we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 Undangan yang Sulit Dipahami
Wanita berjubah biru itu berdiri kaku di depan meja kasir.
Tatapannya masih tertuju pada Cermin Mata Dewa.
Tulisan [Akses Ditolak] telah menghilang, namun jantungnya masih berdebar lebih cepat dari biasanya.
Di hadapannya, We Lin hanya terlihat bingung.
“Ada masalah?”
“Ti-tidak.”
Wanita itu segera menggeleng.
Ia berusaha mengatur napas dan menenangkan pikirannya.
Sebagai anggota inti Organisasi Rasi Bintang, ia telah menghadapi banyak situasi berbahaya.
Namun anehnya, berdiri di toko kecil ini terasa jauh lebih menegangkan.
Sementara itu, We Lin kembali menyusun beberapa kalung di etalase.
Baginya kejadian tadi tidak terlalu penting.
Cermin itu memang aneh sejak awal.
Kalau tiba-tiba mengeluarkan tulisan, itu bukan hal yang mengejutkan lagi.
“Kalau tidak ada masalah, silakan lihat-lihat.”
kata We Lin santai.
Wanita itu terdiam sejenak.
Kemudian akhirnya mengambil keputusan.
“Sebenarnya... aku datang membawa sebuah undangan.”
“Hm?”
We Lin mengangkat kepala.
“Undangan?”
“Benar.”
Wanita itu mengeluarkan gulungan kecil berwarna biru tua.
Lambang tujuh bintang terlihat jelas di permukaannya.
“Organisasi kami ingin mengundangmu sebagai tamu kehormatan.”
We Lin berkedip.
“Tamu kehormatan?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Pertanyaan sederhana itu langsung membuat wanita tersebut terdiam.
Ia tentu tidak mungkin mengatakan bahwa seluruh organisasi sedang gempar karena keberadaan Mata Dewa.
Karena itu ia menjawab dengan hati-hati.
“Kami hanya ingin menjalin hubungan baik.”
“Hubungan baik?”
“Benar.”
We Lin semakin bingung.
Ia mengenal organisasi itu tapi tidak tahu kalau orang orang yang ada di organisasi ingin mengundang nya secara langsung.
Kenapa tiba-tiba ingin menjalin hubungan baik?
“Kalau aku menolak?”
tanya We Lin.
Wanita itu langsung panik.
“Tidak! Maksudku... tentu saja itu hakmu.”
“Tapi kami akan sangat senang jika kau datang.”
Nada suaranya terdengar sangat sopan.
Terlalu sopan.
We Lin menatapnya beberapa saat.
Kemudian menerima gulungan tersebut.
“Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya.”
Mendengar jawaban itu, wanita berjubah biru diam-diam menghela napas lega.
Setidaknya misi utamanya tidak gagal.
Saat itulah—
Ngorrr...
Suara dengkuran keras kembali terdengar dari pojok toko.
Keduanya menoleh secara bersamaan.
Tetua Morcant masih tidur dengan posisi yang hampir sama seperti sebelumnya.
Wanita berjubah biru mengernyit.
Semakin lama ia melihat lelaki tua itu, semakin aneh perasaannya.
Namun ia tidak dapat menemukan alasannya.
Akhirnya ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.
“Kalau begitu, aku permisi.”
“Silakan.”
Wanita itu membungkuk sedikit sebelum berjalan menuju pintu.
Ting!
Bel pintu berbunyi pelan saat ia keluar.
Suasana toko kembali sunyi.
We Lin memandangi gulungan undangan di tangannya.
“Hari yang aneh.”
Ia meletakkannya di meja tanpa membukanya.
Lalu kembali bekerja.
Beberapa menit berlalu.
Tiba-tiba—
“Dia sudah pergi?”
Suara serak terdengar dari pojok toko.
We Lin menoleh.
Tetua Morcant sedang duduk sambil mengusap matanya.
“Kakek akhirnya bangun juga.”
“Hmm.”
Tetua Morcant melirik ke arah pintu.
“Siapa tamu tadi?”
“Seseorang dari Organisasi Rasi Bintang.”
Mata Tetua Morcant sedikit menyipit.
“Dan dia ingin apa?”
“Memberi undangan.”
“Undangan?”
“Katanya aku tamu kehormatan.”
Tetua Morcant terdiam cukup lama.
Kemudian ia menatap We Lin.
Lalu menatap gulungan di atas meja.
Lalu menatap We Lin lagi.
“Dan kau menerimanya?”
“Aku bilang akan mempertimbangkannya.”
Mendengar jawaban itu, Tetua Morcant tiba-tiba tertawa kecil.
“Hahaha.”
“Ada yang lucu?”
“Tidak.”
Tetua Morcant menggeleng.
“Hanya saja sudah lama sekali aku tidak melihat Organisasi Rasi Bintang bersikap serendah itu.”
“Tapi aku bahkan tidak mengenal mereka.”
“Itulah bagian yang lucu.”
We Lin tidak mengerti maksudnya.
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, Tetua Morcant sudah berdiri dan meregangkan tubuhnya.
“Ah, tidur memang melelahkan.”
“Bukannya tidur itu untuk istirahat?”
“Itu tergantung orangnya.”
jawab Tetua Morcant dengan wajah serius.
We Lin hanya menghela napas.
Sementara itu, jauh di markas Organisasi Rasi Bintang...
Wanita berjubah biru baru saja kembali.
Puluhan pasang mata langsung tertuju kepadanya.
“Bagaimana hasilnya?”
tanya salah satu tetua.
Wanita itu menarik napas panjang.
“Undangan berhasil disampaikan.”
Mendengar itu, beberapa tetua terlihat lega.
“Dan?”
Wanita itu teringat kembali tulisan yang muncul pada Cermin Mata Dewa.
Ekspresinya menjadi serius.
“Artefak itu menolak keberadaanku.”
Ruangan langsung sunyi.
“Menolak?”
“Ya.”
“Secara langsung.”
Para tetua saling berpandangan.
Mereka sudah menduga bahwa pemilik baru Mata Dewa bukan orang biasa.
Namun bukti yang muncul semakin memperkuat dugaan tersebut.
Salah satu tetua tua memejamkan mata.
“Kalau begitu, kita harus menunggu.”
“Menunggu?”
“Ya.”
“Jangan melakukan tindakan gegabah.”
“Jangan mengganggunya.”
“Dan jangan membuatnya marah.”
Suasana menjadi semakin serius.
Sementara para petinggi Organisasi Rasi Bintang sibuk memikirkan berbagai kemungkinan...
Orang yang mereka khawatirkan justru sedang menyapu lantai toko sambil bertanya-tanya.
“Undangan ini dapat hadiah makan gratis tidak ya?”
Baginya, itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.