Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 : Gadis seperti apa?
Keesokan Harinya. Pagi itu kampus Rylance kembali ramai. Lyko baru saja turun dari mobil bersama Bella.
Bella membukakan pintu. Dan saat itu, semakin banyak juga mahasiswa yang kini menoleh ke arahnya.
“Selamat pagi, kak Lyko,” sapa seorang pemuda padanya.
Lyko tersenyum dan membalas. “Selamat pagi juga.”
Dan setelah mengatakan itu, beberapa siswa lainnya juga tampak langsung salah tingkah dan bahkan terlihat ingin di notice juga.
“Kalau begitu aku masuk dulu ya, Bella,” ucap Lyko sambil menatap Bella yang ada dibelakangnya.
Bella membungkuk mengerti. “Tentu, silahkan, Nona.”
Lyko mengangguk dan kemudian berjalan memasuki gedung. Sepanjang jalan kini ia mendapatkan banyak sapaan dari beberapa siswa dan siswi yang melihatnya.
Begitu sampai di dalam kelas terlihat ada Kelly dan Ruby yang tampak sedang memakan sebuah cemilan keripik kentang di meja.
“Selamat pagi teman-teman,” sapa Lyko sambil berjalan duduk di bangkunya.
Kelly dan Ruby tersenyum. “Pagi juga, Lyko.”
Saat Lyko duduk Kelly kemudian menawarkan keripik kenyangnya kepada Lyko. “Ini, kalau mau ambil saja,” katanya sambil memakan satu buah keripik.
Lyko tersenyum dan kemudian mengambil satu keripik. “Hm, terimakasih Kelly.”
Kelly hanya menjawab dengan anggukan karena ia juga sedang mengunyah keripiknya.
Di sebelahnya Ruby sedang membuka buku catatan, sedangkan Kelly duduk setengah menyamping di kursinya sambil memainkan ponsel.
Lyko tersenyum kecil sambil mengunyah keripik yang diberikan Kelly.
Suasana kelas pagi itu masih cukup santai karena dosen belum datang. Beberapa siswa masih mengobrol dengan kelompok masing-masing, sementara yang lain sibuk memainkan ponsel.
Kelly yang sedang menggulir layar ponselnya tiba-tiba membelalakkan mata. “Eh?!”
Ruby yang sedang membaca buku catatannya menoleh. "Ada apa, Kelly?”
Kelly langsung menyodorkan layar ponselnya ke arah Ruby. "Lihat ini!" katanya.
Ruby mendekat. Kemudian beberapa detik kemudian matanya ikut membesar. “Wah, benarkah? Dia terpilih lagi!”
Lyko yang sedang membuka bukunya menatap keduanya. "Ada apa?" tanyanya yang bingung.
Kelly langsung menunjuk layar ponselnya. "Siapa lagi kalau bukan mafia kelas atas, Xavier Volkov!” kata Kelly yang tampak tersenyum senang.
Mendengar nama itu, tangan Lyko yang sedang membalik halaman buku langsung berhenti sesaat. Namun ia segera kembali bersikap normal. "Oh...”
Kelly sama sekali tidak menyadari perubahan kecil itu. “Sumpah! Presiden juga mengumumkan bahwa ia kembali terpilih menjadi orang yang paling berpengaruh di kota.”
Ruby ikut membaca isi artikel itu di ponselnya. "Katanya lokasi tanah yang menyerupai pelabuhan di dekat Utara sudah menjadi miliknya, keren sekali.”
Kelly langsung bersandar di kursinya. "Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana cara orang seperti dia itu hidup, pasti kehidupan sehari-harinya jauh lebih beda dari kita.”
Ruby mengangguk pelan. "Memang terasa jauh sekali dari kehidupan kita, dia saja tinggal di mansion.”
Lyko hanya tersenyum tipis. Ia tampak hanya memilih diam dan mendengarkan.
Kelly kemudian kembali berbicara. "Kalau dipikir-pikir, Xavier itu orang yang aneh,” katanya sambil kembali memasukkan keripik kedalam mulutnya.
Ruby mengangkat alis. "Maksudmu? Aneh bagaimana?"
Kelly menghitung dengan jarinya. "Dia tampan, kaya, masih muda, mempunyai kuasa, seluruh dunia bahkan hampir mengenalinya, dan pasti banyak yang suka dong.”
Ruby mengangguk. “Benar, lalu kenapa?”
Kelly lalu melanjutkan. "Nah masalah itu, kenapa orang seperti dia bahkan belum menikah dari dulu? Aneh bukan?” katanya.
Ruby terdiam. “Hm... kalau dipikir-pikir, itu masuk akal. Memang sedikit aneh sih orang sesempurnanya belum juga mendapatkan pasangan.”
Kelly menatap langit-langit kelas.
"Kalau aku jadi dia, mungkin setiap hari ada seratus orang yang rela antri untuk menjadi pasangannya,” katanya sambil tersenyum bangga.
Ruby langsung terkekeh kecil saat mendengar itu. "Dan untungnya Xavier bukan kamu, hahah."
"Heh! Kamu ini!”
Lyko hampir tersedak menahan tawanya. Namun di saat yang sama, ada perasaan aneh yang muncul di dadanya. Entah kenapa ia merasakan ada sedikit rasa bersalah saat teman-temannya membicarakan tunangannya itu.
Kelly kembali membuka artikel lainnya. "Wah... lihat ini! Ada banyak sekali foto Xavier di sini, gayanya keren-keren sekali.”
Ruby ikut melihatnya. "Aku pernah melihat wajahnya, tampan sih, tapi...”
Kelly langsung mengernyitkan dahinya. “Tapi kenapa?” katanya. “Kalau soal tampan sih jelas.”
Ruby langsung berkata dengan cepat. "Tapi wajahnya terlihat sangat menakutkan."
Kelly terdiam, kemudian ia mengangguk. "Benar juga katamu, ia memang terlihat seperti orang yang bisa membuat siapa saja menangis hanya dengan menatapnya."
Lyko langsung teringat tatapan datar Xavier yang setiap hari hampir ia kenal. Dan entah kenapa, ia merasa Kelly tidak sepenuhnya salah, karena memang yang tidak kuat mental pasti akan langsung lemas saat berada di dekatnya.
Ruby kembali membaca komentar-komentar di bawah artikel. Kemudian ia berkata, "banyak yang bilang dia tidak pernah pacaran sama sekali."
Kelly langsung tertarik. "Wah benarkah?"
Ruby mengangguk. "Bahkan ada yang bilang sampai sekarang tidak pernah ada kabar dia dekat dengan perempuan lain."
Kelly langsung menopang dagu dikursi. “Aku masih tidak percaya di belum memiliki pacar ataupun mantan.”
Ruby juga mengangguk. “Benar, aku pun juga berpikir begitu.”
Kelly lalu menoleh ke arah Lyko. "Kalau menurutmu bagaimana?"
Seketika jantung Lyko langsung berdegup sedikit lebih cepat. "Hm? A-Apa?"
Kelly kemudian melanjutkan. "Menurutmu Xavier seperti apa?"
Lyko membeku beberapa detik. Ia benar-benar tidak siap mendapat pertanyaan itu.
Namun Kelly dan Ruby terlihat menatapnya dan menunggu jawaban. Sementara di dalam hati Lyko tampak sedikit panik. ‘Apa yang harus aku jawab?’ batinnya.
Ia berpikir, kalau terlalu banyak bicara nanti ia akan terlihat mencurigakan. Namun kalau terlalu sedikit juga akan terlihat aneh.
Akhirnya ia berdeham kecil. "Mungkin..."
Kelly dan Ruby semakin memperhatikan.
Lyko tersenyum canggung. "Mungkin kerena terlalu sibuk dengan dunia mafia sampai dia berpikir tidak ada waktu untuk menjalani suatu hubungan dengan serius?”
Kelly mengangguk. "Itu cukup masuk akal, karena memang dia sangat sibuk.”
Ruby ikut setuju. “Benar.”
Lyko diam-diam menghela napas lega. Untung mereka tidak curiga dengan ucapannya.
Namun Kelly belum selesai. "Tapi aku nasih penasaran."
"Penasaran bagaimana?" tanya Ruby.
Kelly menyeringai. "Menurutmu nanti wanita seperti apa yang akan dinikahi olehnya?"
Seketika mata Lyko langsung membelalak, namun ia segera menunduk.
Ruby terlihat ikut berpikir. "Hm... apa mungkin putri konglomerat?"
Kelly mengangguk. "Atau bangsawan luar negeri?"
Ruby menambahkan, "atau mungkin CEO muda yang hebat."
Kelly langsung menunjuk Ruby. "Nah itu! Tapi pastinya wanita yang sangat luar biasa dan memiliki standar yang seimbang dengan Xavier."
Lyko hanya bisa tersenyum kaku. Karena semakin mereka menebak. Semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya akan terjadi.
Kalau suatu hari mereka tahu bahwa tunangan Xavier Volkov ternyata adalah dirinya sendiri.. seorang gadis yang dulu tinggal di rusun kumuh.
Apakah mereka tidak akan terkejut? Lyko sendiri bahkan tidak bisa membayangkan reaksi mereka.
Kelly kembali menggigit keripiknya. "Tapi siapa pun wanita itu pasti hidupnya akan sangat bahagia.”
Ruby mengangguk setuju.
Sementara Lyko hanya bisa tersenyum kecil sambil menunduk melihat bukunya. Karena tanpa disadari mereka berdua. Gadis yang sedang mereka bicarakan itu sedang duduk tepat di depan mereka.