"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Wajah kekasihnya yang biasanya bersih, mulus, dan selalu memancarkan aura polos saat membaca buku di bawah pohon kamboja, kini dipenuhi oleh bercak-bercak luka lebam keunguan yang sangat kontras di atas kulitnya yang memutih pucat.
Luka itu terlihat seperti bekas hantaman benda tumpul atau tekanan fisik yang luar biasa hebat.
"Tante... kenapa wajah Fira bisa begini?" tanya Devano dengan suara bergetar hebat, ada nada kemarahan sekaligus ngeri yang bercampur di dalamnya.
"Tante juga gak tahu, Dev... Sumpah, tante gak tahu," jawab Tante Nina sembari menggelengkan kepala histeris, air matanya kian menderas.
"Semalam pas dia diantar pulang wajahnya belum seperti ini. Masih bersih, cuma badannya memang lemas banget dan langsung pamit tidur di kamar."
Tante Nina kemudian meraih ujung kain jarik yang menutupi bagian lengan Fira, menyingkapnya sedikit untuk memperlihatkan kepada Devano.
Di sana, di sepanjang permukaan kulit lengan atas hingga pergelangan tangan gadis malang itu, kondisinya sama mengenaskannya banyak terdapat luka lebam kehitaman yang berjejer, persis seperti bekas cengkeraman paksa jari-jari tangan manusia dewasa.
Tangis Devano semakin tertahan di dada. Hatinya terasa dicabik-cabik oleh rasa sakit dan penyesalan yang terlambat.
Tak lama kemudian, suasana ruangan sedikit bergeser saat seorang ustadzah senior bersama beberapa ibu-ibu pengurus rukun kematian datang membawa baskom air dan perlengkapan kain kafan.
Mereka mengumumkan bahwa jenazah Fira akan segera dimandikan untuk persiapan pemakaman sebelum salat asar.
Devano terpaksa menyingkir, membiarkan jasad kekasihnya diurus oleh mereka.
Dengan langkah gontai dan pandangan yang kosong, cowok berkacamata itu berjalan menuju ke sudut ruangan yang agak remang, duduk menyendiri di atas sebuah kursi kayu sembari menatap ubin lantai dengan tatapan yang sepenuhnya kehilangan arah.
Melihat kesempatan itu, Arash memberikan kode mata kepada Reno, Alvaro, dan Mike untuk tetap tinggal di dekat pintu luar.
Dia melangkah perlahan membelah kerumunan pelayat, mendekati sudut ruangan tempat Devano duduk.
Tanpa mengeluarkan suara, Arash mengulurkan tangan kanannya dan menepuk bahu Devano dengan pelan namun mantap.
Devano tersentak kecil, mendongakkan kepalanya dengan cepat.
"Siapa kamu?" tanya Devano dengan nada ketus, suaranya terdengar sangat defensif dan tidak bersahabat.
"Arash, dari kelas 12 MIPA 2," jawab Arash dengan nada suara yang sengaja dibuat rendah dan datar, menatap tepat ke arah manik mata Devano di balik lensa kacamatanya.
"Ngapain kamu di sini? Perasaan gue gak pernah ngeliat lo kenal dekat sama Fira," cecar Devano lagi, matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Gue cuma mau turut berduka cita, Bro," sahut Arash santai, mempertahankan posisinya.
Tapi Devano tidak menerima ucapan belasungkawa itu dengan baik. Dia menatap Arash dengan pandangan tidak suka yang amat sangat.
Sorot matanya berubah menjadi sangat tajam, dingin, dan dipenuhi oleh aura permusuhan yang pekat.
Apalagi, perubahan ekspresi Devano itu diikuti oleh reaksi yang jauh lebih mengerikan dari dimensi lain.
Sosok perempuan bergaun merah darah yang sejak di sekolah tadi bergelayut erat di atas bahu dan punggung Devano, mendadak bergerak memutar posisinya.
Makhluk bermuka hancur dengan rambut gimbal yang menjuntai itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke arah wajah Arash dengan sepasang mata merah menyala yang memancarkan tatapan membunuh yang sangat kuat.
Aura hitam berbau anyir darah seketika menguar hebat di sudut ruangan tersebut, mencoba mengintimidasi kemampuan indigo milik Arash.
Namun, Arash tidak bergeming sedikit pun.
Dia membalas tatapan membunuh dari sosok gaib berbaju merah itu dengan pandangan mata yang tak kalah dingin dan tajam, menyiratkan pesan implisit bahwa dia tidak takut sama sekali.
Lala berdiri di belakang Arash, mencengkeram erat ujung jaket denim cowok itu dengan kedua tangan transparannya yang sedingin es.
Tubuh hantu cewek itu gemetaran hebat, dia benar-benar terlalu takut untuk sekadar menatap langsung wujud mengerikan makhluk bergaun merah darah yang sedang bergelayut di punggung Devano.
Di dimensi gaib, energi hitam yang memancar dari makhluk pesugihan itu terasa sangat pekat, berbau anyir darah bercampur busuk yang mengitari sudut ruangan remang tersebut.
Arash tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari manik mata Devano.
Aura cowok sholeh itu tetap tenang, berdiri tegak tanpa riak ketakutan sama sekali, menciptakan kontras yang luar biasa di antara ketegangan dua dunia ini.
"Hidup hanya sekali, bersikap adillah, dan pasrahkan semua pada Sang Pencipta," ucap Arash tiba-tiba.
Suaranya terdengar sangat rendah, berat, namun bergema penuh penekanan di indera pendengaran Devano.
Devano mengerutkan dahi dalam-dalam.
Ekspresi permusuhannya sesaat tergantikan oleh rasa bingung ketika otaknya mencoba mencerna untaian kalimat Arash yang jelas-jelas mengandung arti yang sangat mendalam dan personal bagi situasi yang sedang dialaminya.
"Jangan mengambil takdir orang lain hanya untuk membuat takdir sendiri. Ingat, kita semua hanya mampir di dunia ini. Cepat atau lambat, kita juga akan mati. Tidak ada kejayaan yang abadi jika dibangun di atas penderitaan jiwa yang suci," imbuh Arash, melayangkan sindiran telak yang langsung menghujam ulu hati Devano.
"Maksud lo apa, hah?!" geram Devano, giginya menggertak kuat di balik bibirnya yang bergetar menahan amarah yang mendadak meledak.
Rahangnya mengeras, merasa rahasia tergelap keluarganya seolah sedang ditelanjangi oleh cowok yang bahkan tidak akrab dengannya ini.
"Gak ada," sahut Arash dengan senyum tipis yang sarat akan penilaian dingin. "Hanya saja, gue sangat menyayangkan hidup Fira yang sesingkat ini harus berakhir dengan tragis, hanya demi memuaskan ambisi dan keserahan seseorang."
Mendengar kata 'Fira' dan 'keserahan' disebut dalam satu tarikan napas, dahi Devano semakin mengerut tajam hingga urat-urat di pelipisnya menonjol.
Emosi negatif yang meluap dari dalam diri Devano seketika memicu reaksi beringas dari dimensi lain.
Sosok perempuan bermuka hancur bergaun merah darah di belakangnya mendadak melesat maju, menjulurkan cakar-cakar hitamnya yang panjang dan tajam ke arah leher Arash, berniat untuk menyerang dan menghancurkan energi cowok indigo itu.
*Bzzzzzt!*
Tapi, serangan itu tidak bisa menyentuh kulit Arash sedikit pun.
Tepat beberapa sentimeter di depan dada Arash, makhluk merah itu mendadak terpental hebat ke belakang hingga menabrak dinding semen rumah duka.
Hal itu terjadi karena energi baik dan benteng spiritual hasil dari ibadah serta untaian zikir yang selalu diamalkan Arash bertindak sebagai perisai gaib yang tidak kasat mata, melindunginya dari segala bentuk serangan hitam.
Sosok bermata merah itu melengking kesakitan tanpa suara manusia, kembali bergelayut di pundak Devano dengan tubuh yang tampak melemah akibat benturan energi suci tersebut.
Devano sendiri sempat tersentak kecil, merasakan dadanya mendadak sesak seolah baru saja dihantam angin malam yang sangat kuat.
Arash merapikan letak kerah jaket denimnya, menatap kasihan pada makhluk hitam yang kini merintih di belakang Devano.
"Katakan padanya, jangan sembarangan menyentuh orang. Karena tidak semua manusia mudah untuk kalian sentuh dan kalian hancurkan," ucap Arash sekali lagi dengan nada memperingatkan yang sangat dingin, memberikan gertakan terakhir sebelum dia membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan sudut ruangan tersebut.
Melihat musuh bebuyutannya sudah tak berdaya akibat perisai gaib Arash, jiwa *cegil* berani milik Lala mendadak bangkit kembali dalam sekejap mata.
Rasa takutnya hilang berganti dengan sifat jahilnya yang mendarat di ubun-ubun.
Sebelum benar-benar melangkah pergi mengikuti Arash, Lala sempat menjulurkan lidahnya tinggi-tinggi ke arah makhluk mengerikan bergaun merah itu.
"Gak kena wlee! Emang enak! Makanya jangan sok jagoan di depan Mas ganteng nya aku!" ejek Lala dengan nada cempreng nan menyebalkan, melayang maju selangkah mendekati Devano yang masih termangu kosong.
Lala berkacak pinggang di udara, menatap mahluk bermuka hancur itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang kelewat batas estetik dunia hantu.
"Saran aku ya, Mbak... Mendingan kamu pergi ke salon aura terdekat daripada sibuk ngintilin cowok jelek dan egois begini. Akhirnya apa? Kamu ikut kelihatan jelek dan dekil kan? Iuuuhhh, dandan dong biar kelihatan cantik maksimal kayak aku! Bye!" cerocos Lala tanpa beban, mengibaskan rambut hitam panjangnya yang wangi melati ke arah wajah makhluk merah tersebut.
Wushhhh!
Setelah puas melancarkan aksi "penistaan mahluk halus" yang sukses membuat sosok merah di punggung Devano menggeram murka, Lala langsung melesat terbang secepat kilat, mengejar langkah kaki Arash yang sudah berjalan keluar melewati pintu depan rumah duka.
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅