NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:919
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Perjalanan di dalam mobil mewah itu terasa seperti selamanya bagi Alexa. Hatinya berdebar kencang, campur aduk antara rasa takut, cemas, dan kebingungan yang luar biasa.

Jendela mobil yang gelap membuatnya tidak bisa melihat jalan dengan jelas, tapi ia bisa merasakan kendaraan itu meninggalkan jalanan berlubang dan berdebu, menuju jalanan mulus yang bersih dan megah. Semakin lama, pemandangan di luar berubah total. Dari rumah-rumah kecil yang berdesakan, kini berubah menjadi pagar-pagar tinggi dan bangunan-bangunan mewah yang megah.

Ke mana mereka membawaku? batin Alexa bertanya-tanya. Ini benar-benar dunianya tubuh ini? Dunia yang sangat jauh berbeda dengan tempatku tinggal bersama Genesis selama ini?

Pikirannya kembali melayang pada nama yang tadi disebutkan.

Genta.

Masih sulit dipercaya. Selama 18 tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa kekasih hatinya telah tiada. Ia menangis, ia menderita, ia membesarkan anak sendirian karena merasa ditinggal mati. Tapi sekarang... ada orang bernama sama yang katanya masih hidup dan menjadi calon suaminya?

Apa ini kebetulan? Atau... Tuhan sedang mempermainkanku?

Mobil akhirnya perlahan berhenti. Pintu dibuka dari luar oleh salah satu bodyguard.

“Nona Alexa, kita sudah sampai.”

Alexa mengangkat wajahnya. Matanya terbelalak tak percaya melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.

Sebuah rumah besar bergaya modern klasik yang sangat luas dan megah berdiri tegak di depannya. Taman yang sangat luas dengan rumput hijau terawat, patung-patung indah, dan lampu-lampu taman yang membuat tempat itu terlihat seperti istana.

“Ini... ini rumahku?” bisik Alexa pelan, suaranya bergetar. Ia merasa sangat kecil dan asing.

Tanpa sempat menjawab, tangannya langsung digandeng dan dituntun masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.

Saat melewati pintu utama, rasa canggung itu semakin menjadi-jadi. Lantai marmer yang mengkilap, perabotan mahal, lukisan-lukisan besar di dinding, dan pelayan-pelayan yang berbaris rapi menyambut kedatangan mereka dengan wajah tegang.

“Selamat datang kembali, Nona Alexa.”

Alexa hanya bisa menunduk. Ia tidak mengenal wajah-wajah ini. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Selama ini ia hanya Naura, wanita sederhana yang hidup susah, yang terbiasa bekerja keras, yang terbiasa kotor dan lelah. Sekarang tiba-tiba berada di tempat semewah ini, rasanya seperti ikan yang keluar dari air.

“Bawa Nona ke kamar! Segera mandi dan ganti baju! Tuan dan Nyonya besar menunggu di ruang tamu!” perintah pria paruh baya itu dengan tegas.

Alexa digiring menaiki tangga lebar yang mewah menuju lantai atas. Kamar yang dibuka untuknya pun membuatnya semakin melongo.

Kamar ini luasnya mungkin sebesar rumah tempat ia tinggal bersama Genesis dulu. Ada kasur king size yang sangat besar, lemari kaca yang penuh dengan baju-baju bermerek, dan kamar mandi yang lebih besar dari dapur rumah lamanya.

“Tolong Nona segera bersiap. Kami tunggu di luar,” kata salah satu pelayan wanita dengan sopan namun tegas, lalu menutup pintu.

Alexa berdiri sendirian di tengah ruangan yang dingin dan megah itu. Tubuhnya gemetar. Ia berjalan mendekati cermin besar yang ada di dinding.

Di sana, terlihat wajah Alexa. Wajah muda, cantik, dan berpenampilan rapih. Tapi di balik wajah itu, ia adalah Naura. Ibu dari Genesis.

“Aku ada di mana...?” tanyanya pada bayangan dirinya sendiri di cermin.

“Kenapa rasanya aku ini pencuri? Aku mencuri hidup orang lain, aku mencuri nama orang lain, dan sekarang... aku bahkan hampir dipaksa menikah dengan orang yang namanya sama dengan cinta pertamaku yang sudah mati.”

Air mata mulai menetes lagi. Ia rindu rumah. Ia rindu bau tanah dan debu. Ia rindu suara tetangga yang berisik. Dan yang paling penting... IA RINDU GENESIS.

Ia rindu wajah anaknya. Ia rindu suara tertawanya. Ia rindu saat Genesis memanggilnya 'Lex' dan memeluknya dengan penuh cinta.

Gen... maafkan Ibu... maafkan Alexa. Kita dipisah lagi.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk keras.

“Nona Alexa! Waktunya habis! Turun sekarang!”

Alexa tersentak. Ia buru-buru mengusap air matanya. Ia harus kuat. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia harus mencari tahu siapa 'Genta' yang sebenarnya.

Dengan kaki yang lemas dan hati yang berdebar kencang, Alexa melangkah keluar kamar, menuruni tangga besar itu, menuju ruang tamu tempat 'orang tuanya' menunggu.

 .

.

Di ruang tamu yang luas itu, duduk sepasang suami istri dengan penampilan yang sangat anggun dan berwibawa. Wajah mereka tampak sangat tegang dan marah. Itu adalah Tuan dan Nyonya Wijaya, orang tua kandung dari tubuh asli Alexa.

Alexa berdiri mematung di ujung tangga. Ia menatap mereka. Mereka... mereka orang tuaku? Orang tua dari tubuh ini?

Ia tidak merasakan ikatan batin apa-apa. Tidak ada rasa sayang, tidak ada rasa rindu. Yang ada hanya rasa takut dan canggung yang luar biasa. Karena baginya, mereka adalah orang asing. Benar-benar asing.

“DARIMANA SAJA KAMU?!”

Suara hardikan Nyonya Wijaya membuat Alexa tersentak hebat hingga hampir jatuh.

“Kamu tahu tidak kami sudah panik setengah mati mencari kamu kemana-mana?! Kamu pikir kamu ini siapa sampai berani lari ke tempat kumuh dan bergaul dengan orang rendahan seperti itu?!”

Alexa menunduk kaku, tangannya saling mencengkeram di depan perut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak ingat apa-apa. Ia tidak tahu kenapa ia harus lari, dan ia tidak tahu kenapa mereka marah besar seperti ini.

“Jawab kami, Alexa!” Tuan Wijaya ikut bersuara, suaranya berat dan dingin.

“Apa yang kamu lakukan di sana? Kenapa kamu bisa berada di tempat seperti itu bersama pemuda tak tahu diri itu?”

“Ak... aku...” Alexa terbata-bata, suaranya kecil dan parau. Air matanya kembali menetes. “Aku... aku tidak tahu...”

“TIDAK TAHU?!” Nyonya Wijaya berdiri dari kursinya, wajahnya memerah menahan amarah.

“Kamu ini anak siapa?! Kamu itu Nona Alexa Wijaya! Pewaris kekayaan kami! Calon istri Tuan Genta! Bukan pengemis yang bisa main ke mana saja sesuka hati!”

Lagi-lagi nama itu disebut. Genta.

Alexa mengangkat wajahnya perlahan. Matanya menatap kedua orang itu dengan tatapan bingung dan penuh tanda tanya.

“Genta...” bisiknya pelan. “Kenapa... kenapa kalian selalu menyebut nama itu? Siapa dia sebenarnya? Kenapa... kenapa dia bisa jadi calon suamiku?”

Pertanyaan itu membuat Tuan dan Nyonya Wijaya tertegun sejenak. Mereka saling pandang, tampak bingung dengan reaksi Alexa.

“Kenapa kamu bertanya begitu? Kamu tahu kan kalau pernikahan kalian sudah disepakati sejak lama? Ini adalah pernikahan untuk menyatukan dua perusahaan besar!” tegas Nyonya Wijaya.

Alexa menggeleng pelan. Sangat pelan.

“Aku tidak tahu...” jawabnya lirih, air mata mengalir deras membasahi pipi. “Aku tidak ingat apa-apa. Aku tidak kenal kalian. Aku tidak tahu apa-apa tentang pernikahan ini. Dan yang paling penting... Genta itu kan sudah mati...”

Suasana ruangan itu seketika menjadi hening total.

“...Dia sudah meninggal 18 tahun yang lalu. Bahkan sebelum Genesis lahir. Bagaimana mungkin dia bisa ada di sini sekarang dan mau menikah denganku?”

Tuan dan Nyonya Wijaya terbelalak kaget mendengar ocehan yang tidak masuk akal itu. Mereka mengira Alexa stres atau gila karena terlalu lama hilang.

“Kamu ngomong apa sih?! Genta masih hidup! Dia bahkan sudah di jalan menuju ke sini untuk menjemputmu!” bentak Nyonya Wijaya.

BRUK!!!

Kaki Alexa lemas. Ia roboh jatuh berlutut di lantai marmer yang dingin itu.

Dunianya benar-benar hancur sekarang.

Jika apa yang mereka katakan benar... Jika Genta benar-benar hidup...

Berarti seluruh hidupnya, seluruh air matanya, seluruh pengorbanannya selama 18 tahun ini... ADALAH KEBOHONGAN BESAR.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!