Setelah berhasil melarikan diri dari siksaan Om dan Tantenya, Bella Claudia remaja (13 tahun) tidak sengaja bertemu dengan sosok Andrew Permana (25 tahun) saat wanita itu ingin mengakhiri hidupnya di usia muda. namun Andrew menghalangi dan menolong Bella pada saat itu, pertemuan di antara mereka tersebut membuat Bella jatuh cinta kepada Andrew saat pandang pertama. hingga beranjak dewasa, tepatnya saat usia Bella menginjak 23 tahun. perasaan itu tumbuh semakin besar untuk pria yang selama 10 tahun dia panggil dengan sebutan paman Andrew tersebut, di saat wanita itu ingin melupakan perasaannya kepada Andrew tiba-tiba sebuah insiden panas di antara mereka terjadi dan membuat mereka terpaksa menikah. semenjak menikah sikap Andrew berubah dingin dan galak kepada Bella, namun wanita itu tidak menyerah dia akan membuat pria itu berbalik mengejarnya dan mencintainya pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indrie Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Asuransi 2 milyar
Bella langsung terbangun dari tidurnya dengan ekspresi wajah begitu kaget dan panik karena ia kira telah turun hujan, namun keningnya langsung mengerut heran karena ia sedang berada di dalam kamar miliknya saat ini.
"Air dari mana ini?." Batin Bella sambil menyentuh wajahnya yang basah.
"Udah puas bobo cantiknya anak malas?!" Sentak Tiara dengan suara menyindir dan mengejek.
Bella yang belum menyadari jika ada orang lain di dalam kamarnya, sontak saja ia langsung menatap ke arah asal suara tersebut dengan kaget.
DEG!!
"Tante Tiara?"
"M...aaf ta...nte Bella gak sengaja ketiduran sehabis minum obat, semua badan Bella terasa begitu sakit dan butuh istirahat sebentar." Jelas Bella begitu gugup dan ketakutan saat ini.
"Terus kalo semua badan mu pada sakit apa urusannya dengan ku?, itu salah kamu sendiri kenapa mencuri kalung milik ku." Ucap Tiara tak peduli.
"Tapi Tante buk....."
Bella tidak melanjutkan kalimatnya, ia hampir saja mengadukan Clara kepada sang tante. untuk saja ia segera sadar dengan ucapanya itu dan langsung diam.
"Tapi apa?" Tanya Tiara yang heran karena keponakannya itu tidak melanjutkan kembali ucapanya.
"Ehh...bukan apa-apa kok Tante." Jawab Bella cepat dengan ekspresi wajah yang agak gugup.
Tiara terlihat menaikan kedua bahunya dan terlihat tidak peduli dengan tingkah aneh keponakannya itu.
"Untuk kali ini saya masih berbaik hati, jadi cepat kamu bangun dan segera membersihkan rumah membantu Bi Sri. Percuma saya kasih makan kamu tiap hari kalo kamu kerjanya males-malesan. apa kamu mau gak saya kasih makan seharian?" sentak Tiara menatap tidak suka ke arah Bella.
"Jangan Tante, Bella masih butuh makan. Bella janji akan kerja lebih giat lagi dan tidak bermalas-malasan." Jawab Bella dengan wajah memohon.
"Kalo gitu jangan malas-malasan!"
Tiara segera berbalik dan akan berjalan keluar dari kamar Bella, namun saat akan keluar dari pintu ia berpapasan dengan bi Sri yang terlihat berjalan tergesa-gesa ingin memasuki kamar.
Bi Sri yang melihat majikannya itu ada di depan pintu, ia segera menghentikan langkah kakinya dan terlihat berdiri sambil menunduk ketakutan saat majikannya itu menatap tajam ke arah dirinya.
"Cuma pembantu tapi so-soan mau jadi pelindung si Bella." Batin Tiara menatap tidak suka ke arah bi Sri.
Tiara langsung melanjutkan berjalan keluar dari kamar Bella, namun saat akan melewati tubuh bi Sri. Tiara berhenti sebentar tanpa menatap ke arah pembantunya tersebut.
"Jangan sok jadi pahlawan kesiangan!, kamu itu hanya pembantu. Kamu hanya perlu berpura-pura buta dan tuli jika masih mau aman bekerja di sini." Ucap Tiara pelan memberikan peringatan kepada bi Sri.
"Iya tuhan semoga majikannya itu segera sadar dengan semua perbuatan jahat dan tidak berprikemanusiaan yang telah ia lakukan selama ini." Batin bi Sri.
Di rasa nyonya Tiara telah pergi menjauh, dengan cepat bi Sri langsung menegakan kembali kepalanya dan langsung berjalan memasuki kamar untuk melihat keadaan Bella.
"Kamu gak apa-apa Bella?, apa nyonya Tiara menyakiti mu lagi?" Tanya bi Sri khawatir setelah melihat wajah basah Bella.
"Bella gak kenapa-kenapa kok bi, tadi cuma di siram aja sama Tante Tiara soalnya Bella malah tidur." jawab Bella sambil tersenyum.
"Kamu yang sabar dan tabah ya?, bi Sri yakin kebahagiaan akan segera datang kepada mu."
Kini terlihat bi Sri yang menatap sedih ke arah Bella yang berpura-pura tegar dan kuat.
*****
Sementara di sebuah pabrik terlihat Andrew dan Fatir yang sedang berkeliling dengan di temani beberapa staf yang bekerja di sana, ini hari terakhir mereka berada di Surabaya dan malam ini mereka berdua akan segera pulang ke Jakarta. karena ternyata semua urusan dan pekerjaan mereka cepat rampung dari prediksi mereka.
"Setelah jam istirahat makan siang, kita akan berkumpul kembali untuk rapat." Beritahu Andrew sembari menatap pada staf yang ada.
"Baik tuan." Jawab mereka serempak dan mulai membubarkan diri.
Kini hanya tinggal Andrew dan Fatir yang masih ada di area produksi dan mereka berniat akan segera keluar dari pabrik, karena 10 menit lagi jam istirahat makan siang akan tiba.
"Kita makan di restoran dekat pabrik saja agar lebih efesien waktunya." Ucap Andrew mulai berjalan meninggalkan area produksi.
"Baik."
Saat ini Andrew dan Fatir sudah berada di restoran dekat pabrik, terlihat mereka berdua yang sedang menikmati makan siang mereka dengan sesekali mengobrol masalah pekerjaan.
"Sore ini kita pulang dari pabrik jam berapa?" Tanya Andrew sembari menikmati makanan siangnya.
"Sekitar jam 4 sore kita sudah pulang dari pabrik dan langsung menuju hotel untuk mengepak barang." Jawab Fatir melirik sekilas ke arah Andrew.
"Baiklah, berarti kita masih punya waktu 2 jam untuk berkemas karena jadwal cek out hotel sekitar jam 6 sore bukan?" Tanya Andrew takut ia salah ingat.
"Iya benar, jam 6 sore kita mulai keluar dari hotel." Ucap Fatir sambil menganggukan kepalanya pelan.
"Lihat sekeliling kita men, banyak cewek-cewek cantik yang terus menatap minat ke arah kita berdua." Ucap Fatir kembali tiba-tiba girang.
"Ah masa sih? Mungkin perasaan Lo aja!" Acuh Andrew tanpa menatap ke arah Fatir.
"Seriusan coba deh Lo lihat dulu!" Ucap Fatir agak memaksa.
"Heummm....iya iya."
Dengan agak malas Andrew mulai menatap kesekitarnya, dan benar saja apa yang di katakan Fatir barusan. beberapa wanita cantik terlihat sedang menatap ke arah meja mereka, Andrew hanya diam tanpa berniat membalas senyuman mereka yang tertuju ke arahnya. entah kenapa ia tidak berniat kepada wanita-wanita itu, kecuali wanita itu sendiri yang melemparkan tubuhnya di atas ranjang milik Andrew.
Hanya orang bodoh yang akan menolak hal itu, apalagi Andrew pria normal dan di tambah ia tidak memiliki pacar atau pasangan. jadi tidak ada salahnya jika ia melakukan one night stand dengan para wanita yang melemparkan tubuhnya sendiri kepadanya.
"Hentikan kelakuan Lo bikin gua malu saja!" Kesal Andrew yang berusaha menutupi sebagian wajahnya dengan tangan karena malu melihat kelakuan Fatir saat ini.
"Gak bisa lihat orang seneng aja Lo!" kesal Fatir berhenti melambaikan tangan nya ke arah para wanita.
"Senengnya Lo bikin malu gua! mau bonus tahunan Lo gua bikin hangus?! Skatmat Andrew.
Seketika Fatir lansung membungkam mulutnya sendiri tidak berani lagi berdebat dengan sahabat baiknya itu yang ada tahun ini ia tidak akan mendapatkan bonus tahunan dari Andrew. gagal sudah rencana nya untuk membawa pacar barunya liburan ke Bali nanti saat malam tahun baru.
*****
"Sayang kamu di mana?, mas pulang." Ucap Rudi dengan suara cukup nyaring saat baru sampai di rumah.
Rudi terlihat mengerutkan keningnya heran karena tidak ada sahutan dari sang istri, namun tiba-tiba saja Rudi melihat bi Sri yang tengah berjalan di hadapanya Dengan membawa sebuah kemoceng di tangannya.
"Bi Sri istri saya mana?" Tanya Rudi secara tiba-tiba.
Sontak saja bi Sri terkejut karna tiba-tiba memanggil dirinya dan menanyakan nyonya Tiara.
"Nyonya lagi ada di dalam kamar tuan." Jawab bi Sri yang mulai menatap Rudi.
"Oh iya sudah kamu kembali bekerja lagi." Ucap Rudi yang menyuruh Sri untuk segera pergi.
*******
Sementara di dalam kamar terlihat Tiara yang sedang mengelap wajahnya mengunakan tisu, ia baru saja selesai maskeran dan sempat mendengar suara panggilan dari sang suami.
"Tumben banget jam segini udah pulang dari pabrik." Gerutu Tiara agak kesal.
Setelah selesai mengeringkan wajah nya Tiara Segara berdiri dari depan meja rias dan berjalan ke arah pintu kamar untuk segera keluar menemui sang suami.
ASTAGA BIKIN KAGET SAJA! pekik Tiara dan Rudi bersamaan sangking terkejutnya.
"Mas apaan sih bikin kaget saja?!"
"Memangnya yang kaget kamu saja?, aku juga sama kaget loh!"
"iya maaf deh."
Mereka berdua saling diam, namun detik berikutnya Rudi baru ingat jika kepulangannya siang ini ada hal penting yang ingin ia beritahukan kepada sang istri.
"Ada hal penting yang mau aku kasih tahu ke kamu, ini berita besar."
"Emang ada berita besar apa sih?" Tanya Tiara heran.
"Kita ngobrolnya sambil duduk saja biar enak." Ucap Rudi segera menuntun sang istri untuk duduk di atas kasur bersama dengan dirinya.
Sementara di luar kamar terlihat Bella yang sedang membawa sapu di tangannya dan melewati kamar om dan tantenya itu, namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat mendengar om dan tantenya itu sedang membicarakan dirinya dan sang ayah di dalam kamar mereka dengan posisi pintu kamar yang terbuka sedikit. Sontak saja Bella begitu penasaran dengan apa yang sedang di bicakan oleh om dan tantenya di dalam sana. Dan ia berniat untuk menguping secara diam-diam pembicaraan mereka berdua dari luar kamar.
Sementara di dalam kamar Tiara begitu terkejut setelah mendengar apa yang telah di ucapkan suaminya itu.
APA 2 MILYAR MAS?, MAKSUD MU KEPONAKAN MU ITU MASIH MEMILIKI ASURANSI LAIN SENILAI 2 MILYAR?!
"Husss....kamu jangan berisik nanti ada yang denger gimana?" Ucap Rudi agak gemas dengan tingkah heboh istrinya itu.
"Hehehe maaf mas, habisnya aku kaget banget setelah kita ambil uang asuransi kematian Anggara dari perusahaan tempatnya bekerja dan mencairkan asuransi pendidikan Bella dari ibunya ku pikir keponakan mu itu sudah tidak memilki apa-apa lagi." Ucap Tiara.
"Jadi tidak sia-sia kan sampai saat ini kita masih mempertahankan Bella di rumah ini, kalo bukan karna uang asuransi yang dia miliki sebelumnya aku tidak sudi memungut anak itu dan membawanya untuk tinggal di rumah kita selama ini" Ucap Rudi begitu tega.
DEG!
sementara di luar kamar Bella terlihat membungkam mulutnya sendiri dengan tangan, tubuhnya sudah bergetar hebat dengan air mata yang sudah mengalir deras di kedua pipinya. Ia begitu tidak menyangka alasan mereka berdua membawanya untuk tinggal bersama karna uang asuransi yang ia miliki dan sang ayah.
"Ya tuhan jahat sekali mereka, pantas saja mereka selalu bersikap kasar dan menyiksa ku ternyata dari awal aku memang tidak pernah mereka inginkan hiks hiks hiks!" Batin Bella.
Bella mati-matian menahan isak tangis nya agar tidak lolos dan terdengar oleh kedua orang yang ada di dalam kamar. Karna ia masih ingin mendengar banyak lagi rahasia yang selama ini di sembunyikan oleh om dan tantenya itu.
"Jadi bagaimana mas, kapan kita bisa mencairkan asuransi milik Bella?" Tanya Tiara dengan mata yang berbinar-binar.
"Heummm....nanti setelah Bella meninggal karena itu adalah asuransi jiwa yang di daftarkan pribadi oleh ibu kandungnya sendiri." Jelas Rudi.
Berasa di bawa terbang tinggi dan langsung di hempaskan begitu saja ke atas tanah, itulah yang perasaan yang di rasakan oleh Tiara saat ini. seketika Tiara Langsung menatap kesal ke arah sang suami yang telah memberikanya harapan palsu.
"Kalo uangnya belum bisa di ambil dalam waktu dekat seharusnya kamu gak usah kasih tahu aku dulu mas!, bikin aku berharap tinggi saja." Kesal Tiara sambil memukul bahu sang suami karna kesal.
"Awwww sakit, kita bikin saja Bella cepat mati gitu saja kom repot!" Ucap Rudi begitu enteng dan tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Hah kamu gila apa mas? yang ada kita bisa masuk penjara." kaget Tiara dengan ide sang suami.
"Hadeh...biasanya kamu itu yang paling pintar dari mas kenapa sekarang jadi bodoh sih!. yah kita pakai cara yang tidak akan sampai orang lain tahu jika kita dalang dari kematian Bella nanti."
"Memangnya pakai cara apa?" Tanya Tiara penasaran, karena jujur saja ia sangat tergiur dengan uang 2 milyar tersebut.
"Mas udah punya 2 ide nih, yang pertama ngasih obat yang berisikan racun ke makanan atau minuman Bella biar perlahan ia akan mulai sakit-sakitan dan meninggal dunia. Kalo menurut mu cara itu agak kelamaan kita pakai cara kedua, yaitu membayar orang untuk membunuh Bella dan merekayasa kematiannya menjadi penculikan anak remaja untuk di ambil organ dalamnya." Jelas Rudi memberitahukan 2 rencananya itu kepada sang istri.
Prok! Prok! Prok! Tiara terlihat bertepuk tangan dan menatap takjub ke arah sang suami yang begitu pintar dengan 2 rencana nya itu.
"Wow... suami ku pintar sekali." Puji Tiara.
"Iya dong, siapa dulu Rudi." Ucap Rudi menyombongkan dirinya sendiri.
Sementara di luar kamar tubuh Bella terlihat bergetar begitu hebat sangking terkejutnya, setelah mendengar rencana Om dan Tante nya itu yang berniat menghabisi nyawanya demi uang asuransi 2 milyar.
Tangan dan tubuh Bella tambah bergetar hebat hingga tanpa sengaja ia menjatuhkan sapu yang sedari tadi dia pegang.
SIAPA ITU YANG DI LUAR! teriak Tiara dan Rudi secara bersamaan dari dalam kamar mereka.
*****