Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Orag yang Tidak Diundang
"Terima kasih sudah mengantar Kirana," ujar ayah Kirana sambil menatap Aiden dengan ramah dan menganggukkan kepalanya pelan.
Meski masih terbaring di atas ranjang rumah sakit, pria itu berusaha mempertahankan senyum yang sejak dulu selalu membuat anak-anaknya merasa tenang.
"Tidak perlu berterima kasih, Pak. Saya hanya memastikan Kirana sampai dengan selamat," jawab Aiden sambil berdiri tegak dan membalas anggukan tersebut dengan sopan.
"Kalau saya memang perlu berterima kasih," sahut ayah Kirana sambil terkekeh pelan, "saya lebih bingung harus berterima kasih kepada yang mana. Yang satu terlihat seperti direktur perusahaan, yang satu lagi terlihat seperti pengangguran profesional."
"Saya tersinggung," protes Gavin sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu memang pengangguran profesional," timpal Aiden sambil melirik sahabatnya.
"Saya bekerja," bantah Gavin sambil merapikan kerah bajunya.
"Kapan?" tanya Aiden sambil mengangkat alis.
"Kemarin."
"Kemarin hari apa?" tanya Aiden sambil melipat kedua tangannya.
"Saya lupa," jawab Gavin sambil menggaruk tengkuknya.
Suasana di dalam ruangan menjadi lebih ringan, bahkan Rani yang sejak tadi terlihat cemas akhirnya ikut tersenyum. Sementara itu, Kirana berdiri di dekat ranjang ayahnya sambil memperhatikan percakapan mereka tanpa ikut menyela.
"Kamu sudah makan?" tanya ayah Kirana sambil menoleh ke arah putrinya.
"Sudah," jawab Kirana sambil mengangguk pelan.
"Itu bohong," sahut Rani sambil menyilangkan kedua tangannya.
Kirana langsung menatap kakaknya.
"Aku belum sempat makan sejak pagi," lanjut Rani sambil menggeleng pelan. "Tapi aku tahu kamu juga belum makan."
"Aku baik-baik saja," jawab Kirana sambil berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kamu selalu bilang begitu," ujar Rani sambil mendesah pelan.
Ayah mereka memperhatikan kedua putrinya selama beberapa saat, sebagai orang tua ia tahu kapan anak-anaknya sedang menyembunyikan sesuatu dan hari itu Kirana terlihat jauh lebih lelah dibanding biasanya.
"Kirana tidak pernah pandai berbohong," ujar ayahnya sambil tersenyum tipis.
"Ayah," protes Kirana sambil menggeleng pelan.
"Itu benar," sahut Rani sambil tertawa kecil.
"Saya setuju," timpal Gavin sambil menganggukkan kepalanya.
"Kamu jangan ikut campur," tegur Kirana sambil meliriknya datar.
"Saya hanya mendukung keluarga," jawab Gavin sambil mengangkat kedua tangannya.
Aiden yang berdiri di dekat jendela hanya memperhatikan semua itu dalam diam, sudah lama ia mengenal Kirana sebagai sekretaris yang tenang, dingin, dan profesional namun baru kali itu ia melihat sisi lain dari wanita tersebut saat berada bersama keluarganya.
"Kamu teman dekat Kirana?" tanya ayah Kirana sambil menoleh ke arah Aiden.
"Saya atasannya," jawab Aiden sambil tersenyum tipis.
"Itu bukan jawaban yang saya tanyakan," ujar pria tua itu sambil mengangkat sebelah alisnya.
Aiden terdiam beberapa detik dan Gavin langsung memalingkan wajahnya agar tidak tertawa.
"Kami bekerja bersama," jawab Aiden akhirnya.
"Nah, itu baru jawaban politisi," sahut ayah Kirana sambil terkekeh.
Kirana langsung memijat pelipisnya, ia sudah bisa menebak ke mana arah percakapan itu akan berjalan jika dibiarkan terlalu lama.
"Kalau Ayah sudah baik-baik saja, aku akan pulang sebentar untuk mengambil beberapa pakaian," ujar Rani sambil berdiri dari kursinya.
"Aku juga harus kembali ke kantor," sahut Kirana sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kamu baru datang," protes ayahnya sambil mengernyit.
"Ada pekerjaan yang harus diselesaikan," jawab Kirana sambil merapikan tasnya.
"Perusahaan tidak akan runtuh kalau kamu istirahat satu hari," ujar ayahnya sambil menggeleng pelan.
"Itu tergantung siapa yang bekerja," sahut Gavin sambil menunjuk Kirana.
"Apa maksudmu?" tanya Rani sambil tertawa kecil.
"Kalau Kirana tidak masuk sehari, Bos akan mondar-mandir seperti kehilangan arah," jawab Gavin sambil mengangguk yakin.
"Saya tidak seperti itu," bantah Aiden sambil menatap tajam ke arah sahabatnya.
"Benar," sahut Gavin sambil mengangguk cepat. "Bos lebih parah."
Tawa kecil kembali memenuhi ruangan, bahkan Kirana tidak mampu sepenuhnya menyembunyikan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya namun suasana hangat itu perlahan berubah ketika seseorang berhenti di depan pintu kamar perawatan.
"Kirana," panggil suara yang sangat dikenalnya.
Senyum tipis yang tadi muncul langsung menghilang.
Rendra berdiri di ambang pintu sambil membawa kantong buah di tangannya, wajah pria itu terlihat lelah seolah tidak tidur dengan baik selama beberapa hari terakhir.
"Kamu datang," ujar Rendra sambil melangkah masuk perlahan.
"Kamu yang mengirim pesan?" tanya Kirana sambil menatapnya datar.
"Iya," jawab Rendra sambil mengangguk.
"Terima kasih," ujar Kirana sambil menundukkan kepalanya sebentar.
Meski hubungan mereka sedang berada di titik terburuk, ia tetap tahu bahwa kabar tentang ayahnya sampai kepadanya karena Rendra.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya," jawab Rendra sambil menggenggam kantong buahnya lebih erat.
Suasana di dalam ruangan mendadak berubah canggung, Rani memilih diam sementara ayah Kirana memperhatikan mereka berdua dengan tatapan penuh tanya.
"Ayah, bagaimana kabarnya?" tanya Rendra sambil mendekati ranjang.
"Masih hidup," jawab pria tua itu sambil tersenyum tipis.
Syukurlah," ujar Rendra sambil mengembuskan napas lega.
"Kamu terlihat lebih pucat daripada saya," sahut ayah Kirana sambil terkekeh pelan.
Rendra mencoba tersenyum, tetapi senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya karena ada terlalu banyak hal yang sedang ia pikirkan dan semuanya berhubungan dengan wanita yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.
"Kamu sudah makan?" tanya Rendra sambil menoleh ke arah Kirana.
"Sudah," jawab Kirana sambil merapikan tali tas di bahunya.
"Itu bohong," sahut Rani sambil menggeleng pelan.
"Kak," tegur Kirana sambil menatap kakaknya.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," balas Rani sambil mengangkat bahu.
Rendra menundukkan pandangannya sesaat, dulu ia selalu tahu kapan Kirana berbohong tentang hal-hal kecil seperti itu. Sekarang ia bahkan tidak yakin masih berhak mengkhawatirkannya.
"Aku akan membeli makanan," ujar Rendra sambil mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Tidak perlu," jawab Kirana sambil menolak halus.
"Aku tetap akan membeli," sahut Rendra sambil berusaha terdengar tenang.
"Aku bilang tidak perlu," ulang Kirana sambil menatapnya lurus.
Perdebatan itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi semua orang di ruangan tersebut bisa merasakan jarak yang begitu jelas di antara mereka.
"Kalau begitu saya yang membeli," sela Gavin sambil berdiri dari kursinya.
Semua orang langsung menoleh kepadanya.
"Kenapa kamu?" tanya Aiden sambil mengernyit.
"Karena saya lapar," jawab Gavin sambil menunjuk perutnya.
"Itu alasan yang jujur," sahut ayah Kirana sambil tertawa.
"Terima kasih, Pak. Akhirnya ada yang memahami saya," ujar Gavin sambil menepuk dadanya dengan bangga.
Suasana yang sempat tegang kembali mencair, tetapi hanya sesaat karena ketika Gavin hendak melangkah keluar, ponsel Kirana tiba-tiba berdering.
"Kak Dita," gumam Kirana sambil melihat nama yang muncul di layar.
"Angkat saja," ujar Rani sambil mengangguk pelan.
Kirana menerima panggilan itu lalu melangkah ke luar ruangan namun baru beberapa detik berbicara, ekspresi wajahnya langsung berubah.
"Apa?" tanya Kirana sambil menghentikan langkahnya.
Nada suaranya membuat Aiden refleks menoleh.
"Aku tidak bercanda," ujar Dita dari seberang telepon.
"Bagaimana bisa?" tanya Kirana sambil mengernyit.
"Karena suratnya sudah keluar pagi ini," jawab Dita dengan nada serius.
Wajah Kirana perlahan kehilangan warna.
"Ada apa?" tanya Aiden sambil mendekatinya begitu panggilan berakhir.
"Mutasi itu disetujui," jawab Kirana sambil menatap layar ponselnya.
"Mutasi siapa?" tanya Gavin yang baru saja keluar dari kamar.
"Rendra," jawab Kirana sambil mengangkat pandangannya perlahan.
Kalimat itu membuat semua orang yang berada di dekatnya terdiam dan beberapa langkah di belakang mereka, Rendra yang baru keluar dari kamar perawatan ikut mendengar semuanya.