada pertemuan.”
Kata Leon.
“Di mana?”
“Hotel Meridian.”
Aku langsung mengangguk.
“Bagus.”
Arkan melirikku.
“Kamu mau datang langsung?”
“Tentu.”
“Itu terlalu berisiko.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu mulai sering bilang itu.”
“Karena kamu mulai makin nekat.”
Aku berdiri.
Mendekatinya.
“Kalau aku takut ambil risiko…”
Aku menatap lurus matanya.
“…aku sudah mati dari lima tahun lalu.”
Sunyi.
Dan untuk beberapa detik—
Arkan tidak menjawab.
Tatapannya berubah sedikit.
Lebih dalam.
Lebih personal.
“Aku serius, Alena.”
Nada suaranya lebih rendah sekarang.
“Aku tidak mau ada yang terjadi sama kamu.”
Jantungku berdetak aneh sesaat.
Aku langsung menjauh sedikit.
“Jangan mulai.”
Dia mengernyit.
“Mulai apa?”
Aku tertawa kecil.
Pahit.
“Peduli.”
Sunyi.
Dan kali ini—
Arkan tidak menyangkal.
“Itu masalah?”
Aku menatapnya lama.
Masalahnya bukan dia peduli.
Masalahnya…
bagian kecil dalam diriku mulai peduli juga.
Dan itu berbahaya.
Sangat berbahaya.
Karena perang ini belum selesai.
Dan orang-orang seperti kami…
tidak punya akhir yang baik.
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Nomor tidak dikenal lagi.
Aku membuka pesan itu.
Dan dalam sekejap—
senyumku hilang.
“Jangan terlalu percaya Arkan.”
“Kamu belum tahu apa yang sebenarnya dia sembunyikan.”
Dadaku langsung terasa dingin.
“Ada apa?” tanya Leon.
Aku tidak langsung menjawab.
Hanya menatap layar.
Berulang kali.
Karena untuk pertama kalinya—
aku mulai takut.
Bukan pada musuhku.
Tapi pada kemungkinan…
bahwa semua ini belum selesai mengkhianatiku.