Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Hadiah Berdarah di Aula Perjamuan
Long Feng menghentikan langkahnya tepat dua langkah di depan Meilin. Senyumannya semakin melebar, menampilkan pesona ketampanan yang bisa membuat wanita mana pun luluh. "Kau akhirnya menyadarinya, Rubah Kecil."
"Seorang pengawal bayangan biasa tidak akan memiliki busur naga emas milik kaisar dan kekuatan Qi setingkat dewa seperti ini," balas Meilin dingin. Tangan kirinya diam-diam meraba saku sabuknya, bersiap untuk skenario terburuk jika sang Kaisar berniat melenyapkannya karena tahu rahasia kemampuannya.
Namun, Long Feng justru maju satu langkah lagi, mengikis habis jarak di antara mereka. Ia mengulurkan tangannya yang besar, memegang dagu ramping Meilin dan memaksanya untuk mendongak menatap wajah tampannya yang penuh dengan gairah posesif yang pekat.
"Jika aku ingin membunuhmu, aku tidak perlu repot-repot melindungimu dari anak panah beracun tadi, Permaisuriku," bisik Long Feng, suaranya yang berat bergetar rendah tepat di depan bibir Meilin. "Menteri Hua telah melangkah terlalu jauh dengan mengirim pembunuh ke hutan perburuanku. Mulai hari ini, aku akan memberikanmu hak penuh untuk membalas dendam. Hancurkan mereka sepuasmu, dan aku yang akan menjadi tameng terkuat di belakangmu."
Meilin menatap ke dalam mata hitam pekat Long Feng, mencari indikasi kebohongan politik. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni dan gairah pemburu yang ingin menaklukkan hatinya.
Sebuah senyuman licik namun menawan perlahan terukir di wajah cantik sang agen rahasia. "Jika itu janjimu, Yang Mulia... bersiaplah untuk melihat seisi istana belakangmu berubah menjadi lautan api."
Atmosfer di dalam Aula Perjamuan Berburu masih dipenuhi oleh tawa riuh para menteri dan nyonya bangsawan yang menikmati kehangatan anggur musim dingin. Di barisan depan, Selir Agung Hua duduk dengan anggun, menyeka bibirnya dengan sapu tangan sutra. Setiap beberapa menit sekali, matanya melirik ke arah pintu masuk aula dengan binar kepuasan yang tertahan.
Sudah hampir dua jam. Wanita jalang itu pasti sudah menjadi santapan serigala atau membeku dengan panah menancap di dadanya, batin Selir Hua penuh kedengkian. Ia melirik ke arah ayahnya, Menteri Hua, yang duduk di barisan menteri senior. Pria tua itu memberikan anggukan kecil berkode aman, menandakan bahwa rencana mereka di Zona Barat seharusnya sudah selesai tanpa hambatan.
Namun, ketenangan mereka terusik ketika sesosok bayangan tinggi besar melangkah masuk menembus badai salju di ambang pintu aula.
Kaisar Long Feng kembali lebih dulu. Jubah bulu hitamnya sedikit basah oleh salju, namun ekspresi wajahnya yang datar dan berwibawa seketika membungkam seluruh ruangan. Ia melangkah menuju takhta tingginya dengan ritme yang tenang, tatapan matanya yang sedingin es menyapu barisan keluarga Hua sejenak sebelum ia duduk.
"Yang Mulia, Anda kembali begitu cepat? Apakah hasil buruan hari ini menyenangkan?" Selir Hua langsung mendekat dengan senyuman manja, berniat menuangkan anggur baru untuk suaminya.
Long Feng tidak menyentuh cangkir anggur tersebut. Ia hanya menatap lurus ke arah pintu masuk. "Hasil buruan hari ini... jauh lebih menarik daripada tahun-tahun sebelumnya, Selir Hua."
Sebelum Selir Hua sempat mencerna arti ucapan misterius sang Kaisar, sebuah kehebohan besar terjadi di gerbang luar aula. Suara jeritan para pelayan wanita terdengar melengking, disusul oleh langkah kaki para pengawal kekaisaran yang mendadak menegang dan menarik sebagian pedang mereka.
"Permaisuri Lin Meilin kembali dari perburuan!" teriak kasim gerbang dengan suara yang bergetar hebat, hampir tidak bisa mengeluarkan nadanya dengan benar.
Selir Hua tersentak. Mata indahnya membelalak tidak percaya saat melihat tirai sutra pintu aula disibak.
Lin Meilin melangkah masuk. Jubah sutra putih pudarnya kini telah ternoda oleh bercak-bercak darah segar yang membentuk pola mengerikan seperti bunga plum merah yang mekar di atas salju. Wajahnya tidak lagi dilapisi bedak pucat; rona merah alami akibat hawa dingin dan sirkulasi Qi yang matang justru membuat kecantikannya tampak sangat tajam dan mengintimidasi.
Di tangan kanannya, Meilin tidak membawa tanaman herbal atau busur kayu yang rapuh. Ia menyeret sebuah karung kain rami yang basah oleh darah kental. Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak merah di atas karpet beludru emas aula perjamuan.
Bagaimana mungkin?! Kenapa dia masih hidup?! teriak Selir Hua dalam hatinya, seluruh tubuhnya mendadak kaku karena syok dan ketakutan yang luar biasa.
Meilin berjalan hingga berhenti tepat di tengah aula, tepat di hadapan takhta Kaisar dan di depan seluruh jajaran menteri kabinet. Dengan gerakan yang sangat santai seolah sedang mempersembahkan teh, Meilin melemparkan karung rami tersebut ke lantai.
Bruk! Roll...
Isi karung itu menggelinding keluar. Itu adalah kepala terputus dari pemimpin pembunuh bayaran yang dikirim oleh Menteri Hua, dengan mata yang masih membelalak ngeri memancarkan sisa ketakutan sebelum kematiannya.
"Ahhhh!"
Jeritan histeris seketika pecah dari barisan para nyonya bangsawan. Beberapa menteri tua bahkan hampir terjatuh dari kursi mereka karena terkejut melihat pemandangan berdarah di tengah acara suci kekaisaran.
"Permaisuri Lin! Apa maksud dari kekejaman ini di hadapan Yang Mulia Kaisar dan Ibu Suri?!" Menteri Hua langsung berdiri, menunjuk Meilin dengan tangan gemetar, mencoba mengalihkan situasi sebelum identitas pembunuh itu dikenali oleh pengawal lain. "Membawa kepala manusia ke aula perjamuan adalah bentuk penghinaan besar terhadap takhta!"
Meilin menoleh perlahan, menatap Menteri Hua dengan sepasang mata elangnya yang sedingin es, membuat menteri tua itu refleks menelan kembali kata-kata makian berikutnya.
"Menteri Hua, kenapa Anda begitu panik?" suara Meilin bergema jernih dan tenang di seluruh aula yang mendadak sunyi. "Aku hanya membawa 'hadiah persembahan' musim dingin untuk Yang Mulia Kaisar. Pria ini, bersama empat orang rekannya, mencoba melakukan makar dengan menyerang Permaisuri sah Dinasti Long di dalam hutan perburuan kekaisaran menggunakan panah beracun."
Meilin beralih menatap Selir Hua yang wajahnya kini sudah sepucat kertas. "Jika aku tidak memiliki sedikit kemampuan dasar untuk membela diri, mungkin saat ini jasadku yang sedang diarak masuk ke tempat ini. Katakan padaku, Menteri Hua... sejak kapan hutan perburuan kekaisaran yang dijaga ketat oleh pasukanmu, bisa disusupi oleh lima pembunuh bayaran profesional tanpa ada bantuan dari dalam?"
"K-Kau... jangan memfitnah! Pria itu mungkin hanya perampok gunung biasa!" Menteri Hua mencoba membela diri dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahinya.
"Perampok gunung?" Meilin terkekeh sinis. Ia membungkuk, mengambil sebilah belati hitam dari balik pinggangnya—belati milik pemimpin pembunuh yang ia simpan—dan melemparkannya tepat ke atas meja kayu milik Menteri Hua dengan bunyi tleb yang nyaring. "Perampok gunung mana yang menggunakan senjata baja tempaan khusus dengan lambang klan militer pribadi milik keluarga Hua di gagangnya?"
Seketika, seluruh aula kembali riuh oleh bisik-bisik para menteri lainnya. Bukti yang diajukan Meilin terlalu telak. Mengirim pembunuh untuk melenyapkan Permaisuri adalah tindakan kejahatan tingkat tinggi yang setara dengan pemberontakan.
Selir Hua yang menyadari posisinya di ujung tanduk langsung berlutut di bawah takhta Long Feng, menangis tersedu-sedu dengan wajah memelas. "Yang Mulia! Hamba mohon tegakkan keadilan! Permaisuri pasti sengaja menaruh belati itu untuk memfitnah keluarga hamba! Hamba tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan ini!"
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
semangat ya
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?
Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.
Hamba butuh dukungan kalian
semangat thor nulisnya nya🤭
kalo berkenan mampir thor😉