Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16: Undangan di atas meja
Gerimis tipis kembali membasahi aspal jalanan Menteng saat malam mulai merayap naik.
Kawasan elit di pusat Jakarta ini memancarkan atmosfer yang sangat kontras dengan hiruk-pikuk berdebu Pelabuhan Tanjung Priok.
Di sini, rumah-rumah berarsitektur kolonial berdiri megah di balik pagar besi tempa yang tinggi, dinaungi oleh pepohonan mahoni tua yang rimbun.
Tidak ada bau minyak solar atau deru bising mesin diesel truk kontainer; yang ada hanyalah keheningan yang mahal dan aroma prestise yang kental.
Doni Salman turun dari taksi sedan putih tua yang membawanya dari kawasan Jakarta Utara.
Ia berdiri di depan sebuah restoran mewah bergaya klasik Eropa dengan papan nama kuningan minimalis yang memancarkan cahaya kekuningan lembut.
Pakaiannya malam ini telah berganti.
Ia tidak lagi mengenakan kemeja biru pudar staf operasional lapangan PT Mitra Kilat, melainkan sebuah kemeja batik lengan panjang bermotif kontemporer yang ia beli dari toko pakaian bekas layak pakai, lalu disetrika hingga sangat rapi oleh tangan Zahra kemarin malam.
Meskipun pakaiannya sederhana, cara Doni berdiri dan melangkah masuk melewati pintu kaca restoran memancarkan aura yang membuat pelayan restoran membungkuk hormat tanpa ragu.
Langkah kakinya tegap, pandangan matanya lurus dan tenang, serta pembawaannya begitu anggun sebuah cerminan dari jiwa seorang pria yang di masa depannya terbiasa menguasai ruang-ruang rapat pleno korporasi raksasa.
Seorang pelayan mengantarnya menuju sebuah ruangan privat (VIP room) yang terletak di bagian belakang restoran, menghadap ke sebuah taman dalam ruangan yang asri dengan gemercik air mancur kecil.
Begitu pintu kayu jati berukir itu dibuka, pandangan Doni langsung tertumbuk pada dua orang yang sudah duduk di sekeliling meja bundar bermaterial marmer putih.
Andreas duduk di sana, penampilannya malam ini bahkan lebih necis daripada kemarin pagi, mengenakan kemeja sutra halus berwarna abu-abu arang.
Di sebelahnya, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis, namun disisir sangat rapi.
Pria itu mengenakan kemeja safari hitam dengan pin emas kecil menyemat di kerahnya.
Tatapannya tajam, penuh selidik, dan sarat akan arogansi seorang penguasa yang terbiasa melihat orang lain dari posisi atas.
"Devan Santoso.
"Ah, Doni! Masuk, masuk! Silakan duduk,"
Andreas langsung berdiri menyambut Doni dengan senyuman hangat tiruannya yang tampak begitu akrab, seolah-olah mereka adalah sahabat karib yang sudah lama tidak bertemu.
Andreas menepuk pundak Doni dengan ramah, lalu berbalik menghadap ke arah pria paruh baya di sebelahnya.
"Pak Devan, ini Doni Salman."
"Anak muda dari gudang Mitra Kilat yang saya ceritakan kemarin."
"Pemuda yang menyusun seluruh proposal manajemen risiko logistik untuk proyek tol kita."
Devan Santoso tidak langsung merespons.
Ia tidak berdiri dari kursinya.
Pria tua itu hanya menyesap cerutu kecil di tangan kanannya, mengembuskan asap putih tipis ke udara, lalu menatap Doni dari atas ke bawah dengan pandangan yang sangat merendahkan.
Di mata Devan, Doni hanyalah satu lagi buruh miskin dari kalangan bawah yang sedang mencoba mengadu nasib di ibu kota untuk mencari remah-remah berkah dari mejanya.
"Duduk," kata Devan,
suaranya berat, parau, dan memiliki nada dingin yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi para bawahan atau kontraktor kecil yang meminta termin pembayaran proyek.
Doni tersenyum sangat tipis sebuah senyuman yang tersembunyi di balik ketenangan wajah mudanya.
Ia menarik kursi kayu berukir di seberang Devan, lalu duduk dengan gerakan yang sangat rileks.
Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja marmer, dan membalas tatapan mata Devan secara langsung, lurus, tanpa ada sedikit pun rasa minder atau getaran takut di bola matanya.
Sikap Doni yang terlalu tenang itu secara tidak sadar membuat Devan mengerutkan dahinya.
Biasanya, para pemuda miskin seumuran Doni akan menundukkan kepala, meremas-remas tangan mereka karena gugup, atau berbicara dengan suara yang terbata-bata jika berhadapan langsung dengannya di ruangan mewah seperti ini.
Namun, pemuda di depannya ini justru memancarkan ketenangan yang sangat mengintimidasi, seolah-olah posisi mereka di atas meja ini adalah setara.
"Andreas sudah memperlihatkan proposal yang kamu buat ke meja kerja saya,"
Devan membuka percakapan sambil mengetukkan abu cerutunya ke asbak kristal di sampingnya.
"Bahasa hukum bisnisnya rapi, analisis rutenya presisi."
"Untuk ukuran seorang staf manifes rendahan yang tidak punya gelar sarjana dari luar negeri, isi kepalamu lumayan juga."
"Di mana kamu meniru skema manajemen risiko seperti itu?"
Pertanyaan Devan adalah sebuah jebakan psikologis yang sengaja dirancang untuk merendahkan harga diri Doni sekaligus memancing asal-usul pengetahuannya.
Doni menarik napas pelan, mengedarkan pandangannya ke arah hidangan pembuka yang mulai disajikan oleh pelayan di atas meja.
"Saya tidak meniru dari siapa pun, Pak Devan,"
jawab Doni dengan nada suara yang sangat datar, namun memiliki penekanan yang kuat di setiap kata.
"Logistik bukan tentang gelar sarjana atau teori di atas buku teks universitas mewah."
"Logistik adalah tentang membaca realitas di lapangan memahami kapan air laut akan pasang, rute mana yang dijaga oleh oknum aparat yang lapar,"
"dan bagaimana memastikan semen tidak membatu di dalam truk sebelum sampai ke lokasi pengecoran."
"Saya hanya menulis apa yang saya lihat setiap hari di pelabuhan."
Andreas yang merasakan atmosfer di ruangan itu mulai sedikit menegang, segera menimpali sambil tertawa kecil untuk mencairkan suasana.
"Betul, Pak Devan."
"Doni ini praktisi lapangan yang sangat jenius."
"Makanya saya berpikir, bakat seperti dia akan jauh lebih berguna jika kita tarik masuk ke dalam tim operasional internal PT Santoso Karya untuk mengawasi seluruh jalur suplai material tol kita di sektor utara."
Devan Santoso terdiam sejenak, mengamati Doni dengan mata sipitnya yang licik.
Sebagai seorang pebisnis kawakan yang kenyang dengan asam garam dunia kontraktor yang kotor, Devan tahu bahwa memiliki orang seperti Doni di dalam timnya akan sangat menguntungkan.
Doni bisa digunakan sebagai tameng operasional untuk menekan biaya vendor logistik seminimal mungkin, sementara seluruh kredit kesuksesannya bisa dialihkan untuk menaikkan posisi tawar Andreas di hadapan jajaran komisaris perusahaan.
"Baik," Devan meletakkan cerutunya, lalu memajukan tubuhnya ke arah meja.
"Saya tawarkan kamu posisi sebagai Asisten Manajer Operasional Logistik di PT Santoso Karya mulai bulan depan."
"Gaji tiga kali lipat dari apa yang kamu terima di gudang kumuh itu sekarang, ditambah fasilitas tunjangan kesehatan dan transportasi."
"Tugasmu sederhana: pastikan seluruh suplai semen dan besi baja untuk sektor utara berjalan tanpa ada keterlambatan satu jam pun."
"Bagaimana, Doni?"
"Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk orang seperti kamu keluar dari garis kemiskinan."
Tawaran Devan terdengar sangat menggiurkan dan penuh kemurahan hati di telinga orang awam.
Namun, Doni Salman tahu persis udang di balik batu dari tawaran tersebut.
Di kehidupan pertamanya, posisi inilah yang mengikat Doni ke dalam sistem kerja rodi keluarga Santoso, memeras seluruh otak dan tenaganya untuk menyukseskan proyek mereka,
sementara mereka menimbun kekayaan di atas keringatnya dan perlahan menyusupkan Amanda untuk mengunci seluruh hidupnya.
Doni tidak langsung menjawab.
Ia mengambil gelas air putih di depannya, menyesapnya perlahan untuk memberikan jeda dramatis yang membuat Andreas dan Devan menunggu dengan rasa penasaran yang tertahan.
Tentu saja Doni akan menerima tawaran ini.
Ini adalah tiket masuk resminya ke dalam benteng pertahanan musuh.
Namun, sebagai seorang master korporat, ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat seperti pengemis yang langsung sujud syukur menerima umpan.
Ia harus menaikkan posisi tawarnya sejak hari pertama.
"Tawaran yang sangat menarik, Pak Devan,"
kata Doni, meletakkan kembali gelasnya dengan bunyi klik pelan di atas marmer.
"Namun, saya memiliki satu syarat kecil sebelum menandatangani kontrak kerja sama ini."
Mendengar kata 'syarat' keluar dari mulut seorang buruh pelabuhan, alis Devan Santoso seketika terangkat tinggi.
Wajah paruh bayanya mengeras karena merasa otoritasnya mulai ditantang oleh seorang anak muda yang tidak tahu diri.
"Syarat?
"Kamu berada di posisi untuk meminta syarat kepada saya, Doni?"
tanya Devan dengan nada suara yang mulai meninggi dan penuh ancaman.
Doni tetap tenang, seulas senyuman tipis yang sangat dingin terukir di sudut bibirnya.
"Ini bukan syarat yang merugikan Anda, Pak Devan."
"Justru ini adalah jaminan keamanan untuk proyek Anda sendiri."
"Saya meminta kendali penuh dan hak prerogatif mutlak untuk memilih, memutus, atau menunjuk vendor logistik pihak ketiga di lapangan tanpa perlu melalui persetujuan birokrasi kantor pusat yang lambat."
"Jika terjadi keterlambatan pasokan akibat intervensi dari orang-orang kantor pusat yang tidak mengerti lapangan, saya tidak mau bertanggung jawab atas denda penalti dari bank sindikasi Anda."
Mendengar kalimat terakhir Doni yang menyebut tentang 'denda penalti dari bank sindikasi', Devan Santoso seketika mematung di kursinya.
Jantung pria tua itu berdegup kencang karena terkejut.
Rahasia mengenai klausul penalti ketat dari bank sindikasi itu adalah dokumen rahasia negara tingkat tinggi yang hanya diketahui oleh dirinya, direktur keuangan, dan pihak bank.
Bagaimana mungkin seorang staf lapangan dari gudang pelabuhan Tanjung Priok bisa mengetahui detail finansial se-sensitif itu?
Ucap Devan dalam batinya.
Andreas yang tidak mengerti tentang kedalaman rahasia tersebut hanya menatap Devan dengan bingung, menunggu reaksi dari sang calon mertua.
Devan menatap Doni dengan pandangan yang kini bercampur antara rasa tidak percaya, ketakutan yang samar, sekaligus kekaguman yang luar biasa gila.
Pria tua itu menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukan sekadar buruh biasa; Doni adalah seekor serigala berbulu domba yang memiliki jaringan informasi yang sangat berbahaya.
"Kamu... benar-benar menarik, Doni Salman,"
bisik Devan Santoso setelah keheningan panjang yang mencekam di dalam ruangan tersebut.
"Baik."
"Saya setuju dengan syaratmu."
"Kontrakmu akan disiapkan besok pagi oleh tim legal."
Doni menganggukkan kepalanya dengan sangat formal.
Di dalam lubuk batinnya, Doni Salman merayakan kemenangan taktis pertamanya malam ini.
Ular tua itu telah memberikan kendali atas leher proyeknya sendiri ke dalam tangan Doni.
Pintu gerbang menuju lingkaran inti kekuasaan keluarga Santoso kini telah terbuka lebar, dan di bawah jubah barunya sebagai Asisten Manajer nanti,
Doni siap menanamkan racun kehancuran ke dalam sistem finansial mereka secara perlahan, dingin, dan mematikan tanpa ada satu pun dari mereka yang menyadarinya hingga semuanya terlambat.