Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangun Nak
Tak ingin terjadi apa-apa dengan Dita Ibu Rani dan Dokter Wijaya membawa Dita ke rumah sakit miliknya. Dita di tangani dengan baik dan cepat oleh tim medis di sana. Dita di tempatkan di ruang perawatan khusus pemilik rumah sakit. Ibu Rani pun segera memberi kabar Ibu Jelita untuk memberitahukan keadaan Dita.
Ibu Jelita menenangkan Ibu Rani yang terus menangis karena rasa trauma akan kehilangan putrinya. Semenjak Dita ikut bersamanya ini kali pertama Dita mengalami sakit hingga tak sadarkan diri. Namun, Ibu jelita berhasil membuatnya tenang walau Ibu Jelita tak bisa ada di sisi putrinya saat ini. Ibu Jelita tengah di sibukkan oleh persiapan pernikahan putri pertamanya.
"Mba Rani tenang ya. Supaya Dita juga lebih tenang. Kalo Ibu panik Dita pasti ngga nyaman juga demamnya ngga akan turun nanti. Mba Rani harus kuat supaya Dita juga kuat." Ibu Jelita.
"Tapi saya takut Mba. Dita belum pernah seperti ini sebelumnya. Saya juga jadi membayangkan saat Dania pergi dulu juga begini Mba dia ngga mau buka matanya huhuhu..." Jawab Ibu Rani di sela isakannya.
Walau Ibu Jelita pun di landa panik namun Ibu Jelita harus bisa membuat Ibu Rani tenang begitu juga dengan dirinya.
"Mba, percaya sama saya. Dita hanya kelelahan dan kurang minum. Dita dehidrasi makanya Dita demam. Mba doakan saja ya biar Dita segera pulih. Saya titip Dita ya Mba. Saya bantu doakan dari sini." Ibu Jelita.
"Iya Mba. Terima kasih."
Panggilan pun terputus Ibu Rani kembali masuk ke dalam kamar perawatan Dita. Di sana ada tim medis dan Dokter Wijaya.
"Semua hasilnya bagus dok. Sepertinya Mba Dita hanya kelelahan dan dehidrasi." Lapor salah satu dokter.
"Baiklah, terima kasih. Maaf saya sudah merepotkan kalian. Saya dan istri benar-benar panik dan trauma kehilangan Dania." Dokter Wijaya.
"Tidak perlu sungkan Dokter. Kita semua melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Mba Dita masih akan tertidur karena efek obat yang di berikan. Mungkin tengah malam nanti akan terbangun atau beberapa jam kedepan. Kami akan siapkan makan malam untuk Mba Dita karena pasti akan lapar." Ucap salah satu dokter.
"Baik terima kasih. Kalian bisa kembali bekerja." Dokter Wijaya.
"Sama-sama Dokter kami permisi."
Setelah kepergian tim medis Ibu Rani pun duduk di tepi ranjang Dita. Tangannya terulur mengusap surai lembut rambutnya. Kemudian Ibu Rani memeluk Dita tak ingin kehilangan Dita.
"Semua akan baik-baik saja Mi. Dita kita tak akan kemana-mana." Dokter Wijaya.
Ibu Rani hanya menganggukkan kepalanya dan tatapannya tak beralih sedikitpun dari Dita.
"Sayangnya Mami jangan bikin Mami takut ya Nak. Sembuh ya sayang." Bisik Ibu Rani.
Karena mereka belum makan malam. Bibi pun membawakan makan malam untuk mereka juga pakaian ganti untuk Ibu Rani, Dokter Wijaya dan Dita. Bibi datang di antar Pak bagio supir Dita. Bibi merayu Ibu Rani agar mau makan demi menguatkan Dita.
"Ayo Ibu makan dulu. Jangan sampai pas Mba Dita sadar nanti malah Ibu yang sakit. Nanti Mba Dita juga pasti sedih loh Bu." Bujuk Bibi.
"Iya Mi. Mami makan dulu. Nanti kalo Dita siuman Mami juga harus suapi Dita makan loh." Dokter Wijaya.
Dengan berbagai bujuk Rayu akhirnya Ibu Rani pun mau memakan makanannya. Bibi bisa bernafas lega begitu pun dengan Dokter Wijaya. Setelah di pastikan dua majikannya makan malam dengan benar Bibi pun berpamitan pulang dan menyisakan makanan untuk Dita saja.
Sampai hampir tengah malam tak ada tanda-tanda Dita akan siuman membuat Ibu Rani semakin khawatir. Dokter Wijaya tertidur sambil duduk di sofa sementara Ibu Rani masih setia duduk di bangku samping Dita.
"Nak, bangun yuk. Sayang nya Mami belum makan malam loh. Makan dulu yuk Mami suapi ya sayang. Bangun yuk nak." Ucap Ibu Rani lirih.
Walau bukan darah dagingnya Ibu Rani benar-benar mencintai Dita tulus melebihi dirinya sendiri. Dita bukan Dania, baginya Dita adalah Dita. Kesayangannya dan juga suaminya.