Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. ALVIN PERGI KE PASAR
*Tolong baca judul bab ini seperti teriakan populer di pertunjukan topeng monyet: SARIMIN PERGI KE PASAR~~🎶
Gak penting? Emang.
Terima kasih. Silakan lanjut baca. Awas kalau ketawa! *
🐒🐒🐒
"Maaf, tapi sebenarnya nggak perlu repot..."
Erina sudah berkali-kali bicara begitu--meski sekarang ia sudah duduk nyaman di kursi penumpang depan mobil Lexus RX putih milik Alvin, dan mereka sudah separuh jalan menuju tujuan.
"Sama sekali nggak repot," Alvin yang sibuk mengemudi entah kenapa bisa sabar juga menimpali Erina, meski kali ini netra cokelatnya melirik dengan sorot sedikit tajam. "Ini sudah ketujuh kalinya kamu bilang begitu, Rin... apa aku nggak dapat piring cantik, minimal selusin?"
Erina mau tak mau tertawa, meski dalam hati merasa malu dan bingung sendiri--sebab entah bagaimana, semakin jauh dari kantor, suasana terasa kian cair. Alvin bisa bercanda dan bicara tak formal lagi sekarang--bahkan memanggilnya hanya dengan sebutan nama.
Seakan mereka sudah berteman akrab dan lama.
"Mau piring model apa? Di pasar banyak. Nanti kubelikan."
Pasar. Itulah tujuan mereka sekarang. Itulah sebabnya Erina berkali-kali minta maaf pada Alvin seperti membaca istighfar usai sholat--karena jujur ia tak enak membuat Alvin mengantarnya ke pasar dengan mobil, tetapi Alvin sendiri yang berkeras ingin.
Erina harus ke pasar untuk membeli bahan masakan katering besok. Itu adalah bisnis sampingannya yang sudah populer di kalangan kantor dan tetangga--setiap hari kerja ia akan memasak menu tertentu dengan sistem open pre-order yang dilakukan via WA Group. Masakannya terkenal lezat dan harganya juga ramah di kantong, sehingga cukup banyak yang menjadi pelanggan dan setia memesan.
Karena itu, saat Alvin menawari untuk mengantar pulang, Erina sempat menolak. Ia sungguhan tak mau merepotkan, dan dengan jujur mengungkapkan alasannya. Tetapi mendengar Erina hendak mampir ke pasar sebelum pulang ke kontrakannya, Alvin justru terlihat antusias.
"Jujur aku belum pernah pergi ke pasar. Izinkan aku mengantarmu ke sana, ya? Aku ingin tahu seperti apa rasanya jalan-jalan dan belanja di pasar... boleh?"
Sejenak, Erina memandang Alvin seakan ia adalah makhluk dari planet lain.
Spesies homo sapiens apa yang belum pernah ke pasar? Dari penampilan dan pembawaannya, Alvin memang terkesan dari kalangan atas. Tapi masa sih orang kaya nggak pernah pergi ke pasar? Atau itu cuma alasan saja... alias modus, alias ada serpihan Ind*mie nempel di pantat panci gosong?
Pemikiran itu nyaris membuat Erina memukul kepalanya sendiri.
Sadar dirilah, Rin... modus apanya? Memangnya kamu siapa--sehingga lelaki setampan, sekaya, dan secerdas Alvin sudi bertingkah seperti buaya muara? Hih, jangan ge-er lah!
Erina pun akhirnya menerima tawaran Alvin--karena tak tahu lagi bagaimana caranya menolak sang atasan yang hampir selalu kelihatan tenang tapi pendiriannya seteguh karang--dan mobil mewah itu kemudian berhenti di pelataran parkir sebuah pasar induk yang buka 24 jam.
"Oh... wow."
Alvin seperti bocah yang menemukan mainan baru. Matanya berbinar dan mulutnya terbuka takjub saat melihat lapak-lapak berjajar dan menjajakan aneka dagangan--dari gerabah, pakaian, mainan anak-anak, bahan pangan mentah, hingga makanan jadi--seakan melihat koleksi lelang permata langka di dunia.
"Mau beli itu?"
Erina harus menahan diri untuk tidak ketawa ngakak saat melihat Alvin berjongkok dan terpesona melihat mainan kapal yang berputar berisik dalam baskom berisi air--ekspresinya persis bocah umur dua tahun, hanya saja sudah sunat dan tidak pakai popok lagi.
"Berapa harganya, Pak?"
Alvin sungguhan membeli mainan itu--sebaskom-baskomnya (airnya dibuang), dengan lembar uang merah yang ia tolak kembaliannya, dan seketika membuat pedagangnya sumringah.
"Gila pasar ini," Alvin geleng-geleng saat menemani Erina membeli daging dan aneka sayur segar. "Semua ada. Kualitasnya tak kalah dengan supermarket. Dan bagaimana harganya bisa semurah itu?"
"Bisa, karena ini pasar induk--mereka tangan pertama, dan tak perlu bayar pajak banyak atau sewa gedung mahal seperti supermarket," sahut Erina kalem. "Seharusnya kamu tahu itu, kan? Kalau kamu bisa jadi Manajer Marketing, berarti kamu punya pengalaman di bidang penjualan atau bisnis..."
Alvin menepuk jidatnya sendiri dan tertawa.
"Ya... kamu benar. Entah kenapa mendadak aku tak terpikirkan itu... mungkin karena aku terlalu semangat bisa pergi ke sini, jadi sesaat otak bisnisku mati suri..."
"Atau kamu lapar," timpal Erina, tak bisa lagi menahan tawa saat mendengar perut Alvin berkeruyuk keras di tengah bisingnya pasar. "Belum makan malam, kan? Mau makan dulu? Di sebelah sana ada yang jual soto babat enak."
Itu pertama kalinya juga Alvin duduk di kursi plastik kaku berwarna norak dan menyantap babat yang tampilannya kurang meyakinkan di matanya--seperti potongan kulit badak yang sudah lembek dan retak-retak, berenang dalam kolam oli seri gold.
Awalnya Alvin ragu, namun setelah mencicipi rasanya, ia malah minta tambah dua porsi.
"Lapar apa doyan?" Erina memandang Alvin terheran-heran.
"Dua-duanya," Alvin menandaskan mangkuk soto ketiga tanpa sungkan. "Aku tadi belum makan siang. Jadi ya makan malam ini sekalian makan siangku."
Erina kembali berusaha menahan tawa di balik gelas es jeruknya.
"Ini hari pertamamu bekerja di kantor kami," gumam Erina, sejurus kemudian tatapan dan ekspresinya melembut. "Pasti terasa berat juga sampai kamu harus skip makan siang..."
"Hmm... aku pernah menjalani yang lebih berat," aku Alvin. "Tapi aku memang begitu... kalau sudah fokus bekerja, selera makan juga seakan hilang entah ke mana. Jadi aku sering melewatkan--tunggu, ini tisu toilet?"
Alvin terpaku saat menarik lembaran tisu dari tempat tisu plastik bundar berwarna biru.
"Ya," sahut Erina, bingung melihat kelakuan Alvin.
"Kenapa tisu toilet ditaruh di meja makan?" Alvin mengerutkan kening dan mendorong tisu itu menjauh--seakan jijik.
"Ya buat lap kalau selesai makan..."
Alvin seketika mendelik.
"Lap--maksudmu, lap mulut pakai tisu toilet?!"
"Ya... memang kenapa? Kan tisunya bersih... sama-sama tisu juga," Erina mulai paham isi pikiran Alvin, meski baginya tetap tak terasa relevan.
"Ugh... please!" Alvin bergidik jijik. "Namanya aja tisu toilet, bahannya aja beda, itu jelas-jelas buat... masa gitu aja nggak ngerti?"
Erina mendesah.
"Aku bisa ngerti... kamu sempat tinggal di luar negeri. Kamu mungkin pakai tisu ini di toilet. Tapi buat kebanyakan orang di sini, nggak ada yang pakai tisu ini buat cebok. Jadi ya semua jenis tisu sama aja, asal bersih."
Alvin mendengus, tampak tak setuju.
"Kalau nggak mau pakai tisu toilet, nih aku ada tisu wajah," Erina membuka tasnya dan mencari tisu wajah pocket yang selalu dibawanya.
"Trims--tapi nggak usah. Aku ada sapu tangan."
Alvin membersihkan mulutnya dengan sapu tangan, lalu membayar semua makanan yang mereka makan.
"Simpan kembaliannya buat beli tisu makan, Pak. Jangan pakai tisu toilet lagi, tolong!" ujar Alvin usai mengulurkan tiga lembar uang merah, membuat si bapak penjual soto melongo bingung.
"Trims ya... sudah ditraktir," kata Erina malu-malu. Ia sebenarnya ingin bayar sendiri, tapi tak tahu caranya menolak dominasi dan ketegasan Alvin dalam urusan pembayaran.
"Aku yang terima kasih sudah diberi pengalaman seru malam ini," Alvin tersenyum lebar dan tulus. "Akhirnya, seorang Alvin pergi ke pasar, hahaha."
"Kukira kamu tadi bercanda saat bilang belum pernah ke pasar," Erina ikut tertawa. "Memang orang kaya seperti itu ya... nggak pernah ke pasar? Apalagi jajan cilok?"
Alvin tertegun. "Apa itu cilok?"
Erina menepuk jidat dan tertawa makin keras.
Alvin membawakan semua belanjaan Erina ke mobil. Mobil yang dikemudikannya kemudian meluncur mulus menuju perkampungan tempat Erina tinggal bersama kedua anaknya.
"Maaf jadi repot--"
"Nggak repot. Delapan kali, dan aku masih belum dapat piring cantik."
"Ah, iya, lupa beli tadi, maaf deh..."
"Sekali lagi minta maaf, aku bakal dapat pabrik piring--bukan piringnya lagi."
Erina dan Alvin pun tertawa bersama.
Karena gang tempat tinggal Erina sempit dan cuma bisa dilalui motor, Alvin memarkir mobilnya di tepi jalan raya, lantas mengantar Erina dengan berjalan kaki dan membawakan belanjaannya sampai depan pintu kontrakan.
Erina sempat merasa rikuh dan deg-deg-an saat diantar Alvin seperti itu--yang meskipun penampilannya mulai agak kusut dan bau kuah soto karena habis jalan-jalan dan makan di pasar, kadar ketampanannya tetap tak berkurang, dan sosoknya yang asing di sisi Erina pasti akan sangat mengundang perhatian, pertanyaan, plus gosip.
Untungnya, saat itu sudah lewat pukul sembilan malam, jadi gang sempit itu pun sudah sepi.
"Om Alvin...?"
Setibanya di kontrakan, Saga yang membukakan pintu, kaget melihat sang ibu diantar pulang Alvin.
"Halo, Saga. Kita ketemu lagi," sapa Alvin ramah.
"Kenapa Om bisa sama Mama...?" Saga menatap heran sekaligus tajam Alvin dan Erina.
"Om Alvin mulai hari ini kerja sebagai atasan Mama di kantor. Dia mengantar Mama pulang karena kebetulan rumahnya searah," jelas Erina lembut, meski detak jantungnya diam-diam meningkat.
"Hmm..."
"Mama. Pulang."
Nala muncul dari dalam kamar, sudah mengenakan gaun tidur bermotif mawar.
Saga mundur seakan memberi jalan dan ruang, sementara adiknya maju tanpa menoleh kanan-kiri dan langsung memeluk Erina kaku--rutinitas yang selalu dilakukannya setiap Erina pulang kerja dan ia belum tidur.
"Iya, Mama pulang, Sayang," Erina balas memeluk dan mencium puncak kepala Nala penuh cinta. "Nala senang hari ini?"
"Senang. Gambar. Main air. H2O."
Erina tersenyum. "Anak pintar."
"Siapa?" Nala menyadari sosok Alvin, tatapannya fokus penuh ke wajah menawan yang kini menyiratkan kelembutan sekaligus keprihatinan.
"Om Alvin. Teman Mama. Om Alvin. Teman Mama. Om Alvin. Teman Mama," jawab Erina, sengaja mengulang tiga kali agar Nala paham.
"Om Alvin. Teman. Mama," gumam Nala, mengangguk-angguk. "Om. Baik?"
"Iya, kabar Om baik," Alvin tersenyum lembut. "Kabar Nala baik?"
"Baik."
Nala kemudian berputar dan berjalan masuk kamar tanpa bicara apa-apa lagi.
"Mau minum teh atau kopi dulu, Al?" Erina menawarkan ramah.
Di belakang punggung Erina, Saga mendelik. Dan Alvin menyadari itu.
"Tak usah, Rin. Sudah malam. Aku harus pulang--Nia menungguku di rumah," tolak Alvin halus.
"Oh... ya sudah kalau gitu. Sekali lagi terima kasih ya. Hati-hati di jalan. Salam buat Nia," ujar Erina lembut.
"Ya, kembali kasih. Aku pamit dulu. Sampai jumpa, Erina. Saga. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Erina dan Saga serentak.
Ketika pintu sudah tertutup, Saga tanpa berbasa-basi melontar kalimat tajam.
"Mama dan Om Alvin baru kenal hari ini... kenapa sudah dekat dan seakrab itu? Saga nggak suka!"
***