Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Don’t Start Again
Demi Tuhan, Emily nyaris ingin melempar apa pun yang tertangkap pandangannya ketika bell penthouse-nya berbunyi berkali-kali di tengah malam seperti ini. Manusia laknat mana yang tidak tahu aturan, datang bertamu pada jam segila ini?
Ia menarik jubah piyama satinnya, mengencangkannya di pinggang, lalu berjalan keluar dari kamar untuk membuka pintu dengan mata yang masih berat oleh kantuk.
Begitu daun pintu terbuka, rasa kantuknya lenyap seketika.
Raphael berdiri tepat di hadapannya. Dan bukan hanya kehadirannya yang membuat Emily terkejut, melainkan juga kondisinya. Kemeja putih pria itu dipenuhi bercak darah, sebagian sudah mengering sementara sisanya masih basah. Wajahnya penuh lebam, dengan sobekan kecil di pelipis, dan napasnya terdengar sedikit berat. Meski begitu, senyum liciknya tetap tersungging, seolah masih sempat memikirkan cara untuk membuat Emily kesal.
"Untuk apa kau datang ke sini tengah malam? Kau tidak punya sopan santun?"
"Menepati janjiku."
"Janji apa? Aku tidak ingat pernah membuat janji denganmu."
Raphael tertawa rendah, namun terdengar menyeramkan. "Aku berjanji akan mengatur jadwal pertemuan kita. Tapi karena siang tadi aku tetap tidak bisa, aku memutuskan untuk datang sekarang."
"Kau gila! Ini sudah larut malam, dan tak ada siapa pun yang menyuruhmu datang ke tempatku. Pulang! Jangan ganggu tidurku," seru Emily, masih memegang erat jubah satinnya di pinggang. Wajahnya sedikit tertutup oleh rambut yang belum sempat ia rapikan.
Raphael hanya mengangkat alis, tatapannya yang tajam bercampur dengan senyum licik yang tampak kontras dengan lebam di wajahnya. "Oh, kau lupa?" ujarnya tenang, suaranya serak. "Kau yang membanjiri ponselku dengan pesan-pesan sindiran karena aku tak juga muncul siang tadi. Kau yang mendesakku. Aku hanya ingin menepati janjiku dengan langsung ke tempatmu, bahkan begitu mendarat di New York. Kurang kah dedikasiku, hm?"
Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, mengusap layar dengan ibu jarinya, lalu mengulurkannya ke arah Emily. Di sana tampak deretan pesan yang jelas sekali ia kirimkan siang tadi. Emily merasakan darahnya berdesir, malu sekaligus kesal melihat bukti yang ia lemparkan begitu saja ke wajahnya.
Emily — 10.47 PM
Wow, Mr. Expensive Lawyer, apakah menghargai waktu orang lain tidak termasuk dalam tarif profesionalmu? Aku sudah menunggumu hampir satu jam.
Emily — 12.49 PM
Sudah dua jam. Jadi ini caramu menepati janji, Raphael? Menghilang tanpa kabar. Kau pikir aku punya waktu luang tak terbatas untuk menunggumu?
Emily — 12.51 PM
Aku lagi-lagi memandangi ruanganmu yang membosankan ini, hanya untuk menunggumu muncul. Sangat menghargai, sungguh!
Emily — 1.03 PM
Kau benar-benar pria paling tidak konsisten yang pernah kutemui!
Emily — 1.12 PM
Raphael, kau itu pengacara paling mahal yang aku kenal, tapi paling buruk dalam hal menepati janji. How ironic!
Emily — 1.17 PM
Next time, please spare me the lecture about time management kalau kau sendiri tidak bisa datang tepat waktu.
Emily menggigit bibir bawahnya, matanya berpindah cepat antara layar ponsel dan wajah pria itu. Raphael masih berdiri dengan santai, meskipun pakaian dan tubuhnya penuh tanda luka.
"Oh, jadi maksudmu sekarang aku yang bersalah? Begitu?" Emily mendengus. "Pesanku bukan undangan untukmu datang malam-malam seperti ini ke tempat tinggalku."
Raphael mengangkat bahu, wajahnya tetap tenang. "Aku hanya mencoba menepati janji, Nona Cooper. Kalau kau benar-benar tak ingin bertemu, kau akan diam saja, kau tahu itu. Tapi kau memilih mengirim pesan demi pesan, memastikan aku membaca setiap kata yang kau ketik dengan jari mungilmu ini." Sebuah senyum tipis kembali muncul di bibirnya, bersamaan dengan gerakan kecil ketika ia meraih tangan Emily, memperlihatkan jari-jari halus sang perempuan.
Emily segera menarik tangannya, jelas enggan disentuh. "Pertama, aku tidak pernah meminta kau datang larut malam seperti ini, apalagi ke tempat tinggal pribadiku. Kedua, aku mengirim pesan bukan karena aku begitu ingin bertemu denganmu, Raphael, melainkan karena kau pengacaraku, dan kau yang menjadwalkan pertemuan kita untuk membahas kasusku," ujarnya ketus.
Raphael mendekat selangkah, jarak di antara mereka kian menipis. Bau tipis cologne-nya bercampur dengan aroma darah yang kering di kainnya. "Berhentilah merajuk, Nona Cooper. Aku sudah di sini sekarang. Mari kita bicarakan kasusmu."
Dengan mudah, pria itu melewati tubuh mungil Emily dan melangkah masuk ke dalam penthouse.
Mata Emily langsung melotot tajam, amarahan bercampur terkejut. Ia ingin segera mengusirnya, menutup pintu, lalu kembali ke tempat tidur dan berpura-pura semua ini tidak pernah terjadi.
"Raphael!" serunya kesal, menahan dada pria itu yang keras. "Keluar! Keluar sebelum tetanggaku mengira aku menyelundupkan penjahat ke dalam rumahku!" Ia mendorongnya sekuat tenaga, meski tahu usahanya sia-sia melawan tubuh sang pria yang kokoh. Sama sekali tak bergeming.
Bajingan keras kepala itu hanya menaikkan sebelah alis, masih melangkah santai masuk, seolah rumah ini miliknya. What the hell?
Emily mendengus frustasi. Tak ada gunanya melawan, pun tangannya sudah mulai sakit karena terus mendorong dada Raphael. "Fine!" serunya akhirnya, putus asa. "Tapi jangan ada satu langkah kotor pun di sofa putihku, atau aku akan memukul bokongmu sampai kau menyesal!"
Raphael berhenti sebentar, bibirnya melengkung dalam senyum nakal yang membuat Emily menyesal sudah membuka mulut."Hmm," gumamnya, penuh arti. "Aku biasanya lebih suka jadi orang yang memukul bokongmu, sweetheart. Tapi kalau kau ingin membalik peran, aku fleksibel."
Mencebik, Emily memutar bola matanya. "Kau menjijikkan."
Raphael hanya terkekeh, terus berjalan sampai ke ruang tamu. Emily menghela napas panjang, kemudian dengan enggan menutup pintu dan menyusulnya meski separuh dirinya masih ingin melemparkan batu ke kepala pria itu. Sayangnya, tidak ada batu di sini.
Sudah duduk di sofa, kaki panjang Raphael tersilang, satu tangan terentang santai di sandaran punggung sofa. Cahaya lampu ruang tamu yang redup menyoroti wajahnya yang masih berlumur bayangan luka, meski iris hitam matanya terlihat ada kelelahan, sorot matanya tetap sama. Buas, membuat bulu kuduk Emily meremang. Ia berdiri bersedekap dada, menatap balik dengan ekspresi muak pun juga waspada.
"Aku bahkan belum menyuruhmu duduk, dan kau sudah duduk. Sangat sopan santun. Aku tersanjung."
"Karena aku yakin kau tidak akan mengundangku duduk, Nona Cooper."
"Itu kau sadar, tapi kenapa tetap duduk? Tidak tahu diri sekali."
Raphael tersenyum miring. Ditatapnya lagi Emily lamat-lamat. Tatapan itu... seolah pria menyebalkan itu sedang menelanjangi diri Emily dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
Emily tersadar dan buru-buru merapatkan belahan gaun tidurnya. "Oh, Raphael. Don't start again with that kind of look," ujarnya ketus. "Tidak bisakah kau sehari saja tidak mesum?"
Sudut bibir Raphael kian terangkat, sinis sekaligus menggoda. "Melihatmu seperti ini hanya membuat pikiranku... tidak sabar untuk bersenang-senang denganmu," lontarnya terus terang, nada rendahnya lebih seperti geraman gemas.
Emily mengangkat dagunya, mencoba terlihat tak terusik. "Aku sedang tidak ingin mendengar omong kosongmu. Sudah, cepatlah. Kita mulai saja diskusi kita. Kau mau membahas kasusku darimana?"
Menurunkan kakinya perlahan, Raphael membawa tubuhnya condong ke depan hingga posturnya yang gagah lebar mengurung pandangan Emily yang tampak jauh lebih mungil di hadapannya.
Dengan nada malas pun menuntut, ia bergumam, "Tidak bisakah kau setidaknya memberiku minum lebih dulu? Atau meminjamkan baju?" Jemarinya terangkat, menunjuk kemeja yang berlumur bercak darah, sementara luka di pelipisnya semakin terlihat jelas di bawah sorot lampu.
"Ck!" Emily mendengus kesal. "Kau menyusahkan,"lanjutnya. Betapapun menjengkelkannya pria ini, membiarkannya duduk begitu saja tanpa menawarkan apa-apa akan membuatnya seperti tuan rumah yang kejam. Sambil tetap bergumam geram merutuki bedebah itu, ia berbalik menuju dapur untuk mengambil segelas minuman dan mencari baju yang mungkin muat untuk Raphael.
Sejenak, Raphael menyandarkan tubuh ke sofa, matanya terpaku pada punggung Emily yang menjauh ke balik ruangan. Begitu siluet wanita itu lenyap dari pandangannya, ia bangkit berdiri dengan tenang, pun tatapan mengintai, seperti binatang buas yang akhirnya dilepaskan untuk menelusuri sarang mangsanya.
Ditatapnya sekitar, penthouse itu luas, langit-langitnya tinggi dengan jendela raksasa yang dibalut tirai putih tipis, membiarkan cahaya malam dan lampu kota New York menyusup samar-samar. Raphael mengitari ruangan, berjalan-jalan bebas. Jemarinya menyusur sandaran sofa berlapis kain putih gading yang terasa mewah. Kontras dengan reputasi Emily sebagai CEO yang dikenal tegas dan tak bisa dibantah, ruangan ini justru menampilkan sesuatu yang lain dari dirinya.
Hampir setiap sudut diselimuti nuansa lembut. Karpet tebal berwarna krem muda, sofa empuk dengan selimut bulu berwarna merah muda pucat yang terlipat manis, dan kursi berbulu pink yang tampak seperti awan gula kapas. Raphael menahan senyum miring. Dia tampak kehilangan kesangaran wajahnya, justru terlihat imut-imut di antara itu semua.
Ah, Emily... di sini ia tampak polos dan kekanak-kanakan, begitu kontras dengan citranya di luar sana. CEO berwibawa dengan blazer rapi dan sepatu hak tinggi yang mampu membuat pria manapun gemetar bahkan sebelum mencoba bicaranya. Tapi tentu Raphael bukan salah satu dari barisan pecundang itu.
Keangkuhan Emily justru menyulut insting predator di dalam dirinya—melahirkan fantasi liar untuk melucuti satu per satu topeng sok jual mahal yang wanita itu kenakan, meruntuhkan dinding pertahanan yang selalu ia pamerkan di balik pakaian bermerek branded, dan menundukkannya di bawah kendali mutlak miliknya. Raphael ingin menguasai wanita itu hingga suara tegas dan galak yang biasa ia dengar dari wanita itu berubah menjadi lenguh pasrah yang mengakui dominasinya tanpa syarat.
Raphael tahu ia bisa saja dengan mudah merobohkan citra sempurna yang selama ini dijunjung tinggi Emily, hanya dengan sekali paksaan dan sentuhan yang tepat. Namun lihatlah, ia masih berbaik hati menahan diri, memberi wanita itu waktu. Tidakkah itu baik? Sungguh kesabaran yang tak masuk akal bagi seorang Raphael. Tapi dia tetap melakukannya. Untuk dari itu, Emily seharusnya tahu diri, jangan pernah mengikis sisa kesabaran itu dengan ucapan sembrono.
"Ternyata kau suka pink, hmm?" ujar Raphael, tertarik. Ia terkekeh kecil, suara tawanya serak dan dalam. "Kontras sekali dengan aku yang selalu memilih hitam. Lucu membayangkan kau begitu galak, menatapku dengan mata nyalangmu di luar sana tapi di sini, di antara bantal berbulu manis dan selimut merah muda, aku bisa membayangkan kau tampak seperti boneka kecilku yang hanya bisa menunggu untuk kuacak-acak sesuka hati."
Langkahnya berlanjut, mengitari meja kaca hitam di tengah ruang tamu yang dihiasi vas bunga mawar pucat. Matanya akhirnya tertuju pada bingkai besar yang terpajang di dinding, potret Emily bersama kedua orang tuanya. Wajah Emily di foto itu masih muda, namun tatapan matanya sudah tajam, menantang, dan penuh wibawa. Raphael mendekat, menyentuh pinggiran bingkai dengan jemarinya masih berbekas darah kering. Ia tidak peduli jika meninggalkan noda di sana.
"Kau memajang wajah keluargamu di sini, Emily," bisiknya. "Aku penasaran, apakah di atas sana tahu betapa putri kecil kesayangan mereka ini suka bermain api dengan pria berbahaya sepertiku?"
Raphael menyeringai, pikirannya berputar liar. Ia menatap sofa putih yang luas, bayangan tubuh Emily di bawahnya muncul begitu jelas dalam kepalanya kini. Kemudian tatapannya melirik kursi pink berbulu di sudut ruangan, senyumnya semakin dalam.
"Kita bisa melakukan itu di sofa ini nanti, membuatmu habis suata sampai kau tak lagi peduli berapa banyak tetangga yang bisa mendengar..." lontarnya dengan bayangan fantasi kotor. "Atau di kursi pink itu, kau terlihat kecil sekali duduk di sana. Aku bisa membuatmu terhuyung-huyung. Atau—" ia menoleh ke arah jendela besar yang terbuka dengan tirai menjuntai. "Di depan kaca ini. Biarkan seluruh kota New York melihat betapa CEO mereka ternyata tak lebih dari wanita yang bisa kutundukkan."
Tawa lirih lolos dari tenggorokannya, dingin dan penuh kepuasan.
Namun ia tidak datang ke sini hanya untuk membayangkan tubuh Emily di setiap sudut ruangan itu. Raphael mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya—kotak kecil berisi beberapa perangkat berbentuk bulat, seukuran kancing baju. Kamera mini dengan teknologi yang sulit terdeteksi.
Ia bergerak cepat, seakan terbiasa melakukan hal seperti ini. Satu kamera ia selipkan di rak buku berlapis marmer di sudut ruangan, tersembunyi di antara ornamen kristal. Satu lagi ia pasang di balik lampu berdiri, cukup tinggi untuk menangkap hampir seluruh area ruang tamu.
Raphael terus berkeliling, matanya tajam mencari titik buta. Di balik vas bunga di meja. Di dekat televisi tipis yang menempel di dinding. Bahkan satu di sela patung dekoratif hitam yang berdiri angkuh di pojok ruangan.
Tatkala menyelipkan kamera terakhir di dekat tirai panjang, ia sejenak berhenti, menatap jendela besar yang memperlihatkan langit malam kota. Senyum kecil kembali muncul di wajahnya.
"Bagus sekali, Emily..." gumamnya pelan. "Kini aku bisa melihat semua pergerakanmu di sini, bahkan saat kau pikir sedang sendirian. Dan kau tidak akan pernah sadar bahwa setiap detik, aku ada di sini, menontonmu."
Raphael menepuk debu tipis dari tangannya, menyembunyikan kembali kotak kosong ke dalam saku celananya. Tepat ketika ia kembali ke sofa, mengambil posisi seolah-olah tak pernah meninggalkannya, langkah kaki Emily terdengar mendekat dari dapur.
Raphael bersandar santai, menyilangkan kaki, wajahnya kembali memainkan senyum menggoda.