Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
coffe time
Ternyata seluruh rombongan menginap di lantai yang sama. Lorong hotel yang panjang dan berkarpet tebal itu dipenuhi langkah kaki para direksi beserta keluarga mereka. Suasananya tenang, berbeda jauh dari keramaian bandara dan bus tadi.
Devan kembali mengambil koper milik ibu Mariana tanpa banyak bicara. Gerakannya refleks, seolah sudah terbiasa. Rayya yang melihat itu hampir saja membuka mulut untuk menolak. Ada dorongan kuat dalam dirinya, entah karena gengsi, entah karena sisa rasa malu akibat kejadian di bus.
Namun ia segera menahan diri.
Ia sadar, tidak ada hubungannya. Ini hanya soal sopan santun. Tidak lebih.
Sepanjang perjalanan menuju kamar dan saat menaiki lift, Rayya memilih diam. Tatapannya lurus ke depan, tangannya menggenggam tas lebih erat dari biasanya. Ibu Mariana sesekali melirik putrinya, lalu tersenyum kecil.
“Capek sekali kamu, ya,” ujar sang mama lembut. “Dari bandara sampai sini hampir ketiduran terus.”
Rayya hanya mengangguk singkat. “Sedikit, Ma.”
Ibu Mariana menganggapnya wajar. Sementara itu, Devan justru terlibat obrolan santai dengan ibu Mariana, tentang perjalanan, tentang udara Labuan Bajo, dan rencana acara perusahaan keesokan hari. Nada suara Devan tenang, sopan, dan penuh perhatian. Tidak ada kesan canggung.
Lift berhenti di lantai mereka.
Ketika mereka berjalan menyusuri lorong, ibu Mariana baru menyadari sesuatu.
“Lho, kamarnya berdekatan semua?” ucap ibu mariana yang sedikit kaget.
Devan berhenti di depan satu pintu.
“Iya, Bu. Sepertinya pihak hotel memang menempatkan rombongan di lantai yang sama.” sahut devan.
Ibu Mariana mengangguk, lalu berhenti di depan kamarnya. Devan meletakkan koper tepat di depan pintu, rapi seperti kebiasaannya.
“Terima kasih banyak, Devan,” ucap ibu Mariana tulus.
“Sama-sama, Bu. Istirahat yang baik,” jawab Devan.
Rayya yang sejak tadi menahan diri akhirnya angkat bicara, meski nadanya tetap singkat.
“Aku duluan ya, Ma.” ucap rayya.
“Ya, tidur yang nyenyak,” balas ibu Mariana.
Rayya segera melangkah menuju kamar di sebelah, membuka pintu tanpa menoleh lagi. Ia ingin cepat masuk, menghilang dari jarak sedekat ini. Malu, kikuk, dan perasaan campur aduk di dadanya membuatnya tidak nyaman berada di dekat Devan lebih lama.
Sementara itu, Devan menunggu sejenak hingga ibu Mariana masuk ke dalam kamarnya dan pintu tertutup dengan aman. Barulah ia melangkah menuju kamarnya sendiri, yang letaknya mengharuskannya melewati pintu kamar Rayya.
Langkahnya melambat sejenak di depan pintu itu.
Namun Devan tidak berhenti. Ia hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan langkahnya, masuk ke kamarnya sendiri dengan ekspresi yang tetap tenang
Tidak berselang lama, Pak Surya akhirnya tiba di hotel. Setelah perjalanan panjang dari Makassar, ia langsung menuju kamar yang telah disiapkan. Ibu Mariana menyambutnya dengan senyum lega, lalu tanpa menunggu lama mulai bercerita tentang perjalanan mereka sejak dari bandara.
“Rayya capek sekali hari ini,” ujar ibu Mariana sambil duduk di tepi ranjang.
“Di bus tadi, dia sampai tertidur di bahu Devan.” sambung sang istri.
Pak Surya yang sedang melepas jam tangannya terhenti sejenak. Ia menoleh, lalu tersenyum tipis, senyum yang sarat makna.
“Oh ya?” katanya singkat, seolah cerita itu lebih menarik dari yang ia tunjukkan.
“Iya,” lanjut ibu Mariana ringan.
“Devannya juga membiarkan saja, nggak dibangunkan. Kasihan, mungkin Rayya benar-benar kelelahan.” ucap sang istri dengan semangat.
Pak Surya mengangguk pelan. Tidak ada komentar berlebihan, namun senyum itu tak kunjung hilang dari wajahnya. Ia hanya berkata,
“Devan memang anak yang baik.” ucapnya
" ya udah ma, ayo bersiap - siap ke lounge, kita ada undangan coffee time di bawah, mama mau ikut kan?" tanya sang papa. mama mariana pun mengangguk dan bersiap untuk ikut bergabung.
sementara itu.
Di kamar sebelah, Rayya baru saja selesai membersihkan diri ketika ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi masuk dari grup direksi perusahaan.
Undangan coffee time, pukul 21.00, di lounge hotel.
Rayya menatap layar ponselnya lama. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Biasanya, di kondisi seperti ini, ia tidak akan ragu menolak. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh, dan ia tidak sedang ingin bersosialisasi.
Ia bahkan sudah hampir meletakkan ponselnya kembali ke meja.
Namun satu kalimat tiba-tiba terngiang jelas di kepalanya.
Acara ini memang dikhususkan untuk orang-orang yang bernyali.
Rayya mendengus pelan. Tantangan Devan terasa seperti bara kecil yang kembali menyulut emosinya. Ia tidak suka dianggap mundur. Tidak suka dianggap menghindar, terlebih oleh Devan Yudistira.
“Baiklah,” gumamnya.
Rayya meraih jaket tipis, merapikan rambutnya sekadarnya, lalu melangkah keluar kamar. Apa pun yang terjadi malam ini, ia bertekad hadir. Bukan untuk siapa pun, melainkan untuk membuktikan bahwa nyalinya tidak kalah dari siapa pun di ruangan itu. ia bahkan mengenyampingkan rasa kantuknya yang mulai datang.