NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15: Topeng Pertama Andreas

Sinar matahari pagi pukul sembilan menerobos celah-celah atap seng gudang PT Mitra Kilat, menciptakan garis-garis cahaya vertikal yang memperjelas jutaan partikel debu yang melayang di udara.

Bau pelumas mesin dan karat besi terasa lebih pekat dari biasanya. Namun, area pelataran parkir yang biasanya berantakan dengan palet kayu rusak kini tampak sedikit lebih bersih.

Subagja sejak subuh tadi sudah berteriak-teriak ketakutan, memaksa para kuli angkut menyapu lantai semen agar tidak memalukan di depan perwakilan raksasa properti, PT Santoso Karya.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik sebuah Mercedes-Benz E-Class keluaran terbaru yang mengkilap tanpa noda debu sedikit pun perlahan memasuki gerbang gudang yang berkarat.

Kehadiran mobil itu seketika menjadi pusat perhatian.

Para buruh operasional menghentikan aktivitas mereka sejenak, menatap kagum pada simbol kekayaan yang sangat kontras dengan lingkungan kumuh tersebut.

Pintu belakang mobil terbuka. Dari dalam kabin ber-AC yang dingin, melangkah keluar seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun.

Ia mengenakan setelan kemeja slim-fit putih pudar dengan dasi sutra merah maroon, dipadukan dengan celana kain berpotongan mahal.

Rambutnya klimis disisir ke belakang dengan minyak rambut beraroma maskulin yang mahal. Di pergelangan tangan kirinya, sebuah jam tangan mewah melingkar rapi, memantulkan cahaya matahari pagi.

Pria itu adalah Andreas.

Doni Salman, yang berdiri di sudut teras kantor gudang sambil memegang sebuah papan klip besi, menatap sosok itu tanpa berkedip.

Di dalam rongga dadanya, jantung Doni berdegup dengan ritme yang sangat dingin.

Sepasang matanya menyipit, mengunci setiap gerak-gerik pria yang di masa depannya memegang gelas anggur beracun sambil tertawa di atas penderitaan Zahra.

Kebencian yang teramat pekat sempat meletup di benak Doni, namun dengan kematangan mental seorang CEO berusia empat puluh enam tahun, ia menekan emosi itu sedalam mungkin ke dasar kesadarannya.

Wajah tirus Doni tetap sedatar papan triplek; tidak ada dendam yang bocor lewat ekspresi fisiknya.

"Selamat pagi, Pak Andreas!"

"Selamat datang di fasilitas operasional kami yang sederhana ini!"

Subagja berlari kecil menuruni tangga kantor, membungkuk-bungkuk dengan wajah memerah dan senyuman yang dipaksakan hingga kerutan di pipinya terlihat menggelikan.

Ia menyodorkan tangannya yang agak basah oleh keringat dingin.

Andreas menerima jabat tangan itu dengan senyuman yang sangat ramah, hangat, dan tampak begitu tulus sebuah topeng kepribadian yang sempurna yang di masa lalu sempat membuat Doni menganggapnya sebagai seorang malaikat penolong.

"Selamat pagi, Pak Subagja."

"Terima kasih atas sambutannya yang hangat."

"Tidak perlu terlalu formal, saya di sini hanya diutus oleh Pak Devan Santoso untuk meninjau kapasitas jalur logistik untuk proyek tol wilayah utara,"

jawab Andreas, suaranya terdengar renyah, berwibawa, namun tetap membumi.

"Ah, tentu, tentu! Mari silakan masuk ke kantor kami, Pak."

"Segala berkas manifest dan kapasitas armada sudah kami siapkan,"

kata Subagja sambil memberikan isyarat tangan ke arah tangga.

Sebelum melangkah naik, sepasang mata Andreas sempat berputar mengitari area gudang, hingga akhirnya pandangannya terkunci pada sosok Doni yang berdiri diam di dekat pintu masuk kantor.

Andreas menghentikan langkahnya sejenak, mengamati pemuda berkemeja biru pudar yang menatapnya balik dengan pandangan yang tidak biasa sebuah tatapan yang tidak memiliki rasa minder, ketakutan, atau kekaguman yang biasanya ia terima dari pekerja rendahan.

"Siapa dia, Pak Subagja?"

tanya Andreas sambil menunjuk ke arah Doni dengan dagunya.

"Oh, itu Doni, Pak."

"Staf manifes lapangan kami."

"Dia yang mengurus seluruh penjadwalan rute truk,"

jawab Subagja cepat, agak khawatir jika Doni membuat masalah pagi ini.

Doni melangkah maju tiga jengkal, menegakkan punggung mudanya hingga posisinya sejajar dengan Andreas.

Ia tidak membungkuk.

Ia mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan yang sangat mantap dan presisi, meniru gestur para pebisnis papan atas saat melakukan power-handshake.

"Doni Salman," kata Doni,

suaranya terdengar berat, stabil, dan bergaung dengan nada otoritas yang tipis di ujung kalimatnya.

Andreas menerima jabat tangan itu. Saat telapak tangan mereka bertemu, Andreas sedikit tersentak.

Tekanan genggaman tangan Doni begitu kokoh, dominan, dan tidak menyisakan ruang untuk intimidasi posisi sosial.

Itu bukan genggaman tangan seorang buruh yang gemetar; itu adalah genggaman tangan seorang penguasa yang sedang mengukur kekuatan musuhnya.

"Andreas," jawab sang ular muda,

 senyumannya sedikit menegang di sudut bibir sebelum kembali ke posisi ramah tiruannya.

"Senang bertemu denganmu, Doni."

"Sepertinya kamu tahu banyak tentang isi gudang ini."

"Lebih dari yang Anda bayangkan, Pak Andreas,"

 jawab Doni dengan seulas senyuman tipis yang sangat misterius,

sepasang mata sumur tuanya seolah-olah menembus langsung ke dalam rencana kotor yang ada di dalam kepala Andreas saat ini.

Mereka bertiga kemudian melangkah masuk ke dalam kantor gudang yang pengap.

Di atas meja kayu panjang, Doni meletakkan map dokumen berwarna merah yang telah ia susun semalam.

Dokumen itu berisi seluruh analisis efisiensi rute, titik potong pungutan liar, hingga skema jaminan ketepatan waktu pengiriman material semen dan besi baja untuk proyek tol PT Santoso Karya.

Andreas membuka halaman pertama map tersebut dengan santai, mengira ia hanya akan melihat lembaran tabel logistik standar yang membosankan.

Namun, setelah membaca tiga paragraf pertama, gerakan tangan Andreas mendadak berhenti. Alisnya berkerut dalam.

Matanya bergerak dengan sangat cepat menyusuri baris-baris kalimat yang tertulis di sana.

Dokumen itu bukan sekadar laporan manifest gudang.

Itu adalah sebuah proposal korporat tingkat tinggi yang menganalisis struktur manajemen risiko logistik secara komprehensif,

menggunakan terminologi hukum bisnis modern yang bahkan belum banyak diterapkan di Indonesia pada tahun 2006.

Di bagian akhir, terdapat klausul hedging denda operasional yang dirancang sedemikian rupa sehingga tampak sangat menguntungkan PT Santoso Karya, namun secara halus mengunci ketergantungan pasokan material tol hanya kepada kendali operasional yang dipegang oleh Doni.

Andreas menengadah, menatap Doni dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh keterkejutan yang luar biasa sekaligus ketertarikan yang masif.

Topeng ramah santainya runtuh sebagian, digantikan oleh pandangan seorang pemburu bakat yang merasa baru saja menemukan sebongkah emas murni di dalam tumpukan lumpur hitam.

"Kamu... siapa yang menulis proposal ini, Doni?"

tanya Andreas, suaranya sedikit meninggi akibat ketegangan batin yang mendadak muncul.

Ia melirik Subagja, dan dari wajah kebingungan kepala gudang itu, Andreas tahu bahwa pria tambun itu tidak akan pernah memiliki otak untuk menyusun dokumen sejenius ini.

Doni bersedekap, bersandar dengan santai pada tepi meja kayu tua di belakangnya.

"Saya yang menyusunnya sendiri semalam, Pak Andreas."

"Saya rasa, jika PT Santoso Karya ingin menghindari penalti gagal bayar dari sindikasi bank akibat keterlambatan pasokan material di sektor utara,"

"skema rute dan manajemen yang saya tawarkan adalah satu-satunya solusi logistik terbaik yang ada di Jakarta saat ini."

Mendengar analisis yang begitu presisi keluar dari mulut seorang staf lapangan rendahan, Andreas terdiam selama hampir satu menit penuh.

Di dalam kepalanya, ambisi mudanya mulai bergolak gila. Ia melihat Doni sebagai alat yang sangat sempurna untuk menaikkan reputasinya sendiri di hadapan Devan Santoso.

Jika ia bisa membawa pemuda jenius ini masuk ke dalam lingkaran internal perusahaan, posisinya sebagai calon menantu keluarga Santoso akan semakin tidak tergoyahkan.

Andreas menutup map merah itu dengan satu hentakan pelan, lalu berdiri dari kursinya. Ia menatap Doni dengan senyuman yang kini memiliki lapisan manipulasi baru.

"Doni... bakatmu terlalu besar untuk mati membusuk di dalam gudang berdebu ini."

"Bagaimana jika besok malam kamu ikut saya menghadiri jamuan makan malam bisnis pribadi di Menteng?"

"Saya ingin mengenalkanmu pada Direktur Utama kami, Pak Devan Santoso."

Mendengar tawaran itu, di dalam lubuk batinnya yang paling dalam, Doni Salman tertawa dengan sangat puas.

Sang ular telah menelan umpan pertama yang ia tebar tanpa curiga sedikit pun.

Jalan tol menuju lingkaran inti musuh-musuhnya kini telah terbuka lebar atas undangan dari musuhnya sendiri.

"Sebuah kehormatan bagi saya, Pak Andreas,"

jawab Doni dengan nada suara yang sangat sopan namun memiliki getaran dingin yang mematikan di baliknya.

"Saya akan dengan senang hati datang menemui Pak Devan."

Malam esok akan menjadi momen pertama di mana Doni kembali berhadapan dengan arsitek kehancuran masa lalunya, dan di bawah temaram lampu restoran mewah Menteng nanti,

Doni siap memainkan peran sebagai bidak penurut yang siap mengintai di balik selimut kekuasaan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!