Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.
Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.
Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.
Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.
Bertahan… atau melepaskan?
Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mint-Choco in New York Cheesecake
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bintang sedang bersidekap selagi jari telunjuk dan jempol dari tangan kanan itu memijat tulang hidung, lagi. Tentu saja keributan Alea dan Biru menjadi dasar dia melakukan itu. Dua kali menempati kursi penonton untuk menikmati cerita yang berbeda, mereka harus berakhir dengan beradu argumen untuk kesekian kalinya.
“Kalau sakit, kenapa tadi masih duduk di sebelah gue?” tanya Alea menuntut penjelasan.
“Alea? Lo tahu sendiri, ‘kan, kalau kursinya penuh?”
Biru memanglah lebih muda dari Alea, tapi cara memanggil gadis itu tanpa embel-embel ‘Kakak’ sudah mendarah daging di ingatannya. Baik Bintang maupun Alea sudah menyinggung kebiasaan tidak baik itu, tetapi Biru masihlah kepala batu. Kalau ada maunya saja pemuda itu akan sadar tentang tata krama dalam berbicara.
“Lo bisa, ‘kan, tukar tempat dengan Bintang atau Aluna?!”
Biru bergeming dengan tampang acuhnya.
“Ck! Lo benar-benar—”
Bintang berhasil menggapai tangan Alea sebelum gadis itu mendaratkan satu pukulan pada si bungsu.
“Tolong, berhentilah bertengkar,” minta Bintang, jengah. Netranya melihat mereka bergantian.
“Dia yang duluan, Kak!”
“Bukannya gue sudah minta maaf? Kenapa masih aja lo bahas?” tukas Alea tak kalah pedas.
“Lo pikir dengan minta maaf aja cukup? Ini sakit, tauk!”
Biru menunjuk lengan kirinya. Tiga garis dan kulit memerah terpampang di sana.
“Ok! Sekali lagi gue minta maaf. Gue nggak sengaja buat lo terluka karena kaget dengan adegan-adegan di cerita tadi,” mohon Alea.
Dia berhasil menurunkan ego manakala bekas cakaran pada lengan Biru memang sangat membekas.
Biru hanya berdengung dan langsung menurunkan lengan dari kemeja yang digunakan sebagai luaran secara kasar.
“Kak?”
Tanpa memakan tiga detik, suara Biru tiba-tiba keluar dengan lantang. Perawakan gadis yang tertangkap indera penglihatannya menjadi penyebab senyum Biru begitu saja merekah—seperti sebelum Aluna pamit ke toilet. Alhasil, Bintang dan Alea menoleh ke belakang secara serempak.
Aluna yang tertegun beberapa langkah dari mereka langsung menampilkan senyum begitu Biru memanggil. Kemudian, dia berjalan mendekat.
“Ada apa ini? Bertengkar lagi, ya?”
Aluna memperhatikan satu persatu wajah manusia di depannya. Terutama Bintang yang sudah memasang wajah bosan.
“Biasa …,” katanya dengan dagu mengarah ke Alea juga Biru.
Bibir Biru kembali manyun. Sedangkan Alea, ia tersenyum kaku selagi mengusap tengkuk.
“Hehehe. Ayo ikut aku!” ajak Aluna tanpa bertanya lebih.
Selagi menggandeng tangan Teman Jiwa-nya, Aluna memimpin langkah mereka pergi. Dan sampailah empat remaja tersebut di salah satu toko es krim.
“Sepertinya enak kalau mencairkan suasana dengan ini,” ungkap Aluna antusias.
...***...
Tidak ada topik yang dibahas ketika masing-masing dari mereka menikmati es krim kesukaan. Duduk melingkar di atas rumput taman di lokasi yang sama, mereka menghayati momen mereka selagi sesekali memperhatikan orang-orang di sekitar.
Benar kata Aluna, es krim mereka berhasil mencairkan suasana dan merilekskan diri setelah beberapa kejadian yang bisa dibilang cukup membuat sakit kepala. Teriakan Alea dan Biru yang selalu bersahutan demi mempertahankan pendapat tak absen untuk membuat dua manusia yang bersama mereka saling menggeleng; tidak paham dengan jalan pikiran keduanya.
Tidak lupa untuk makan dinginnya es krim yang perlahan meleleh, dua insan pemilik kesabaran setipis tisu itu kini sedang sibuk mengutak-atik ponsel masing-masing.
Setidaknya, dunia sedikit tenang sekarang.
“Aluna?” panggil Bintang yang duduk di sisi kanan pemilik nama.
“Iya?” balas Aluna seraya mencoba menyuapkan es krim mint-choco pada rongga mulut tanpa melihat Bintang.
“Lihat gue!” bisiknya.
“Sini!” ucap Bintang begitu Aluna menoleh. Tangan kanannya yang memegang tisu mencoba meraih sisi kanan wajah sang gadis. Tepat di sudut bibir.
Tenggorokan Aluna tercekat.
“Nah, sudah,” lirih Bintang kemudian.
Fokus pandangannya beralih dari bibir ranum itu menuju retina si pemilik yang masih menatap tanpa berkedip. Waktu mereka seakan berhenti dengan tangan Bintang yang masih belum menjauh dari wajah Aluna.
“Kak Bintang, ayo pergi ke pantai setelah ini.”
Mendengar suara Biru menginterupsi pendengaran, mereka kembali ke permukaan.
“K-kenapa, Biru?” tanya Bintang selagi mengarahkan diri ke Biru. Napas lega berhembus samar begitu mendapati yang lebih muda masih menatap fokus ponselnya.
Jika Bintang demikian, maka Aluna segera mengalihkan wajah memerah itu ke sisi kiri, dimana Alea sedang duduk menikmati ‘sesuatu’ di benda pipihnya. Kelegaan berhasil sedikit tercipta di sela-sela detak jantungnya yang kembali tidak bersahabat.
“Ayo ke pantai,” ulang Biru selagi menyimpan ponsel dalam saku atas kemeja.
“Kenapa?” tanya Bintang.
“Mumpung ada kesempatan, Kak. Kita, ‘kan, nggak tahu kapan bisa hangout bareng lagi.”
“Benar juga, Bin,” imbuh Alea. “Aluna juga suka lihat senja. Benar, nggak, Nona Savira?” tambahnya selagi meletakkan tangan di lutut berbungkus jeans Aluna yang bersila. Alisnya naik turun seperti memberi isyarat agar sahabatnya ini memberikan dukungan pada usulan Biru.
“A-ah, iya.” Aluna mengangguk kaku.
Alea kian menarik kedua ujung bibir ke atas mendengar itu dari Aluna.
Hening sesaat sampai Bintang mengangguk setelah memakan sesendok es krim varian rasa New York Cheesecake.
...***...
Mobil melaju dengan tenang di bawah langit yang mulai sore. Perjalanan terasa damai begitu bayi beruang dan Alea terhanyut dalam alam mimpi. Bintang yang fokus mengemudi, sesekali bersenandung ria mengikuti lirik lagu yang tengah mengisi kehampaan di sana.
Aluna tidak tidur. Dia terlihat adem-ayem di tempatnya semula selagi melihat keluar jendela. Namun nyatanya, apa yang terlihat bukan sesuatu yang bisa dijadikan patokan.
“Aluna?” panggil Bintang lembut.
Yang dipanggil menoleh dan mendapati pandangan Bintang tertuju padanya melalui kaca spion tengah.
“Lo kenapa?”
“Aku nggak kenapa-napa,” balasnya cepat.
Bintang terdiam sejenak. “Nggak ada yang buat lo nggak nyaman, ‘kan?” tanya Bintang memastikan.
Aluna mengangguk pelan. Terlalu pelan untuk disebut yakin.
“Aku baik-baik saja, Bintang,” ulangnya dengan napas berat.
Di balik senyum kecilnya, ada sesuatu yang mengganjal di dada; perasaan yang belum berani ia sebut cemburu, apalagi kehilangan.
Bintang mengangguk singkat. “Baiklah,” finalnya kemudian sebelum kembali fokus pada jalanan.
Aluna kembali menatap keluar jendela. Cahaya matahari sore mengalir di kaca mobil, memantulkan bayangan wajahnya sendiri—tenang di luar, berisik di dalam.
Tangannya mengepal pelan di pangkuan. Perpaduan sensasi segar dari mint dengan manisnya cokelat yang tadi membuatnya tersenyum kini hanya menyisakan getir di ujung lidah.
Ia teringat tangan Bintang yang menyentuh sudut bibirnya. Lalu, tangan yang sama menahan tangan Alea dari yang semula memegang pergelangan berakhir dengan telapak yang menyatu.
Dua sentuhan.
Dua rasa.
Hangat … dan perih.
“Aku baik-baik aja. Semua baik-baik saja. Nggak ada yang perlu dicemaskan,” bisiknya dalam hati. Kalimat itu terdengar lebih seperti doa daripada keyakinan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...