NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Ludah di Atas Pualam

Fajar Jakarta pecah bukan dengan kelembutan, melainkan dengan benturan klakson yang saling bersahutan dan lolongan mesin kendaraan yang membelah jalanan aspal di bawah kolong jembatan layang. Udara pagi terasa kelabu, bergetar oleh kepulan polusi yang menyengat paru-paru fana. Di depan sebuah kedai kopi waralaba modern berarsitektur kaca minimalis di bilangan Sudirman, Dika berdiri mematung. Mantel wol hitam loaknya kemarin telah dipensiunkan paksa ke dalam tas kanvas, digantikan oleh kemeja katun hitam polos pas badan hasil buruan Lina di pasar grosir tadi subuh.

Ia sengaja melipat lengan kemejanya hingga ke siku, menampilkan pergelangan tangan yang kurus namun menyimpan guratan otot yang kokoh. Sepasang matanya yang tirus menatap pantulan dirinya sendiri di balik dinding kaca kafe yang bersih berkilat. Di balik korneanya, pendar emas purba meredup lumat, menyembunyikan Mata Takdir yang kini berada di level pemulihan lima belas persen setelah asupan koyo cabai semalam suntuk.

Namun, postur agung laksana arca dewa di kuil matahari itu seketika bergetar halus saat embusan angin dari mesin pendingin kafe menerpa tengkuknya.

“Aduh, aduh... ini AC luar kafe kenapa arahnya tepat banget nyembur ke pinggang belakang gue sih?!” ratap sebuah suara di relung batok kepalanya, cempreng dan penuh nestapa, merusak seluruh estetika visual yang dibangunnya sejak turun dari taksi. “Sisa panas koyo cabai semalam langsung mengkeret kena angin kutub ini! Tenang Dika, jangan bungkuk, jangan meraba pinggang di depan khalayak ramai. Lo sekarang udah pakai kemeja baru seharga seratus lima puluh ribu, jangan sampai wibawa kemeja mahal ini hancur gara-gara lo mendadak nungging nahan linu di depan pintu kaca!”

Lina yang berdiri di sampingnya sembari menyandang tas kanvas berisi sisa uang kompensasi hanya bisa mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Getaran batin Dika yang konyol merembes masuk ke dalam kesadarannya akibat jalinan takdir yang bocor, membuat bahu gadis itu naik turun menahan tawa yang siap meledak di antara kerumunan orang kantoran yang berlalu-lalang.

"Masuk, Dika. Orang yang lo cari katanya udah nunggu di dalam," bisik Lina, menyenggol lengan Dika dengan ujung map berkasnya. "Jaga pandangan mata lo, jangan sampai pendar emasnya keluar pas pelayan kafe nanyain pesanan. Kita di sini mau nyari informasi, bukan mau ngebakar mesin pembuat kopi pakai mata dewa lo."

Dika hanya mendengus pelan, seolah kalimat Lina hanyalah angin lalu bagi seorang penguasa anyaman jagat. "Manusia fana selalu tergesa-gesa dalam lingkaran waktu yang sempit, Lina. Mereka tidak tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil di atas pualam ini sedang menuntun mereka menuju ujung jalinan yang telah digariskan."

Ia mendorong pintu kaca kafe dengan satu gerakan tangan yang lambat dan penuh keanggunan. Tring. Suara bel kecil di atas pintu berdenting halus, menyambut mereka dengan aroma biji kopi arabika yang terpanggang sempurna berbaur dengan wangi mentega dari barisan pastri di dalam etalase kaca.

Di sudut ruangan yang agak temaram, duduk seorang pemuda dengan setelan jas necis berwarna biru navy. Rambutnya ditata dengan gel klimis, memantulkan cahaya lampu gantung tembaga di atasnya. Di pergelangan tangan kirinya, sebuah jam tangan berlapis emas imitasi berkilat mencolok saat ia mengangkat cangkir kopinya.

Dia adalah target mereka hari ini: Rian. Mantan sahabat karib Dika yang asli semasa kuliah, sekaligus orang yang setahun lalu menandatangani surat rekomendasi palsu yang menuduh Dika melakukan penggelapan dana internal organisasi kampus, hingga membuat Dika yang asli dipecat secara tidak hormat dan berakhir menjadi buron finansial di kota tua.

Saat Rian mendongak dan melihat sosok Dika yang melangkah mendekat, cangkir kopi di tangannya sempat bergetar halus hingga menyisakan riak kecil di atas permukaannya. Kilat keterkejutan, rasa bersalah, dan keangkuhan urban berbaur menjadi satu di sepasang matanya.

"Dika?" Rian terkekeh, suara tawa yang dipaksakan terdengar cempreng di antara alunan musik jaz lembut kafe. Ia bersandar pada kursi busanya, melipat kaki kanan di atas lutut kiri dengan gaya seorang eksekutif muda yang sukses. "Gila, gue kira berita dari kampung halaman itu cuma isu. Jadi lo beneran berani balik ke Jakarta setelah bikin kekacauan di kantor cabang kemarin?"

Dika tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi kayu di hadapan Rian, lalu duduk dengan gerakan yang sangat lambat—sebuah tindakan yang di mata Rian tampak sebagai bentuk intimidasi psikologis tingkat tinggi, padahal aslinya Dika sedang menghitung sudut kemiringan duduk agar tulang ekornya tidak bergeser dari bantalan.

"Dunia ini sempit, Rian," ucap Dika, suaranya mendadak berubah—rendah, berat, dan membawa tekanan atmosfer dingin yang membuat Rian secara tidak sadar memajukan tubuhnya. "Kau mengira telah mengubur jalinan masa lalu di bawah tumpukan lembaran perak yang kau terima dari jaringan Baskoro. Namun, kau lupa bahwa debu yang kau tebarkan untuk menutupi mataku, kini telah kembali dibawa angin untuk menyumbat tenggorokanmu sendiri."

Rian sempat tertegun, wajahnya memerah mendengar sindiran tajam itu. Keangkuhannya yang terluka membuat ia mendengus kasar, lalu meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan bunyi klang yang cukup keras.

"Jangan sok puitis di depan gue, Dika! Lo itu cuma mantan pesuruh kampus yang nasibnya sial!" bisik Rian dengan nada tajam yang penuh penekanan, matanya melotot memandang kemeja baru Dika. "Lo pikir karena lo berhasil ngejeblosin Johan ke penjara, lo bisa bergaya di depan gue? Di Jakarta ini, lo nggak punya panggung! Surat rekomendasi palsu yang gue tanda tangani dulu itu udah sah di mata hukum korporasi Konsorsium Mahardika. Di atas kertas, lo itu sampah penggelap uang, dan selamanya bakal tetap jadi sampah!"

Di seberang meja, di balik kelopak mata Dika yang menyipit, dunia monokrom kembali terhampar luas secara instan.

Warna-warna ruangan luntur menjadi abu-abu kusam, kecuali aliran energi di sekeliling tubuh Rian. Di mata sang mantan dewa, selembar benang takdir berwarna hitam pekat—simbol dari pengkhianatan berdarah dan sumpah palsu—tampak melilit erat di pergelangan tangan kiri Rian, terhubung langsung dengan jam tangan emas imitasinya. Benang itu memancarkan aroma busuk yang menyerupai bau bangkai tikus yang mengering di dalam laci meja.

Melalui sisa penglihatan Mata Takdir, Dika melihat visualisasi linimasa masa lalu: Rian menerima sebuah amplop cokelat tebal berisi uang seratus juta rupiah dari tangan anak buah Baskoro di sebuah parkiran bawah tanah, sembari tersenyum licik menatap berkas pemecatan Dika.

“Pengkhianatan yang murah demi sepotong besi berkilat di pergelangan tangan,” desis keheningan di dalam kepala Dika, murni dingin tanpa belas kasihan fana. “Jiwa yang malang ini telah menjual jalinan persaudaraannya hanya untuk mencicipi remah-remah kemewahan semu di lantai beton. Manusia fana mengira mereka bisa meludah di atas pualam kebenaran tanpa perlu membersihkannya kembali.”

Namun, keagungan filosofis itu seketika bergeser saat Rian tiba-tiba mengangkat tangannya, menunjuk tepat ke arah hidung Dika dengan jari telunjuknya yang memakai cincin perak murah.

"Mending lo pergi dari sini sebelum gue panggil sekuriti gedung buat seret lo keluar, Dika! Sisa uang kompensasi lo dari kantor cabang nggak akan cukup buat bayar pengacara di kota ini!" gertak Rian dengan wajah yang semakin mendekat ke meja.

Melihat jari telunjuk Rian yang bergoyang-goyang di depan wajahnya, batin Dika yang asli langsung meronta konyol dengan tingkat kejengkelan yang maksimal.

“Heh, ini anak magang kantoran berisik banget sih mulutnya! Mana jarinya bau rokok kretek lagi, mengganggu penciuman dewa gue yang mulia! Tenang Dika, sisa energi lo tinggal lima belas persen, tapi kalau cuma buat nampar muka pengkhianat macam begini, gue nggak perlu repot-repot ngeluarin jurus pemutus urat. Cukup satu sentuhan takdir di titik simpul tangannya, biar dia tahu rasanya tangan kram sampai subuh!”

Tepat saat Rian hendak membuka mulutnya lagi untuk melontarkan makian, Dika bergerak.

Gerakannya tidak meledak-ledak ataupun kasar. Ia hanya mengayunkan tangan kanannya dengan lintasan melengkung yang sangat tipis, laksana kibasan selembar sutra yang ditiup angin pagi. Dua jarinya menjentik pelan, bukan ke arah wajah Rian, melainkan tepat mengenai titik simpul kelabu yang meredup di area pergelangan tangan kiri Rian, tepat di bawah jam tangan emas imitasinya.

Plak!

Sentuhan itu terdengar sangat ringkih di antara alunan musik kafe, namun dampaknya laksana hantaman palu tak kasat mata yang memutus seketika aliran darah dan saraf motorik di lengan Rian. Aliran energi di pergelangan tangan pemuda klimis itu mendadak berbalik arah, menghantam balik pusat saraf di siku dan bahunya sendiri.

"A-Aaaagh!"

Rian memekik spontan, suaranya naik tiga oktav hingga melengking tinggi, memecah ketenangan kafe modern tersebut. Seluruh tubuhnya kehilangan keseimbangan arah; lengan kirinya mendadak kaku laksana kayu kering, sementara tangan kanannya yang mencoba menahan tubuh justru menyenggol cangkir kopi arabika panas di atas meja.

Prang! Pyarrr!

Cangkir porselen itu jatuh dan pecah berantakan di atas lantai pualam. Cairan kopi hitam yang masih mengepul panas langsung tumpah ruah, membasahi celana jas navy mahal milik Rian dan sebagian besar kemeja putihnya. Pemuda klimis itu terjungkal dari kursi busanya, jatuh terjerembap dengan posisi yang sangat tidak estetis di atas lantai—wajahnya menghantam sisa pecahan cangkir dan genangan kopi hitam, sementara kakinya yang memakai pantofel berkilat mencuat konyol ke udara.

"R-Rian?!" pekik beberapa orang kantoran di meja sebelah, beberapa pelayan kafe langsung berlari mendekat dengan wajah panik menatap pemuda necis yang kini merintih kesakitan di atas lantai yang kotor oleh tumpahan cairan hitam.

Dika menegakkan kembali tubuhnya, melipat tangan di depan dada sembari memandang tubuh Rian yang sedang berusaha merangkak di atas genangan kopi dengan tatapan dingin yang acuh tak acuh.

"Sudah kukatakan, Rian. Jejak ludah yang kau tinggalkan di atas pualam kebenaran, hari ini telah kembali untuk membersihkan wajahmu sendiri," ucap Dika, suaranya rendah, berwibawa, dan memantul di dinding-dinding kaca kafe yang sepi.

“Hahahahaha! Sukses besar! Rasakan itu siraman kopi arabika porsi eksekutif! Tapi astaga... pinggang encok gue beneran mau putus rasanya! Gerakan menjentik barusan bikin otot belikat gue tertarik parah lagi! Tolong Lina, buruan seret gue keluar dari kafe ini sebelum ada sekuriti beneran yang dateng, gue udah nggak kuat berdiri tegak sok keren begini!” ratap batin Dika yang kian histeris menahan linu di balik wajah tenangnya, membuat bahu Lina di sampingnya bergetar hebat menahan tawa yang hampir meledak menjadi riuh.

Lina buru-buru maju satu langkah, dengan sigap memungut map berkas di atas meja yang untungnya tidak terkena tumpahan kopi, lalu menatap Rian yang sedang mengerang kesakitan memegangi pergelangan tangannya yang mati rasa.

"Heh, pengkhianat klimis!" gertak Lina dengan wajah yang sengaja dibuat galak untuk menutupi rasa gelinya. "Lo lihat sendiri kan? Jangankan Konsorsium Mahardika lo itu, kopi panas aja langsung bikin lo KO di lantai! Sekarang lo mau kasih tahu siapa orang dalam yang nyuruh lo tanda tangan dokumen palsu itu, atau mau kita jentik lagi sampai jam tangan palsu lo itu meleleh?!"

Mendengar gertakan Lina, ditambah rasa sakit yang luar biasa dari lengannya yang kaku dan perihnya kopi panas di paha, runtuh sudah seluruh sisa keberanian urban yang dibanggakan Rian. Wajahnya yang semula penuh gel kosmetik kini belepotan cairan hitam dan air mata penyesalan yang terlambat.

"K-Kalian... tidak akan bisa menang..." racau Rian dengan suara parau dari atas lantai marmer yang basah. "Orang yang menyuruhku... dia bukan cuma Baskoro... tapi sekretaris utama Keluarga Wijaya di menara pusat... kalian hanyalah serangga yang sedang berjalan menuju mulut naga..."

Dika membalikkan badannya perlahan, tidak sudi mendengar lebih banyak racauan dari jiwa yang telah terjual murah. Ia melangkah keluar dari kafe dengan mantel wol hitamnya yang kembali disampirkan di pundak, menembus kepulan asap fajar Jakarta yang kian pekat. Lembaran pertama dari seri penamparan wajah para pengkhianat baru saja dimulai dengan aroma kopi hitam yang sangit di atas lantai pualam yang retak.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!