NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Protokol Kiamat

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Diego mengarahkan moncong senapannya ke tuas generator kuning di dinding dan menarik pelatuknya. Rentetan peluru menghancurkan panel kontrol tersebut, memercikkan bunga api ke segala arah dan mengunci sistem kelistrikan Sektor Nol secara permanen agar musuh tidak bisa mematikannya dari luar.

​Di permukaan, suara ledakan granat dan tembakan senapan mesin berat mulai terdengar memekakkan telinga, beresonansi menuruni lorong palka baja bagaikan gemuruh guntur di dalam gua. Pasukan Il Morte telah tiba, dan mereka membantai pasukan lapis pertama Vassiliev dengan kebrutalan taktis tingkat militer.

​"Xavier, kita tidak bisa meninggalkan data ini!" seru Aletta, menembus kepanikan. Ia segera duduk di kursi ruang kendali, jari-jemarinya menari cepat di atas keyboard kuno yang tertutup debu. "Jika mereka mendapatkan Buku Besar ini, kematian ibumu akan sia-sia! Beri aku waktu tiga menit untuk memindahkan data intinya ke perangkat portabel!"

​Xavier mengokang senapan HK416-nya, matanya menatap tajam ke arah lorong tangga baja tempat mereka turun tadi.

​"Kau punya seluruh waktuku, Ratuku," ucap Xavier mutlak. Pria itu menoleh pada Diego dan dua pengawal elite yang tersisa. "Bentuk barikade di depan ruang kaca ini. Tidak ada satu pun peluru yang boleh menyentuh istriku. Jika mereka ingin masuk, mereka harus melangkah di atas mayatku."

​"Siap, Bos!" Diego membalikkan meja besi yang tebal untuk dijadikan tameng perlindungan, sementara Xavier berdiri tegak di tengah ruangan, membaur dengan bayangan deretan rak server raksasa.

​Di layar monitor, Aletta melihat persentase unduhan bergerak lambat. 12%... 25%... Keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia membalik halaman jurnal ayahnya dengan panik, mencari rute pelarian. Ayahnya adalah seorang arsitek yang paranoid; pria itu pasti tidak akan merancang ruang bawah tanah tanpa pintu belakang.

​Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot militer dan gesekan tali rappel terdengar dari lorong baja.

​"Mereka turun!" teriak Diego.

​Dalam hitungan detik, enam sosok berpakaian serba hitam dengan perlengkapan taktis tanpa lambang melompat turun dari tangga. Mereka bergerak dengan presisi mematikan khas pasukan khusus, langsung menyebar dan menembakkan senapan mereka.

​TRATATATATATA!

​Peluru berdesingan di udara, menghancurkan kaca ruang kendali dan merobek beberapa rak server hingga memercikkan api. Aletta menunduk di bawah meja, melindungi kepala dengan satu tangan sementara tangannya yang lain memastikan kabel transfer data tidak terputus.

​Xavier tidak berlindung. Sang Raja Mafia bergerak menyusuri celah sempit di antara rak server bagaikan hantu. Saat dua tentara bayaran Il Morte melangkah maju, Xavier muncul dari titik buta mereka. Dalam satu gerakan kilat, ia menembakkan senapannya tepat ke celah helm taktis kedua pria itu. Mereka ambruk seketika sebelum sempat menarik pelatuk.

​Musuh menyadari posisi Xavier dan memusatkan tembakan ke arahnya. Xavier meluncur di lantai kaca, berlindung di balik server, lalu melemparkan sebuah granat kejut yang ia cabut dari sabuk Diego sebelumnya.

​BAM! Kilatan cahaya putih yang menyilaukan meledak di tengah ruangan. Saat musuh kehilangan penglihatan dan pendengaran selama beberapa detik, Xavier menerjang maju bagaikan predator haus darah. Ia membuang senapannya yang kehabisan peluru, mencabut dua belati tempurnya, dan memotong urat leher dua musuh terdekat dalam tarian kematian yang efisien dan tanpa belas kasihan. Darah segar menyemprot, menodai lantai putih steril Sektor Nol.

​85%... 90%... Mata Aletta terpaku pada layar. Di saat yang bersamaan, jarinya berhenti pada sebuah sketsa di halaman paling belakang jurnal ayahnya.

​Pipa Pembuangan Ekzosfera. Ayahnya merancang Sektor Nol untuk bisa ditenggelamkan secara instan jika fasilitas ini diserang. Ada saluran air laut bertekanan tinggi yang ditahan oleh katup manual di ujung utara ruangan ini. Dan di sebelahnya, terdapat kapsul evakuasi seukuran tabung torpedo yang mengarah langsung ke laut lepas.

​"Xavier! Ada jalur evakuasi di utara!" teriak Aletta tepat saat bunyi BEEP panjang terdengar dari komputer. 100%. Unduhan selesai.

​Aletta mencabut hard drive berukuran sebesar telapak tangan dari konsol dan menyelipkannya ke balik bra-nya—tempat paling aman di tubuhnya. Ia segera merangkak keluar dari bawah meja berlapis kaca pecah.

​Xavier baru saja menghabisi tentara Il Morte terakhir dari gelombang pertama dengan tembakan mutlak di kepala. Napas pria itu memburu, wajahnya terciprat darah musuh, namun ia segera berlari menghampiri istrinya.

​"Data aman?" tanya Xavier, menangkup wajah Aletta sesaat untuk memastikan tidak ada satu pun luka di tubuh istrinya.

​"Aku mendapatkannya. Seluruh aib dunia ada di tanganku," Aletta mengangguk tegas. "Kita harus ke ujung ruangan. Gelombang kedua akan turun. Ayahku merancang tempat ini dengan Protokol Kiamat. Kita bisa menenggelamkan ruangan ini agar musuh tidak bisa melacak server aslinya!"

​"Diego! Tahan tangga selama tiga puluh detik, lalu mundur ke utara!" perintah Xavier.

​Xavier merengkuh pinggang Aletta dan berlari menembus labirin server menuju dinding utara. Di sana, tertutup oleh panel besi datar, Aletta menemukan apa yang ia cari. Ia memutar piringan sandi mekanis sesuai coretan di jurnal ayahnya. Panel itu terbuka, menampakkan tabung baja kecil yang hanya muat untuk dua hingga tiga orang, serta sebuah tuas merah raksasa bertuliskan OVERRIDE.

​Diego berlari menyusul mereka dengan napas terengah-engah, peluru menembus bahu kirinya. "Bos! Setidaknya ada dua puluh orang lagi turun dari tangga!"

​"Masuk ke dalam kapsul!" perintah Xavier. Diego masuk lebih dulu, disusul oleh Aletta.

​Sebelum Xavier menyusul masuk, ia menatap ke arah gerombolan tentara bayaran elit Il Morte yang baru saja mendarat di lantai Sektor Nol. Mata kelabu Xavier menyipit, memancarkan seringai iblis yang menjanjikan kehancuran.

​Xavier meraih tuas merah raksasa itu. "Sampaikan salamku pada majikan kalian di neraka."

​Xavier menarik tuas itu ke bawah hingga berbunyi patahan keras, lalu melompat masuk ke dalam kapsul dan mengunci palka dari dalam.

​Hanya selang dua detik, dinding beton penahan di sekeliling Sektor Nol meledak dari dalam. Jutaan galon air laut bertekanan tinggi menjebol masuk bagaikan tsunami bawah tanah. Jeritan para tentara Il Morte tenggelam seketika oleh gemuruh air yang menghancurkan ratusan rak server raksasa, mengoyak logam dan menenggelamkan ruangan itu dalam kegelapan mutlak.

​Di saat yang sama, tekanan air melontarkan tabung kapsul yang dinaiki Xavier, Aletta, dan Diego melalui jalur pipa miring. Mereka terdorong dengan kecepatan luar biasa menembus kegelapan, berguncang hebat hingga Aletta harus memeluk dada suaminya erat-erat.

​Sepuluh detik yang terasa seperti selamanya berlalu, sebelum akhirnya...

​BYUR!

​Kapsul evakuasi itu melesat keluar dari dinding beton pemecah ombak dan mengapung di permukaan laut gelap, dua kilometer jauhnya dari dermaga Pelabuhan Barat.

​Xavier menendang palka atas kapsul hingga terbuka. Udara malam yang dingin dan hujan gerimis langsung menerpa wajah mereka. Aletta terbatuk, menghirup udara sebanyak-banyaknya.

​Di kejauhan, Aletta melihat Pelabuhan Barat—kerajaannya yang baru saja ia kuasai—kini dilalap api. Helikopter Il Morte berputar-putar di atas dermaga seperti burung pemakan bangkai.

​Aletta menyentuh dadanya, merasakan tonjolan keras dari hard drive yang berdetak seirama dengan jantungnya.

​Xavier merangkul bahu Aletta, matanya menatap kobaran api di pelabuhannya dengan kemarahan yang tenang namun mematikan. Pria itu menyeka air laut dari wajah istrinya.

​"Mereka membakar rumah kita, Aletta," bisik Xavier, suaranya sedingin es di kutub utara.

​Aletta mendongak, menatap mata kelabu suaminya dengan keberanian yang menyala terang. Ia bukan lagi gadis tawanan. Ia adalah Ratu yang menyimpan rahasia paling berbahaya di bumi.

​"Maka kita akan membakar dunia mereka sebagai balasannya, Xavier," desis Aletta tajam. "Kita kumpulkan seluruh klan sekutu yang telah bersumpah setia pada kita. Perang melawan mafia sudah usai. Hari ini, kita berperang melawan dunia."

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!