NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batasan dan Ekspektasi

Sore hari datang perlahan, membawa semburat langit berwarna jingga keemasan yang menggantung pasrah di atas cakrawala kota yang mulai bersiap menyambut malam.

Di area kampus, aktivitas perkuliahan telah resmi berakhir sejak satu jam yang lalu. Ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan mulai berhamburan keluar dari gedung-gedung fakultas, memenuhi area parkir kendaraan, lorong-lorong luar, hingga halte bus di depan gerbang utama untuk segera pulang ke rumah masing-masing.

Alana termasuk salah satu di antara kerumunan mahasiswa yang tampak lelah itu.

Namun, berbeda dengan teman-teman seangkatannya yang bisa langsung pulang ke rumah untuk beristirahat atau sekadar nongkrong di kafe, Alana justru harus bergerak cepat.

Ia harus bergegas kembali menghadapi rutinitas keduanya demi menyambung hidup di perantauan: bekerja mengelola kedai ayam geprek kecilnya.

Begitu menginjakkan kaki di kontrakan kecil yang merangkap tempat usahanya, gadis itu langsung bergerak taktis.

Ia menaruh tas kuliahnya di sudut kamar, mengganti pakaian kuliahan dengan kaos oblong santai, lalu mengikat rambut panjangnya asal-asalan menggunakan jepit badai berukuran besar.

Tanpa membuang waktu, Alana mulai menyiapkan seluruh bahan dagangan.

Tak lama kemudian, suara ulekan cabai, bawang, dan garam yang beradu dengan cobek batu mulai memenuhi dapur mungil tersebut.

Wangi khas bumbu dapur yang menyengat perlahan menguar, menciptakan atmosfer familier yang selalu menemaninya setiap sore.

Sembari tangannya bergerak lincah mengulek bumbu dengan ritme yang konstan, pikiran Alana justru sibuk melanglang buana.

Ingatannya kembali berputar pada rentetan kejadian menegangkan yang dialaminya siang tadi di ruangan dosen. Bayangan wajah tegas nan kaku milik Arsen seolah enggan beranjak dari benaknya.

"Huuu..." Alana mengembusen napas panjang, mencoba mengusir rasa penat dan gelisah yang mendadak menggelayuti pundaknya.

"Hidup gue kenapa akhir-akhir ini isinya Pak Arsen terus sih? Kayak nggak ada bahasan lain aja," gerutunya kesal sambil mulai mengiris kubis dengan pisau dapur.

Pikirannya mendadak mengabsen semua hal tentang dosen tersebut. Mulai dari sindiran, hukuman tugas analisis yang menguras sisa-sisa energi otaknya, tatapan mata sedingin es yang selalu sukses membuatnya menciut, hingga potongan obrolan telepon misterius yang tidak sengaja didengarnya siang tadi.

Seseorang bernama Axel. Nama itu entah bagaimana terus berdengung dan terngiang-ngiang di kepalanya.

Rasanya sangat familier, seolah-olah ia pernah mendengar nama itu di suatu tempat yang belum lama ini ia kunjungi.

Namun, sekeras apa pun Alana mencoba memutar memori di otaknya, ia tetap gagal menemukan benang merahnya.

"Sudahlah," cetus Alana akhirnya sambil menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan dosen killer-nya itu dari benak. "Lagian ngapain juga gue sibuk mikirin urusan keluarga dosen menyebalkan begitu. Kurang kerjaan banget. Mending mikirin gimana caranya dagangan hari ini bisa habis total."

...----------------...

Sementara itu, di lantai teratas kantor pusat Wijaya Group, atmosfer yang jauh lebih berat dan menekan tengah menyelimuti ruangan kerja sang CEO.

Arsen baru saja menyelesaikan rapat internal terakhirnya untuk hari itu dengan para kepala divisi. Kepalanya terasa sangat berat, berdenyut nyeri yang teramat sangat akibat tumpukan pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya.

Namun, hal yang paling merusak suasana hatinya hingga ke titik terendah sebenarnya adalah sisa kejadian traumatis dengan Keisha, putri investornya, tadi siang.

Sentuhan fisik yang tidak diinginkan itu masih menyisakan rasa mual yang samar di ulu hatinya. Pria matang itu kini berdiri tegap di depan dinding jendela kaca besar, menatap lurus ke arah lanskap megah pusat kota yang perlahan mulai dipenuhi oleh kelap-kelip lampu malam yang berkilauan.

Suara ketukan pintu yang teratur mendadak memecah kesunyian ruangan yang megah itu.

"Masuk," titah Arsen dingin tanpa membalikkan badannya sedikit pun.

Raka melangkah masuk dengan langkah kaki yang teratur setelah menempuh perjalanan dari sekolah internasional tempat putra sulung Arsen menuntut ilmu.

Di tangannya, ia mendekap beberapa dokumen penyelesaian konflik yang baru saja selesai diurus bersama pihak sekolah dan perwakilan korban.

"Masalah sekolah Axel sudah selesai, Pak. Saya sudah meminta Pak Jono untuk mengantarnya pulang ke rumah terlebih dahulu menggunakan mobil terpisah," lapor Raka mendetail dengan nada suara profesional.

"Hm," sahut Arsen pendek, masih enggan berbalik.

"Pihak keluarga korban akhirnya bersedia menerima penyelesaian secara kekeluargaan setelah kami memberikan kompensasi finansial yang sesuai untuk seluruh biaya rumah sakit dan kerugian lainnya. Mereka juga bersedia menandatangani perjanjian hitam di atas putih agar tidak ada tuntutan hukum lanjutan ke depannya," tambah Raka, mencoba memberikan kepastian bahwa nama baik keluarga Wijaya tetap aman.

Arsen mengangguk kecil, sebuah gestur minimalis yang mengisyaratkan bahwa masalah itu sudah dianggap selesai dari agenda sibuknya. "Bagus. Pastikan pihak sekolah juga tutup mulut dari media."

Raka berdiri diam di tempatnya selama beberapa saat. Ia memperhatikan punggung tegap atasannya yang tampak begitu kokoh dari belakang, namun di saat yang sama terasa sangat berjarak dan dingin.

Ada rasa iba yang mendalam di hati Raka setiap kali melihat dinamika antara ayah dan anak di keluarga ini.

Setelah menimbang-nimbang risiko dalam kepalanya dan mengumpulkan keberanian, Raka akhirnya melayangkan satu pertanyaan yang mengganjal.

"Apakah... Bapak tidak berniat untuk pulang lebih awal dan mengajaknya bicara malam ini? Maksud saya, bicara secara pribadi sebagai seorang ayah dengan Axel?"

Arsen tetap bergeming, tatapannya masih lurus menembus kaca jendela yang dingin, merefleksikan sorot matanya yang datar. "Tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan dengannya, Raka. Masalahnya sudah selesai, bukan?"

Jawaban itu sebenarnya sudah diduga oleh Raka, namun tetap saja rasanya terdengar sangat menyedihkan di telinga. "Tapi, Pak... ini sudah kesekian kalinya Axel terlibat dalam perkelahian di sekolah. Tindakannya semakin agresif."

"Katakan apa maumu, Raka," potong Arsen dengan intonasi yang mulai meninggi, tanda bahwa batas kesabarannya malam ini sedang diuji setelah hari yang panjang.

"Anak itu... Axel mungkin hanya butuh didengar, Pak Arsen. Dia tidak pernah berbicara dengan siapa pun di sekolah. Dia mengurung diri. Mungkin, jika Bapak meluangkan waktu sedikit saja untuk mendengarkan alasannya berkelahi—"

Sebelum Raka menyelesaikan kalimatnya, Arsen meloloskan sebuah tawa kecil yang hambar dari bilah bibirnya.

Namun, sama sekali tidak ada riak kehangatan atau rasa humor di dalam tawa tersebut. "Didengar, kamu bilang?"

Raka memberikan anggukan mantap, tidak mundur. "Bagaimanapun juga, dia masih seorang anak-anak yang membutuhkan figur bimbingan orang tua, Pak."

Arsen akhirnya memalingkan wajah, memutar tubuhnya untuk menatap Raka secara langsung. Sepasang netra elangnya memancarkan kilatan emosi yang dingin, tajam, dan menusuk.

"Anak-anak yang normal tidak seharusnya mengirim teman sekolahnya sendiri ke ruang instalasi gawat darurat dengan luka parah, Raka," ucap Arsen dengan suara rendah namun sarat akan penekanan yang mutlak. "Dia harus belajar bahwa setiap tindakan bodoh memiliki konsekuensi. Saya sudah membayar kesalahannya kali ini, dan itu sudah lebih dari cukup untuk standar tanggung jawab saya."

Ucapan telak dari Arsen seketika mengunci mulut Raka. Kalimat itu terlalu keras, terlalu logis dalam dunia korporat Arsen, namun terasa sangat cacat dalam hubungan keluarga.

Raka tahu betul bahwa di balik sikap diam dan dingin milik Axel, anak itu tidak akan pernah memulai sebuah kekerasan tanpa adanya alasan yang sangat mendesak.

Sayangnya, di dalam garis hidup seorang Arsen Laurent Wijaya, batasan dan ekspektasi telah dibangun terlampau tinggi, menyisakan ruang yang sangat sempit untuk sebuah pemakluman emosi.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!