Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.
Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.
Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.
Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Kalah tak diakui
Thalia membeku. Detik berikutnya, Rendra menoleh cepat ke arah istrinya.
“Saya?” Thalia menunjuk wajahnya sendiri.
Arkana menyandarkan punggung ke kursinya. “Anda mendengarkan dengan sangat serius percakapan kami.”
Rendra tertawa kecil. “Thalia memang begitu, Pak. Dia suka memperhatikan, tapi ini bukan bidangnya.”
Arkana mendengar, tetapi tidak mengalihkan perhatinnya dari Thalia. “Benarkah bukan bidang Anda?”
Rendra menjawab lagi, “Iya, Pak. Thalia sekarang lebih banyak di rumah.”
“Sekarang?” ulang Arkana dengan alis terangkat, tetapi hanya sekilas saja ia mengarahkan pandangan pada Renda sebelum kembali menatap Thalia.
“Sebelum menikah, saya bekerja di firma konsultan,” ucap Thalia pelan, tak peduli lagi dengan tatapan suaminya yang sudah memberi peringatan. “Tidak lama, tapi cukup untuk mengenali perbedaan antara angka yang kuat dan angka yang dipaksakan terlihat kuat.”
Rendra menegang. Sementara Arkana diam, tetapi sudut bibirnya terangkat tipis.
“Lanjutkan,” kata Arkana.
Thalia menatap Rendra sebentar. Suaminya tersenyum, tapi sorot matanya memberi peringatan keras. 'Jangan'.
Namun kali ini, sesuatu di dalam diri Thalia memilih mengabaikan, ia kembali menatap Arkana.
“Kalau proposal ini akan dibawa ke investor eksternal, angka pertumbuhan dari tim internal saja tidak cukup. Terutama karena margin keuntungan yang ditulis terlalu optimistis dibandingkan risiko biaya operasional. Di halaman delapan belas, ada estimasi efisiensi logistik, tapi tidak ada rincian dari mana efisiensi itu diperoleh.”
Hening.
Rendra menatap Thalia seperti baru pertama kali mengenal wanita itu. Atau mungkin baru menyadari bahwa barang pajangan yang selama ini ia bawa ternyata bisa bicara.
Arkana mengambil proposal di meja dan membuka halaman yang dimaksud. Netranya bergerak cepat membaca, sesaat kemudian wajahnya terangkat dan mengarahkan pandangan pada Rendra.
“Istri Anda benar,” ucap Arkana.
“Pak?”
“Bagian ini lemah.” Arkana meletakkan proposal di meja. “Perbaiki sebelum makan malam nanti.”
Rendra tersenyum, berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya. “Baik, Pak. Saya akan minta tim revisi.”
“Bukan tim.” Arkana menatap Rendra datar. “Anda yang bertanggung jawab atas proposal ini.”
Napas Thalia tertahan saat ia melihat Rendra terdiam setelah mendapatkan teguran. Ia tidak bermaksud menjatuhkan Rendra. Ia hanya menjawab pertanyaan. Tapi dari cara tangan Rendra mencengkram lutut, Thalia tahu suaminya menganggap itu sebagai pengkhianatan.
Pandangan Arkana beralih pada Thalia. “Terima kasih atas masukannya, Nyonya Thalia.”
Thalia menunduk. “Saya hanya menyampaikan yang saya lihat.”
“Dan tidak semua orang berani menyampaikan yang mereka lihat," sambut Arkana.
Rendra tersenyum kaku.
Pertemuan itu berlangsung satu jam. Ketika akhirnya Rendra dan Arkana selesai membahas detail teknis, Arkana menutup folder di hadapannya.
“Malam ini makan malam pukul tujuh di Liora hotel," ucap Arkana.
Rendra mengangguk. “Kami akan hadir, Pak.”
Thalia menoleh cepat, memberikan pertanyaan tanpa suara pada suaminya. Kami?
“Apakah Nyonya Thalia juga akan ikut?” tanya Arkana.
"Tentu, Pak. Istri saya akan ikut," Rendra menjawab sebelum Thalia sempat membuka mulut.
Arkana beraih menatap Thalia. “Jika tidak keberatan.”
Thalia merasakan dua tekanan sekaligus. Tatapan Rendra di sampingnya, dan tatapan Arkana di depannya. Yang satu menuntut, sedangkan yang satu bertanya.
Perbedaan itu membuat dadanya terasa aneh. Thalia mengatur napas.
“Saya ikut,” jawab Thalia akhirnya.
Rendra menunjukkan wajah puas, sementara Arkana tidak menunjukkan reaksi besar, hanya mengangguk singkat.
“Baik.”
Sebelum mereka keluar, Arkana berdiri dari kursinya.
Rendra berdiri, begitu pula dengan Thalia.
“Pak Rendra,” kata Arkana. “Saya minta Anda datang lebih awal malam ini. Ada beberapa hal yang ingin saya bahas sebelum investor tiba.”
“Tentu, Pak,” jawab Rendra.
“Jam enam.”
Rendra mengangguk cepat. “Baik.”
Arkana beralih menatap Thalia. “Sedangkan Nyonya Thalia tidak perlu terburu-buru. Datang pukul tujuh saja.”
Rendra mengerutkan dahi, Thalia pun terdiam tak mengerti.
“Pak?” Rendra bertanya.
“Pembahasan jam enam murni bisnis,” kata Arkana tenang. “Saya rasa istri Anda tidak perlu menunggu satu jam untuk sesuatu yang tidak melibatkannya.”
Kalimat itu terdengar biasa, sopan, dan profesional. Tetapi bagi Thalia, kalimat itu terdengar seperti seseorang menyingkirkan kursi dari ruang tempat ia hendak dipaksa duduk.
Rendra jelas tidak menyukainya, namun ia tidak bisa membantah. “Baik, Pak.”
Arkana mengangguk. Sesaat kemudian, Saka kembali masuk untuk mengantar mereka keluar.
"Nyonya Thalia."
Thalia sudah hampir melewati pintu ketika suara Arkana kembali terdengar, membuat Thalia serta Rendra menoleh.
Arkana berdiri di belakang meja, satu tangannya berada di saku celana. Ekspresinya tetap tenang, tapi netranya tertuju pada kaki Thalia lagi.
“Sepatu yang Anda pakai hari ini lebih baik.”
Thalia membeku.
Satu kalimat itu tidak seharusnya membuat wajahnya panas. Namun kenyataannya, pipinya terasa hangat.
Rendra menoleh tajam ke arah istrinya.
“Terima kasih," ucap Thalia.
Arkana tidak tersenyum. Tapi ada sesuatu di mata pria itu. Sesuatu yang membuat Thalia ingin segera pergi sebelum jantungnya melakukan hal bodoh.
Thalia menunduk singkat, lalu membalikkan badan dan keluar bersama Rendra.
Begitu mereka masuk ke dalam lift dsn pintu lift menutup, Rendra tidak bisa lagi menahan amarahnya.
“Kamu puas?”
Thalia menoleh menatap wajah suaminya. Ia sudah menduga alasan apa yang membuat Rendra kesal.
“Puas apa?” tanya Thalia.
“Mempermalukan aku di depan Pak Arkana," jawab Rendra tajam.
“Aku tidak mempermalukanmu. Dia bertanya pendapatku," sanggah Thalia.
“Dan kamu merasa perlu menunjukkan bahwa kamu pintar?” sambut Rendra tersenyum sinis.
“Aku memang punya pendapat, Ren. Itu bukan kejahatan,” jawab Thalia membela diri.
“Dalam situasi itu, seharusnya kamu diam," ucap Rendra.
“Kenapa? Karena pendapatku benar?” sahut Thalia datar.
Rahang Rendra mengeras. “Itu proposal kerjaku.”
“Justru karena itu seharusnya kamu senang ada yang menunjukkan celahnya sebelum investor melihatnya,” sahut Thalia.
“Jangan mengajariku soal pekerjaan," tukas Rendra tidak senang.
“Kalau begitu jangan bawa aku ke ruang kerja bosmu lalu berharap aku menjadi patung." jawab Thalia segera memalingkan wajah.
Lift turun dengan suara halus. Namun di dalamnya, ketegangan semakin kasar. Rendra mendekat satu langkah, satu tangannya menyentuh dinding lift, mengurung istrinya, lalu mencondongkan wajahnya.
“Dengar. Nanti malam kamu tidak perlu bicara kecuali ditanya.”
Thalia tertawa pelan. “Kalau ditanya?”
“Jawab aman," jawab Rendra.
“Aman untuk siapa?”
“Untuk kita.”
Thalia menatap suaminya lama. “Kamu tidak pernah benar-benar bermaksud ‘kita’, Ren.”
Rendra tidak menjawab. Pintu lift terbuka.
Mereka keluar melewati lobi, berjalan berdampingan seperti pasangan rapi yang baru selesai menghadiri pertemuan penting. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa menit sebelumnya, kata-kata mereka saling melukai di dalam lift tertutup.
Begitu sampai di mobil, Rendra membuka pintu untuk Thalia lag. Sopan dan penuh kepalsuan lagi. Dan begitu mereka tiba di depan rumah, Rendra menurunkannya tanpa ikut turun meski hari sudah sore.
“Aku harus kembali ke kantor,” katanya. “Proposal harus direvisi.”
Thalia menatap suaminya. “Kamu mau menjemputku nanti?”
“Tidak. Aku langsung ke Liora hotel dari kantor. Kamu datang sendiri pukul tujuh," jawab Rendra.
Thalia mengangguk. “Baiklah.”
Rendra menatap istrinya beberapa saat. “Pakai gaun yang lebih pantas.”
Thalia menghela napas. “Aku rasa gaun ini cukup pantas.”
“Untuk siang, iya. Untuk makan malam dengan investor, tidak," jawab Rendra.
“Investor atau Arkana?” tanya Thalia tepat sasaran.
Mata Rendra menajam. “Jangan membuatku menyesal membawa kamu.”
Thalia ingin bertanya sejak kapan dirinya punya pilihan untuk tidak dibawa. Tapi ia memilih diam, karena ia tahu itu akan percuma.
Rendra menyalakan mesin mobil lagi.
“Satu lagi,” kata Rendra sebelum pergi. “Jangan membuat Pak Arkana berpikir kamu lebih mengerti bisnisku daripada aku.”
Thalia menatap suaminya. “Kalau kamu tidak ingin terlihat begitu, perbaiki proposalmu.”
Wajah Rendra membeku.
Thalia membuka pintu mobil dan turun sebelum pria itu sempat membalas. Dan kali ini, ia yang meninggalkan Rendra lebih dulu
. . . .
. . ..
To be continued...