“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”
Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.
Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Queen of Underworld
Ketegangan di Aula Utama kastil Isla de la Rosa memadat seperti cairan timah yang siap membeku. Di bawah kilauan lampu gantung kristal yang memantulkan bayangan kepala serigala di dinding batu, Kael Arden tidak lagi melihat Aurelia Vane sebagai CEO visioner yang gemar memanipulasi lantai bursa saham. Di atas kursi beludru merah yang paling tinggi itu, Aurelia menjelma menjadi entitas yang sepenuhnya berbeda, seorang penguasa absolut yang memegang kendali atas urat nadi kejahatan global.
Tangan kiri Kael masih mengunci jemari wanita itu di bawah meja besi hitam, merasakan kehangatan yang kontras dengan atmosfer mematikan di sekitar mereka. Matanya yang tajam menyapu sekeliling ruangan, mengamati bagaimana para pria tertua dan paling kejam di bumi bertingkah di hadapan Aurelia. Nikolai Volkov, yang beberapa menit lalu hampir kehilangan jarinya, kini duduk tegak tanpa berani mengangkat dagunya terlalu tinggi. Di sisi lain meja, Tanaka, sang pemimpin Yakuza Yamaguchi gumi, perlahan membuka map kulit tipis di hadapannya dengan gerakan yang sangat formal, hampir menyerupai ritual penghormatan. "Ratu," Tanaka membuka suara, suaranya parau namun sarat akan kepatuhan yang mendalam. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah Aurelia sebelum berbicara. "Ini adalah laporan mengenai integrasi jalur pelabuhan baru di Asia Timur. Setelah Vane Group mengambil alih distrik logistik di Selat Malaka, omset operasional kami meningkat sebesar tiga puluh persen. Kami telah menyiapkan upeti tahunan dan memperbarui sumpah setia faksi kami di bawah bendera Vane."
Kael memperhatikan dokumen yang digeser Tanaka ke tengah meja. Angka-angka yang tertera di sana adalah nominal yang mampu membiayai anggaran militer sebuah negara berkembang selama satu dekade penuh. Dan semua itu mengalir ke satu muara, rekening cangkang yang dikendalikan oleh jemari indah wanita di sampingnya. "Aku menerima laporanmu, Tanaka," jawab Aurelia, suaranya datar namun memiliki resonansi dominasi yang begitu kuat hingga tak ada satu pun pria di ruangan itu yang berani memotongnya. "Tetapi aku mendengar faksi junior kalian di Shibuya mencoba bermain di belakangku dengan menyelundupkan komoditas tanpa enkripsi resmi dari Vane Group. Apakah kau perlu diingatkan kembali bagaimana nasib faksi yang mencoba memotong jalurku?"
Tanaka mendadak menegang. Pria tua dengan setelan kimono sutra hitam itu kembali membungkuk, kali ini lebih dalam hingga dahinya nyaris menyentuh permukaan meja besi. "Itu adalah kesalahan dari para pemuda yang tidak tahu diri, Ratu. Saya pribadi telah mengeksekusi mereka kemarin pagi. Kepala mereka sudah berada di dasar laut Tokyo. Sumpah kami pada Vane Group tidak akan pernah goyah."
Melihat pemandangan itu, sepotong kesadaran baru menghantam kepala Kael seperti godam raksasa. Aurelia jauh lebih berbahaya dari yang ia kira. Di pemerintahan, Kael adalah seorang Perdana Menteri yang ditakuti karena hukum, konstitusi, dan pengaruh politiknya di parlemen. Namun, semua kekuasaan itu dibatasi oleh birokrasi, opini publik, dan persidangan negara. Di sini, di dalam sarang para serigala ini, Aurelia bertakhta tanpa ada batasan apa pun. Hukum di tempat ini adalah kata-katanya, dan pengadilannya adalah kematian instan. Alih-alih merasa ngeri atau ingin melarikan diri kembali ke pemerintahan yang aman, Kael justru merasakan sebuah letupan kegilaan yang semakin liar di dalam kepalanya. Rasa posesif dan obsesinya kini telah bermutasi menjadi sebuah pemujaan yang berbahaya. Ia tidak ingin menyelamatkan wanita ini dari kegelapan, ia ingin mengunci dirinya sendiri di dalam kegelapan yang sama agar tidak ada satu pria pun di dunia bawah ini yang bisa menyentuh apa yang menjadi miliknya.
Di bawah meja, Kael mempererat cengkeraman tangannya pada jemari Aurelia, ibu jarinya mengusap kulit sarung tangan brokat hitam wanita itu dengan intensitas yang menuntut. Aurelia melirik Kael dari sudut matanya. Ada kilat kepuasan yang sensual di sepasang netra obsidiannya melihat bagaimana sang Perdana Menteri sama sekali tidak goyah oleh pemandangan brutal di hadapannya. "Sekarang," Aurelia kembali mengalihkan pandangannya pada meja bundar, mengetukkan kuku emasnya yang panjang. "Mari kita bicarakan mengenai Alejandro. Aku mendengar kartel Medellin-mu mencoba membuka negosiasi rahasia dengan beberapa menteri di pemerintahan barat untuk mengamankan jalur pribadimu. Apakah kau lupa siapa yang menghancurkan karier politik para menteri itu jika mereka berani menentangku, Alejandro?"
Alejandro, bos kartel yang terkenal kejam dan tanpa ampun di belahan bumi barat, perlahan mengangkat kedua tangannya ke atas meja, sebuah tanda penyerahan diri yang mutlak. Wajahnya yang garang kini tampak pucat di bawah temaram lampu kristal. "Itu hanya rumor yang disebarkan oleh musuh-musuh kita, Ratu," ujar Alejandro dengan suara yang bergetar halus. "Kartel Medellin tahu betul bahwa tanpa perlindungan finansial dan jalur logistik dari Vane Group, kami tidak lebih dari sekadar target latihan militer. Kesetiaan kami sepenuhnya milik Anda."
Kael menyaksikan bagaimana satu per satu penguasa dunia bawah itu bertekuk lutut di hadapan Aurelia. Sifat dominan Aurelia yang begitu mutlak tidak hanya menekan ego para bos mafia, tetapi juga membakar habis sisa-sisa kewarasan Kael sebagai seorang pejabat negara yang bermoral. Pria itu telah sepenuhnya diracuni oleh pesona beracun sang Ratu Dunia Bawah. Dii tengah-tengah laporan loyalitas yang terus mengalir, insting predator Kael yang sempat menangkap kejanggalan di awal rapat kembali berteriak. Mata elang Kael perlahan bergeser dari meja rapat, beralih fokus pada sosok Marcus, letnan senior lingkaran dalam Aurelia yang berdiri di dekat pilar batu besar di lambung kanan aula. Pria itu kembali menatap ponsel enkripsinya, dan kali ini, Kael bisa melihat dengan jelas ada ketegangan yang tidak wajar pada garis rahang Marcus. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, mengirimkan sebuah pesan singkat berkode. Di saat yang sama, tiga pengawal bersenjata yang berdiri di pintu belakang mulai menggeser posisi berdiri mereka, memblokir jalur keluar darurat dan perlahan-lahan mengarahkan moncong laras senapan mereka ke arah tengah ruangan, tepat ke posisi duduk Aurelia.
Kael tahu persis kode-kode taktis seperti ini. Ini adalah persiapan untuk sebuah kudeta instan. Bau busuk pengkhianatan kini telah berubah menjadi ancaman nyata yang siap meledak dalam hitungan detik. Kael tidak melepaskan genggaman tangannya pada Aurelia. Sebaliknya, ia menarik tangan wanita itu sedikit, memberikan kode remasan khusus sebanyak tiga kali pada jemarinya, sebuah isyarat taktis yang berarti: Ancaman dari arah jam empat. Aurelia tidak menunjukkan reaksi terkejut. Matanya yang tajam tetap menatap lurus ke arah para bos mafia, namun Kael bisa merasakan otot-otot tangan wanita itu menegang, bersiap untuk melepaskan keganasannya sendiri.
"Kael," bisik Aurelia dengan suara yang teramat sangat rendah, nyaris menyerupai desiran angin malam di antara suara Nikolai Volkov yang kembali berbicara mengenai kuota distribusi. "Apakah kau siap menghadapi kekacauan pertama di istanaku?"
Kael menyunggingkan senyumnya yang paling dingin, sepasang matanya berkilat penuh dengan api obsesi dan kepemilikan yang mutlak. Di bawah mantel hitamnya, tangan kanannya perlahan merogoh Glock 19 yang telah ia siapkan kembali. "Aku tidak datang ke sini untuk menjadi penonton, Aurelia," bisik Kael parau, suaranya dipenuhi oleh rasa haus akan darah yang aneh dan sensual. "Ingat kataku di kapal... jika tempatmu adalah di puncak kegelapan ini, maka aku akan menjadi pedang yang menebas siapa saja yang mencoba menurunkanmu dari takhtamu. Biarkan para anjing ini tahu, siapa pria yang berdiri di samping ratu mereka."
Aurelia menarik napas dalam-dalam, aroma black rose miliknya menguar tajam di tengah atmosfer yang kian mencekik. Detik berikutnya, jentikan jari emas Aurelia kembali terdengar, namun kali ini bukan untuk meminta laporan, melainkan sebagai tanda dimulainya sebuah pertumpahan darah yang akan menguji batas akhir dari obsesi terlarang sang Perdana Menteri.