NovelToon NovelToon
OBSESI CINTA PERTAMA

OBSESI CINTA PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Kriminal dan Bidadari / Idola sekolah
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andara prina Larasati

"I think I'm addicted to your body"-Jeffranz Altair-


Sherra menyesali keputusannya malam itu. Malam dimana ia menyerahkan tubuhnya pada cinta pertamanya---Jeffranz Altair si Perisai PASBARA yang terkenal dingin dan kasar.

Sherra menyesal. Karena setelah hari itu sikap Jeff berubah. Yang awalnya benci menjadi terobsesi.

Jeff menghancurkan masa depan Sherra dengan mengurung gadis itu dalam hubungan rahasia.

Sherra terpaksa menjadi selingkuhan.
Diperlakukan layaknya binatang.
Hingga dianggap wanita murahan.

Hidupnya hancur berantakan. Namun Jeff sama sekali tak peduli.

Karena bagi Jeff apa yang ia lakukan pada Sherra, adalah hukuman karena gadis itu berani mengusiknya.







-----

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara prina Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Sakit tanpa luka

...TOXICSERIES...

Sherra menggosok tubuhnya dengan sikat cuci hingga menciptakan luka goresan yang cukup parah pada tangan dan kakinya. Sudah hampir dua jam ia menangis di bawah derasnya air shower. Gadis itu menangis sambil terus menggosok kulitnya, berharap jejak si brengsek itu hilang dari tubuhnya.

Perih tak dirasa. Yang ia inginkan adalah hilangnya sesak di dada.

Gadis itu terus terisak. Rasanya nestapa saat tubuhnya dilecehkan dengan begitu kasar oleh orang yang ia cinta. Sakitnya tak seberapa, namun kecewa serta perih di batinnya tak bisa sembuh begitu saja. Pasti akan membekas selamanya.

Jeff, benar benar iblis. Lelaki itu kembali memaksanya untuk melayani nafsu bejatnya hanya karena ia menolak menjadi seorang wanita rendahan. Tapi lelaki itu semakin brutal dan malah mengancam akan menyebarkan video mereka jika sampai Sherra mengadukkan hal ini.

Masih teringat jelas bagaimana lelaki itu pergi tanpa dosa setelah menggauli Sherra di gudang tak terpakai. Masih di jam sekolah. Mengabaikkan rasa malu atau bahkan kekhawatiran Sherra jikalau mereka kepergok melakukan hal tak senonoh itu di lingkungan pembelajaran.

Sherra hanya bisa menangis. Bahkan setelah lelaki itu pergi. Sherra tak bisa melakukkan apa apa dan hanya bisa terduduk sambil memakai bajunya dengan tangan bergetar dan tubuh yang penuh jejak mejijikkan.

Sherra tak bisa membayangkan. Betapa pilu hidupnya.

Direndahkan oleh orang yang ia cinta. Hingga harus diperlakukkan layaknya sampah.

Tubuh gadis itu yang semula bergetar karena tangis yang tak kunjung usai perlahan mulai tenang namun tergantikan dengan berat di kepalanya, hingga saat matanya hendak tertutup ,suara Kai menggema mencari keberadaannya.

BRAK

"SHERRA!"

"Sher bangun!!" Kai menepuk nepuk pipi Sherra saat dirasa gadis itu tak ada pergerakan. Ia mematikkan showernya lalu membawa Sherra dengan panik, lalu membaringkan tubuh rapuh itu di ranjang.

"Shera...apa yang terjadi sama kamu?"

...TOXICSERIES...

Berbicara soal pertunangan, Jeff sebenarnya tak begitu peduli dengan pertunangan ia dengan Caca. Karena sedari awal pertunangan ini hanyalah kepentingan bisnis saja. Selebihnya Jeff hanya menjalankan apa yang diperintahkan orang tua.

"Menurut kamu bagus yang ini, apa yang ini?" Caca menyocokkan dua baju dress berbeda warna pada Jeff.

"Terserah kamu aja" jawab Jeff. Gadis itu mendengus.

"Pilihin dong. Bagusan yang mana?" kata Caca setengah memaksa. Jeff menghela nafas pelan lalu menyimpan ponselnya.

"Yang biru" jawabnya. Caca mengerucutkan bibirnya.

"Tapi lebih bagus yang pink gak sih? Lebih lucu?"

Sebenanya bukan sekali dua kali Jeff diajak untuk fitting baju di butik kesayangan gadis itu. Dan inilah yang Jeff kesalkan, Caca selalu memberi Jeff pilihan walau akhirnya gadis itu akan membawa baju pilihannya.

"Yaudah terserah kamu"

"Ck, kamu emamg gak ngerti kesukaan aku" Selalu saja serba salah. Kalau Caca bukanlah anak titipan sahabat orang tuanya. Ingin rasanya Jeff meninggakkan gadis itu sendiri disini.

Lelaki itu menyurai rambutnya kebelakang sambil melirik ponselnya. Diam diam ia membuka galeri dan memilih foto Sherra disana. Bibirnya membentuk seringaian licik.

Rencananya untuk memerangkap Sherra telah berhasil. Dan setelahnya, Jeff akan membuat gadis itu semakin tunduk dalam perintahnya.

"Hallo?"

"...."

"Gue tunggu di apartemen jam 8 malam. Kalau lo ga datang? Siap siap vidio kita kesebar"

...TOXICSERIES...

Netra Sherra perlahan terbuka saat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pergelangan tangannya. Yang rupanya adalah telapak tangan Kai yang menggenggamnya. Lelaki itu tidur sambil terduduk.

Sepertinya kelelahan karena mengurus Sherra yang pingsan. Sherra memcoba membangunkan Kai dan sahabatnya itu berhasil bangun sambil celingak celinguk kebingungan.

"Kamu udah sadar?" Ujar Kai lega. Lalu mengusap pipi Sherra.

"Masih pusing? Mau minum?" Kai membantu Sherra untuk minum kemudian merapihkan letak selimut gadis itu.

"Kai aku harus ke rumah sakit. Mama pasti khawatir aku belum kesan-aws... "

"Sher jangan banyak gerak dulu"Sherra memegag lengannya yang terasa perih. Kai segera bangkit lalu meraih sesuatu dari kotak P3K yang memang tersedia dirumah Sherra.

"Siniin tangan kamu" Dengan telaten Kai mengoleskan salep pada lecet di lengan Sherra. Berusaha mengabaikkan ringisan gadis itu dan fokus mengobati lukanya..

"Kenapa bisa kaya gini?" tanya Kai. "Kalau kamu ada masalah, cerita sama aku bukan nyakitin diri kamu kaya tadi" Kai mengerti, hubungan keduanya hanyalah sebatas sahabat semata. Tapi bukan berarti Kai tak berhak mengetahui luka Sherra. Justru keduanya bersama untuk saling melengkapi dan saling menjadi rumah untuk bercerita.

"Kai... "

"Kenapa, hm?" Sherra menggeleng.

"Aku tau, kamu mungkin stress mikirin biaya Mama Dinda. Jangan khawatir ya? Aku bantu kamu sedikit sedikit. Kita berjuang bareng bareng ya?" Tutur Kai begitu tulus. Akan tetapi bukan hal itu yang membuat Sherra serapuh ini.

"Kai.... Jangan tinggalin aku sendiri ya?" ujarnya lirih. Kai memganggukkan kepalanya, mengusap kedua pipi sherra lembut.

"Aku gaakan tinggalin kamu"Jawabnya yakin

"Aku janji"

Kai takkan pernah pergi sekalipun di masa depan nanti ia dihadapkan dengan pilihan sulit. Kai akan terus di samping Sherra dalam keadaan apapun. Itulah janjinya 10 tahun lalu yang masih tersemat dalam jiwanya.

Drrtt

Drrtt

Sherra melirik kearah ponselnya diatas nakas. Kai reflek meraih ponsel Sherra kemudian memberikkannya pada gadis itu tanpa melihat siapa penelponnya.

"Siapa?" tanya Kai. Sherra yang melihat nama si brengsek itu terpampang disana langsung memasang wajah tegang.

"Kenapa Sher?" tanya Kai khawatir melihat raut wajah Sherra. Gadis itu menggeleng sambil menggerakkan tangannya agar Kai tak khawatir. Seperkian detik kemudian ia pun mengangkat telfonnya.

"Hallo?"

...TOXICSERIES...

Dan disinilah Sherra sekarang. Apartemen Jeff.

Setelah tadi Sore mendapat telfon penuh ancaman dari lelaki itu Sherra bergegas pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan Mama Dinda kemudian menyuapi seraya merawat mama dinda sebentar sebelum akhirnya izin untuk pulang. Dan mungkin tak menginap disana.

Sebenarnya Sherra riskan untuk berbohong seperti ini. Namun ancaman Jeff benar benar menghantuinya membuat Sherra mau tak mau menuruti lelaki itu.

Ting.

Sherra memencet bell apartemen Jeff untuk kedua kalinya. Harapnya cemas, semoga saja Jeff tak ada di dalam dan Sherra bisa kembali untuk pulang. Karena jujur ia tak mau terjebak di ruangan penuh kesan menyakitkan itu lebih lama.

"Kayanya gak ada deh" Sherra menghela nafas lega saat setelah 5 menit menunggu sang empu tak kunjung keluar dari sana. Dengan senyum indah yang terpatri di bibirnya Sherra bergerak mundur lalu membalikkan tubuhnya.

Namun baru satu langkah. Terdengar pintu apartemen dibelakangnya terbuka. Aura mencekam mulai terasa.

"Mau kabur, hn?"

Sherra membalikkan tubuhnya dengan gemetar. Jeff menatap kesekelilingnya sebentar sebelum menarik gadis itu masuk kemudian mengunci pintu apartemennya.

...TOXICSERIES...

"Buka Baju lo!"Sherra menatap Jeff tak bergeming. Gadis itu masih memegangi erat cardigan putih tulang yang membalut tubuh kurusnya. Jeff menyurai rambutnya kebelakang.

"Cepetan!" Desak Jeff. "Atau perlu gue sebar Vidio itu sekarang?" Jeff meraih ponselnya sambil kembali menunjukkan "Video" mereka.

"Tinggal kirim" Ujar Jeff. Sherra dengan cepat menangkap tangan lelaki itu lalu memghela nafasnya kasar. Dengan perlahan ia membuka satu persatu kancing cardigannya. Lalu inner dressnya hitamnya, menyisakan pakaian dalam berwarna senada yang kontras dengan kulit putihnya.

Netra Jeff menyipit. Lelaki itu berjalan mendekat kemudian menyentuh lecet pada kulit Sherra hingga gadis itu meringis.

"Siapa yang udah lakuin ini?" Sherra terdiam. Jeff mencengkram kulit lukanya membuat Sherra menggeram menahan perih yang langsung terasa hingga ubun ubun kepalanya.

"Le-lephas aws... "

"Jawab gue! Siapa yang udah ngotorin badan lo?!"

Kotor katanya.

Sherra tertawa dalam hati. Bukankah lebih baik kulitnya "kotor" karena luka lecetan daripada bekas bercinta?

Sherra menatap lelaki itu cemas.

"Kasih tau gue, biar gue habisin orang nya!" desis lelaki itu berapi api. Sherra memalingkan wajahnya kearah lain. Lebih tepatnya pada sebuah kaca yang memantulkan sosok dirinya yang tanpa malu berdiri dengan tak senonoh di hadapan orang lain. Sherra tertawa miris.

"Aku sendiri" jawabnya. Kedua mata Jeff berkilat marah. Lelaki itu menarik tangan Sherra kemudian membanting tubuh gadis itu ke ranjang.

"Gue gak suka ada segores luka pun dari kulit lo" Tandas Jeff menindih tubuhnya.

"Walaupun begitu, kalau lo pikir gue akan ngelepas lo setelah liat kondisi lo kaya gini?" Jeff tertawa sumbang.

"Lo salah besar" Lelaki itu melucuti bajunya hingga polos tak bersisa kemudian menyerang Sherra untuk kedua kalinya. Kali ini lebih brutal lagi sampai membuat Sherra memekik kesakitan. Hingga 2 jam lamanya, sampai pada akhirnya setelah Jeff mencapai puncak dan mengeluarkannya di dalam. Tubuh lelaki itu ambruk di atas tubuhnya.

Sedangkan Sherra, gadis itu hanya bisa pasrah sambil menatap kearah cermin yang menunjukkan sosok dirinya dengan sorot mata pilu.

...TOXICSERIES...

"Baik dok terimakasih"

Kai menghela nafasnya saat dokter keluar dari ruangan rawat Mama Dinda. Lelaki itu tiba tiba dikabarkan oleh dokter jika kondisi Mama Dinda tiba tiba drop dan saat resepsionis beberapa kali menelpon ke nomor Sherra gadis itu tak menjawabnya. Alhasil nomor Kai lah yang memang sengaja di simpan untuk wali cadangan di hubungi.

Kai yang saat itu tengah sibuk mengerjakan tugas sekolah langsung bergegas pergi kerumah sakit. Fokusnya hanya satu. Kondisi kesehatan Mama Dinda

Dan tepat saat ia sampai rupanya dokter sedang menangani Mama Dinda.

Dokter bilang jika kondisi Mama Dinda semakin memburuk. Harus segera di lakukkan oprasi.

Namun masalahnya, bagaimana ia akan menyetujui operasi jika Sherra yang harusnya menjadi wali malah tak bisa di hubungi?

Kai beberapa kali mendial nomor sahabatnya itu. Namun tak ada jawaban, bahkan ia mencari nomor Mona. Sahabat Sherra yang sengaja ia simpan jikalau ada sesuatu darurat.

Sekarang contohnya.

"Ck dia gaada nginep di gue. Ah tuh cewe gak ngomong juga mau kemana. Yaudah gue coba cek ke rumahnya. Lo stay aja di rumah sakit jagain tante Dinda"

"Oke thanks Mon"

"No prob"

Kai kembali menunggu diluar ruangan rawat. Sambil duduk menumpu kedua tangannya di dagu. Perasaan Kai berubah cemas, pikirannya bercabang antara Mama Dinda dan dimana Sherra sekarang.

...TOXICSERIES...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!