Murni dan Samsuri beserta ketiga anaknya tinggal di rumah selama bertahun-tahun lamanya tidak pernah tahu kalau ada kamar kosong di rumahnya .
Salah satu anak dari mereka melihat kamar kosong berada di ruang bawah tanah ketika tidak sengaja membuka lemari pakaian di kamarnya saat sedang merapikan pakaiannya .
Kejadian demi kejadian mereka alami setiap malam dan mereka sangat terganggu sehingga setiap malam terjaga .
Apakah yang akan dilakukan satu keluarga tersebut ketika mengetahui adanya kamar kosong di dalam rumahnya ?
Ikuti kisahnya sampai selesai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Menemukan Sesuatu Di Kamar Alif
Alif menatap ke dua saudaranya , ketiganya mengangguk lalu berpencar mencari sesuatu yang membuat mereka penasaran .
Alif menemukan sebuah surat lusuh di bawah pakaian paling bawah tepatnya di sudut lemari bagian bawah lalu mengambilnya .
Abdul menemukan sebuah potongan kain renda berwarna putih ada bekas noda merah nyangkut di bawah dipan paling pojok lalu ia ambil .
Manaf tidak menemukan apapun yang mencurigakan , ia duduk di kursi belajar sambil menggaruk kepalanya yang gatal .
“Aku menemukan ini di bawah dipan ," kata Abdul memberikan kain itu kepada Alif . Begitu juga dengan Alif memperlihatkan sebuah surat lalu membukanya dengan tangan bergetar .
Sebuah kertas bertuliskan sebuah puisi dan beberapa kata mutiara seperti surat cinta . " Sepertinya dulu ada orang yang membuat surat untuk diberikan pada kekasihnya lalu ia simpan di lemari itu karena ... ,"Manaf menggantungkan kalimatnya karena mendapat tatapan dari Abdul lalu diam tanpa berkata lagi .
"Tulisannya bagus sekali rajin pula dibanding dengan tulisanku tidak ada apa-apanya ," sahut Alif tertawa kecil . Mereka membaca bersamaan .
Teruntuk Juwitaku
Telah lama ku terdiam dalam sepi
Menangis dalam sunyi tanpa tepi
Mencarimu tak mengenal lelah diri
Membiarkan tubuh tersakiti lagi
Cintaku ,,,
Wahai Juwitaku
Engkau laksana rembulan malam
Engkau bagai cahaya penerang jiwa
Senyummu tak pernah hilang di wajahmu
Kata mansimu menghipnotis alam sadarku
Membuka tirai kelambu tempat tidurku
Mengambil sesuatu yang berharga dalam diriku
Aku berada di ujung hari yang terik
Menunggumu tuk menerimaku kembali
Jadikanku kekasih hatimu selamanya
Mengarungi bahtera kehidupan yang abadi
Dari ; penggemar rahasiamu *R*
“Waah , bagus sekali kata-katanya , aku suka ," teriak Manaf dengan wajah berseri . Alif dan Abdul menoleh ke arah Manaf .
“Masih kecil tidak boleh pacaran , ini peringatan jangan di langgar ," kata Abdul memberi nasehat kepada Manaf .
"Baru juga membaca puisi sudah di larang pacaran , gak tahu saja gimana kalau aku di kelas sekarang ," umpat Manaf masih terdengar Alif dan Abdul .
“ Oh begitu , besok kalau di sekolah aku akan pantau kamu terus ," kata Abdul dengan wajah serius . “Lihat di bawah masih ada kata-kata lagi sepertinya menarik ," kata Alif sambil membaca .
Umur bukan masalah dalam urusan jodoh
Cinta bukan akhir dalam sebuah hubungan
Kesadaran akan memberi sebuah peringatan
Ketika diri mulai terasing maka akan terlihat kebenaran .
“Sepertinya orang yang membuat surat ini sedang mengalami masa puber atau bisa jadi sedang menjalin hubungan dengan lawan jenis dan ia membuat surat ini untuk di berikan kepada kekasihnya tapi anehnya kok bisa ada di situ dan tidak langsung diberikan ?" kata Abdul menebak .
“ Iya juga ya , eh mana tadi kainnya ," kata Alif menanyakan kain yang ditemukan Abdul .Abdul menyerahkan kain kepada Alif .
"Coba lihat ,“ Alif menunjukkan ada gambar di pinggir kertas sama dengan kain yang ia pegang . " Benar sekali dan ini seperti noda darah , " sambung Abdul yakin kalau itu noda darah ,
"Apa yang akan kita lakukan dengan kertas dan kain ini ?“ tanya Manaf . “Kamu tidak usah ikut pusing mikirin kayak gini biar kami saja yang mencari solusinya ," kata Alif menyimpan kembali surat dan kain dalam satu tempat .
"Sepertinya rumah ini ada yang tidak beres deh , kenapa semakin kesini rumah ini aku merasakan sesuatu hal aneh dan mistis ," kata Abdul merinding sambil melihat keseluruhan kamar Alif .
"Perasaan mu saja itu makanya jangan fokus satu dan jangan melamun seorang diri , setan pasti merasuki tubuhmu . Alif menakuti Abdul .
"Jangan begitulah , kita saudara jangan saling menakuti ," kata Abdul mendekat ke tubuh Alif sedangkan Manaf sudah pergi keluar kamar entah kapan .
"Sudah besar masih saja takut hal mistis , sana pergi aku mau istirahat ," Alif mengusir Abdul dengan mendorong keluar kamar . Abdul kesal Alif mengusirnya , ia akhirnya masuk ke dalam kamarnya .
Di kamar Alif melihat ke seluruh kamar tiba-tiba saja ia melihat ke arah pantulan cermin ada sosok hitam seperti asap sedang bergulung seperti awan yang bergulung . Begitu ia alihkan pandangannya tidak ada siapapun dikamarnya .
Alif keluar dari kamar pergi ke dapur mengambil air minum dan langsung meneguk sampai habis satu gelas . Samsuri baru saja pulang melihat Alif seperti orang habis berlari meletakkan tas di dinding kayu samping pintu biasa ia menyimpan alat kerjanya .
"Kamu kenapa Lif ?" tanya Samsuri lalu duduk di ruang makan sambil minum air mineral . "Apakah aku cerita ke bapak atau tidak ya soal tadi ?" batin Alif .
"Tidak apa-apa kok , cuma haus saja ," jawabnya kemudian berjalan masuk ke dalam kamar Abdul . Abdul sedang mendengarkan musik melalui ponselnya tidak melihat Alif masuk karena posisinya membelakangi pintu .
Alif duduk di sampingnya sambil menepuk bahu Abdul . Abdul terkejut lalu melepas headsetnya yang di pasang di telinganya . "Ngagetin aja ," katanya dengan wajah kesal karena sedang asyik mendengarkan musik yang ia sukai .
"Menurutmu kita cerita gak soal temuan kita tadi kepada Bapak dan Ibu ?" tanya Alif dengan wajah serius .
"Jangan dulu deh , nanti di sangka itu hanya omong kosong , tahu sendiri Bapak kalau menyangkut soal percintaan apalagi itu surat sangat lama dan lusuh ," jawab Abdul .
"Iya juga ya , tapi apakah kita akan terus menyimpan barang itu atau kita bakar saja ," celetuk Alif memberi ide .
"Kalau ada apa-apa gimana jika surat itu kita bakar jadi petakan buat keluarga kita ,Lif ," Abdul seolah menakuti namun seperti sebuah ancaman membuat Alif bergidik
"Tadi aku melihat di cermin kamarku aku melihat ada sosok seperti asap bergerombol gitu seperti awan tapi itu warna hitam pekat ,aku langsung keluar kamar ," kata Alif .
Abdul langsung berganti posisi duduk di samping Alif sambil melihat ke seluruh kamarnya , ia menjadi parno sejak kejadian waktu itu dan sampai sekarang kadang seperti melihat sesuatu tapi sebenarnya tidak ada .
"Jangan-jangan dia mengikutimu sampai ke sini ," bisik Abdul di telinga Alif . "Mana mungkin lah , aku saja tidak melihatnya ada di sini ," sahut Alif memang tidak ada .
"Bisa saja dia sedang mengintip atau bersembunyi di suatu tempat yang tidak kita ketahui ," Abdul menyahuti perkataan Alif dengan suara lirih .
"Kenapa kamu jadi penakut sih ,Dul . Bukannya kamu dulu paling berani ," Alif menoleh melihat wajah Abdul terlihat pucat karena ketakutan . Alif merasa kalau Abdul benar-benar berubah sekarang menjadi penakut .
"Jika kamu takut tidur sendirian , nanti malam tidur sama aku ,"tawar Alif .
"Kamu mengajak aku tidur di kamarmu sedangkan di kamarmu ada hantunya , ogah amat malah aku tidak bisa tidur ," tolak Abdul merasa takut .
"Mana ada hantu ," kata Alif .