NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. Mata-Mata Pertama

Matahari baru saja tergelincir dari puncak langit Trowulan ketika seluruh rangkaian latihan pembentukan regu Tamtama dibubarkan untuk jeda istirahat sore. Kegembiraan atas keberhasilan Regu Serigala menembus labirin taktis masih menyisakan riak pembicaraan di antara para prajurit bawah barak nomor empat, namun hal itu tidak berlaku bagi Mada. Setelah mengembalikan seluruh perlengkapan perisai bambu dan tombak kayu latihannya ke dalam gudang logistik Barat, ia memilih untuk langsung memisahkan diri dari kerumunan kelompok Wiranata dan Lembu Sora.

Mada berjalan dengan langkah jangkung yang sengaja dibuat agak menyeret, menyusuri jalur setapak berbatu yang membatasi area barak hunian dengan dinding batu luar kompleks militer Barat. Poni rambut panjangnya yang berantakan sengaja dibiarkan menjuntai menutupi sebagian keningnya yang kotor oleh sisa debu lapangan. Di tangan kanannya, ia membawa sebilah pisau bambu kecil yang biasa digunakan oleh para kuli dapur untuk mengupas umbi talas.

(Pergerakan di permukaan telah selesai dikunci oleh Wiranata di dalam labirin fajar tadi. Namun, sisa getaran hawa dingin yang kurasakan di balik celah dinding bambu semalam adalah pertanda mutlak bahwa laporan pertama mengenai identitas Hutan Tarik telah sampai ke telinga para petinggi Singo Barong di ibu kota. Hari ini, mereka pasti akan mengirimkan mata-mata tingkat lanjut untuk memastikan apakah aku adalah ancaman nyata yang harus segera ditumpas atau hanya sebutir benih mentah yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan masa lalu.)

Mada menghentikan langkah kakinya tepat di bawah naungan pohon jati tua yang tumbuh di sudut mati area penjemuran pakaian militer. Tempat ini sangat sepi pada jam istirahat sore, hanya dipenuhi oleh barisan tali tampar yang menggantungkan ratusan lembar kain seragam merah yang sedang dikeringkan. Di bawah pengawasan mata sakral Niti Sastra tingkat dua miliknya yang diaktifkan seujung kuku, Mada bisa merasakan adanya distorsi udara yang sangat halus di balik tumpukan kain seragam yang menggantung di banjar ketiga.

Seseorang sedang berdiri diam di sana, menahan napasnya dalam hitungan yang sangat teratur, dan sepasang matanya sedang mengunci fokus langsung pada struktur tulang punggung jangkung Mada.

(Sirkulasi napasnya sangat pendek, dan tumpuan berat badannya berpindah dari tumit ke ujung jari kaki setiap tiga pulsa nadi. Ini bukan sekadar mata-mata pengawas logistik murahan seperti jarnwaji semalam. Orang ini adalah seorang pelacak jejak terlatih dari satuan pemburu Singo Barong yang menguasai teknik penyusupan bayangan dasar.)

Mada tidak membalikkan tubuhnya untuk menantang pengintai tersebut. Sebaliknya, ia justru menjatuhkan tubuh besarnya duduk berlutut di atas tanah liat kering, berpura-pura sibuk meraba-raba ujung sandalnya yang tampak agak longgar ikatannya. Ia memasang kembali wajah polos keluguannya, menyenandungkan sebuah lagu kidung desa kuno yang sering dinyanyikan oleh para pencari kayu bakar di pedalaman Tarik dengan suara yang agak parau dan sumbang.

Di balik barisan kain seragam yang menggantung, sosok pria bertubuh kurus dengan wajah tirus yang dipenuhi bintik hitam tampak menyipitkan sepasang matanya yang tajam. Pria itu bernama ningsun, salah satu pemburu informasi elit dari jaringan Singo Barong yang ditugaskan langsung oleh markas pusat setelah menerima merpati pos sayap hitam fajar tadi. ningsun telah menghabiskan waktu dua jam terakhir untuk memeriksa seluruh berkas administrasi milik prajurit nomor nol empat puluh tujuh, dan kini ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kualitas fisik dari anak Hutan Tarik tersebut.

(Langkah kakinya terlihat sangat kaku dan berat, pundaknya merosot seperti kuli panggul pasar, dan cara dia memegang pisau bambu itu sangat ceroboh tanpa adanya perlindungan celah telapak tangan. Apakah benar manusia yang terlihat sebodoh ini yang telah membisikkan strategi Supit Urang di lapangan simulasi kemarin? Ataukah Senopati Kudamerta sengaja memasang umpan palsu untuk memancing perhatian Gusti Mahapati?)

ningsun meraba permukaan kain saku bajunya, memastikan selembar perkamen kecil yang berisi lukisan sketsa wajah Rama Sidacerma masih tersimpan dengan aman. Ia berniat untuk melakukan sebuah gerakan pemancingan psikologis tingkat rendah; sebuah metode klasik untuk melihat apakah targetnya memiliki ingatan bawah sadar terhadap lambung pembunuh keluarganya di masa lalu.

ningsun melangkah keluar dari balik barisan kain seragam dengan gerakan yang sangat halus, seolah-olah ia adalah seorang bintara logistik yang sedang memeriksa jemuran harian. Ia berjalan memutar, mengambil jalur yang akan membuatnya berpapasan langsung dengan arah pandangan mata Mada yang sedang duduk di tanah.

Saat jarak di antara mereka tinggal tersisa lima langkah, ningsun sengaja menjatuhkan sebuah sapu tangan kain hitam dari sakunya tepat di atas tanah liat di dekat lutut kanan Mada. Di permukaan kain hitam tersebut, telah disulam sebuah lambang kepala singa barong yang sedang menyeringai dengan warna benang merah darah yang sangat mencolok—lambang organisasi rahasia yang sama persis dengan yang terukir di atas belati pembunuh orang tua kandung Mada puluhan tahun lalu di dalam Hutan Tarik.

"Hei, prajurit baru nomor nol empat puluh tujuh," panggil ningsun dengan nada suara yang dibuat ramah namun tajam, sepasang matanya tidak berkedip sedikit pun untuk merekam setiap perubahan gerak-gerik pada otot wajah Mada. "Bisa tolong ambilkan kain pengesat milikku yang terjatuh di dekat kakimu itu? Tanganku agak kaku setelah memindahkan peti kayu di gudang tadi siang."

Mada mendongakkan kepalanya perlahan, membiarkan poni rambutnya tersingkap sedikit. Pandangan matanya langsung jatuh tepat di atas sulaman kepala singa barong merah darah tersebut.

Pada detik yang sangat krusial itu, sebuah gelombang ingatan malam berdarah masa kecil mendadak bangkit menghantam dinding sukmanya dengan sangat keras. Suara jeritan ibunya, kobaran api yang membakar gubuk bambu mereka, dan tawa kejam dari para pemburu bermata dingin yang mengenakan lambang singa barong seolah-olah kembali berputar di dalam benak Mada. Getaran emosi dendam yang luar biasa pekat sempat memicu detakan spiritual emas Batara Niti Mandala di titik pusarnya untuk meledak keluar menghancurkan manusia di depannya.

(Tahan, Mada. Ingat pesan terakhir Rama Sidacerma di bawah pohon jati. Jangan pernah membuka lubang spiritualmu sebelum seluruh jaringan akar Mahapati terkumpul di depan ujung tombakmu. Orang di depanku ini hanyalah sebutir pasir umpan; jika aku menunjukkan kemarahan atau hawa murni sekecil rambut saja sekarang, seluruh skema penyamaran yang kubangun selama satu pekan ini akan runtuh menjadi abu.)

Dengan kedisiplinan besi yang sangat mengerikan, Mada berhasil mengunci rapat seluruh getaran emosinya dalam hitungan sepertiga pulsa nadi penuh. Denyut nadi di lehernya tetap bergerak dalam ritme manusia biasa yang tenang, dan sepasang matanya sama sekali tidak memancarkan kilatan batin emas yang mencurigakan.

Mada menampilkan ekspresi wajah yang sangat polos, bingung, dan canggung seorang pemuda desa yang patuh. Ia mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan yang sengaja dibuat agak gemetar karena lelah latihan, memungut kain hitam tersebut dengan menjepitnya menggunakan ujung ibu jari dan jari telunjuknya, seolah-olah ia takut mengotori sulaman mahal tersebut dengan tangan desanya yang berlumpur.

"Ini kain milik Anda, Tuan Bintara yang baik," ucap Mada dengan suara yang dibuat agak parau dan santun sambil bangkit berdiri dengan tubuh jangkungnya yang agak membungkuk. Ia menyerahkan kain tersebut sambil menjura hormat beberapa kali. "Sulamannya sangat bagus dan terlihat sangat menyeramkan seperti gambar macan hutan yang sering saya lihat di dekat sungai Tarik. Apakah ini kain jimat untuk menolak bala dari serangan hantu pohon, Tuan?"

ningsun menerima kain hitam tersebut dari tangan Mada dengan dahi yang berkerut sangat dalam. Selama proses penyerahan kain, indra peraba hawa murni milik ningsun yang ditempelkan di sekitar ujung jarinya sama sekali tidak merasakan adanya riak resistensi energi atau lonjakan detak jantung dari tubuh Mada. Jawaban Mada mengenai macan hutan dan jimat pohon juga terdengar sangat bodoh, lugu, dan tidak memiliki sisa-sisa beban masa lalu sama sekali.

(Sama sekali tidak ada reaksi batin. Denyut nadinya stabil, matanya kosong penuh keluguan desa, dan dia melihat lambang Singo Barong ini seperti melihat gambar binatang liar biasa. Jika dia benar-benar anak keturunan perwira buron dari Hutan Tarik yang menguasai teknik Supit Urang, tidak mungkin ketahanan mentalnya bisa sekuat ini di depan lambang pembunuh keluarganya sendiri. Dia benar-benar hanya seorang anak petani beruntung yang memiliki tubuh besar alami.)

ningsun menarik kembali kain hitamnya dengan mendengus pendek, rasa curiga yang sempat membakar semangat pelacakannya mendadak menguap berganti dengan rasa bosan yang tebal. "Ini bukan jimat hantu, bodoh. Ini adalah kain pembersih minyak dari kota pusat. Kembalilah membetulkan sandalmu itu, dan jangan terlambat masuk ke dalam barak sebelum lonceng patroli malam berdentang."

"Siap, Tuan Bintara. Terima kasih atas nasihatnya," jawab Mada dengan senyum polosnya yang khas sambil kembali membungkuk hormat sedalam-dalamnya.

ningsun membalikkan tubuhnya dengan langkah yang cepat, melangkah pergi meninggalkan area penjemuran pakaian menuju ke arah gerbang luar kompleks Barat. Ia merasa telah membuang-buang waktu dua jam berharganya hanya untuk mengawasi seorang kuli desa jangkung yang ketakutan melihat sulaman kain. ningsun berniat untuk segera kembali ke markas bayangan ibu kota guna menuliskan laporan akhir bahwa prajurit nomor nol empat puluh tujuh bersih dari silsilah pengkhianat lama Hutan Tarik.

Mada tetap mempertahankan posisi membungkuk hormatnya hingga langkah kaki ningsun benar-benar menghilang sepenuhnya di balik tikungan dinding batu luar. Ketika keheningan malam sore kembali merangkul sudut mati penjemuran kain, seluruh wajah keluguan, ketakutan, dan kebingungan Mada mendadak lenyap dalam satu hitungan napas penuh tanpa menyisakan bekas sedikit pun.

Sepasang matanya kembali berkilat dingin, memancarkan pendaran batin emas Batara Niti Mandala yang sangat tipis namun memiliki ketajaman yang begitu mutlak menembus kegelapan sore yang kian pekat.

(Mata-mata pertama dari Singo Barong telah berhasil diselesaikan dengan status kelulusan penyamaran yang sempurna. Laporan bersih yang dibawa oleh ningsun malam ini akan membuat Mahapati menurunkan tingkat pengawasannya terhadap kompleks barak Tamtama Barat, memberikan ruang gerak yang sangat luas bagi pergerakan bawah tanahku untuk mulai merekrut Wiranata dan Jaka Wulung ke dalam lingkaran pengikut intiku.)

Mada melangkah perlahan mendekati tiang pohon jati tua, menyimpan kembali pisau bambu kecilnya di balik lipatan kain katun bajunya. (Dendam masa lalu ini tidak akan pernah padam oleh waktu, Mahapati. Setiap lambang singa barong yang kalian tebar di atas tanah Trowulan ini hanya akan menjadi pengingat bagi ujung keris Nogo Kumolo milikku untuk terus merayap mendekati tenggorokanmu dari arah bayangan terendah kerajaan Majapahit.)

Suara lonceng perunggu penanda makan malam mulai bergaung beruntun dari arah menara pengawas tengah, memaksa Mada untuk kembali melangkah dengan ritme kaki yang sangat konstan dan teratur menuju ke arah barak hunian nomor empat. Langkah kakinya yang jangkung bergerak dengan pasti di atas batuan setapak yang mulai gelap, menutup gerbang pengintaian pertama dari masa lalunya untuk bersiap membuka babak konflik baru yang jauh lebih besar di jantung pertahanan pusat Trowulan.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!