“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Ketika Batas Tak Lagi Dihormati
Alvian langsung menoleh. Wajahnya berubah.
“Umi.”
Ayza berjalan mendekat. Langkahnya tidak cepat. Tapi pasti.
Tatapannya langsung tertuju ke Reza. Dan seketika… suasana berubah. Lebih dingin.
Reza berdiri tegak. Senyumnya kembali. Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kebetulan sekali,” ucapnya ringan. “Aku cuma nemenin dia nunggu.”
Ayza tidak langsung menjawab. Tangannya meraih bahu Alvian. Menariknya sedikit ke samping. Dekat dengannya.
Protektif.
“Terima kasih,” ucapnya akhirnya. Datar. “Tapi tidak perlu.”
Kalimat itu sopan. Tapi jelas membatasi.
Reza mengangguk pelan. Namun tidak pergi.
“Aku cuma ingin kenal lebih dekat,” lanjutnya. “Bagaimanapun—”
“Tidak perlu.”
Kali ini Ayza memotong. Lebih tegas.
Reza menatapnya. Lebih serius sekarang.
“Dia anak yang baik,” katanya pelan. “Sayang kalau—”
“Apa pun yang ingin Anda sampaikan,” potong Ayza lagi, “sampaikan ke saya. Bukan ke anak saya.”
Nada suaranya tetap rendah. Tapi tidak memberi ruang.
Alvian diam di sampingnya. Tangannya mencengkeram ujung baju Ayza.
Reza melirik sekilas ke arah itu. Lalu kembali ke Ayza.
“Kamu berubah,” gumamnya pelan.
Ayza tidak terpengaruh. “Dan Anda… mulai melewati batas.”
Kalimat itu tajam. Namun tetap tenang.
Reza tersenyum tipis. Kali ini… berbeda.
“Kalau batas itu dibuat oleh orang yang salah…” ucapnya pelan, “…wajar kalau dilanggar.”
Ayza menatapnya lurus.
“Tidak ada yang salah dengan batas saya.”
Ia terdiam sejenak. Hanya sejenak.
“Yang salah… adalah orang yang tidak tahu tempatnya.”
Kalimat itu bersih. Tidak tinggi. Tapi menutup semuanya.
Reza terdiam. Tidak langsung membalas.
Ayza tidak menunggu. Ia menggenggam tangan Alvian.
“Ayo, Sayang.”
Alvian mengangguk cepat. Mengikutinya tanpa menoleh lagi.
Langkah mereka menjauh.
Reza masih berdiri di sana. Tatapannya mengikuti. Sampai keduanya benar-benar pergi.
Lalu perlahan… senyum itu kembali muncul. Tipis. Namun kali ini… bukan hangat.
“…makin menarik.”
***
Pintu mobil tertutup pelan. Suara dari luar langsung meredam. Menyisakan ruang sempit yang terasa lebih sunyi.
Ayza tidak langsung menyalakan mesin.
Tangannya masih di setir. Tatapannya lurus ke depan. Menarik napas pelan… menahan sesuatu yang sejak tadi ia jaga.
Di sampingnya, Alvian duduk rapi. Sabuk pengaman sudah terpasang. Namun jemarinya masih memegang ujung bajunya sendiri.
Diam.
“Al, Om Reza ngomong apa saja tadi?”
Suara Ayza akhirnya terdengar. Tenang. Seolah biasa.
Alvian menoleh sedikit.
“Dia nanya… aku masih ingat atau nggak,” jawabnya pelan. “Terus ngajak aku ikut dia.”
Ayza menoleh sekilas. “Ikut ke mana?”
“Katanya jalan sebentar. Nunggu Umi.”
Ayza mengangguk kecil. “Terus?”
“Al gak mau.” Jawaban itu cepat. Refleks.
Tatapan Ayza melembut sedikit. Namun hanya sebentar.
“Dia bilang nanti bakal bilang ke Umi,” lanjut Alvian. “Tapi Al tetap gak mau.”
Ayza mengangguk lagi. Kali ini lebih dalam.
“Bagus.”
Satu kata. Pendek. Tapi jelas.
Alvian diam sebentar. Lalu melanjutkan.
“Dia juga ngasih hadiah…” suaranya mengecil sedikit, “…tapi Al gak terima.”
Ayza menoleh penuh sekarang. Menatap anaknya.
“Kenapa gak diterima?”
Alvian menunduk sedikit. “Umi bilang… gak boleh terima apa-apa dari orang.”
Beberapa detik… Ayza tidak bicara.
Lalu tangannya terangkat. Mengusap pelan kepala Alvian.
“Pinter.”
Nada suaranya tetap tenang. Tapi kali ini… ada hangat yang tidak ia sembunyikan.
“Dengerin, ya,” lanjutnya pelan. “Kalau ada orang, siapa pun itu, yang bikin kamu gak nyaman…”
Ia berhenti sejenak. Memastikan Alvian menatapnya.
“…kamu gak perlu paksa diri buat sopan.”
Alvian mengangguk kecil.
“Gak mau ya bilang gak mau,” lanjut Ayza. “Jangan ikut. Jangan terima apa pun. Apalagi pergi.”
“Iya, Umi.” Jawabannya patuh. Tanpa ragu.
Ayza akhirnya menyalakan mesin. Mobil mulai bergerak perlahan keluar dari area sekolah.
Beberapa detik… hanya suara mesin yang terdengar.
Lalu—
“Umi…”
Ayza melirik.
“Iya?”
Alvian terlihat berpikir. Keningnya sedikit berkerut. Seolah mengingat sesuatu.
“Om Reza itu…” ia berhenti sebentar, “…kakaknya Om Fahri, ‘kan?”
Ayza tidak langsung menjawab.
“Iya,” jawabnya akhirnya. Singkat.
Alvian mengangguk pelan. Tapi ekspresinya belum lepas dari pikirannya.
“Aku tahu Om Fahri dari kecil,” lanjutnya. “Dia baik.”
Ayza hanya mendengarkan.
“Tapi Om Reza…” suaranya mengecil sedikit, “…aku baru ketemu sekarang.”
Ia menoleh ke arah Ayza. Ada kebingungan yang jujur di sana.
“Kenapa ya… aku gak nyaman?”
Ayza terdiam.
Tangannya di setir sedikit mengencang. Namun wajahnya tetap tenang.
“Umi juga…” lanjut Alvian pelan, “…kayak gak suka sama dia.”
Kalimat itu jujur. Polos. Tapi tepat.
Mobil terus melaju. Beberapa detik… tidak ada jawaban. Lalu akhirnya—
“Perasaan itu… penting, Al.” Suara Ayza lembut. Tapi lebih dalam dari sebelumnya.
Alvian menatapnya.
“Kadang kita gak selalu bisa jelasin kenapa,” lanjutnya. “Tapi kalau hati kamu bilang ‘gak nyaman’…” Ia melirik sekilas ke arah anaknya. “…itu bukan sesuatu yang harus kamu abaikan.”
Alvian diam. Mendengarkan.
“Dan soal orang…” Ayza berhenti sejenak. Memilih kata-kata. “…gak semua orang yang terlihat dekat… benar-benar baik buat kita.”
Kalimat itu pelan. Tapi mengandung sesuatu yang lebih besar.
Alvian menunduk sedikit. Mencerna.
“Tapi Om Fahri baik…”
Ayza mengangguk.
“Iya.” Jawaban itu tegas. “Om Fahri baik,” ulangnya. “Dan itu gak salah.”
Ia menarik napas pelan.
“Tapi… setiap orang itu berbeda. Bahkan kalau mereka dari keluarga yang sama.”
Alvian mengangguk pelan. Kali ini lebih paham.
Beberapa detik… suasana kembali tenang.
Namun sebelum benar-benar sunyi—
“Umi…”
“Iya?”
“Kalau nanti Om Reza datang lagi…”
Ayza langsung menjawab. Tidak memberi jeda.
“Kamu tetap lakukan yang tadi.”
Nada suaranya tegas. Tidak berubah.
“Jaga jarak. Panggil Umi. Jangan ikut. Jangan terima apa pun.”
Alvian mengangguk cepat. “Iya, Umi.”
Ayza mengangguk kecil. Namun tatapannya kembali ke jalan… kali ini berbeda.
Lebih fokus. Lebih dingin.
Dan kini, yang ia pikirkan bukan lagi sekadar menjaga Alvian. Melainkan… bagaimana menghadapi Reza.
***
Ruang makan terasa lebih tenang setelah makan malam selesai. Suara sendok dan piring sudah tidak lagi terdengar.
Rahman menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya beralih ke putra sulungnya.
“Kamu kapan menikah lagi, Rez?” Nada suaranya tidak tinggi. Tapi jelas. “Usiamu sudah tidak muda lagi.”
Siti yang duduk di sampingnya ikut menimpali, senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Iya. Ayah sama Bunda juga pengen segera nimang cucu.”
Reza menyeka bibirnya dengan tisu. Santai. Seolah sudah biasa dengan topik itu.
“Fahri juga anak Ayah sama Bunda,” jawabnya ringan. “Jangan aku terus yang didesak.”
Rahman menggeleng pelan..“Kamu itu yang lebih tua.”
Kalimat itu sederhana. Tapi mengandung tuntutan yang tidak kecil.
Reza tersenyum tipis. Tidak membantah. Namun matanya… tidak lagi sama.
“Aku gak akan salah pilih lagi, Yah.”
Nada suaranya ringan. Tapi ada sesuatu di dalamnya… yang tidak lagi sederhana.
Rahman menatapnya. Lama. Entah kenapa… kali ini ia tidak merasa tenang.
Dan di tempat lain, seseorang yang tidak tahu apa-apa… sedang berjalan semakin dekat… ke dalam rencana yang bahkan belum ia sadari.
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua yang datang kembali… datang dengan niat yang benar."...
..."Rasa tidak nyaman seringkali lebih jujur daripada kata-kata."...
..."Yang berbahaya bukan yang terang-terangan salah… tapi yang terlihat seolah benar."...
..."Menjaga bukan hanya tentang bertahan… tapi juga tentang tahu siapa yang harus dijauhkan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.