"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Jaring Sutra dan Perangkap Syahwat
Malam semakin larut, namun udara di dalam kamar utama kediaman Adiwangsa terasa sedingin es. Di atas ranjang king-size yang mewah, dua manusia berbaring dalam satu selimut yang sama, namun dipisahkan oleh jurang permusuhan yang teramat dalam. Adrian tidur menyamping, memunggungi Aruna dengan tubuh yang tampak tegang. Di sisi lain, Aruna juga berbaring membelakangi suaminya.
Adrian melirik sekilas ke belakang melalui bahunya. Mendengar ritme napas Aruna yang teratur dan tenang, ia berasumsi bahwa istrinya telah tertidur lelap akibat kelelahan batin sepanjang hari. Namun, Adrian keliru. Di balik kegelapan kamar, sepasang mata Aruna tetap terbuka lebar, terjaga dalam kewaspadaan mutlak. Panca inderanya menajam, siap menangkap setiap pergerakan sekecil apa pun dari pria yang berada di ranjang yang sama dengannya.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Adrian merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pribadinya, dan menyalakan layarnya dengan tingkat kecerahan paling rendah. Ia mengetik sebuah nomor, lalu menempelkan benda tipis itu ke telinganya. Begitu panggilan tersambung, Adrian berbicara dengan nada berbisik yang sangat intens, nyaris menyerupai desisan ular di tengah malam.
"Halo, Val..." bisik Adrian, matanya melirik ke belakang sekali lagi untuk memastikan Aruna tidak bergerak. "Soal pembicaraan kita tentang draf perjanjian mahar saham kemarin... tolong rahasiakan ini rapat-rapat. Jangan sampai Ibuku tahu detailnya. Ibu itu orangnya sangat tidak percayaan. Dia ketakutan setengah mati kalau kamu akan membawa kabur aset Adiwangsa setelah kita menikah resmi nanti."
Di seberang telepon, di dalam sebuah kamar apartemen yang remang-remang, Valerie sedang bersandar di dada seorang pria. Ia tersenyum sinis, namun suaranya terdengar begitu manja dan menenangkan di telepon. "Tenang saja, Mas Sayang... aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Kamu percaya kan sama cinta dan kesetiaanku?"
"Tentu saja aku percaya padamu, Val," jawab Adrian cepat. Namun, di dalam benaknya yang dipenuhi ego dan kalkulasi bisnis, sebuah pemikiran manipulatif mendadak muncul. Maaf, Valerie... sebenarnya aku juga tidak sebodoh yang kamu kira. Jika suatu hari nanti kamu berniat mengkhianatiku atau membawa kabur perusahaan ini, aku sudah menyiapkan berkas-berkas rahasia lain yang kubuat secara sepihak. Berkas yang bahkan si dekil Aruna pun tidak tahu di mana aku menyimpannya.
Valerie yang bisa menangkap sedikit keraguan dari nada suara Adrian segera mengalihkan pembicaraan agar pria itu tidak berpikir terlalu jauh. "Mas, bagaimana kalau kita ketemuan besok di kantor saja? Kita bicarakan semua drafnya di sana bersama tim legal. Malam ini kan aku tidak bisa ke rumahmu gara-gara masalah kemarin."
Adrian menghela napas panjang, rasa frustrasinya kembali mencuat. "Iya, Val. Si dekil ini masih menguasai kamar utama. Aku sudah benar-benar tidak tahan lagi berada satu atap dengannya. Aku ingin persidangan ini cepat selesai agar aku bisa menendangnya keluar secara hukum."
"Sabar ya, Mas... tinggal beberapa hari lagi," sahut Valerie, suaranya merayu manis.
"Iya, Val... aku sangat merindukanmu. Aku kangen ingin tidur memelukmu malam ini. Kamu... kamu benar-benar membuatku candu," bisik Adrian, suaranya bergetar oleh gairah biologis yang tertahan.
Valerie tertawa kecil di seberang sana, suara tawa yang terdengar sangat menggoda. "Iya, Mas... sabar ya. Besok di kantor kita bisa puas bersama. Muach... Sudah dulu ya, Mas. Selamat malam."
Panggilan diputus sepihak oleh Valerie. Adrian menurunkan ponselnya, menatap layar yang menggelap dengan napas yang tertahan. Hasrat biologisnya bergejolak hebat, namun ia hanya bisa menatap dinding kamar dengan frustrasi. Pria itu benar-benar tersiksa malam itu—terjebak di samping istri sah yang ia benci, sementara seluruh pikiran dan energinya telah habis terkuras oleh candu syahwat dari wanita lain.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di sisi ranjang yang lain, Aruna sedang menatap kegelapan malam dengan senyuman kelam yang sangat dingin. Air matanya tidak lagi keluar.
Kalian berdua berhentilah bermimpi, batin Aruna penuh intrik. Teruskan saja sandiwara menjijikkan kalian. Aku akan memastikan kalian saling cakar, saling mengkhianati, dan pada akhirnya... saling menghancurkan sampai tidak ada lagi yang tersisa dari martabat kalian.
Sementara itu, di dalam kamar apartemen mewah di pusat kota, Valerie melemparkan ponselnya ke atas nakas dengan gerakan santai. Begitu panggilan terputus, sebuah tangan kekar dari belakang langsung mencengkeram pinggangnya dengan kasar, menarik tubuh Valerie hingga bersandar erat pada dada bidang seorang pria bertubuh tegap.
Pria itu adalah Toni, suami sah Valerie yang selama ini disembunyikan dari publik demi memuluskan misi mereka menguras harta keluarga Adiwangsa.
"Kamu kok begitu, hah? Berapa kali kamu sudah tidur dengan si dungu itu?" tanya Toni dengan nada suara yang berat, ada kilat cemburu dan kemarahan yang tertahan di matanya yang tajam.
Valerie membalikkan tubuhnya, menatap suaminya dengan pandangan mata yang sayu dan sensual. Ia melingkarkan lengannya di leher Toni, mengusap rahang pria itu dengan ujung jarinya untuk meredam amarah sang suami.
"Jangan cemburu dong, Sayang..." bisik Valerie, suaranya berubah menjadi sangat seksi dan manipulatif. "Kan semua yang aku lakukan ini demi kita berdua. Demi masa depan kita, dan demi mengambil alih perusahaan papa juga, bukan?"
Toni mendengus kasar, memalingkan wajahnya sejenak. "Tapi tetap saja, setiap kali melihatmu merayu pria kikir itu di telepon, aku merasa seperti menjadi pria kedua di hidupmu."
"Nggak akan pernah, Toni," sergah Valerie, menekan tubuhnya lebih rapat ke dada suaminya. "Kamu itu harusnya berterima kasih kepadaku. Kalau kamu tidak menikah denganku, kamu tidak akan mungkin bisa bekerja di perusahaan Papa dan langsung mendapatkan jabatan mentereng sebagai Direktur Utama di sana. Aku tahu betul Papa selalu menjadikanku sebagai umpan maut untuk menjebak rekan bisnisnya yang serakah seperti Adrian. Dan kamu juga tahu sendiri kan bagaimana hasilnya selama ini? Kita selalu sukses besar!"
Valerie mengecup leher Toni dengan lembut, memberikan stimulasi yang membuat napas suaminya mulai memburu. "Besok... si dungu Adrian itu akan masuk ke dalam perangkap kita sepenuhnya di kantor. Dia akan menandatangani pengalihan saham itu tanpa curiga. Kita hanya perlu menunggu beberapa hari lagi sampai semuanya mutlak menjadi milik kita."
Toni menatap wajah Valerie yang begitu cantik namun beracun di bawah temaram lampu tidur. Gairah kelaki-lakiannya yang sempat terbakar cemburu kini berbalik menjadi letupan nafsu yang tidak terbendung.
"Iya... aku tahu," ucap Toni, suaranya parau oleh gairah yang memuncak. "Tapi sekarang... bayar utangmu padaku malam ini."
Valerie memiringkan kepalanya, tersenyum menggoda dengan tatapan mata yang menantang. "Utang apa, Sayang...?"
Tanpa memberikan jawaban verbal, Toni langsung menarik tengkuk Valerie dengan kasar dan melumat bibir istrinya dengan sangat rakus. Ciuman itu terjadi begitu liar dan intens, sebuah pagutan penuh syahwat yang sarat akan kepemilikan mutlak. Mereka saling berpagutan, memainkan lidah mereka dengan ritme yang semakin lama semakin cepat dan menuntut.
"Uh... oh... ah..."
Desahan-desahan kecil mulai lolos dari celah bibir Valerie yang basah. Sentuhan tangan Toni di sekujur tubuhnya membuat akal sehat wanita itu meleleh dalam sekejap. Valerie yang sudah tidak tahan lagi dengan intensitas gairah suaminya segera menjangkau ujung baju lingerie sutra tipis yang dikenakannya, lalu menyingkapnya ke bawah dengan satu gerakan sensual.
Baju malam itu merosot jatuh ke lantai, menampilkan bentuk tubuh Valerie yang begitu sintal dan indah di bawah cahaya remang-remang. Dua buah dadanya menyembul dengan sangat menantang, kencang dan padat karena ia memang sengaja tidak mengenakan bra sejak sore tadi. Kulitnya yang mulus tampak berkilau, mengundang hasrat terdalam dari pria yang memujanya.
Toni menatap pemandangan indah di hadapannya dengan mata yang menggelap oleh kabut nafsu. Tanpa membuang waktu, ia langsung merubuhkan tubuh Valerie ke atas ranjang. Toni melahap dada wanita itu dengan rakus, mengecup sela-selanya, dan memainkan pucuk dadanya yang mengeras menggunakan lidah dan jemarinya dengan ritme yang sangat erotis.
Valerie melengkungkan punggungnya, mencengkeram sprei ranjang dengan erat saat gelombang kenikmatan biologis menghantam seluruh kesadarannya. Kamar apartemen itu seketika dipenuhi oleh suara deru napas yang memburu dan desahan gairah yang saling bersahutan—sebuah ritual percintaan yang panas, yang dibangun di atas fondasi kelicikan dan konspirasi untuk menghancurkan hidup seorang pria bernama Adrian.
Kembali ke kamar utama kediaman Adiwangsa, malam berputar dengan sangat lambat bagi Adrian.
Pria itu membalikkan tubuhnya berulang kali di atas kasur, merasa sangat tersiksa karena kebutuhan biologisnya yang membubung tinggi sama sekali tidak menemukan jalan keluar. Ia menatap punggung Aruna yang tetap diam membelakanginya, merasa jijik sekaligus tidak berdaya karena hukum Komnas HAM melarangnya menyentuh wanita itu tanpa persetujuan.
Adrian terlelap dalam penderitaan batin dan paranoid yang ia ciptakan sendiri, sama sekali tidak menduga bahwa di dua tempat yang berbeda, jaring-jaring kehancurannya telah ditenun dengan sangat rapi: oleh keintiman beracun Valerie di atas ranjang apartemennya, dan oleh ketenangan dingin Aruna yang sedang menghitung hari menuju Altar Pembalasan.