Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 : Pertempuran sengit
Ares duduk di dalam mobil komando yang terparkir tidak jauh dari gerbang utara. Matanya terus memperhatikan layar tablet yang menampilkan posisi seluruh tim.
Semua anggota sudah berada di tempat masing-masing. Tim di arah barat alis di jalur evakuasi sudah berjaga didekat pepohonan yang rimbun
Tim di arah timur sudah menguasai titik masuk kedua. Dan tim diarah selatan seperti menunggu aba-aba.
Sementara diarah Utara, tim sudah bersiaga di dekat gerbang utama dari beberapa meter. Di tengah semua itu, ada satu orang yang menjadi kunci pembuka operasi kali ini, ia adalah Jack.
Pria itu mengenakan seragam petugas kebersihan pelabuhan. Di telinganya terpasang alat komunikasi kecil yang nyaris tak terlihat. Alat komunikasi itu terhubung oleh semua anggota, termaksud Ares.
“Masuklah kedalam,” perintah Ares sambil melihat posisi Jack yang berupa simbol kecil berbentuk lingkaran berwarna merah dari tabletnya. Simbol lingkaran merah itu menandakan simbol milik Jack yang sudah terpasang di saku baju Jack.
Setelah mendengar instruksi dari Ares, Jack langsung mendorong troli yang isinya alat pel, sapu, dan kemoceng serta sabun. Namun di bawah bagian alat pembersih itu terdapat pistol dan pisau yang sudah menunggu.
"Aku sudah di dalam," bisiknya pelan sambil mengamati sekitar.
Suara Ares langsung terdengar. "Laporkan kondisi disana."
Jack mendorong troli pembersihnya melewati beberapa gudang dan kontainer. Ia melirik beberapa sudut pelabuhan yang dimana ada beberapa orang yang sedang bermain kartu.
"Semuanya terlihat normal. Aktivitas berjalan seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda kecurigaan dari musuh,” katanya sambil berbicara ke alat komunikasi.
Ia melirik sekitar, dan melihat semua anggota yang berjaga disana. "Perkiraan jumlah anggota masih lengkap. Tidak ada yang keluar dari area."
Ares mengangguk puas, "bagus."
Ia lalu membuka peta digital. "Pergi menuju ruang keamanan."
Jack mengangguk paham. "Mengerti."
Jack bergerak secara biasa, karena ia tahu mau bergerak bagaimanapun dia tidak akan ada yang curiga karena ia hanyalah petugas kebersihan dan akan kurang mungkin menjadi seorang mata-mata
Beberapa menit kemudian ia sampai di ruang keamanan yang sudah di perkirakan kosong oleh Ares dalam diskusi. "Aku sudah berada dilokasi."
Ares langsung berdiri. "Semua tim bersiap."
“Dimengerti!” jawab semua anggota serempak.
Suasana menjadi tegang, Ares menarik napasnya perlahan. "Jack," ucapnya.
Jack mendengarkan dari alat komunikasi.
"Nyalakan alarm,” ucap Ares secara tegas.
Jack mengangguk lalu menekan tombol alarm. Alarm darurat langsung menggema ke seluruh area.
WEEEE!
Semua anggota musuh langsung berkumpul tepat di arah tengah pelabuhan karena mendengar suara alarm bahaya. Mereka tampak membawa senjata masing-masing dan menatap ke sembarang arah, seperti mencari dimana musuh.
Ares menekan tombol komunikasi. "Kepada seluruh tim. Posisi menyerang."
"Siap!"
"Siap!"
"Siap!"
Suara balasan terdengar dari seluruh arah.
Ares menatap jam. “Langsung Jack."
Jack langsung menekan tombol pembuka semua
CLICK
Seketika seluruh gerbang akses pelabuhan terbuka bersamaan.
Dalam hitungan detik, puluhan anggota Black Colfer menyerbu dari empat arah yang berbeda.
Musuh yang sedang kebingungan langsung dibuat terkejut dengan kedatangan tim Black Colfer tersebut. Mereka tidak menyangka markas yang selama ini tersembunyi menjadi sebuah pelabuhan dengan mudah ditemukan oleh mereka.
Lalu suasana semakin hening saat seseorang berjalan maju dari tengah kerumunan itu, Xavier.
Mantel hitam panjangnya berkibar diterpa angin laut. Rambut putihnya bergerak pelan tertiup angin. Tatapan mata biru kemerahannya terlihat tajam dan dingin. Salah satu tangannya masih berada di dalam saku mantelnya.
Pemimpin kelompok lawan langsung menatapnya terkejut dan bercampur dengan rasa penuh kebencian. "Kau..."
Xavier berhenti beberapa meter di depannya. "Menyerah lah," suaranya terdengar tenang.
Namun justru itulah yang membuat semua orang terasa merinding dan kehabisan oksigen.
"Kalau kau ingin ini selesai tanpa ada pertumpahan darah, menyerah lah dan serahkan wilayah ini padaku," katanya tegas.
Xavier perlahan melanjutkan. "Kalau tidak..." Tatapannya berubah semakin tajam. "Jangan salahkan aku atas akibat yang terjadi."
Pemimpin musuh tertawa sinis. “Sombong sekali kau itu,” katanya dengan senyuman mengejek.
Xavier hanya menatapnya datar tanpa menjawab.
Dan untuk sesaat, pemimpin itu terlihat ragu. Namun, harga dirinya terlalu besar kalau langsung menyerah begitu saja.
"Tembak mereka!" katanya.
Xavier menggelengkan kepalanya. “Kau yang memintanya.”
“Serang!” kata Xavier tegas.
Pertempuran pun pecah. Suara tembakan dan teriakan memenuhi area musuh
Tim Black Colfer bergerak sesuai rencana yang sudah dipelajari dari blue print sebelumnya. Setiap jalur berhasil dikendalikan.
Ares tampak memimpin tim utara. Felix menembak dan sesekali mengatur komunikasi seluruh pasukan melalui alat komunikasi.
Sementara Xavier langsung menuju pemimpin lawan. Keduanya saling berhadapan di antara kontainer-kontainer besar.
Pertarungan berlangsung sengit. Pemimpin itu ternyata jauh lebih kuat daripada perkiraan Xavier. Beberapa kali serangannya nyaris mengenai Xavier.
Namun Xavier tetap tenang. Ia berhasil menghindari semua serangan itu dan langsung menyerang balik, lalu kembali mengambil jarak yang tepat.
Sampai saat Xavier hendak memukul bagian tulang rahang ketua musuh, ia tidak memperhatikan tangan ketua itu yang sudah mengarahkan pistolnya kearah perut Xavier.
Sampai akhirnya saat peluru hendak mengenai perit Xavier, Xavier melihatnya dan tersentak untuk menghindar. Sampai akhirnya peluru itu mengenai sisi kiri pinggang Xavier.
Tubuhnya sedikit tersentak, namun ekspresinya tidak berubah sama sekali.
Pemimpin lawan tersenyum puas. "Akhirnya kena juga."
Namun Xavier hanya menatapnya. Tatapan dingin yang membuat senyum pria itu perlahan menghilang. Dalam satu gerakan cepat, Xavier membalas dengan tendangan yang kuat kearah lawannya.
BRUGH!
Pria itu terjatuh di dekat tumpukan kontainer dengan keras. Sebelum sempat bangkit, Xavier sudah berdiri di depannya dengan pistol yang diarahkan tepat ke kepala ketua musuh.
Angin laut perlahan berhembus lebih kencang, mereka berdua terdiam sesaat. Suara tembakan masih terdengar, namun kini sedikit lebih tenang.
Ditengah itu, Xavier berkata. "Kau kalah."
Pria itu tertawa pendek. “Kau memang monster yang sulit dijatuhkan."
Xavier tidak menjawab. Tangannya hampir menekan pelatuknya. Dan...
DOR!
***
Sementara itu di kediaman keluarga Volkov, suasana tampak tenang. Jam menunjukkan pukul 17.40.
Olivia Volkov terlihat sudah mondar-mandir sejak setengah jam yang lalu, wajahnya tampak tidak senang sama sekali.
“Ah mengapa lama sekali sih,” gerutu Mama Olivia.
"Ada apa, Sayang?" tanya Edward tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
Mama Olivia berbalik menghadap suaminya. “Aku benar-benar tidak sabar, bagaimana kalau ternyata Xavier berbohong pada kita? Atau ternyata ada sesuatu yang terjadi? Dan... atau...”
Saat ingin melanjutkan perkataannya, Papa Edward menghentikannya. "Sudah selesai?" katanya. “Jangan berpikir yang macam-macam, Xavier datang jam 19.00 malam, sekarang masih jam 17.40, masih lama.”
Mama Olivia mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku ingin melihat calon menantuku, aku sudah tidak sabar sampai tidak bisa tidur tadi malam."
Papa Edward terkekeh kecil. "Aku juga penasaran,” katanya.
Mama Olivia kembali menoleh penuh harap. "Benarkah?” katanya dengan mata yang berbinar.
"Tentu," Papa Edward mengangguk.
Lalu perlahan ia akhirnya meletakkan tabletnya. "Duduklah dulu. Kamu sudah berdiri dari tadi, jangan sampai lelah.”
Mama Olivia menghela napas panjang. Lalu akhirnya duduk di sofa samping papa Edward dengan wajah pasrah.
"Semoga dia gadis yang baik untuk Xavier,” katanya sambil menatap liris kedepan.
Papa Edward tersenyum. "Kalau sampai Xavier membawanya ke rumah, berarti gadis itu pasti istimewa baginya... anak kota tidak akan mudah membawa sebuah gadis tanpa latar belakang yang jelas.”
Mama Olivia langsung mengangguk setuju. “Kau benar.”
Perlahan ia bersandar dibahu suaminya sambil tersenyum. Sementara Papa Edward mengelus kepalanya dengan sangat lembut sambil tersenyum kecil