Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Sore itu, suasana di sekitar area luar kantor pusat Maheswara Group tampak sangat padat. Alyssa baru saja menyelesaikan pertemuan singkat dengan tim legal internal untuk membahas kelanjutan dokumen jaminan restrukturisasi Pradipta Group. Sifat taktisnya membuat Alyssa memilih menyelesaikan urusan ini dengan cepat agar tidak ada celah bagi Arsen untuk mengacaukan kesepakatan bisnis mereka.
Saat Alyssa melangkah keluar dari lobi utama berkaca megah menuju pelataran parkir VIP, pikirannya masih terfokus pada angka-angka di dalam berkas yang ia dekap. Gerimis tipis yang mulai turun membuat aspal jalanan tampak basah dan berkilau.
Tiba-tiba, dari arah tikungan dalam kompleks gedung, sebuah mobil sedan hitam melaju kencang tanpa menyalakan lampu penanda. Pengemudinya tampak kehilangan kendali di atas aspal yang licin, melesat lurus ke arah jalur penyeberangan tempat Alyssa sedang berjalan.
"Alyssa, awas!"
Sebuah seruan bariton yang sarat akan kepanikan mendadak terdengar. Sebelum Alyssa sempat menoleh ke arah datangnya suara atau memproses bahaya yang mengancamnya, sebuah tangan kokoh mencengkeram lengannya dengan sangat kuat.
Dengan satu sentakan taktis dan bertenaga, Alvaro menarik tubuh Alyssa menjauh dari tepi jalan, tepat satu detik sebelum mobil hitam itu melesat memotong angin dan menabrak pembatas jalan di seberang sana.
Akibat gaya tarikan yang begitu kuat, tubuh Alyssa limbung dan langsung jatuh menabrak dada bidang Alvaro. Pria itu secara refleks melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling pinggang Alyssa, mendekap tubuh istrinya dengan sangat erat untuk memastikan wanita itu benar-benar aman dari bahaya.
Untuk beberapa detik, dunia di sekitar mereka seolah-olah berhenti berputar.
Suara klakson mobil yang bersahutan, deru mesin, dan rintik gerimis yang membasahi pelataran seakan menguap begitu saja, menyisakan kesunyian yang intens di antara mereka berdua. Alyssa dapat merasakan dada Alvaro yang naik-turun dengan napas yang memburu hebat, sementara detak jantung pria itu berdegup kencang menghantam telapak tangannya.
Perlahan, Alyssa mendongak. Di jarak yang teramat dekat, tatapan mereka bertemu.
Sepasang mata elang Alvaro yang biasanya sedingin es kini memancarkan kilat kecemasan, keterkejutan, dan proteksi yang begitu pekat. Untuk pertama kalinya, Alyssa melihat dinding kendali mutlak pria itu runtuh total hanya karena melihat dirinya hampir celaka.
Tepat di detik itu, jantung Alyssa berdebar dengan sangat kencang untuk pertama kalinya. Itu bukan sekadar debaran akibat kepanikan pasca-hampir tertabrak, melainkan sebuah getaran asing yang mendalam yang dipicu oleh kehangatan dekapan sang suami. Mental bajanya seketika melunak di bawah tatapan dalam Alvaro.
Alvaro menatap wajah Alyssa yang tampak sedikit pucat, menyadari betapa rapuhnya wanita di dalam pelukannya ini jika dibandingkan dengan badai intrik yang selalu ia hadapi. Dan pada saat itulah, Alvaro mulai menyadari satu hal yang teramat berbahaya bagi rencana bisnis mereka.
Istri kontraknya, wanita yang seharusnya hanya menjadi tameng di atas kertas, perlahan-lahan mulai berjalan masuk ke dalam ruang hidupnya yang selama ini ia tutup rapat dari dunia luar. Celah di dinding esnya telah terbuka, dan Alvaro tahu, sekali ia membiarkan Alyssa masuk lebih dalam, ia tidak akan pernah bisa mengusir wanita itu lagi dari hatinya.
...****************...
Alvaro segera melepaskan dekapannya, melangkah mundur satu tapak demi mengembalikan jarak profesional di antara mereka. Ekspresi wajahnya dengan cepat mengeras kembali, mengunci rapat seluruh kepanikan yang sempat bocor dari balik dinding pertahanannya.
"Kau ceroboh, Alyssa," ucap Alvaro, suaranya kembali beralih menjadi bariton yang dingin dan tajam, meski napasnya masih menyisakan gurat ketegangan samar. "Berjalan di area parkir tanpa memperhatikan sekitar adalah tindakan amatir yang bisa mencoreng nama Maheswara jika media sampai mengendusnya."
Alyssa merapikan blazernya yang sedikit berantakan karena sentakan tadi. Sifat berani dan taktisnya segera mengambil alih untuk menutupi gemuruh aneh yang masih tersisa di dalam dadanya.
"Saya sedang memperhatikan dokumen, Tuan Alvaro. Dan mobil itu melaju di atas batas kecepatan yang diizinkan di area VIP," balas Alyssa, suaranya jernih dan tak kalah tegas. Ia menatap ke arah sedan hitam yang kini sudah berhenti di dekat pos keamanan, di mana beberapa petugas satpam mulai mengerumuninya. "Namun, terima kasih atas bantuan Anda."
Alvaro tidak menjawab. Ia hanya menatap Alyssa selama beberapa detik dengan tatapan dalam yang sulit diartikan, sebelum membalikkan badan menuju mobil Rolls-Royce miliknya yang sudah menunggu dengan pintu terbuka oleh sang sopir.
Sepanjang perjalanan pulang ke, keheningan di dalam kabin mobil terasa jauh lebih berat dari biasanya. Alyssa memilih menatap keluar jendela, memandangi rintik hujan yang kian menderas membasahi jalanan ibu kota. Sentuhan hangat tangan Alvaro pada pinggangnya dan debaran gila jantungnya tadi terus berputar di kepalanya seperti alarm bahaya.
Mereka berdua telah menandatangani kesepakatan baru untuk saling menjaga jarak dan menghormati batasan pribadi. Tidak lebih, tidak kurang. Namun, insiden sore ini membuktikan bahwa refleks tubuh dan takdir tidak pernah bisa diikat oleh klausul kontrak.
Di kursi sebelah, Alvaro mengepalkan tangan di atas lututnya, menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras. Pria berumur 28 tahun itu tahu, debaran asing yang ia rasakan saat mendekap Alyssa tadi adalah sebuah anomali yang sangat berbahaya bagi misinya menghancurkan Arsen dan musuh masa lalunya. Alyssa Pradipta bukan lagi sekadar bidak catur yang bisa ia gerakkan sesuka hati; wanita itu kini telah menjadi celah terbesar dalam benteng pertahanan yang ia bangun dengan darah dan air mata selama belasan tahun ini.
...****************...
Mobil akhirnya memasuki gerbang besar Maheswara ketika langit malam telah sepenuhnya pekat. Begitu mobil berhenti sempurna di pelataran depan, Alvaro langsung turun tanpa menunggu sopir membukakan pintu, melangkah lebar masuk ke dalam rumah dengan aura yang lebih kaku dari biasanya. Ia seolah sedang melarikan diri dari pusaran emosi yang enggan ia akui.
Alyssa menyusul di belakang dengan langkah yang lebih tenang namun penuh kalkulasi. Sifat taktisnya memaksa otak cerdasnya untuk segera menganalisis situasi. Mengapa ada mobil yang melaju se-ugal-ugalan itu di area parkir VIP Maheswara Group? Apakah itu murni kecelakaan karena jalanan licin, ataukah ada skenario lain yang sengaja dirancang untuk mencelakainya atau mungkin, untuk menguji reaksi Alvaro?
Saat Alyssa melewati ruang tamu utama, ia mendapati Arsen sedang duduk santai di salah satu sofa tunggal, menyesap secangkir teh hangat dengan ekspresi wajah yang teramat teduh.
"Selamat malam, Kakak Ipar," sapa Arsen, senyum ramah khasnya langsung terkembang begitu melihat Alyssa. Namun, mata elangnya yang jeli langsung menangkap sisa-sisa air hujan yang membasahi ujung rambut dan blazer Alyssa. "Kalian pulang larut sekali. Dan... sepertinya ada sedikit ketegangan di luar?"
Alyssa menghentikan langkahnya, menatap Arsen dengan mental bajanya yang tak tergoyahkan. "Hanya gerimis kecil di luar, Arsen. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Ah, syukurlah kalau begitu," Arsen terkekeh pelan, meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kaca dengan ketukan halus. "Jakarta akhir-akhir ini sedang tidak aman. Banyak pengemudi yang kehilangan kendali di jalanan basah. Kau harus ekstra hati-hati, Alyssa. Sayang sekali jika sesuatu yang berharga harus rusak sebelum waktunya."
Kalimat itu terdengar seperti perhatian seorang adik sepupu, namun bagi Alyssa, itu adalah sebuah konfirmasi tak kasat mata. Sifat cerdasnya langsung menangkap sinyal ancaman di balik kata-kata Arsen. Mobil hitam di kantor pusat tadi kemungkinan besar adalah kiriman pria ini. Arsen sedang mulai bermain kotor, mencoba menggoyang ketenangan Alyssa untuk melihat sejauh mana Alvaro akan bertindak melindunginya.
Alyssa menarik sudut bibirnya, menyunggingkan senyuman anggun yang penuh tantangan. "Terima kasih atas nasihatnya, Arsen. Tapi Anda tidak perlu cemas. Alvaro selalu tahu bagaimana cara memastikan apa yang menjadi miliknya tetap aman dan tidak tersentuh."
Tanpa menunggu balasan dari Arsen, Alyssa melanjutkan langkahnya menuju tangga lantai dua, meninggalkan sepupu Alvaro itu dengan senyuman ramah yang perlahan memudar dari wajah rupawannya.
Malam itu, saat ia melangkah masuk ke kamarnya di sayap kanan, Alyssa mendapati vas berisi mawar lila yang ia temukan kemarin masih berdiri anggun di atas meja rias. Namun, fokusnya kini telah beralih sepenuhnya. Ketakutan akan ancaman Arsen dan misteri bunga itu seolah tenggelam oleh debaran gila yang kembali bergejolak di dadanya setiap kali ia mengingat kilat kepanikan di mata Alvaro sore tadi. Dinding es di antara mereka tidak lagi sekokoh sebelumnya; perubahan besar telah resmi dimulai, dan takdir sedang menyeret mereka berdua ke arah yang tidak akan pernah bisa mereka kendalikan lagi.