NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Detak yang Menyatukan

Bulan kesembilan datang dengan udara London yang mulai menghangat, membawa aroma musim semi yang menyelinap di antara celah jendela apartemen Richmond. Bagi Alya, setiap hari terasa seperti penantian panjang yang melelahkan namun penuh harapan. Tubuhnya tak lagi seringan dulu; kakinya membengkak dan punggungnya sering kali terasa nyeri, namun setiap kali janin di dalamnya bergerak, rasa sakit itu seolah menguap, berganti dengan kehangatan yang tak terlukiskan.

Di Jakarta, Arka menjalani hidup dengan ritme yang sangat berbeda. Ia telah benar-benar mundur dari operasional harian Dirgantara Group. Kursi kepemimpinan kini dipegang oleh profesional yang ia percayai, sementara ia sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di yayasan rehabilitasi sosial yang ia bangun untuk korban kekerasan domestik—sebuah bentuk penebusan nyata atas tangannya yang pernah khilaf.

Setiap pagi, Arka akan menatap kartu kecil dari Alya yang ia bingkai di atas meja kerjanya. *"Dia laki-laki..."* Kalimat itu adalah napas bagi Arka. Ia tidak pernah membalas kartu itu dengan kata-kata, karena ia tahu Alya masih membutuhkan kesunyian. Sebagai gantinya, ia mengirimkan doa dalam setiap sujudnya, memohon agar Tuhan menjaga dua nyawa yang paling ia cintai di seberang samudera.

Sore itu, ketenangan di apartemen Richmond pecah. Alya sedang mencoba berjalan kecil di ruang tamu ketika rasa mulas yang luar biasa menghantam perut bawahnya. Cairan bening mulai mengalir di sela kakinya.

"Reno!" teriak Alya sambil mencengkeram pinggiran meja.

Reno, yang sedang menyiapkan teh di dapur, segera berlari keluar. Wajahnya memucat melihat kondisi Alya. "Al? Sudah waktunya?"

"Sakit, Ren... panggil dokter..." napas Alya mulai tersengal.

Reno segera meraih tas perlengkapan bayi yang sudah disiapkan sejak bulan lalu. Dengan sigap, ia menggendong Alya menuju mobil yang sudah siaga. Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Reno sempat ragu sejenak. Tangannya memegang ponsel. Ia tahu ia harus melakukan ini, meski ia membenci pria itu.

Ia mengirimkan satu pesan singkat ke Jakarta: *"Alya masuk ruang persalinan. Sekarang."*

Di Jakarta, Arka sedang berada di sebuah panti asuhan ketika ponselnya bergetar. Begitu membaca pesan dari Reno, dunianya seolah berhenti berdetak. Tanpa berkata-kata, ia berlari menuju mobilnya. Bayu, yang selalu siaga, sudah paham tanpa perlu dijelaskan.

"Siapkan jet, Bayu! Berapa lama waktu tercepat ke London?" suara Arka bergetar hebat.

"Empat belas jam, Tuan. Jika cuaca mendukung."

"Lakukan segalanya! Aku harus ada di sana saat anakku lahir!"

Selama empat belas jam penerbangan, Arka tidak bisa duduk tenang. Ia terus menatap awan dari jendela pesawat, bibirnya tak henti menggumamkan doa. Ia tidak peduli jika Alya tidak ingin melihatnya; ia hanya ingin berada di gedung yang sama, bernapas di bawah atap yang sama dengan mereka. Ia ingin menjadi orang pertama yang menjamin keamanan mereka jika sesuatu terjadi.

Rumah Sakit St. Mary kembali menjadi saksi bisu perjuangan Alya. Di dalam ruang persalinan, keringat membasahi dahi Alya. Ia mencengkeram tangan perawat dengan kuat setiap kali kontraksi datang menghantam.

"Ayo, Liana, satu dorongan lagi! Anda bisa melakukannya!" seru dokter wanita yang menangani Alya.

"Sakit... aku tidak kuat..." rintih Alya. Pikirannya mendadak kacau. Di tengah rasa sakit yang memuncak, bayangan wajah Arka justru muncul. Bukan wajah Arka yang sedang marah, melainkan wajah Arka yang berlutut di kakinya saat mereka di London. Wajah Arka yang menangis sambil mencium perutnya.

*“Alya, bertahanlah... demi anak kita.”* Suara itu seolah bergema di telinganya.

Dengan satu teriakan terakhir yang menghabiskan seluruh tenaganya, Alya mengerahkan segala kemampuannya. Detik berikutnya, suara tangisan bayi yang kencang membelah kesunyian ruangan itu.

Seorang bayi laki-laki, berkulit kemerahan dengan rambut hitam legam, diletakkan di atas dada Alya. Tangis Alya pecah seketika. Rasa sakit yang tak tertahankan tadi mendadak hilang, digantikan oleh rasa haru yang meluap-luap.

"Dia sangat tampan, Liana," bisik perawat itu.

Alya menyentuh jari-jari kecil putranya. Bibir bayi itu melengkung kecil, dan matanya yang masih terpejam tampak begitu mirip dengan mata Arka. "Selamat datang, Sayang... selamat datang, **Arsenio**."

Dua jam kemudian, koridor rumah sakit kembali gaduh oleh langkah kaki yang terburu-buru. Arka sampai dengan pakaian yang kusut dan napas yang terengah-engah. Ia menemukan Reno sedang duduk di depan ruang pemulihan.

Reno berdiri, menatap Arka yang tampak sangat kacau. Kali ini, tidak ada pukulan. Reno hanya menghela napas panjang dan menunjuk ke arah pintu kaca.

"Dia selamat. Bayinya laki-laki. Sangat mirip denganmu, sayangnya," ucap Reno dengan nada datar, namun ada secercah kelegaan di matanya.

Arka menyandarkan kepalanya di dinding kaca. Air mata mengalir deras di pipinya. "Boleh aku masuk?"

"Dia sedang tidur. Tapi masuklah. Jangan bicara, jangan bangunkan dia. Cukup lihat mereka," izin Reno.

Arka melangkah masuk dengan sangat hati-hati. Ruangan itu remang-remang. Alya terbaring di ranjang, tertidur pulas dengan wajah yang tampak begitu damai—kedamaian yang belum pernah Arka lihat selama mereka tinggal di Jakarta. Di samping ranjangnya, terdapat boks bayi kecil.

Arka mendekati boks itu. Di sana, seorang manusia kecil sedang tertidur lelap, terbungkus selimut biru muda. Arka menatap wajah bayinya. Hidungnya, bentuk bibirnya, semuanya adalah cerminan dari dirinya sendiri. Arka merasa dadanya sesak oleh rasa cinta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Arsenio..." bisik Arka pelan, menyebut nama yang ia lihat tertera di papan informasi bayi. "Anakku."

Tiba-tiba, mata Alya terbuka sedikit. Ia merasakan kehadiran seseorang. Saat ia melihat Arka berdiri di sana, ia tidak terkejut. Seolah-olah hatinya sudah tahu bahwa pria itu akan datang.

"Kau datang..." suara Alya sangat lemah.

Arka segera berlutut di samping ranjang Alya, menggenggam tangan istrinya dengan penuh hormat. "Maafkan aku, Alya. Aku terlambat."

Alya menatap Arka cukup lama. Ia melihat ketulusan, keletihan, dan cinta yang murni di mata pria itu. Dendam itu memang sudah luruh sejak di Richmond, namun sekarang, saat ia menatap putra mereka, rasa benci itu benar-benar menguap tak bersisa. Ia menyadari bahwa memisahkan anak ini dari ayahnya adalah kekejaman lain yang tidak ingin ia lakukan.

"Lihat dia, Arka," bisik Alya sambil menunjuk ke boks bayi. "Dia memiliki matamu."

Arka mencium tangan Alya, air matanya jatuh membasahi sprei rumah sakit. "Terima kasih, Alya. Terima kasih karena sudah bertahan. Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk melihatnya."

Alya mencoba tersenyum, meski sangat tipis. "Dia butuh nama belakang, Arka. Tapi aku ingin dia tumbuh dengan cinta, bukan dengan kekerasan."

"Aku berjanji, Alya. Demi nyawaku. Aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk memastikan kalian tidak pernah merasakan takut lagi. Aku tidak akan memintamu kembali ke Jakarta jika kau belum siap. Aku akan tinggal di sini, atau di mana pun kau ingin berada."

Malam itu, di bawah langit London yang bertabur bintang musim semi, sebuah keluarga yang hancur mulai menyusun kembali serpihan-serpihannya. Tidak ada kata-kata manis yang berlebihan, hanya sebuah genggaman tangan yang erat di antara dua insan yang telah melewati badai darah dan air mata. Penebusan itu memang belum usai, namun detak jantung kecil di boks bayi itu menjadi jembatan yang akhirnya menyatukan kembali dua hati yang sempat terpisah oleh jurang dendam yang dalam. Arsenio Dirgantara lahir bukan sebagai penerus dendam, melainkan sebagai simbol perdamaian yang abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!