Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Siang itu, Arumi dan Bella tidak bisa mendengarkan percakapan orang tua mereka dan lelaki paruhbaya tersebut, sebab ibunya menyuruh kedua putrinya untuk membeli garam di warung.
Padahal, sebelumnya jarang Nyai Sawitri menyuruh kedua anaknya untuk pergi semua, biasanya hanya salah satunya saja yang disuruh.
Arumi sedang tiduran di kamarnya, setelah ia pulang dari warung.
Rupanya, lelaki paruhbaya dan pemuda yang bersamanya itu sudah pulang beberapa menit yang lalu.
Namun, Arumi sangat penasaran, mengapa bapak dan ibunya mengundang lelaki itu?
Dari auranya, sepertinya lelaki itu tidaklah baik, karena Arumi melihat aura lelaki itu begitu gelap.
"Itu dukun, Nak," ucap Nyai Sekar Arum, yang bicara lewat batin Arumi.
Arumi tersentak bangun dari tidurnya.
Tangannya mengepal kuat sekarang, diliputi rasa kecewa yang mendalam pada orang tuanya.
"Ya Allah, kenapa Bapak sama Ibu sampai mendatangkan dukun ke sini, Nyai? Jelas-jelas itu musyrik," ucap Arumi.
"Orang tuamu sudah tersesat, anakku, bahkan mereka juga tega membunuh keluarga sendiri," jawab Nyai Sekar Arum.
"Apa maksud Nyai? Siapa yang mereka bunuh?" tanya Arumi.
Tak terasa, setetes air mata membasahi pipinya.
Awalnya hanya 1, selanjutnya semakin banyak, hingga menjadi isakan.
"Kamu harus tahu sendiri, Arumi. Aku ini hanya bisa mengarahkan dan menjagamu, tidak bisa memberitahu kamu semuanya," jawab Nyai Sekar Arum.
Nyai Sekar Arum hanya tidak ingin Arumi ketergantungan kepada bangsa jin seperti dirinya, karena ia mau Arumi berusaha sendiri untuk menguak misteri keluarganya.
Sementara Nyai Sekar Arum, hanya bisa mengajarkan dan menjaga gadis itu.
"Nyai, aku mau menggagalkan kuntilanak merah itu untuk menculik bayi. Apakah bisa?" tanya Arumi.
Kali ini, Arumi berbicara normal, dan tidak menggunakan batinnya.
"Bisa saja, Arumi. Tapi, kan kita tidak tahu dia akan menculik siapa," jawab Nyai Sekar Arum.
Arumi terdiam. Memang benar, ia tak tahu arwah itu akan menculik bayi siapa malam ini, karena Susi memilih korbannya secara acak.
"Nyai, apa nggak ada cara sama sekali biar kunti itu nggak menculik siapa-siapa?" tanya Arumi.
"Ada, hanya saja itu cukup berisiko," jawab Nyai Sekar Arum.
"Apapun risikkonya aku akan melakukan itu, Nyai, asalkan itu bisa menyelamatkan para bayi di desa ini," ucap Arumi.
"Kamu harus melakukan raga sukma seperti kemarin ketika pergi ke istanaku. Nanti, aku akan mengajari kamu doa untuk memagari seluruh desa ini," ucap Nyai Sekar Arum.
"Jadi, kalau dipagari, berarti dia nggak bisa masuk?" tanya Arumi.
"Sebenarnya tidak sepenuhnya menjamin, karena Susi bukan kuntilanak biasa," jawab Nyai Sekar Arum.
""Iya, tapi kan nggak ada salahnya mencoba," kata Arumi tetap kukuh.
"Baiklah, nanti malam, terus saja bermeditasi untuk membuat pagar gaib yang kamu buat semakin kuat," Nyai Sekar Arum akhirnya menyerah.
Namun, Nyai Sekar Arum sebenarnya cukup kagum dengan tekat Arumi, pasalnya gadis itu rela mengambil risiko agar tidak ada lagi korban di desanya.
Oh ya, Nyai, arwah itu namanya Susi, ya?" tanya Arumi untuk mengkonfirmasi, sebab tadi Nyai Sekar Arum menyebut nama itu.
"Iya, itulah nama dia semasa hidup," jawab Nyai Sekar Arum.
Siang itu, Arumi menghabiskan waktunya untuk belajar dengan Nyai Sekar Arum.
Sosok yang merupakan harimau putih itu mengajari Arumi beberapa ilmu.
Namun, tentu saja hanya sedikit yang bisa diajarkan, sebab itu juga di alam manusia.
Apalagi, Arumi juga cukup kesulitan dalam menghafal doa-doa tersebut.
***Sore di desa Dukuh Asem kini berbeda dari biasanya.
Kali ini, tidak ada suara anak kecil yang bermain, ataupun remaja yang nongkrong di warung.
Desa itu tampak sepi, seolah tak ada kehidupan.
Bahkan, para orang tua melarang anak mereka untuk keluar rumah.
Sebab mereka tak ingin apabila anaknya diculik, kemudian ditemukan dengan kondisi tewas.
Matahari sudah tak terlalu terik menyiram bumi pertiwi.
Kehadirannya pun tidak begitu panas bagaikan bara api.
Justru, suhu kali ini memang seperti sengaja diatur ke level normal yang menyejukan.
Di antara jam dinding yang terus berdetak maju, tak peduli para penghuni bumi siap ataukah tidak, seorang gadis terlihat sedang membaca Al-Quran.
Gadis itu memakai mukena putih yang memiliki renda di pinggir-pinggirnya.
Di tangannya, gadis itu memegang Al-Quran, yang menunjukkan halaman yang bertuliskan 531, yang berarti ia sedang membaca surah Arahman.
Ya, gadis itu adalah Arumi.
Suaranya mengalun merdu, membelah keheningan ruangan kamar itu.
Suaranya menusuk ke hati, membuat yang mendengarkan pasti akan meneteskan air mata.
***Sementara itu, di luar rumah Arumi.
Lia dan Nyai Sekar Arum sedang mendengarkan ayat suci Al-Quran yang dibaca oleh Arumi.
Kedua wanita itu, yang merupakan bangsa jin, merasa terharu dengan suara Arumi yang begitu menggetarkan kalbu dan juga syahdu.
Tentu saja Lia dan Nyai Sekar Arum, yang menggunakan wujud harimaunya, tidak akan merasa kepanasan, karena mereka adalah seorang jin muslim.
"Nyai, aku berharap Arumi terus seperti itu, selalu mengingat Allah," harap Lia.
"Aamiin, aku juga berharapnya seperti itu. Karena, sebaik-baik penolong adalah Allah," jawab Nyai Sekar Arum.
"Kamu sudah sejak kapan menjadi jin muslim, Lia?" tanya Nyai Sekar Arum.
"Sudah lama, Nyai, bahkan rakyat kerajaanku juga muslim. Sebab, kami tak ingin menjadi jin kafir, karena itulah kami kembali menjadi jin muslim," jawab Lia.
Itu juga alasan kenapa Lia berpenampilan cantik dan tidak seram, karena para jin muslim memang akan memiliki penampilan yang bersih dan sama seperti manusia.
"Baguslah, tetaplah menjadi jin muslim, kamu juga bisa ikut menjaga Arumi," ucap Nyai Sekar Arum.
"Terima kasih, Nyai, aku memang mau menjaga dia," jawab Lia.
***Kembali kepada Arumi, gadis itu sudah menyelesaikan mengajinya.
Karena sebelumnya Arumi sudah mandi dan Salat, jadilah ia memutuskan untuk berangkat ke masjid, guna mengajar anak-anak yang mungkin akan belajar mengaji.
Arumi melangkahkan tungkainya ke luar kamar.
Di sana, ada Bella yang sedang santai meminum susu jahe.
"Mau ngajar ke masjid ya, Kak?" tanya Bella, karena melihat kakaknya yang sudah rapi.
"Iya, Dek, mau ikut nggak?" tanya Arumi.
"Enggak, kamu aja deh," jawab Bella.
"Oh, ya udah," imbuh Arumi sambil lanjut berjalan.
Namun, belum Arumi tiba di pintu, Bella sudah memanggilnya kembali.
Arumi menoleh ke arah Bella, tatapannya menyiratkan kebingungan.
"Kak, itu kan kamu lagi puasa. Apa nggak capek atau lemes gitu kalau ngajar?" tanya Bella.
Sebagai adik, tentu saja Bella juga memiliki kekhawatiran, takut apabila kakaknya itu kenapa-napa di jalan.
"Aku nggak papa, Dek, lagian masjid kan nggak jauh dari sini," jawab Arumi.
"Ya udah deh, hati-hati ya," ucap Bella.
"Iya, assalamualaikum," ucap Arumi.
"Waalaikumsalam," jawab Bella.
Arumi keluar dari rumahnya, dan udara khas sore hari yang tenang menyambut gadis itu.
Sepanjang jalan, Arumi tak melihat siapapun, jalan itu tampak sepi sepanjang mata memandang.
Saat Arumi melewati persimpangan jalan, gadis yang memakai jilbab hitam itu tak sengaja melihat kumpulan anak-anak yang berjalan bersama-sama.
Kurang lebih, kira-kira ada 5 anak yang terlihat di sana.
Dilihat dari pakaiannya, sepertinya mereka akan pergi mengaji.
"Assalamualaikum, anak-anak," sapa Arumi sambil mendekati mereka berlima.
"Waalaikumsalam. Wah, ternyata Kakak Arumi juga baru datang," ucap salah 1 anak yang memakai pita hijau di bajunya.
"Iya, ayo kita berangkat sama-sama," ajak Arumi.
Anak-anak itu pun mengiyakan untuk sama-sama ke masjid, mereka sungguh senang karena bisa berangkat bersama Arumi.
Maaf lama update ya, guys.
Jangan lupa dukung aku, dan tinggalin jejak di komentar.