dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Luka Itu Kembali Muncul
Seperti biasa ketika Nayla sudah beranjak untuk pulang, di lobby sudah ada Arsen yang duduk rapih menunggu dengan setia. Ada yang berbeda dengan pergerakan Nayla ketika melihat Arsen, arah langkah Nayla yang tidak langsung menuju ke mobil seperti biasanya.
" Ada apa, Nay? Apa ada yang sakit?" pertanyaan itu keluar dari mulut Arsen ketika Nayla kini berhenti tepat dihadapannya.
Hening... Jantung Nayla kini berdebar kencang bahkan sangat kencang, tapi untuk pertama kalinya Nayla tidak ingin berlari, menyerah, apalagi merasa takut.
" Ar, ak... Aku... Aku mau coba" suara Nayla lirih seperti sebuah bisikan.
" Hahh... Mencoba apa?" Arsen semakin merasa bingung.
Nayla menarik nafasnya panjang dan dalam, lalu kini kedua matanya menatap langsung ke arah bola mata Arsen yang selama ini mati-matian ia hindari.
" Aku mau mencoba percaya sama kamu dan kita... Jujur sebenarnya aku masih takut tapi rasa ingin mencoba aku jauh lebih besar saat ini" ucap Nayla lirih.
Hening, dunia seolah berhenti beberapa detik membuat Arsen tiba-tiba kehilangan kata-katanya. Kalimat yang keluar dari mulut Nayla memang sederhana, kalimat yang akhirnya keluar setelah Arsen benar-benar berjuang sejak awal.
Air mata Nayla hampir luruh, tapi bukan karena perasaan sedih melainkan rasa lega.
" Aku tidak janji bisa langsung berani, Ar... Tolong bantu aku.." Nayla benar-benar ingin melawan perasaannya sendiri kali ini.
" Tentu Nay... Tentu saja aku akan berusaha lebih keras untuk kamu dan untuk kita. Terimakasih sudah mau memberikan kesempatan baik itu untuk aku" akhirnya Arsen sadar.
Dan malam itu Arsen merasa seluruh penantian dan usahanya terbayar, karena perempuan yang selama ini terus menjaga jarak akhirnya mengambil satu langkah kecil ke arahannya.
Terkadang cinta memang tidak membutuhkan langkah yang besar untuk memulai, hanya satu langkah kecil sebagai permulaan yang dilakukan oleh orang yang tepat.
🌟
Hari ini dimulai seperti biasa, rumah sakit yang sudah ramai sejak pagi pasien yang datang silih berganti. Suara langkah kaki, panggilan perawat, dan bunyi monitor medis memenuhi koridor seperti biasanya.
dr. Nayla Azzura semakin tenggelam salam pekerjaannya, membaca hasil laboratorium, memeriksa pasien, menulis resep. Menjalani rutinitas yang selama bertahun-tahun menjadi tempat persembunyiannya, karena bekerja jauh lebih mudah dari pada memikirkan masa lalu yang memberikan luka.
Menjelang siang Nayla baru saja menyelesaikan pemeriksaan pasien terkahir sebelum jam istirahat, ia membuka berkas selanjutnya dan saat membaca nama pasien sekilas tiba-tiba saja tangannya berhenti bergerak dengan mata kembali mengulang membaca nama itu membuat tubuhnya membeku.
Sekali... Dua kali... Tiga kali...
Deeegghh...
Dadanya mendadak sesak karena nama itu tidak mungkin salah, tidak mungkin suara perawat terdengar dari luar.
" Pasien berikutnya masuk ya, dok" pintu kini terbuka.
Dunia Nayla seketika berhenti berputar ketika seorang wanita masuk diikuti laki-laki paruh baya dibelakangnya, wajah itu... Wajah yang pernah menjadi rumahnya, wajah yang pernah ia rindukan selama bertahun-tahun, wajah yang pernah membuatnya menangis setiap malam saat kecil.
Ibunya....
Untuk beberapa detik tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bicara, Nayla bahkan hanya duduk diam. Sementara wanita itu menatapnya sekilas lalu tersenyum tipis, bukan senyuman haru, bukan senyuman rindu, bukan pula senyuman yang bertemu anaknya setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
Hanya senyum biasa seolah-olah mereka tidak pernah memiliki hubungan apapun, seperti tidak pernah ada luka yang diciptakan.
" Nayla ..." suara itu terdengar begitu familiar, membuat dada Nayla justru semakin sesak dan sakit.
Bertahun-tahun menjadi dokter ada satu hal pembelajaran paling penting yaitu " Profesional" , apapun yang terjadi. Nayla menarik nafas panjang dan dalam lalu membuka berkas milik pasien dihadapannya.
" Silahkan duduk" suaranya datar dan tenang, meskipun jari-jarinya mulai dingin.
" Keluhan utamanya apa, Pak?" Laki-laki yang bersama ibunya duduk terlebih dahulu.
Pemeriksaan di mulai dengan tekanan darah, riwayat kesehatan, keluhan yang dirasakan, pertanyaan demi pertanyaan keluar seperti biasanya. Profesional, terukur, sempurna, namun didalam diri Nayla semuanya berantakan.
Sepanjang pemeriksaan ibunya duduk tepat dihadapannya, melihat, mendengar, namun sama sekali tidak bertanya apapun.
" Apa kabar, Nak?" Atau " Maafkan ibu..."
Tidak sekalipun menunjukkan sebuah penyesalan dari seorang ibu, seolah perbuatan dirinya dimasa lalu meningg anak dan suami adalah hal yang biasa dan hal yang wajar. Hal yang tidak perlu disesali dan itu jauh lebih menyakitkan dari pada kemarahan.
Pemeriksaan selesai hampir dua puluh menit kemudian, Nayla menuliskan resep dan beberapa saran medis lalu menyerahkan berkas dan selesai.
Namun sebelum pergi ibunya berdiri menatap wajah Nayla beberapa detik.
" Sekarang kamu sudah menjadi dokter yang hebat, Ya" ucap sang ibu santai.
Kalimat itu terdengar seperti pujian talo membuat jantung Nayla terasa nyeri, setelah semua yang terjadi, setelah bertahun-tahun ketidakhadiran dan luka yang ditinggalkan.
Tidak ada jawaba kalimat yang keluar dari mulut Nayla, hanya anggukan kepalanya kecil sudah cukup.
" Ahh saya ikut senang" jawab sang ibu seolah paham.
Untuk pertama kalinya sang ibu terlihat sedikit diam, namun hanya sebentar kemudian wanita itu tersenyum lagi.
" Jaga kesehatan..." ucapnya lalu pergi begitu saja.
Pergi seperti bertahun-tahun lalu tanpa penjelasan, tanpa penyesalan, tanpa maaf, dan ketika pintu ruang praktik tertutup Nayla merasa sesuatu dalam dirinya ikut runtuh.
Nayla tidak menangis, ia hanya duduk diam menatap pintu yang sudah tertutup kosong, hampa dan sangat lelah. Ternyata benar luka itu tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya belajar menyembunyikannya.
" Nayla..." suara Celine membuatnya tersadar.
Sahabatnya berdiri diambang pintu dengan alisnya yang berkerut, karena melihat wajah Nayla terlalu pucat
" Kamu kenapa?" lagi Celine bertanya.
Tidak ada jawaban Nayla hanya diam, membuat Celine langsung masuk menghampiri sang sahabat.
Dan saat itulah ia melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya selama bertahun-tahun, mata Nayla yang biasanya tenang kini terlihat kosong.
" Ayo..." benar-benar kosong tatapan Nayla.
" Hahh?"
" Makan siang" Celine mengambil tasnya.
" Aku enggak laper, Cel" jawab Nayla.
" Aku enggak tanya,l" Nada suara Celine tegas.
Mereka berakhir di sebuah restoran kecil yang tidak terlalu ramai, biasanya Celine akan berceloteh tanpa henti. Menggoda Nayla, membicarakan rumah sakit, atau mengomentari Arsen.
Namun hati ini tidak, Nayla hanya duduk menunggu karena ia tahu jika sahabatnya sedang berjuang dengan sesuatu dan ia tidak ingin memaksa.
Lima belas menit berlalu tidak ada yang bicara, Nayla hanya menatap meja sementara Celine tetap menunggu dengan sabar. Sampai akhirnya Nayla berdiri tanpa berkata apa-apa, membuat Celine sedikit bingung.
" Nay..." Celine bingung ketika Nayla melangkahkan kakinya mendekat.
Brruuuggghhhh ....
Nayla memeluk Celine dengan sangat erat membuat Celine langsung membeku, karena selama bertahun-tahun bersahabat dengannya Nayla hampir tidak pernah melakukan hal ini. Tidak pernah mencari pelukan, tidak pernah mencari sandaran, tidak pernah terlihat rapuh.
Ketika bahu Nayla mulai bergetar, Celine langsung tahu jika ada sesuatu yang sangat besar baru saja terjadi.
" Aku ketemu dia, Cel" suara Nayla pecah.
" Siapa?" Celine mengusap punggung Nayla dengan lembut.
" Ibuku..." kalimat itu keluar padahal selama ini tidak pernah terucap.
Dunia seolah-olah berhenti sesaat, dan tak lama kemudian tangisan Nayla pecah bukan tangisan pelan, bukan air mata yang ditahan, melainkan tangisan seseorang yang kembali bertemu luka terbesarnya.
" Aku pikir aku sudah sembuh, Cel... Aku pikir aku sudah tidak peduli..." Isak tangisan Nayla terdengar lirih.
Celine langsung memeluk tubuh Nayla yang bergetar lebih erat, tidak menyuruh untuk berhenti, tidak memberi nasihat... Hanya menemani terkadang yang dibutuhkan seseorang bukanlah sebuah solusi melainkan seseorang yang tetap tinggal saat dirinya runtuh.
Dan siang itu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nayla membiarkan dirinya menangis bukan sebagai seorang dokter, bukan sebagai perempuan kuat, bukan sebagai anak yang selalu terlihat baik-baik saja.
Melainkan sebagai seorang anak perempuan yang pernah ditinggalkan oleh ibunya, dan ternyata luka itu masih ada, masih terasa dan masih terasa menyakitkan.