NovelToon NovelToon
7-14: Insiden 06-06

7-14: Insiden 06-06

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Dean Jeremia Sp

"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"

Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.

Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insiden 06-06

...Jakarta 6 Juni 2025...

Pukul 21.00

Jakarta di malam hari selalu sibuk, lengkap dengan kemacetan yang merajalela. Malam ini, situasi diperparah oleh guyuran hujan deras yang turun tanpa ampun.

Di depan sebuah toko buku yang sudah tutup dengan penerangan lampu remang-remang, seorang pria tampak sibuk berteduh. Tangannya menenteng sebuah tas kulit padat berisi berkas-berkas pekerjaan.Lelaki dengan perawakan tinggi besar itu terlihat sangat kelelahan.

Tak jauh dari sana, sesosok pria berbadan ideal tampak berlari tergesa-gesa menuju tempat berteduh yang sama. Tak berselang lama, datang lagi seorang pria paruh baya yang berlari sembari menutupi kepalanya dengan tangan. Tepat di belakangnya, seorang wanita korporat dengan setelan jas dan sepatu heels ikut menyusul, bergegas merapat ke toko buku yang tutup tersebut.

Keempat orang asing itu sama sekali tidak membuka obrolan. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing-terkecuali si pria paruh baya. Ia justru menatap lurus ke arah jalanan yang macet total. Di tengah bisingnya suara klakson motor yang tak henti-henti bersahut-sahut, gurat wajahnya tampak khawatir, seakan-akan maut sedang mengintai dan siap menghampirinya kapan saja.

BRAK!

Suara logam yang saling menghantam keras memecah keheningan malam. Di atas aspal yang basah, deretan mobil saling menyeruduk tanpa sempat menginjak rem, menciptakan tabrakan beruntun yang mengerikan. Pemandangan di depan toko buku itu mendadak berubah menjadi lautan asap dan pecahan kaca yang berserakan.

Belum sempat kepanikan mereda, seluruh lampu jalanan mendadak padam total. Gelap gulita.

BANG!

Satu tembakan menggema, menambah kekacauan di malam yang kelam itu. Bersamaan dengan itu, terdengar bunyi KLANK!-suara benda besi berat yang terlepas dari tangan seseorang dan menghantam lantai.

Beberapa saat kemudian, lampu kembali menyala.

Pria paruh baya yang tadi berteduh kini sudah terkapar bersimbah darah di atas lantai dingin. Tepat di samping tubuhnya yang tak lagi bernyawa, sebuah pistol Glock 19 tergeletak begitu saja.

Detik itu juga, kepanikan pecah. Pria berbadan ideal tampak berlari menjauh sambil menempelkan ponsel ke telinganya, menghubungi polisi. Sementara itu, si pria berpostur tinggi besar sudah berada jauh di ujung jalan, kabur menyelamatkan diri begitu mendengar suara tembakan jarak dekat. Di sisi lain, sang wanita korporat berlari histeris menerobos kemacetan jalanan, berteriak meminta bantuan.

Jakarta, 7 Juni 2025

Langit pagi Jakarta begitu cerah, berbanding terbalik dengan kondisi seorang penyelidik bernama Samuel Padang. Alih-alih mengistirahatkan tubuhnya sepanjang malam, Samuel justru menghabiskan waktu dengan bermain game tanpa henti hingga fajar menyingsing.

Pukul 09.00 WIB

DOR! DOR! DOR!

Suara gedoran keras di pintu depan apartemen membuyarkan fokus Samuel.

"Oi, siapa?" gumam Samuel dengan suara serak khas orang kurang tidur.

Ketukan itu tak kunjung berhenti, justru terdengar semakin tidak sabaran.

"Siapa, sih? Masih pagi juga," gerutunya sambil beranjak dari sofa. Semalaman penuh ia terpaku di sana, mendekam demi PlayStation kesayangannya.

Dengan balutan kaus anime, celana pendek, dan wajah kusut yang sangat tidak layak diperlihatkan kepada publik, Samuel membuka pintu apartemennya.

"Hola, amigos! Gimana, udah tamat belum game lu?"

Sosok yang berdiri di balik pintu adalah Ahmad Supriadi, rekan sesama penyelidik yang memiliki pembawaan santai.

"Ngapain lu datang ke sini? Bukannya ini weekend? Jangan jangan!? Yaelah Biar para polisi aja yang urus kejadian tadi malam," sahut Samuel ketus. Emosinya tersulut saat menebak-nebak alasan kedatangan Ahmad yang merusak hari liburnya.

Ahmad terkekeh sinis. "Wow, kemampuan logika deduktif lu udah setara sama gue sekarang? Menarik. Hmm, sangat menarik. Namun sayang sekali, Sobat, tebakan mu benar . Dan tebak apa? Gue bawa satu saksi mata di sini. Namanya Nyonya Riza."

Dengan senyum sarkas, Ahmad menggeser tubuhnya dan memperkenalkan seorang wanita.

Riza, saksi mata dari tragedi kecelakaan beruntun sekaligus kasus penembakan semalam.

Riza awalnya dibawa ke kantor polisi karena posisinya paling dekat dengan lokasi penembakan dan paling kooperatif. Namun, karena pihak kepolisian terlalu sibuk mengurus kekacauan tabrakan beruntun, kasus pembunuhan misterius itu akhirnya dilimpahkan ke instansi tempat Samuel dan Ahmad bernaung: Badan Penyelidikan Indonesia, atau yang biasa disingkat BPI.

Samuel, yang masih dirundung rasa kantuk luar biasa, memandangi sosok wanita di hadapannya. Wanita itu berpakaian sangat rapi dan mengenakan kacamata. Perawakannya ideal, dengan tinggi badan yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan kedua penyelidik di dekatnya. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian Samuel: sorot mata di balik lensa kacamata itu tampak layu dan menghitam, persis seperti matanya sendiri yang terjaga semalaman.

Secara refleks, pandangan Samuel turun, tertuju pada papan nama yang tersemat di dada wanita tersebut. Riza Beatrice, begitu tulisan yang tertera di sana.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Samuel.

"Penyelidik cabul!" desis Riza dengan wajah memerah menahan amarah.

"FUHAHAHAHAHA!"

Ahmad langsung meledak dalam tawa. Ia tertawa begitu hebat hingga kehilangan keseimbangan dan jatuh terjungkal di atas lantai koridor depan apartemen Samuel.

Sementara itu, Samuel berdiri mematung dengan wajah bingung bercampur geram. Sambil mengusap pipinya yang terasa panas, ia berseru dengan nada meninggi, "Cabul ?! Gue cuma lihat papan nama lu!"

Samuel menatap tajam ke arah Riza yang kini sudah menyilangkan kedua tangan di depan dada, memasang gestur defensif yang dingin.

Sadar situasi tidak akan kondusif jika terus berdebat, Samuel langsung berusaha mengalihkan fokusnya kembali ke urusan pekerjaan.

"Oi, Ahmad! Bangun lu, sialan!"

bentak Samuel pada rekannya yang masih terpingkal-pingkal di lantai.

"Lu bawa wanita ini ke kafe di bawah apartemen gue. Gue mau siap-siap dulu. Kita mau ke kantor, kan?"

Ahmad berusaha menyudahi tawanya, lalu beranjak berdiri sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor.

"Pfftt... Haha! Oh, ya, ya. Nanti gue tunggu di bawah. Tapi, kenapa enggak di apartemen lu aja?"

Tanpa repot-repot membalas pertanyaan tidak bermutu itu, Samuel langsung membanting pintu apartemennya hingga menutup rapat.

BAM!

Dari balik pintu yang tertutup, sayup-sayup masih terdengar suara Ahmad yang menggoda Riza. "Anda benar-benar membuat dia marah, Fuhahahaha!"

PLAK!

Satu suara tamparan lagi kembali menggema di koridor luar.

Setelah turun dari lantai dua, Ahmad dan Riza bergegas menuju kafe yang terletak tepat di lantai satu gedung apartemen tersebut.

Lima menit berlalu dalam keheningan sampai akhirnya Samuel muncul di ambang pintu kafe.

Samuel melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan mereka.

"Kazu! Di sini!" seru Ahmad, memanggil Samuel dengan nama akun game-nya.

Begitu mendekat, giliran Samuel yang langsung meledak. "AHAHAHAHAHA! Kok pipi lu bengkak?! HAHAHAHA!" Samuel tertawa puas sambil menunjuk wajah Ahmad dengan satu tangan memegangi perutnya yang kram.

Pipi Ahmad tampak membual kemerahan. Di sampingnya, Riza duduk dengan tenang sambil menyantap sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa. Samuel pun mengambil tempat duduk, berusaha keras meredam sisa tawanya karena tahu betul bahwa mengganggu orang yang sedang makan adalah tindakan yang tidak sopan.

Begitu Riza meletakkan sendoknya tanda selesai sarapan, atmosfer di meja itu mendadak berubah menjadi serius.

"Baik. Sebelum memulai perbincangan, saya ingin meminta maaf kepada Tuan-Tuan Penyelidik atas kelancangan saya menampar kalian tadi," ucap Riza formal, langsung memotong atmosfer santai kedua penyelidik otaku di hadapannya.

"Saya perkenalkan kembali, nama saya Riza Beatrice. Saya adalah saksi mata kejadian pembunuhan dan tabrakan beruntun pada malam tanggal 6 Juni kemarin. Saya bekerja di salah satu instansi BUMN yang kantornya berjarak sekitar dua kilometer dari lokasi kejadian. Sementara itu, tempat tinggal saya berjarak kurang dari 500 meter dari TKP."

Mendengar penjelasan yang begitu lugas, Samuel dan Ahmad merespons dengan kekompakan yang aneh.

"Ah, tidak usah dipikirkan. Orang ini memang pantas ditampar, kok," ucap kedua penyelidik itu bersamaan, dengan intonasi dan waktu yang persis sama, sambil saling menunjuk satu sama lain.

Samuel berdeham, kembali menguasai diri. "Baik kalau begitu. Sebaiknya kita langsung ke kantor dan menyelesaikan masalah Nyonya Riza, supaya Anda bisa segera pulang dan beristirahat."

"Ya, gue setuju," timpal Ahmad.

"Gue pengen masalah ini cepat kelar biar gue bisa meluangkan waktu sama istri di rumah."

"Oi, Mad. Lu bawa mobil, kan?" tanya Samuel.

"Ya, gue bawa."

"Baik, langsung saja, Nyonya Riza."

Mereka bertiga pun beranjak dari kafe. Samuel langsung melangkah ke kasir untuk membayar seluruh tagihan, meskipun Riza sempat bersikeras ingin membayar makanannya sendiri. Ahmad? Ia memilih masa bodoh dan berjalan duluan ke parkiran.

Mereka berkendara menggunakan mobil Lexus RX 300 milik Ahmad. Ahmad duduk di balik kemudi, Samuel di kursi penumpang samping kiri, sementara Riza duduk tenang di kursi belakang.

Perjalanan menuju kantor BPI yang berjarak sekitar 8 kilometer itu awalnya hanya diiringi oleh alunan musik anime dari radio mobil. Demi memecah kesunyian, Samuel membuka obrolan.

"Mad, lu sama Nyonya Riza ketemuannya di mana? Bukannya lu tadi malam tidur, ya? Lu bahkan enggak balas pesan dari Mas Dimas."

Perkataan Samuel seketika memicu memori menyebalkan di kepala Ahmad. Ia menghela napas panjang dan berat.

"Huuuft... Gara-gara gue enggak read pesan Mas Dimas semalam, gue malah dilimpahin masalah ini, gue gak bisa buat alesan nolak. Tadi pagi waktu gue mau pergi ke minimarket, Mas Dimas tahu-tahu udah nungguin di depan apartemen gue. Di belakangnya udah ada Nyonya Riza."

Ahmad mendengus kesal sambil terus memandang jalan raya. "Kasus ini dilimpahin ke kita, gara-gara itu juga. Istri gue sampai ngambek karena weekend yang harusnya jadi waktu santai berdua, malah berubah jadi pekerjaan berat."

Samuel menyeringai puas mendengarnya. "Kita, lu bilang? Ya ini kasus lu, sialan! Lu udah beberapa kali mangkir enggak ambil kasus, dan lu tahu sendiri kalau kasus lu akhirnya dilimpahin ke gue. Padahal status kita ini rekan kerja."

Ahmad menoleh sekilas, menampilkan senyum lebarnya yang tanpa dosa. "Hehehe, kan kita rekan sehidup semati. Lagian Mas Dimas bilangnya penyelidik lain lagi pada sibuk, jadi kasus ini jatuh ke tangan kita deh."

"Alasan ngawur"

Setelah itu, obrolan di dalam mobil tidak bisa lagi disebut sebagai percakapan tugas yang profesional. Topik mereka melompat-lompat dengan liar-mulai dari membahas anime terbaru, perilisan manga, premis novel, strategi game, kemalasan sifat manusia, gosip hangat, hingga hal yang paling membuat Samuel jengkel: Ahmad yang terus-terusan memamerkan kemesraan rumah tangganya.

Untung saja, sebelum cerita pamer kemesraan itu semakin melantur, mobil mereka akhirnya tiba di depan gedung BPI. Mereka segera bergegas masuk untuk menyelesaikan berkas-berkas penyelidikan agar Riza bisa segera pulang dan beristirahat dengan tenang.

Walau Riza kembali ke apartemennya, Dia tetap di awasi oleh Ahmad, karena SOP instansi mereka

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!